
Entah ini adalah sebuah keputsan yang benar atau bukan. Tapi Vania hanya tidak mau egois, dia memang mencintai Gara, tapi setidaknya Vania tidak boleh merebut anak laki-laki yang selalu menjadi harapan kedua orang tuanya. Vania hanya mau jika Gara bisa menjadi sosok anak laki-laki yang selalu menjadi kebanggaan keluarganya itu.
"Sayang kamu yakin tidak mau ikut aku saja, kan kita bisa sewa Apartemen dulu disana kalau memang kamu tidak mau tinggal bersama kedua orang tua aku"
Vania tersenyum, dia mengelus pipi Gara dengan lembut. Mengecup bibirnya sekali sebagai hadiah sebelum Gara pergi ke Ibu kota. "Sayang, aku gak papa disini. Lagian kamu juga bukan untuk tinggal selamanya disana 'kan? Kamu pasti kembali kesini untuk menemui aku dan Gevin?"
"Tentu saja, aku juga tidak bisa lama tinggal disana. Aku pasti akan sangat merindukan kamu"
Vania tersenyum mendengar itu, dia menangkup wajah Gara dengan kedua tangannya. Menatap lekat kedua mata suaminya yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling tatap dengan pancaran penuh cinta.
"Aku percaya sama kamu kalau kamu tidak akan mengecewakan aku dan Gara. Jadi pergilah dan aku do'akan semoga kamu segera bisa menyelesaikan masalah yang menimpa Papa kamu dan perusahaannya"
Gara mencium kening istrinya cukup lama hingga Vania memejamkan matanya untuk menikmati ciuman hangat suaminya di keningnya itu. "Aku pergi dulu ya, kamu bak-baik disini sama Gevin. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku"
Vania mengangguk, dia tersenyum melepas kepergian suaminya. Meski dia terlihat tegar ketika Gara pergi, bahkan lebih tegar dari suaminya yang terlihat begitu sedih karena harus berpisah dengan istrinya. Namun ketika pintu kamar tertutup, maka pertahanan Vania runtuh seketika. Air matanya menetes begitu saja di pipinya yang segera Vania usap kasar dengan punggung tangannya.
"Kamu hanya perlu lebih tegar dan percaya pada Gara. Saat ini dia sedang menjadi anak laki-laki yang sedang membantu menormalkan kembali perekonomian keluarganya. Membantu menyelesaikan masalah yang saat ini sedang menimpa kedua orang tuanya. Kamu tidak boleh egois Vania"
Dan Vania hanya bisa terduduk di pinggir tempat tidur dengan helaan nafas panjang. Dia harus bisa menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya. Karena semuanya juga demi kebaikan Gara dan keluarganya.
Di perjalanan Gara juga tidak bisa lepas dari memikirkan istri dan anaknya yang dia tinggalkan saat ini. Sebenarnya Gara juga tidak tega meninggalkan Vania dan Gevin di kota ini. Tapi mau bagaimana lagi jika saat ini Gara juga mempunyai tanggung jawab sebagai anak laki-laki satu-satunya yang harus menyelesaikan masalah yang sedang menimpa kedua orang tuanya.
Do'akan aku agar bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Agar aku juga bisa segera kembali pada kalian.
Begitulah harapan Gara saat ini, dia hanya tidak mau menjadi anak yang tidak berbakti pada orang tua. Apalagi ketika suara Mama yang memohon dengan isak tangis yang terdengar, membuat Gara tidak kuasa menolaknya.
Setelah melewati cukup waktu, akhirnya Gara telah sampai di depan rumah kedua orang tuanya. Gara memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah dan dia segera masuk ke dalam rumah.
"Ma, Pa"
__ADS_1
Gara segera menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk diatas sofa. "Pa, gimana bisa sampai gini si? Papa kena tipu sama siapa?"
"Maafkan Papa Gara, saat itu Papa hanya tergiur dengan hasil yang nantinya akan kita dapatkan jika kita menanam saham yang cukup besar di perusahaan asal luar negeri itu. Tapi ternyata perusahaan itu palsu dan hanya digunakan untuk hal ini saja. Bahkan ketika Papa lapor ke polisi, sudah banyak korban yang melapor sebagai korban penipuan dari orang dan perusahaan yang sama"
Arghh..
Gara mengusap wajah kasar dan mengacak rambutnya dengan frustasi. Gara tidak menyangka jika Ayahnya yang sudah berdiri di dunia bisnis ini bukan hanya setahun dua tahun, tapi sudah puluhan tahun. Tapi ternyata Papa bisa tertipu juga.
"Berapa banyak yang Papa investasikan?"
Papa menunduk pelan, jelas dia juga tahu bagaimana perusahaan yang dia dirikan dari awal harus berada diambang kehancuran sekarang.
"3 triliun"
Gara bahkan tidak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan Papa. Jelas dia tidak akan bisa mengembalikan uang sebanyak itu dalam waktu sekejap. Dan tidak akan ada pilihan lain jika bukan mengakusisi perusahaan untuk bisa melunasi hutang dan gaji karyawan untuk bulan ini.
"Papa juga sudah berusaha bernegosiasi dengan para pemilik saham. Namun mereka tidak mau membantu dan malah menarik saham yang ada dari perusahaan kita karena mereka yang tidak mau ikut rugi"
Hah..
Gara hanya bisa menghembuskan nafas kasar, dia juga bingung dengan apa yang akan dia lakukan saat ini. "Yaudah, nanti kita pikirin lagi semuanya. Sekarang aku mau tidur dulu"
"Iya Nak, kamu pasti lelah habis melewati perjalanan cukup jauh. Istirahatlah dulu" kata Mama yang baru membuka suaranya sejak tadi.
Gara masuk ke dalam kamar yang memang selalu menjadi kamarnya selama ini. Gara merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan kedua tangan menjadi bantalan. Gara menatap langit-langit kamar dengan helaan nafas yang terdengar sangat berat.
"Mungkin ini adalah bentuk cobaan dari Tuhan untuk keluargaku"
Gara bangun dan mengambil ponselnya, dia teringat jika belum mengabari istrinya kalau dia telah sampai di Ibu kota.
__ADS_1
"Hallo Sayang, aku baru saja sampai"
Di kota yang berbeda Vania tersenyum ketika mendengar suara suaminya itu. Dia sedang duduk diatas sofa depan televisi dengan Gevin yang sedang bermain robot-robotan yang dibelikan oleh Mama beberapa waktu lalu.
"Syukurlah kalau kamu sudah sampa. Bagaimana keadaan Mama dan Papa? Salam ya untuk mereka"
"Iya Sayang, mereka baik. Do'akan saja agar masalah disini bisa segera aku selesaikan"
Vania mengangguk meski dia tahu jika Gara tidak akan bisa melihatnya. "Iya Sayang, aku akan selalu mendo'akan kamu dan keluargamu selalu baik-baik dan masalahnya juga segera selesai dan segera menemukan jalan keluarnya"
"Iya Sayang"
Gara memutuskan sambungan telepon dan menyimpan kembali ponselnya diatas nakas. Lalu dia terlelap untuk sekedar meriilekskan tubuh dan fikirannya saat ini.
Sementara Vania juga hanya bisa mendo'akan agar suaminya bisa segera menyelesaikan masalah ini. Vania yang sedang menemani Gevin bermain juga ikut kepikiran, masalah yang sedang dihadapi suaminya itu sebesar dan sesulit apa.
"Ibu, Papa kemana? Kok aku tidak lihat sejak tadi pagi?'
Vania tersenyum pada anaknya yang menghampirinya dan menanyakan tentang keberadaan Ayahnya. "Papa ada urusan sebentar, dia sedang pergi ke rumah Oma dan Opa"
Gevin mengangguk mengerti, dia duduk disamping Ibunya dengan robot mainan yang masih berada di tangannya.
"Kenapa aku gak diajak ya Bu? Papa tidak akan meninggalkan aku dan ibu lagi 'kan?"
Vania mengelus kepala anaknya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja tidak, Papa memang sedang ada masalah dan sekarang sedang membantu Opa untuk bekerja"
Anak seusia Gevin hanya mengangguk saja meski dia tidak benar-benar mengerti apa yang Ibunya ucapkan.
Bersambung
__ADS_1