
Vania terdiam ketika dia masuk ke dalam toko bunga dan beberapa saat kemudian langsung kedatangan tamu yang tidak dia duga.
"Untuk apa kau datang kesini?"
Gara menghela nafas melihat sikap dingin Vania padanya. Benar-benar tidak bisa menutupi jika hati Gara sangat tersayat melihat sikap Vania yang begitu dingin padanya. Betapa dia tahu terlukanya hati gadis itu, tapi hatinya juga terluka.
"Va, apa tidak bisa kita memulai semusnys dari awal lagi?"
Vania menatap Gara dengan tatapan tidak percaya, bagaimana pria itu mengajak dirinya untuk kembali memulai semuanya dari awal, sementara dia telah menikah denganwanita lain.
"Apa kamu gila? Kamu sudah menikah dan sekarang kamu meminta aku untuk memulai semuanya dari awal lagi? Jelas aku tidak bisa melakukan itu, karena aku memang tidak akan pernah bisa bersamamu sampai kapan pun"
Gara terdiam mendengar ucapannya, memang tidak ada hal lain yang bisa Gara lakukan jika bukan dengan mengajak Vania kembali dengannya dan memulai semuanya dari awal lagi.
"Sayang, aku mohon kembalilah padaku"
Vania melangkah mundur ketika Gara terus berjalan mendekat padanya. "Aku tidak bisa Gara, kau sudah menikah. Jadi tolong jangan mengganggu hidupku lagi"
"Kalau begitu izinkan aku bertemu dengan anakku"
Vania menggeleng ceapt, tentu dia tidak akan melakukan itu. Bukan karena dirinya yang egois, tapi mempertemukan Gevin dan Gara bukan pilihan yang tepat saat ini. Karena semuanya hanya akan menjadi hal yang percuma, Gara sudah menikah dan mempunyai keluarganya sendiri. Tentu istrinya tidak akan menerima Gevin begitu saja.
"Kamu sudah mempunyai istri, jadi suatu saat kamu pasti akan mempunyai anak dengan dia. Jadi, aku mohon untuk kamu tidak menampakan diri kamu di depan Gevin. Biarkan kamu hidup tenang"
Gara menggeleng kuat, kali ini dia sedang ingin menjadi pria egoisdan serakah. Gara memegang bahu Vania dan menatap wajah gadis itu dengan lekat. "Aku adalah Ayahnya, dan aku berhak atas anak aku. Kamu tidak bisa melarang aku untuk menemui anakku sendiri"
Vania menatap Gevin dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh dia sedang bingung dengan semua kedaan ini. "Biarkan aku memiliki sebagian dari hidupmu saja, biarkan aku membawa darah dagingmu itu. Karena aku yang tifak bisa memilikimu"
Deg..
Gara benar-benar melihat tatapan putus asa dari Vania. Gara jelas melihat masih ada setitik cinta untuknya dari Vania. Dengan sekejap Gara langsung memluk Vania dengan erat. Mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
"Mari kita coba untuk memulai semuanya dari awal Va, apa kamu benar-benar tidak ingin memberikan aku kesempatan itu?"
Dalam pelukan Gara, Vania langsung tersadar jika tidak seharusnya dia seperti ini dengan pria yang sudah menjadi suami orang lain. Vania langsung melepaskan pelukan Gara,meski sedikit sulit karena pria itu yang memeluknya begitu erat.
"Pergilah, jangan menambah kesulitan dalam hidupku. Kamu hanya perlu bahagia bersama istrimu.Jangan hiraukan aku lagi"
######
Jadi nama anakku adalah Gevin. Pintar juga dia memberi nama pada anak kita.
Gara mengendari mobilnya dengan pikiran yang terus tertuju pada Vania dan anaknya yang baru dia ketahui jika namanya anaknya adalah Gevin.
"Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan tetap menemui Vania dan meyakinkan dia jika aku memang sangat mencintainya, sampai kapan pun"
Tekad Gara sudah bulat, dia tidak lagi memikirkan konsekuensi yang akan terjadi nantinya jika apa yang dia lakukan ini ketahuan oleh orang lain. Tapi, saat ini Gara hanya ingin mendapatkan Vania kembali dan membuat anaknya juga mengenalnya sebagai Ayah.
Hari berlanjut, pagi ini Gara mengantar Yunita ke bandara untuk kembali ke Ibu Kota. Sementara dirinya tidak akan dulu kembali sebelum dia mendapatkan kepastian tentang hubungnnya dengan Vania akan seperti apa selanjutnya.
"Sudhlah, kau cepat masuk. Nanti akan ketinggalan pesawat"
Yunita mengecup pipi Gara sebelum dia pergi dari hadapan pria itu.Sementara Gara tidak menunggu sampai pesawat Yunita pergi, diasudah langsung pulang dari bandara dan menuju toko bunga tempat Vania bekerja.
"Mau apalagi si?"
Vania mulai kesal dengan kedatangan Gara setiap hari ke toko bunga ini. "Sudah aku bilang jika aku tidak akan pernah mau kembali denganmu apalagi jika harus memualai semuanya dari awal. Karena tidak bisa sebuah kisah yang terus memulai dari awal. Karena sebuah kisah hanya akan melanjutkan cerita sebelumnya"
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan kisah kita berdua"
Vania menggeleng heran dengan sikap Gara yang sama sekali tidak mau menyerah dengan semua penolakan yang telah Vania berikan padanya.
"Aku kesini hanya ingin membeli bunga"
__ADS_1
Vania menghela nafas pelan, mau bagaimana pun jika memang Gara ingin membeli bunga dari toko ini. Tentu saja Vania harus tetap melayaninya dengan baik.
"Mau beli bunga apa?"
"Bunga Primorse"
Vania mengerutkan keningnya bingung, kenapa Gara ingin membeli bunga berwarna ungu muda ini. Karena bunga ini cukup mahal.Tapi tanpa banyak bertanya, Vania langsung saja merangkai buket bunga yang diinginkan oleh Gara. Dia berfikir mungkin memang bunga itu unuk diberikan pada istrinya. Jadi tidak masalah untuk harga yng lumayan itu.
"Sudah.." Vania membarikan rangkaian bunga itu dengan menyebutkan nominal yang harus di bayar oleh Gara.
"Itu untuk kamu"
Hah?!
Vania benar-benar dibuat melongo fengan tingkah Gara ini. "Maksudnya apa?"
"Ya,itu bunga untuk kamu. Masa pria lain saja yan memberikan setangkai mawar padamu, kau terima. Dan aku yang memberikan satu buket bunga itu, kamu tidak mau menerimanya"
Ini apasi maksud dia? Apa dia sedang membahas tentang Kak Hildan yang waktu itu memberikan aku bunga.
"Aku sengaja memberikan bunga yang hanya akan hadir di awal musim semi. Karena bunga primorse melambangkan cinta abadi, seperti cinta aku sama kamu yang akan selalu abadi sampai kapa pun. Primorse juga melambangkan sebagai simbol kehidupan baru, awal baru. Karena bunga ini menjadi cikal bakal musim semi"
Vania benar-benar dibuat terdiam oleh perkataan Gara barusan. Tidak menyangka jika pria itu begitu banyak memahami tentang bunga. Melebihi pengentahuannya sebagai penjual bunga.
"Aku berharap cinta kita akan tetap abadi dan bisa memulai kisah baru dan kehidupan yang baru. Vania, aku tetap mencintaimu sampai kapan pun"
Gara berlalu pergi dari toko bunga dengan meletakan uang untuk membayar bunga yang dia berikan pada Vania.
Sementara Vania masih terdiam dengan satu buket bunga ditangannya. "Cinta Abadi?"
Bersambung
__ADS_1