
Akhirnya Gevin terlelap juga setelah Gara yang menemaninya tidur. Dan setelah memastikan jika anaknya benar-benar terlelap, barulah Gara beranjak dari atas tempat tidur dan menatap sekelilingnya. Melihat bagaimana suasana kamar yang ditempati oleh Vania dan anaknya selama ini. Gara merasa kehangatan di kamar ini, apalagi ketika dia melihat foto-fotomasa kecil Gevin dan Vania yang sedang hamil terpajang di dinding dan diatas nakas.
Gara meraih foto Vania yang berada di atas nakas. Foto Vania yang sedang duduk di sebuah kursi dengan tangan yang berada di perut buncitnya itu.
"Maafkan aku karena aku tidak menemanimu disaat ini" Gara mengelus bagian perut buncit Vania di foto itu, membayangkan jika dirinya sedang mengelus perut Vania yang asli, bukan hanya sekedar di foto.
Gara menoleh ke arah pintu saat dia mendengar suara pintu terbuka. Vania muncul disana, dia bahkan sampai tidak bekerja hari ini karena Gevin yang sangat rewel dan tidak bisa ditinggalkan.
"Apa Gevin sudah benar-benar tertidur?" Vania berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggir tempat tidur dengan mengelus lembut kepala putranya itu.
"Va, apa yang kamu katakan tadi adalah benar?"
Gara benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya pada ucapan Vania tadi saat berda di luar. Gara tidak bisa menunda-nunda lagi untuk tidak menanyakan tentang ucapan Vania tadi. Gara benar-benar ingin tahu, apa yang Vania ucapkan itu adalah sebuah kebenaran atau hanya karena Gevin yang terus memintanya untuk tinggal bersama dengan Gara.
Vania menoleh dan menatap Gara yang berdiri tidak jauh darinya. "Ya, semuanya demi Gevin. Jadi aku harus mengalah dan mencoba menghilangkan keegoisanku. Semuanya hanya demi Gevin"
Gara merasa sedang bermimpi saat ini, dia jelas mendengar jika Vania akan siap kembali bersamanya. Meski Vania melakukan ini hanya demi Gevin. Tapi Gara tidak merasa keberatan dengan itu. Yang terpenting sekarang Vania sudah mau kembali bersama dengannya.
"Aku akan segera menikahimu"
Vania tidak menjawab, dia sedang memikirkan apa keputusan yang dia ambil itu benar atau tidak. Tapi saat ini Vania hanya bisa memutuskan semua ini karena memang dirinya yang hanya menginginkan anaknya bahagia. Karena pada kenyataannya Gevin tidak hanya membutuhkan Vania saja. Vania tidak bisa menjadi sosok Ibu dan Ayah sekaligus untuk Gevin.
Tuhan, semoga keputusan yang aku ambil ini adalah yang terbaik untuk aku dan Gevin.
"Ingat Va, apapun yang terjadi ke depannya aku akan tetap memilih bersamamu. Pegang janjiku itu"
Vania menghela nafas pelan, dia menatap Gara dengan lekat. "Jangan terus mengucapkan kata janji, jika kamu belum tentu bisa menepati apa yang kamu janjikan itu"
"Pokoknya, apapun yang terjadi aku hanya akan bersamamu"
__ADS_1
######
Ibu dan Jenny tersenyum mendengar ucapan Gara yang akan menikahi Vania. "Ibu hanya bisa mendo'akan yang tebaik untuk kalian berdua. Dan jika memang Nak Gara sudah siap untuk menjalani pernikahan poligami ini, maka harus bisa bersikap adil pada kedua istrimu"
Gara hanya tersenyum dan tidak menjawab apapun, karena dirinya tidak yakin jika dia bisa bersikap adil. Sementara dirinya saja tidak mencintai Yunita. Hatinya hanya untuk Vania, sejak dulu hingga sekarang dan sampai selamanya.
"Saya akan menikahi Vania minggu depan, saya akan menyuruh asisten saya untuk mengurus semuanya dulu"
"Baiklah, Ibu do'akan semuanya akan berjalan lancar"
Dan saat Gara sudah kembali ke apartemennya, dia langsung menghubungi asistennya dan menyuruhnya untuk membawa semua berkas penting dirinya dan memabawanya ke kota ini.
Gara akan mengurus semuanya dengan telliti. Dia ingin mengikat Vania dalam pernikahan yang sah dan resmi. Karena Gara tidak akan mau melepaskan lagi Vania apapun yang terjadi.
Benar saja, siang ini asisten Gara sudah sampai di apartemennya dan menyerahkan apa saja yang Gara butuhkan.
"Maaf, tapi apa Tuan yakin akan melakukan ini?"
"Baik Tuan"
Dan semuanya benar-benar segera Gara bereskan.Dia ingin segera menikahi Vania dan mengikatnya.
Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi apapun yang terjadi.
Begitulah janji Gara sejak Vania menyetujui untuk kembali bersamanya. Kesempatan yang diberikan Vania padanya, tidak akan Gara sia-siakan lagi.
"Kalau begitu saya akan segera mengurus semuanya, dan akan kembali ke Ibu kota untuk membereskan semuanya"
Gara mengangguk dan segera menyuruhnya pergi.
__ADS_1
######
Malam yang cukup cerah dengan taburan bintang di langit malam. Vania berdiri di depan jendela kamarnya dengan tirai jendela yang dibiasakan terbuka.
Vania melirik ke arah anaknya yang terlelap diatas tempat tidur. Benar saja setelah Vania menjajikan akan tinggl bersama Ayahnya, Gevin langsung berubah menjadi anak penurut lagi. Gevin tidak lagi mengamuk seperti kemarin-kemarin ketika Gara tidak ada.
"Aku hanya mementingkan kebahagiaan Gevin. Berharap jika keputusan yang aku ambil saat ini akan menjadi keputusan yang baik untuk aku dan Gevin"
Vania hanya Gevin bahagia, karena hanya dengan dirinya saja Gevin tetap merasa jika kebahagiaannya kurang. Gebin hanya menginginkan kedua orang tuanya kembali bersama.
Vania menutup tirai jendela, lalu berjalan ke arah tempat tidur. Duduk diatas tempat tidur dengan mengelus kepala anaknya itu. "Semoga dengan keputusan Ibu ini, kamu akan selamanya bahagia Nak"
Vania membaringkan tubuhnya disamping Gevin. Memeluk anaknya dan terlelap dengan kegelisahan dan rasa ragu atas keputusan yang dia ambil saat ini.
Semuanya hanya demi kebahagiaan Gevin, Vania.
Dan Vania tersenyum ketika pagi ini dia melihat sosok Gevin yang lebih ceria dari sebelumnya. Vania senang ketika melihat anaknya yang semakin ceria. Melihat senyuman anaknya yang ceria dan tanpa beban itu.
"Bu, kata Papa hari ini dia akan datang kesini dan mengajak kita jalan-jalan"
"Ibu tidak bisa Nak, kan Ibu harus bekerja"
"Tidak papa Va, hari ini biar aku gantikan saja buat tunggu toko. Lagian hari ini aku juga tidak pergi kemana-mana. Pasokan bunga sudah aman, aku tidak perlu pergi ke perkebunan lagi"
Vania menoleh pada Jenny yang berdiri di ambang pintu dapur. Vania yang sedang menata makanan untuk sarapan pagi ini. Vania tidak bisa melakukan apapun, dia sudah pasti tidak akan bisa menolak ajakan Gara itu.
"Gevin ayo sarapan dulu, biar nanti kalau Papa datang Gevin sudah siap dan tinggal pergi"
"Baik, Bu"
__ADS_1
Melihat wajah bersemangat Gevin benar-benar membuat Vania merasa senang dan bahagia. Keputusan Ibu ini memang sudah tepat, Nak.Gumamnya.
Bersambung