
Vania terdiam mendengar ucapan Gara barusan, dia menatap Gara dengan mata berkaca-kaca. "Jika kamu menganggap aku ini berharga dalam hidupmu, kenapa kamu menyuruhku pergi meninggalkanmu dan menghilang dari hidupmu? Semua itu telah aku lakukan, dan kenapa saat ini kamu kembali datang ke kehidupanku"
Gara berjalan mendekat pada Vania, dia memang kedua lengan gadis itu dan menatap Vania dengan lekat. Jelas sekali ada tatapan penuh luka dibalik mata Vania yang menatapnya dengan berkacaa-kaca.
"Aku tidak menyuruhmu pergi, aku tidak pernah menginginkan kamu hilang dari kehidupanku. Jelas aku sangat mencintaimu"
Vania tersenyum sinis, dia menatap Gara dengan tatapan tidak percaya. "Jelas se,ua itu adalah kamu yng melakukannya. Ketika aku datang ke rumahmu untuk meminta pertanggung jawaban kamu atas kehamilanku. Kamu tidak ada dan malah pergi dari tanah air. Kamu benar-benar jahat, Gara. Kamu pengecut, kamu tega sama aku"
Vania yang mulai berontak dan meluapkan kekesalannya pada Gara, membuat Gara langsung memeluk gadis itu dengan erat. Membiarkan Vania terus memukuli dadanya dan meminta Gara untuk melepaskannya.
"Pergi Gara, jangan mengganggu aku lagi. Aku tidak mau melihatmu lagi, kamu begitu jahat padaku. Kamu brengsek Gara, kamu pengecut....Hiks.."
Akhirnya pertahanan Vania benar-benar runtuh. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan perasaanya ketika Gara terus datang dan menemuinya. Semua makian dan amarah yang ingin dia luapkan selama ini, akhirnya terluapkan juga hari ini.
Gara mengecup puncak kepala Vania dengan lembut. Dia tidak bisa berkata-kata apapun lagi ketika mendengar semua ratapan Vania yang terdengar begitu memilukan. Gara membiarkan Vania terus meluapkan tentang apa yang dia rasakan sampai gadis itu benar-benar tenang, barulah Gara mulai melerai pelukannya.
"Sayang tatap aku!" Dan untuk pertama kalinya Vania kembali mendengar Gara memanggilnya Sayang seperti itu. "...Tatap aku, dan lihat mataku. Aku tidak penah menyuruh kamu pergi dari kehidupan aku. Kau tahu bagaimana aku begitu mencintaimu selama ini. Sepertinya memang ada kesalah fahaman diantara kita"
Vania terdiam, kesalahan fahaman apa yang dimaksud Gara. Vania merasa jika apa yng diucapkan oleh Gara barusan hanya sebuah alasan saja agar bisa menemui anaknya dan nanti akan mengambil Gevin dari kehidupan Vania. Jadi Vania tetap tidak akan luluh begitu saja.
"Pergi saja, aku tidak tahu kesalah fahaman yang mana yang kamu maksud? Jelas kamu yang menyuruhku pergi"
Gara menghembuskan nafas kasar, dia mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia benar-benar tidak bisa meyakinkan Vania yang hatinya sudah terlanjur dibuat kecewa dan terluka.
"Pergilah, istrimu nanti akan mencarimu. Aku tidak mau dianggap sebagai seorang perebut suami orang"
Vania berbaik dan berjalan ke arah tangga di dalam ruko. Beruntung toko bunga tidak selalu ramai. Jadi hari ini tidak ada yang melihat kejadian tadi. Tentang pedebatannya dengan Gara.
__ADS_1
Vania duduk diatas lantai dengan memeuk lututnya sendiri. Dia benar-benar dalam kerapuhannya saat ini. Bagaimana Vania harus terus dibayang-bayangi mas alalu yang menyakitkan tapi juga masa lalu yang menyenangkan. Gara sempat memberinya kebahagiaan yang sebelum dia memberikan luka yang membekasa sampai saat ini dihatinya.
"Kenapa semuanya harus seperti ini, Tuhan"
#####
Gara kembali ke aparteman, dia tiak lagi memperdulikan persiapan acara resepsi besok. Merasa jika semuanya sudah tidak penting lagi bagi Gara. Meski memang pada awalnya saja memang acara itu tidak pernah penting bagi Gara.
"Ya Tuhan, bagaimana lagi yang hars aku lakukan untuk meyakinkan Vania jika aku tidak pernah menginginkan dia pergi dari kehidupanku. Aku benar-benar mencintainya. Tapi kenapa kita harus kembali bertemu dalam keadaan seperti ini.
Gara meraih ponselnya dan menelepon orang kepercayaannya di Ibu kota.
"Hallo, sepertinya aku akan lebih lama disni. Ada urusan yang harus aku lakukan disini"
"Baik Tuan, semuanya aman disini"
Gara hanya berdehem pelan, lalu menutup sambungan telepon. Gara benar-benat harus menyelesaikan masalahnya dengan Vania. Semuanya harus selesai sebelum dia bisa kembali ke Ibu Kota.
Gara menatap Yunita dengan tatapan datar. "Aku ada urusan sebentar, oh ya sepertinya aku akan lebih lama tinggal disini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan disini"
Yunita duduk disamping suaminya, menyandarkan kepala di bahu Gara. "Memangnya da ppekerjaan apa? Aku tidak bisa terlalu lama disini, pekerjaanku juga ada di kota juga sudah menunggu"
"Tidak papa, kau pulang saja duluan setelah acara resepsi selesai. Aku tinggal disini sendiri"
YUnita sedikit berpikir seebentar, sebenarnya dia juga tidak mau berjauhan dari Gara, Tapi pekerjaan juga membutuhkannya. Yunita masih berusaha untuk mendapatkan hati suaminya itu. Namun sepertinya sampai saat ini Yunita masih tidak bisa membuat Gara jatuh cinta padanya.
"Yaudah, aku mau mandi dulu"
__ADS_1
Gara mengagguk saja.
Yunita menghela nafas pelan, lalu dia berjalan menuju kamar mandi. Dia memang sudah terbiasa dengan sikap dingin Gara.
Didalam kamar, Gara masih saja memikirkan tentang kejadian tadi siang. Bagaimana Vania yang begitu histeris saat dia menceritakan tentang masa lalu yang sepertinya begitu membuatnya terluka.
Sebenarnya apa yang telah terjadi lima tahun lalu. Apa mungkin Papa ada dibalik semua ini? Jelas dulu dia sangat menentang hubunganku dan Vania. Tapi rasanya tidak mungkin, karena Papa juga yang membantu aku untuk mencari keberadaan Vania.
Gara merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tidur terlentang dengan menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Menembus pada waktu 5 tahun lalu.
######
Gara baru saja keluar dari kamar mandi di dalam kamar kost Vania. Rambutnya masih basah, Gara menoleh pada kekasih nya yang masih bergelung di bawah selimut.
"Sayang, cepat bangun dan mandi. Kenapa kau masih bermalas-malasan"
Vania hanya bergumam pelan, tubuhnya masih terasa sakit karena kelelahan atas kejadian semalam. Gara benar-benar membuat Vania kelelahan.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Aku ingin menemui Papa dan meminta izinnya untuk bisa menikahimu" Gara duduk dipinggir tempat tidur, mengelus dan mengecup kepala Vaniasebelum dia keluar dari kamarnya.
Sampai dirumah, Gara langsung membicarakan tujuannya itu. Namun dia langsung mendapat tentangan dari Papa.
"Kamu gila ya?! Kamu ini masih kuliah, ,asa ingin langsung menikah? Masa depan kamu masih panjang. Kamu juga harus meneruskan perusahaan Kakek, apa kamu fikir menikah itu hal yang muda Hah? Tidak, Papa tidak setuju jika kamu menikah sekarang"
"Tapi Pa, aku mencintainya"
"Cinta itu akan hilang seiring waktu berjalan. Pokoknya kau tidak boleh menikah!"
__ADS_1
Bersambung