Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 49 #Akan Selalu Menjaga Pernikahan Ini#


__ADS_3

Semuanya telah benar-benar terselesaikan, Gara sudah bisa menyelamatkan perusahaan Ayahnya. Malam ini dia pulang ke rumah dngan perasaan yang lebih lega. Pada akhirnya dia bisa menyelesaikan semua ini tanpa harus mengancam pernikahannya dengan Vania akan hancur.


"Jadi kamu tidak jadi meminta bantuan Yunita?"


"Tidak, aku bisa menemukan bantuan dari orang lain tanpa harus menerima bantuan dari dia dengan persyaratan yang aneh itu" jawab Gara santai atas pertanyaan Ayahnya itu.


"Kamu ini, kenapa tidak bilang Papa dulu? Yunita pasti akan kecewa dengan semua ini"


"Ya, tidak papa. Memangnya kenapa juga aku harus meminta bantuan dari dia sementara masih ada orang lain yang mau membantuku. Ingat Pa, meminta bantuan pada Yunita sama saja dengan menghancurkan rumah tanggaku dengan perlahan. Dan aku tidak mau itu terjadi. Sudah ya Pa, aku mau istirahat dulu"


Gara berlalu ke kamarnya tanpa mau mendengarkan apa yang mungkin saja akan dibicarakan oleh Papa. Dari sini Gara bisa tahu jika Papa memang belum sepenuhnya menerima Vania di keluarga ini.Hal ini membuat Gara lebih waspada lagi agar Papa tidak berbuat yang tidak-tidak pada Vania agar membuat gadis itu pergi dari kehidupan Gara.


Di ruang tengah Papa mengusap wajah kasar, dia tidak menginginkan Gara bersama dengan Vania karena memang dia mempunyai alasan. Tapi Papa juga tidak bisa menahan Gara yang memang sejatinya keras kepala sama dengan dirinya. Gara tidak akan meninggalkan Vania jika bukan Vania yang meninggalkan Gara lebih dulu seperti saat itu.


"Jika dia bukan gadis itu, maka aku tidak masalah anakku menikah dengannya. Tapi dia akan menjadi boomerang untuk keluargaku nantinya"


Entah ada kejadian apa yang membuat Papa begitu tidak menyetujui anaknya bersama dengan Vania.


######


Hampir dua minggu Gara berada di Ibu kota, dan saat ini dia sudah bisa kembali ke kota tempat tinggal dia dan istrinya. Gara sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan istrinya itu. Ketika mobilnya terparkir di basement Apartemen, Gara segera naik lift menuju lantai dimana Apartemennya berada.


Vania yang sedang menonton televisi bersama anaknya, tidak mengetahui jika Gara sudah berada di kota ini. Karena memang Gara yang tidak memberi tahu Vania jika dia akan pulang hari ini.


Ketika suara pintu yang terbuka membuat Vania segera berdiri dan menoleh ke arah pintu. Dia takut jika ada yang masuk ke dalam Apertemennya ini adalah orang jahat.


"Sayang.." Gara merentangkan tangannya dengan tersenyum manis pada Vania. Istrinya itu malah terlihat berkaca-kaca karena mungkin dia begitu terkejut dan senang karena suaminya telah kembali setelah cukup lama dia berada di Ibu kota.


Vania menghambur ke pelukan suaminya, dia benar-benar sangat merindukan Gara. "Kamu jahat, kenapa tidak bilang aku dulu kalau mau pulang sekarang"

__ADS_1


Gara tersenyum mendengar omelan istrinya yang sedang kesal itu. Gara mengelus rambut Vania dengan lembut. "Maaf Sayang, tapi aku sengaja biar jadi kejutan buat kamu"


Vania melerai pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah suaminya itu. "Jahat, sudah tahu aku begitu merindukan kamu. Aku kira kamu tidak akan pulang hari ini, jadi aku juga belum memasak untuk makan siang kita"


Gara mengecup kening istrinya dengan lembut. "Kita makan diluar saja, sekalian ajak Gevin jalan-jalan"


"Tapi kamu 'kan pasti capek?"


Gara menggeleng, dia berjalan ke arah sofa bed dan duduk disamping anaknya yang sedang fokus pada game di tangannya sampai Gevin cuek saja ketika Ayahnya pulang. Padahal beberapa hari terakhir dia selalu menanyakan kapan Gara akan pulang.


"Anak Papa kok malah cuek gini ya pas Papanya pulang. Apa dia tidak kangen dengan Papa ya Bu?" kata Gara yang sengaja bersuara kencang dan seolah sedang bertanya pada Vania.


Gevin langsung menyimpan game itu dan menghambur ke pelukan Ayahnya, membuat Gara tersenyum bahagia dengan itu.


"Papa kemana saja? Lama sekali pergi ke rumah Oma"


"Ya, Gevin jadi anak baik kok. Tidak menyusahkan Ibu"


Vania hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya itu. Padahal pada kenaytaannya, Gevin sering rewel dan terus bertanya dimana Ayahnya. Makan saja harus disuapi setiap hari, padahal jika ada Ayahnya maka Gevin selalu menurut apa yang diucapkan oleh Ayahnya. Jika kata Gara dia harus makan sendiri, maka Gevin akan makan sendiri tanpa rewel seperti saat bersama Vania.


"Yaudah Gevin ayo siap-siap, Papa mau ajak kita jalan-jalan. Gevin mau ikut 'kan?"


"Mau Bu, mau"


Vania menggeleng gemas dengan tingkah anaknya yang langsung berjingkrak senang ketika Vania mengatakan hal itu. Vania membawa Gevin ke kamarnya untuk di mandikan dan berganti baju.


Sementara Gara hanya duduk diam diatas sofa dengan tersenyum  tipis melihat foto pernikahan dirinya dan Vania yang terpajang di ruang tengah itu. "Aku akan selalu menjaga pernikahan ini agar tetap bertahan sampai kapan pun"


Mengingat bagaimana Gara yang hampir gila karena Vania yang pergi 5 tahun yang lalu. Dia yang terus mencari Vania hingga pada akhirnya takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sulit saat itu.

__ADS_1


Dan perjuangan Gara yang sangat besar itu tidak akan dia sia-siakan begitu saja. Gara tidak akan membiarkan pernikahannya hancur karena adanya orang dari luar yang mencoba menghancurkan pernikahannya itu.


"Sayang, kamu mau mandi dulu? Biar aku siapkan airnya ya" 


Gara menoleh pada Vania yang baru saja muncul dari kamar Gevin setelah dia selesai memandikan Gevin. "Iya Sayang, aku juga sangat gerah"


Gara mengikuti istrinya yang masuk ke dalam kamar mereka. Rasanya sudah lama sekali Gara tidak masuk ke dalam kamar ini dan tidur bersama istrinya. Padahal nyatanya dia hanya pergi dua minggu saja, tidak terlalu lama seperti yang dia rasakan.


"Kamu juga belum mandi 'kan?"


Vania menggeleng, dan dia begitu terkejut saat Gara menarik tangannya untuk ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Ayo kita mandi bersama, sudah lama juga kita tidak melakukan ini"


Dan Vania tidak bisa menolak, dia masuk ke dalam bak mandi disaat suaminya sudah lebih dulu masuk. Gara memeluk Vania dari belakang di dalam bak mandi itu.


"Nanti malam kamu bersiap ya, kita akan melepas rindu" bisik Gara di telinga Vania


Vania hanya diam dengan tubuhnya yang sedikit meremang dengan bisikan Gara dan nafas hangat suaminya yang mengenai kulitnya secara langsung.


"Kan biar kamu bisa cepat hamil" Gara mengelus perut rata istrinya itu. Gara selalu berharap istrinya segera hamil lagi, agar dia bisa menebus segala kesalahannya ketika Vania mengandung Gsvin dan tanpa dia disampingnya.


"Emm. Sayang sudah yuk mandinya, kita harus segera berangkat. Gevin juga pasti sudah menunggu kita sejak tadi"


"Baiklah"


Sebenarnya Gara masih belum rela menyudahi mandi bersama ini. Tapi apa boleh buat, anaknya memang sudah menunggu mereka saat ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2