Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 35 #Bercerita Dengan Mama#


__ADS_3

Pagi ini Gara berpamitan pada Vania untuk pergi. Dia memang tidak bilang akan pergi kemana. Mungkin Vania akan berpikir jika dirinya akan pergi ke tempat bekerjanya. Padahal nyatanya Gara pergi menemui Mama.


Duduk berhadapan di sebuah meja di Restaurant terkenal. Awalnya memang Gara akan meminta bantuan pada Papa, tapi dia pikir akan ada masalah besar jika dia langsung bicara pada Papa. Jadi Gara memilih untuk bicara dengan Mama lebih dulu.


"Jadi ada apa kamu ingin bertemu dengan Mama?"


"Ma, sebenarnya ada yang tidak Gara ceritakan pada Mama"


"Memangnya apa yang ingin kamu ceritakan?"


"Aku dan Vania sudah mempunyai anak Ma"


Deg..


Mama benar-benar terkejut mendengar itu, selama ini yang dia tahu hanya tentang Gara yang memang sangat mencintai Vania. Tidak tahu tentang kehadiran anak diantara mereka.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang pada Mama"


"Maaf Ma, karena aku juga tidak tahu. Dia hamil disaat pergi meninggalkan aku, karena Papa yang memintanya pergi"


"Apa?"


Mami langsung mengepalkan tangannya dengan erat. Dia merasa tidak menyangka jika suaminya meminta Vania pergi dalam keadaan hamil. "Maafkan Mama Nak, Mama benar-benar tidak tahu jika saat Papa kamu meminta Vania pergi disaat keadaan yang sedang hamil"


"Entahlah, tapi sekarang aku sedang ada masalah"


"Ada apa? Kamu bisa cerita sama Mama. Selama Mama bisa bantu, pasti akan segera Mama bantu"


Akhirnya Gara menceritakan semuanya, tentang yang terjadi di masa lalu sampai sekarang. Dan Mama sampai menangis ketika dia mendengar cerita Gara. Jelas dia tahu bagaimana perasaan Vania ketika dia hanya seorang diri membesarkan anaknya.


"Bawa Mama bertemu dengan anak dan istrimu. Semua biaya operasi anak kamu biar Mama yang urus"


Gara langsung menggenggam tangan Ibunya dan menciumnya dengan air mata yang menetes. "Terima kasih Ma, aku benar-benar bingung harus minta bantuan sama siapa lagi. Karena berbicara dengan Papa tidak mungkin, Mama tahu sendiri bagaimana Papa tidak pernah menyukai Vania"

__ADS_1


"Iya Nak, Mama akan menjelaskan semuanya pada Papa nanti. Sekarang ayo kita temui anak dan istrimu. Kasihan anak kamu jika tidak langsung ditangani"


Gara mengangguk, dia segera membawa Ibunya ke kota tempat tinggal dia sekarang. Bersyukur karena Mama lebih mengerti keadaannya. Dia segera membawa Mama ke kota tempat dia tinggal. Dan untuk pertama kalinya Mama datang ke tempat dimana istrinya Gara berada.


Vania terdiam ketika melihat Gara yang datang bersama dengan Ibunya. Vania berdiri dengan wajah menunduk. Dia merasa tidak tenang ketika melihat suaminya yang datang bersama Ibunya.


"Nak, maafkan Mama ya karena baru bisa menemui kamu"


Vania terdiam ketika Mama yang tiba-tiba memeluknya dengan erat. Apalagi ketika mendengar tangisan Mama.


"Maafkan Mama Nak, karena Mama sudah membiarkan Papa menyuruh kamu pergi meninggalkan Gara. Tapi Mama benar-benar tidak tahu jika kamu sedang mengandung anaknya Gara"


Vania menatap suaminya yang berdiri di belakang Mama. Namun suaminya itu hanya tersenyum padanya tanpa berkata apapun.


"Maaf Nyo-nyonya, sa-saya.." Vania benar-benar gugup dan tidak bisa berkata-kata apapun lagi.


Mama melerai pelukannya dan menatap wajah menantunya dengan air mata yang menetes. "Tidak perlu sungkan Nak, kamu panggil Mama saja karena kamu sudah menjadi anakku juga"


Vania terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak pernah menyangka jika mertuanya telah menerima dia. Entah ini adalah sebuah kenyataan. Karena rasanya Vania tidak pernah membayangkan jika kehadiran dirinya sebagai istri Gara akan bisa diterima oleh Ibunya Gara.


Vania menatap suaminya lalu kembali menatap Mama yang terus menatapnya dengan tersenyum. Vania tersenyum pada Mama. "Terima kasih sudah menerima aku Ma"


"Iya Nak, maafkan Mama karena Mama sempat mendukung apa yang di lakukan Papa waktu itu. Maafkan Mama karena Mama tidak tahu jika kamu sedang mengandung anaknya Gara"


Vania meraih tangan Mama dan menggenggamnya. Menatap Mama dengan senyuman tulus. "Tidak papa Ma, aku mencintai Gara dengan tulus. Jadi mungkin memag ini yang harus kita jalani sebelum kita benar-benar bisa bersama"


Mama tersenyum, dia mengelus punggung tangan menantunya. "Tidak salah jika Gara begitu mencintaimu dan mempertahankan kamu sampai saat ini"


"Iya Ma, memang dia begitu berarti untukku"


Dan Mama langsung membayar operasi Gevin. Anak itu juga terlihat bingung ketika melihat ada seorang wanita yang mengaku sebagai Neneknya. Karena selama ini Gevin tidak pernah tahu jika dia mempunyai seorang Nenek. Karena yang Ibunya bilang jika Neneknya sudah meninggal dunia. Ya mungkin memang iya, karena memang Ibu Vania sudah meninggal dunia.


Mama benar-benar senang bisa melihat cucunya itu. Dia duduk di pinggir ranjang pasien, mengelus lembut kaki Gevin yang berselonjor.

__ADS_1


"Ini Oma Nak, kamu senang bertemu dengan Oma"


Gevin menoleh pada Ibunya, menatap seolah bertanya kenapa ada seseorang yang mengaku sebagai Neneknya. Vania tersenyum dia pada anaknya, dia mengangguk pelan.


"Sayang, ini memang Oma kamu"


"Bukannya Nenek sudah meninggal ya kata Ibu"


"Ini Oma dari Papa, bukan Nenek yang dari Ibu"


Mendengar itu, Gevin mengangguk mengerti. Dia melihat Mama dengan tersenyum pelan. Merasa tidak menyangka jika dia masih mempunyai Nenek.


"Oma"


Mama tersenyum senang mendengar itu, dia langsung memeluk cucunya dengan erat. Mencium puncak kepala Gevin dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Terharu ketika dia memiliki seorang cucu yang sudah sebesar ini.


Gara merangkul istrinya yang sedang duduk diatas sofa. Mengecup kepala istrinya. "Kamu tenang ya, sekarang kita sudah bisa lebih tenang"


Vania menoleh dan menatap suaminya dengan tersenyum tipis. "Tapi bagaimana kalau Papa kamu tahu? Aku takut dia akan marah sama kamu dan Mama kamu"


"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan Papa. Dia tidak akan berani marah jika sudah Mama yang bertindak. Percayalah!"


Vania hanya mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu Gara dengan tangan melingkar di perut suaminya.


"Sayang, terima kasih karena sudah berjuang dengan begitu keras untuk kesembuhan Gevin"


Cup..


Gara mencium puncak kepala istrinya. "Semuanya akan aku perjuangkan untuk kebahagiaan kamu dan Gevin"


Gara hanya akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Memberikan setiap kebahagiaan untuk anak dan istrinya untuk selama dia bisa melakukannya untuk kebahagiaan Vania dan Gevin.


"Terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan ini"

__ADS_1


Gara mengangguk, dia menatap pada Mama dan Gevin yang sedang mengobrol dan bercanda bersama. Jujur Gara tidak pernah menyangka jika akan melihat pemandangan seperti ini. Dimana Ibunya dan anaknya bercanda bersama. Padahal sejak restu Papa tidak Gara dapatkan, dia tidak pernah berfikir jika Gevin akan mengetahui tentang Neneknya ini.


Bersambung


__ADS_2