Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 8 #Telah Mengecewakanmu#


__ADS_3

Awal resepsi sudah di mulai, sepasang pengantin yang baru satu bulan menikah itu, berdiri di pelaminan dengan senyuman manis dan bahagia dari si pengantin wanita. Tapi terlihat wajah dingin dan datar dari si pengantin pria. Gara benar-benar tidak menunjukan kebahagiaannya saat ini. Padahal memang sudah sseharusnya dia bahagia dengan acara ini.


Melihat bagaimana keluarganya yang saling tertawa bahagia. Gara benar-benar sedang merasa muak dengan semua ini. Gara yang tidak bisa membantah ucapan orang tuanya. Dan dia yang masih ingin memperjuangkan cintanya. Entah  apa yang harus Gara lakukan saat ini.


Di rumah Jenny, Vania sedang bingung dan merasa tidak punya pilhan lain selain menuruti perkataan Jenny.


"Kak, apa beneran harus berangkat ya? Padahal aku ingin istirahat saja dirumah bersama Giant"


"Iya Va, kamu harus ikut dong. Kita berdua sengaja diundang oleh Nona Yunita untuk hadir di acara resepsi pernikahannya.Malu juga kalau tidak datang, di membeli banyak bunga dari toko kita"


Vania terdiam, dia tidak ingin menyaksikan bagaimana Gara yang sedang bahagia dengan pernikahannya  ini. Vania sudah cukup terluka dengan semua ini, jadi dia tidak mau terluka lagi karena melihat bagaimana pria itu berbahagia deengan istrinya.


"Kita bawa saja Gevin, biar dia bisa sekalian jaan-jalam"


"Tidak!" Vania bahkan terkejut dengan suaranya sendiri yang terdengar berteriak itu. "...Emm. Maksudku, biar tidak lama lebih baik kita tidak perlu membawa Giant"


"Baiklah, sekarang kamu siap-siap, kita akan berangkat sebentar lagi"


Vania mengangguk, dia bingung harus bagaimana. Vania benar-benar tidak bisa menolak ucapan Jenny. Akhirnya Vania hanya perlu segera bersiap dan pergi ke acara itu dan segera kembali pulang.


Vania menatap suasana pesta  yang terasa sangat mewah dan ramai ini. Dia melirik kesekelilingnya. Seketika tubuhnya mematung ketika dia melihat sekumpulan keluarga yang ada di salah satu meja bundar disana.


Ya Tuhan, semoga saja tidak ada yang melihatku.


"Kak, apa kita langsung pulang saja?"


"Kita belum mengucapkan selamat pada pengantin, jadi ayo temui dulu mereka"


 


Vania terdiam, dia tidak bisa menghindar lagi dari Gara yang mungkin tidak tahu  jika Vania ikut hadir diacara pesta resepsi pernikahannya.


"Kakak saja ya, aku sedang tidak enak perut saat barusan memakan itu. Mungkin lambungku sedang tidak menerima makanan sepeerti itu" Vania menunjuk makanan yang baru saja dia makan.

__ADS_1


"Ohh gituya, yasudah biar aku  saja yang menemui mereka"


Vania menghela nafas lega saat Jenny sudah pergi menuju pelaminan. Dia menatap ke arah pelaminan dan melihat Jenny yang sedang mengucapkan selamat pada pasangan pengantin. Hingga seseorang yang datang menghamrinya, langsung membuat Vania terkejut.


"Hai, apa kau masih mengingatku?"


Vania terdiam,tentu dia mengingat siapa orang yang ada di depannya. "Maaf ada apa ya?"


Vania  benar-benar terkejut dan bingung saat orang di depannya tiba-tiba saja datang menghampirinya. Vania benar-benar tidak tahu apa  yang harus dilakukan saat ini.


"Saya  tidak masalah jika kau datang kesini hanya sebagai tamu undangan atau apapun itu. Meski saya cukup terkejut kenapa biasa ada kamu disini. Tapi apapun alasannya, kau hanya boleh datang sebagai tamu saja, lihatlah jika Gara telah bahagia dengan istrinya. Jadi tolong jangan mngganggu kehidupannya lagi"


Setelah berkata seperti itu pada Vania, dia langsung pergi dari hadapan Vania. Tepat pada saat itu Jenny datang menghampiri nya. Jenny melihat Vania yang terdiam dengan wajah bingung dan terkejut.


"Vania, kamu kenapa?"


Vania mengerjap, smua bayanganmasa lalu yang tiba-tiba kembali hadir dalam ingatannya, membuat Vania tidak sadar jika Jenny sudah berada di depannya.


"Baiklah ayo kita pulang"


Jenny merasa jika ada yang aneh dengan sikap Vania ini. Bahkan gadis itu langsung menjadi gadis yng pendiam sejak pulang dari acara pesta resepsi pernikahan Gara dan Yunita.


Vania berdiri di depan jendela kamarnya, air mata tidak  tertahan untuk tidak mengalir di pipinya. Vania mengingat kembali perkataan dari pria yang kembali dia temui sejak 5 tahun yang lalu.


######


Vania bergetar saat dia bertemu dengan ria yang menemuinya ke kosannya. Vania  tidak tahu siapa pria paru baya itu. Namun ketika melihat wajahnya, seolah mengingatkan Vania pada wajah seseorang.


"Selamat pagi Tuan" Vania membungkukan tubuhnya sebagai rasa hormat pada pria itu. Meski tangannya sudah bergetar. tatapan dingin dan tajam pria itu padanya.


"Kau Vania?"


Vania segera mengangguk emnjaawab pertanyaan pria itu.

__ADS_1


"Kau tahu jika Gara masih kuliah dan tidak bisa menikah sebelum dia menyelesaikan kuliah dia. Jadi tolong jangan terus memaksa dia untuk menikahimu. Lagian  kau tidak hamil, kenapa harus buru-buru menikah"


Mendengar itu, tubuh Vania benar-benar mematung dan tidak bisa menjawab apa-apa. Bahkan saat pria itu pergi pun, Vania masih diam dan tidak bisa bekata-kaa apapun.


Ting..


Tepat pada saat itu ponsel dalam saku celananya terdengar berbunyi. Vania langsung melihat sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu dan seketika dia terdiam mematung membaca pesan yang masuk di ponselnya itu.


######


Vania  mengusap  kasar air mata yng masih saja meluncur di pipinya. Ketika pintu kamar yang terbuka membuat Vania segera menghapus air matanya. Dia berbalik dan melihat Jenny yang ternyata masuk ke dalam kamarnya.


"Va, kamu kenapa? Sejak pulang dari acara pesta tadi siang, kamu terlihat murung dan lebih banyak diam"


Vania menghela nafas pelan, dia menatap Jenny dengan tatapan yang sulit diartikan. "Semuanya terlalu berat untuk menghadap semua ini sendirian"


Mendengar suara lirih Vania yang penuh dengan putus asa itu, membuat Jenny langsung memeluknya. "Sabar Sayang, kamu juga tidak sendiri. Ada aku dan Ibu yang akan selalu menemanimu sampai kapan pun"


Vania benar-benar merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Jenny dan Ibunya. Mereka begitu baik dan tulus padanya. Bagaimana Jenny tidak pernah menganggap dirinya dan Gevin adalah orang lain.


"Terima kasih karena  sudah menjadi sosok  malalikat dalam hidupku, Kak"


Ditempat yang berbeda Gara masih belum tidur fi hari yang hampir larut. Dia duduk diatas sofa yang berada di ruang tengah apartemennya ini dengan segelas minuman yang ada di atas meja. Yunita sudah tidur sejak satu jam yang lalu. Mungkin Yunita sangat kelelahan atas acar tadi siang.


"Dia datang ke acara resepsi pernikahanku dan membuat aku semakin merasa bersalah padanya"


Gara mengetahui Vania datang ke acara pesta itu ketika Jenny yang mengatakan jika dia datang bersama temannya. Dan Gara tidak bisa melihat dimana keberadaan Vania karena tamu undangan yang datang cukup banyak juga. Membuat Gara tidak bisa melihat dimana keberadaan Vania.


Maafkan aku Va, karena aku telah mengecewakanmu.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2