
Akhirnya hari ini Vania ikut pindah dengan suaminya ke ibu kota. Gara membeli sebuah rumah minimalis untuk keluarga kecilnya ini. Dan dia juga sudah mulai melakukan aktivitas bekerjanya seperti biasa. Vania cukup betah bisa tinggal disini. Meski mungkin banyak kenangan masa lalu yang kurang baik. Namun, dia sudah mencoba untuk berdamai dengan masa lalu. Karena tidak semuanya harus berpatokan pada masa lalu yang terjadi.
"Aku berangkat ya, kamu baik-baik di rumah. Nanti siang aku pulang sambil jemput Gevin pulang sekolah"
Vania mengangguk, dia mencium punggung tangan suaminya yang akan pergi bekerja sambil mengantar Gevin sekolah.
"Hati-hati ya Sayang, aku masak untuk makan siang ya"
Garra mencium kening istrinya dengan lembut. "Iya Sayang, kamu jangan ampai terlalu keceapen"
"Iya Sayang"
Vania melambaikan tangannya pada anaknya yang sudah berada di dalam mobil dengan jendela yang terbuka dan melambaikan tangannya pada Vania. Vania tersenyum sambil mengelus perutnya. Mungkin ini semua adalah hiikmah dari kejadian yang terjadi.
Vania sudah memaafkan Papa dan tidak akan mempunyai dendam pada mertuanya itu. Meski selama disini Vania belum berkunjung untuk menemui Papa. Alasannya bukan apa-apa, tapi hanya karena Gara yang belum mengajaknya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Mungkin Gara takut kalau Vania masih belum siap untuk bertemu dengan Papa yang ternyata adalah pembunuh dari kedua orang tuanya.
Hingga malam ini ketika Vania sedang berada dalam pelukan suaminya. Dia mulai untuk membahas hal ini. "Sayang, apa kita tidak berkunjung ke rumah orang tua kamu. Kita tinggal disini sudah sebulan, tapi sama sekali belum mengunjungi kedua orang tuamu"
Gara terdiam beberapa saat mendengar itu, memang dia masih takut kalau istrinya belum siap bertemu dengan Papa. "Apa kamu yakin dan sudah siap bertemu dengan Papa"
"Tentu saja aku siap, memangnya apa yang aku takutkan? Semuanya sudah berlalu dan sudah saatnya untuk aku berdamai dengan masa lalu. Aku tidak akan mempunyai dendam apapun pada siapapun karena itu semua hanya akan membuat aku tidak tenang"
Gara tersenyum mendengar itu, jelas dia tahu bagaimana hati istrinya yang begitu tulus. Gara tidak akan mungkin bisa membayangkan jika istrinya tidak memaafkan kesalahan Papa, maka mungkin dirinya tidak akan bisa bersama kembali dengan Vania.
"Baiklah besok mari kita bertemu dengan Papa dan Mama"
Dan pagi ini Vania benar-benar sudah bersiap untuk bertemu dengan Papa dan Mama. Mereka berangkat menuju rumah orang tua Gara ini yang memang berada di luar kompek perumahan yang mereka tempati. Ketika sampai disana, Vania langsung turun dengan menuntun tangan anaknya. Gara ikut turun dan merangkul bahu Vania.
__ADS_1
"Kamu yakin Sayang? Aku tidak akan memaksa kamu jika memang kamu belum siap untuk bertemu dengan Papa"
"Apasi, aku yakin Sayang. Lagian aku juga sudah melupakan semua itu. Sekarang sudah saatnya kita memulai hidup yang baru, aku juga tidak mau membenci Papa kamu karena aku fikir dengan aku membenci Papa kamu dan menyimpan dendam padanya, apa orang tuaku akan kembali hidup? Tidak akan. Jadi untuk apa terus terjebak dengan masa lalu yang menyakitkan jika kita bisa bebas dari masa lalu itu"
Gara tersenyum mendengar itu, tentu dia senang mendengar ucapan istrinya itu. Setidaknya Gara bisa merasa lebih lega ketika dia bisa melihat istri dan Ayahnya berdamai.
"Yaudah, ayo kita masuk"
Ketika masuk ke dalam rumah, mereka langsung di sambut hangat oleh Mama. Sementara Papa hanya berdiri kaku di dekat sofa. Dia sudah gugup sejak Mama bilang jika Gara dan istrinya akan datang berkunjung. Semuanya karena memang Papa tidak yakin jika Vania sudah bisa memaafkannya dan mau menerima Papa sebagai mertuanya. Mengingat apa yang sudah Papa lakukan memang sangat sulit untuk di lupakan.
Namun ternyata semua fikiran buruk Papa itu tidak terwujud. Karena Vania yang menghampirinya dan menyalami dia dengan begitu sopan dan penuh rasa hormat. Tentu saja hal itu membuat Papa tertegun.
"Apa kabar Pa?"
Tangan dan tubuh Papa tiba-tiba saja menjadi kaku dan sedikit bergetar. "Ba-baik Va, ka-kamu apa kabar?"
Hal yang tidak pernah Papa sangka yaitu ketika menantunya yang mau menerima dia dan memaafkannya dengan sangat tulus. Membuat Papa sadar, kenapa Gara sampai segitu cintanya pada Vania. Karena memang Vania yang begitu tulus.
######
Beberapa bulan berlalu, waktu yang berjalan tanpa terasa. Hari ini Vania sudah berada di sebuah ruangan rumah sakit karena tadi pagi dia yang mengalami kontraksi. Vania tersenyum geli melihat suaminya yang terus mondar-mandir di ruangan ini dengan wajah gelisah dan panik.
"Sayang kamu tenang dong, aku juga baru pembukaan dua. Masih harus menunggu beberapa jam lagi. Kenapa kamu harus sepanik ini"
Gara menghampiri istrinya yang duduk tenang di atas ranjang pasien dengan tangan yang terus mengelus perut buncitnya. Gara ikut mengelus perut Vania yang terasa kencang.
"Sayang, kamu ambil jalur operasi saja agar bayi kita cepat lahir dan kamu tidak perlu kesakitan selama beberapa jam lagi"
__ADS_1
"Sayang operasi atau operasi semuanya sama saja. Mempunyai resiko masing-masing. Dan karena aku bisa normal, kenapa juga harus di operasi"
Gara tidak bisa menutupi kegelisahan dan kekhawatirannya. Apalagi ketika pembukaan jalan lahirnya yang semakin naik, maka rasa sakit kontraksinya pun semakin kuat. Gara terus berada di samping istrinya dengan menggenggam erat tangan istrinya itu. Vania hanya diam dengan meringis pelan, sesekali dia akan membuang nafas kasar hanya untuk menghilangkan rasa sakit yang semakit kuat ini.
"Sayang, mana yang sakit hmm? Aku elus perutnya ya"
Tes..
Setetes air mata yang tidak bisa Vania tahan. Bukan karena rasa sakit yang dia rasakan saat ini, tapi karena dia merasa terharu di saat lahiran anak keduanya ini dia bisa di dampingi oleh Gara. Hal yang mungkin akan selalu menjadi penguat semua wanita yang akan melahirkan, yaitu di dampingi oleh suaminya.
"Sayang sakit banget ya. sampai nangis kayak gini. Maaf ya karena dulu kamu pasti hanya menahan sakit ini seorang diri"
Vania tersenyum lirih, dia mengusap kasar air mata yang menetes begitu saja di pipinya itu. "Tidak papa Sayang, aku hanya bahagia karena sekarang aku bisa merasakan melahirkan dengan ditemani kamu"
Gara hanya tersenyum tipiis, dia bisa merasakan bagaimana Vania yang mungkin dulu harus berjuang seorang diri tanpa di temani oleh suaminya. Gara memeluk Vania dan mengecup puncak kepalanya beberapa kali.
"Arghh.."
Mendengar teriakan Vania membuat Gara panik. Apalagi saat melihat istrinya yang meringis kesakitan. Dia memanggil dokter dengan tombol darurat yang ada disana. Dan Vania segera di bawa ke ruang bersalin untuk berjuang melahirkan anak keduanya.
Suara tangisan bayi itu menggema di dalam ruangan ini. Gara sampai tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya. Dia mencium kening istrinya dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih karena sudah memberikan aku malaikat kecil itu"
Dan kisah mereka berlanjut dengan bahagia dengan dua orang anak. Semua kesalah fahaman yang terjadi dan akhirnya bisa terselesaikan juga, Vania bersyukur karena dia tetap bertahan bersama Gara dan bisa merasakan kebahagiaan ini. Noda dan Luka dalam hatinya sudah hilang dan terhapus oleh waktu seiring kebersamaan mereka selama ini.
...End...
__ADS_1