
"Papa akan menyerahkan diri ke polisi Ma"
Tidak ada jawaban dari Mama, dia juga bingung harus bagaimana menyikapi semua ini. Ya memang seharusnya suaminya menyerahkan diri ke polisi sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Tapi, hati Mama sebagai seorang istri yang mencintai suaminya, tentu merasa tidak rela jika suaminya harus di penjara. Tapi apa yang bisa di lakukan ketika suaminya juga memang bersalah.
"Lakukanlah apa yang terbaik untuk semuanya. Karena disini Gara juga menjadi korban" Mama berlalu keluar dari kamar, dia tidak tahu apa keputusannya benar atau salah. Yang jelas Mama hanya tidak bisa egois, suaminya bersalah dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Papa duduk diam diatas sofa yang ada di kamarnya. Dia juga bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Istri dan anaknya tentu akan marah besar padanya sehingga dia tidak mungkin bisa dengan mudah mendapatkan maaf lagi dari mereka.
Di tempat yang bebeda, Gara menatap kaca meja rias yang retak dan hancur berantakan. Ada beberapa serpihan kaca yang jatuh ke atas lantai. Darah segar yang mengalir dari kepalan tangannya hanya dia abaikan. Gara sedang tidak tahu harus melampiaskan dengan cara bagaimana lagi ketika dia mengetahui semuanya.
Gara tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin yang retak itu. "AkuĀ lebih baik mati jika istriku akan meninggalkan aku dan meminta cerai padaku. Lebih baik aku mati saja di masa lalu, dari pada sembuh tapi dengan penderitaan orang lain yang tidak dia ketahui selama ini.
Gara benar-benar frustasi dan bingung harus melakukan apalagi. Rasanya semua masalah terus datang silih berganti pada kehidupannya dan istrinya.
Gara merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan terlelap begitu saja dengan kondisi tangan yang terluka dan tidak dia obati sama sekali. HIngga pagi hari dia mendengar suara bell pintu yang begitu nyaring.
Gara terbangun dengan kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja. Suhu tubuhnya terasa panas dan kepalanya yang juga terasa pusing. Mungkin juga efek dari tangannya yang luka dan tidak Gara obati sama sekali.
Berjalan gontai menuju pintu Apartemennya, Gara membuka pintu Apartemen dan Mama langsung memeluk anaknya. Mama memutuskan untuk melihat Gara yang keadaannya sudah pasti tidak akan baik-baik saja setelah kenyataan ini terbongkar.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?"
Gara tidak menjawab, dia hanya terdiam dalam pelukan Ibunya dengan air mata yang menetes begitu saja. Semuanya terlalu berat bagi Gara. Rasanya dia tidak akan sanggup menghadapi semua ini.
Mama membawa Gara untuk masuk dan duduk di atas sofa yang berada di ruang tengah. Mama baru melihat keadaan tangan Gara yang terluka.
__ADS_1
"Ya ampun Ga, apa yang kamu lakukan dengan tanganmu? Kenapa harus melakukan ini?"
Gara tidak menjawab, dia hanya diam dengan tatapan kosong. Rasanya tidak punya tenaga lagi hanya untuk berbicara. Mama mengambil kotak obat dan air hangat ke dalam wadah untuk mengobati luka di tangan Gara. Darah yang mulai mengering dan beberapa serpihan kaca yang masih menempel di tangannya itu membuat Mama meringis pelan.
Gara bahkan tidak terlihat kesakitan ketika Mama mengobati luka di tangannya. Bahkan Gara terlihat begitu tenang dengan wajah datar dan tatapan kosong. Melihat keadaan anaknya itu membuat hati Mama tersayat. Tidak ada seorang Ibu yang tidak terluka melihat kondisi anaknya yang seperti ini sekarang.
"Gara, Papa kamu akan menyerahkan diri ke polisi"
"Kenapa Ma? Kenapa baru sekarang? Disaat penderitaan seseorang telah Papa ciptakan"
Mama mengelus rambut anaknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Maafkan Mama Gara, karena Mama juga tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Tapi sejujurnya Mama juga tidak mungkin mau melihat suami Mama harus di penjara. Tapi, mau bagaimana lagi karena semua ini adalah yang terbaik. Biarkan Papa menerima hukuman atas perbuatannya itu"
Gara menoleh pada Ibunya ketika dia mendengar isakan kecil dari ucapan Mama. "Semuanya adalah kesalahan yang sudah pasti harus di pertanggung jawabkan Ma, aku juga bingung harus melakukan apa. Tapi saat ini justru pernikahan aku yang terancam akan hancur"
Mama memeluk Gara, dia tahu jika anaknya ini pasti akan terluka dengan semua yang sedang terjadi saat ini. Mama tahu bagaimana Gara yang sangat mencintai Vania, dan mungkin setelah ini entah akan masih sama atau tidak.
"Di rumah Jenny" Gara menyebutkan alamat rumah Jenny itu.
Mama memberi Gara makan, meski dia sepertinya tidak terlalu bereselera, tapi Mama tetap memaksa. "Kamu harus tetap sehat untuk menghadapi semua ini. Jika kamu sakit bagaimana kamu bisa kuat menghadapi masalah ini"
Akhirnya Gara menurut, benar juga apa kata Mama. Dia harus sehat jika tidak sakit dan malah semakin kacau untuk menghadapi semua ini. Setelah makan dan minum obat, Gara terlelap. Mama mengelus kepala anaknya itu dengan air mata yang menetes begitu saja di pipinya.
"Mama akan berusaha membuat kamu kembali bersama Vania"
######
__ADS_1
Jenny menghela nafas melihat Vania yang sedang mengaduk makanan tanpa berniat memakan makanan itu. Jenny tahu bagaimana perasaan Vania. Dia pasti sangat terluka dan terpuruk mengetahui kenyataan ini. Ayah dari pria yang dia cintai, ternyata adalah sumber dari segala kekacauan dalam hidupnya. Dia yang telah mengakhiri hidup kedua orang tuanya. Rasanya, Jenny juga belum tentu kuat jika berada di posisi Vania.
"Va, makanlah. Aku tahu bagaimana perasaan kamu yang pastinya sangat kacau. Tapi percayalah kalau semuanya pasti akan ada ujungnya, entah bagaimana pun akhirnya yang penting kamu bisa menjalani semuanya. Dan aku yakin kamu akan bisa melewati semua ini"
Vania hanya diam, dia menatap Jenny dengan mata yang berkaca-kaca. Merasa sangat terharu karena saat ini dia tidak sendiri. Ada Jenny yang selalu ada disaat Vania terpuruk seperti saat ini.
"Makan dulu makanan Va, kamu harus tetap sehat dan kuat. Ingat ada Gevin yang masih membutuhkan kamu"
Mungkin memang benar apa yang diucapkan oleh Jenny. Vania memang sedang kacau saat ini, namun dia juga tidak bisa melupakan jika ada Gevin yang masih sangat membutuhkannya.
Meski mungkin selera makannya sudah hilang sejak tadi. Namun, Vania tetap memaksakan diri untuk tetap makan. Mencoba untuk tetap baik-baik saja disaat semuanya kacau.
Tok..tok..
"Siapa yang datang ya, kamu habiskan makanannya Va, biar aku membukakan pintu dulu"
Vania mengangguk saja, dia membiarkan Jenny pergi berlalu ke arah pintu. Dia hanya fokus pada makanannya yang sebenarnya tidak terasa apa-apa di lidah Vania. Semuanya yang masuk terasa hambar.
Beberapa saat kemudian Jenny kembali menemui Vania yang masih berada di meja makan. "Vani, itu ada orang yang katanya Mama mertua kamu"
Vania langsung menghentikan gerakannya yang sedang menyendok makanan. Dia menatap pada Jenny. Mungkinkah itu adalah Mama? Gumamnya.
"Yaudah Kak, tidak papa. Aku akan temui"
Vania menemui orang yang menunggunya di di ruang tengah. Benar jika itu adalah Mama. Vania segera menghampirinya dan menyalami Mama dengan sopan.
__ADS_1
"Gara sakit Va"
Bersambung