Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 6 #Hidupku Sudah Kacau Tanpamu#


__ADS_3

Vania menatap anaknya yng terlelap, mengelus kepala anaknya dengan lembut. Vania mengingat hal yng terjadi tadi di ruko. Tentang Gara yng sudah mengetahui tentang keberadaan Gevin. Vania tidak akan siap jika suatu saat nanti Gara akan mengambil Gevin dari kehidupannya. Vania tidak akan yakin jika dia bisa hidup tanpa Gevin dalam hidupnya.


Ibu akan selalu menyayangi dan mempertahankan kamu agar tetap bisa berada disini, bersama Ibu.


Vania benar-benar tidak akan membiarkan Gevin diambil oleh Gara, meski Gara memang Ayah kandung Gevin.


Cup...


Vania mencium kening Gevin dengan penuh kasih sayang. "Ibu menyayangi Gevin, tetaplah bersama Ibu, Nak"


Vania  berlalu keluar dari kamar, menghampiri Ibu dan Jenny yang ada di ruang tengah. Vania ikut bergabung disana.


"Gevin sudah tidur Va?"


Vania mengangguk. "Sudah Kak,dia masih sedikit hangat tubuhnya, suhu tubuhnya belum benar-benar kembali normal. Barusan dikasih obat lagi"


"Tadi siang Gevin terus menanyakan Ayahnya Va, seolah dia punya firasat jika Ayahnya memang berada disini"


Ucapan Ibu  benar-benar membuat Vania semakin bingung saja. Dia tidak mungkin memberi tahu Gevin jika Ayahnya memang sudah berada di kota ini. Karena dengan begitu, sama saja Vania telah menyerahkan Gevin pada Gara. Sementara dia tidak bisa jika Gevin harus pergi dari hidupnya dan akan diambil oleh Gara.


"Apa tidak sebaiknya kamu beri tahu Gevin tentang Ayahnya Va? Setidaknya Gevin tidak akan terus bertanya tentang Ayahnya jika dia telah bertemu dengan Ayah kandungnya"


Vania menghela nafas berat, lalu dia menggeleng pelan. "Aku hanya takut jiks nanti Gevin akan dibawa oleh Ayahnya, Kak. Karena aku tidak akan pernah siap untuk kehilangan Gevin"


"Tapi setidaknya Gevin akan tahu siapa Ayahnya. Kalau pun nantinya Ayah Gevin akan mengambil Gevin dari kamu. Semuanya tergantung Gevin, tapi aku rasa Gevin juga tidak mungkin mau meninggalkan kamu. Dia sangat menyayangimu"


Vania tidak menjawab apapun, dia hanya sedang bingung saat ini. Tidak tahu akan seperti apa jika Gevin mengetahui tentang keberadaan Ayahnya. Mungkinkah Gevin tetap akan memilih Vania dan tidak akan meninggalkan Vania hanya demi bisa tinggal bersama Ayahnya.


Semalaman Vania benar-benar tidak  bisa tidur. Dia terus memikirkan tentang Gevin dan Gara. Hinggapagi ini dia kembali ke toko bung untuk bekerja, dia menjadi kurang bersemangat dalam bekerja.


Jenny datang satu jam lebih telat karena dia yang baru membeli bunga-bunga baru dari perkebunannya langsung. "Vani, mobil yang membawa bunga pesanan Nona Yunita akan segera datang kesini,  kamu ikut ya untuk memastikan bunga sampai dengan aman. Dan Nona Yunita juga meminta untuk kamu sekalian merangkai bunga itu dan memasangnya. Tenang saja, dia memberikan tips tambahan kok"

__ADS_1


Vania menghela nafas pelan, dia lupa jika hari ini adalah acara resepsi pernikahan Gara dan istrinya. Dan kenapa harus dia juga yang terlibat diacara  resepsi ini. Kenapa mereka harus memesan bunga dari toko ini. Rasanya Vania sangat ingin menyalahkan takdir pertemuannya dengan Gara di waktu yng seperti ini.


"Kak, apa tidak bisa Kakak saja yang mengantarknnya. Aku sedikit tidak enak badan, takutnya akan memuat kacau nanti karena pkerjaanku yang tidak benar"


"Ohh, kamu sedang tidak enak badan, yaudah tidak papa biar aku saja yang mengantar bunganya. Kamu istirahat saja disini sambil menjaga toko"


Besyukur karena Jenny yang begitu baik dan mengerti keadaan Vania. Membuat Vania bisa lolos hari ini agar tidak bertemu dengan Gara ataupun istrinya.


Maafkan aku Kak, karena sudah membohongimu.


Akhirnya Jenny yang pergi untuk mengantar bunga.Sampai di tempat lokasi acara, Jenny langsung menurunkan bunga-bunga segar pesanan Yunita waktu itu. Lalu dia masuk dan mencari Yunita untuk menanykan rngkaian bunga seperti apa yng di inginkan custemer nyaini.


"Maaf Nons, itu bunganya sudah sampai dan ingin dirangkai seperti apa dan akan di pasang dimana?"


Yunita yang sedang merangkul lengan suaminya langsung menoleh pada Jenny dan tersenyum padanya. "Ohh sudah sampai ya, yaudah kamu rangkai saja llau dipasang si setiap sudut ruangan"


"Baik Nona kalau begitu, saya akan segera melakukannya"


Jenny beralih menatap Gara, lalu dia mengangguk. "Ya,Tuan saya datang sendiri. Teman saya sedang tidak enak badan, jadi dia tidak bisa datang kesini. Makanya saya yang menggantikannya"


Gara mengangguk mengerti mendengar ucapan Jenny barusan.


######


Vania tersenyum saat pelanggan setia toko bunga ini datang. Prria tampan dengan kacamata yang selalu bertengger di hidung mancungnya, semakin membuat pria itu terlihat tampan.


"Datang lagi, hari ini mau membeli bunga apa?"


Hildan tersenyum,dia memang terbiasa datang seminunggu sekali ke toko bunga ini untuk membeli bunga dan membawanya ke makan mendiang istrinya. "Apa saja, istriku memnag sangat menyukai bunga. Dia menyukai bunga apapun"


Vania tersenyum dan dia mulai memilihkan beberapa bunga lalu merangkainya. "Ini Kak, terima kasih karena sudah membeli bunga di toko kami"

__ADS_1


Hildan tersenyum, lalu dia mengamilkn satu tangkai mawar putih dan memberikannya pada Vania. "Seperti biasa, bunga untuk penunggu cantik di toko ini"


Vania tersenyum, lalu dia segera mengambil bunga itu. Mencium aroma wangi dari bunga mawar putih yang diberikan Hildan. Memang setiap kali membeli bunga, pasti Hildan akan memberinya setangkai bunga mawar putih untuknya.


"Terima kasih Kak"


Hildan mengangguk, lalu dia membayar bunga yang dibelinya sekaligus dengan bunga yang diberikan pada Vania.


"Yasudah aku pergi dulu ya"


"Iya Kak, terima kasih"


Sementara seseorang yang sedang berdiri tidak jauh dari toko bunga jelas melihat adegan itu. Tangannya mengepal erat. Lalu setelah melihat pria itu pergi,dia segera berjalan ke arah toko bunga.


"Penunggu cantik di toko ini. Cih"


Vania langsung menoleh pada sumber suara yang tiba-tiba muncul. Terdiam mematung ketika melihat sosok pria yang mengganggu fikirannya semalam.


"Mau  apa kau datang kesini lagi? Apa kau tidak puas mengganggu hidupku selama ini"


Gara mendengus kesal dengan kedua tangannya dia masukan ke dalam saku celana yang dia pakai. "Pria lain yang datang kesini dengan jelas menggodamu saja, tidak kau larang. Kenapa ka melarang aku untuk datang kesini dan menemuimu"


Vania menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana  Gara yang sangat pencemburu. Tapi saat ini pria itu masih cemburu padanya. Rasanya tidak mungkin karena memang Gara yang sudah memiliki istri dan tidak mungkIn Gara masih mencintainya. Karena jika dia masih mencintainya, mana mungkin Gara memintanya untuk pergi dari kehidupannya.


"Gara, aku mohon untuk tidak mengganggu kehidupan aku lagi. Aku sudah dengan susah payah menata hidupku kembali selama ini. Jadi, tolong jangan mengacaukan lagi hidupku"


"Aku tidak akan mengacaukan hidupmu, karena hidupku sudah sangat kacau tanpamu selama ini"


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2