
Vania menatap wajah tenang anaknya yang sedang tertidur setelah menangis tcukup lamatadi. Bahkan isakannya masih tersisa sampai saat ini. Vania mengelus kepala Gevin dengan lembut. Tak terasa air mata ikut mengalir di pipinya. Mengingat keinginan anaknya tadi, sampai membuat Gevin menangis meraung-raung tadi.
Maafkan Ibu Nak, tapi untuk saat ini Ibu tidak bisa mewujudkan keinginan kamu. Melihat kamu begitu senang saat bertemu Papa kamu saja, membuat Ibu merasa was-was. Takut jika keluarga Papa kamu mengetahui tentang ini, maka Ibu tidak akan rela jika kamu tersakiti.
Tok..tok..
"Va.."
Vania menatap ke arah pintu kamaryang baru saja diketuk dar luar. Vania membenarkan selimut yang menutupi tubuh anaknya, lalu dia segera berjalan ke arah pintu kamar. Vania membuka pintu kamar dan melihat Jenny yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa Kak?"
Jenny sedikit melongokkan kepalanya ke dalam kamar, melihat keadaan Gevin yang tadi menangis dan mengamuk pada Ibunya. "Gevin sudah tidur ya?"
Vania mengangguk, dia menutup pintu kamar dan berjalan ke arah ruang tengah bersama Jenny. Disana sudah ada Ibu, sepertinya Jenny memang disuruh oleh Ibu untuk melihat keadaan Gevin.
Vania duduk di atas karpet yang ada di depan sofa, diikuti oleh Jenny. Meski luarannya terlihat biasa saja.Tapi hatinya saat ini sedang benar-benar rapuh. Vania tahu jika semuanya akan ada waktunya untuk terbongkar tentang kenyataan yang ada. Dan seharusnya dia sudah bisa mempersiapkan diri dan hatinya saat ini terjadi.
"Va, apa Nak Gara tidak pernah mengetahui keberadaan Gevin selama ini? Dan kemarin adalah pertama kalinya dia tahu tentang keberadaan anaknya ini?" tanya Ibu dengan lembut.
Vania menatap Ibu, matanya mulai berkaca-kaca ketika Vania mengingat kejadian dimasa lalu. Bagaimana dengan jelas Gara sendiri yang menyuruhnya untuk pergi dari kehidupannya dan tidak lagi muncul di depannya.
"Dia sendiri yang menyuruh aku pergi dari kehidupannya. Dan saat itu aku baru mengetahui jika aku sedang dalam keadaan hamil. Karena aku sudah merasa tidak punya harapan hidup lagi di kota itu. Jadi aku memilih pindah kesini dalam keadaan hamil"
Air mata sudah menetes di pipinya, Vania benar-benar sedang dalam keadaan rapuh dan lemah saat ini. Apalagi ketika dia harus mengingat kembali ke 5 tahun lalu. Jenny yang duduk disamping Vania langsung merangkul gadis itu dan sedikit memberikan tepukan pelan di bahunya.
"Nak, Ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian. Tapi tolong fikirkan keputusan yang akan kamu ambil kedepannya nanti. Jangan hanya memikirkan tentang kamu dan kekecewaan kamu pada dia, tapi juga pikirkan tentang Gevin juga. Dia adalah tujuan hidupmu saat ini"
Vania tediam mendengar ucapan Ibu barusan. Memang benar apa yang dikatakan Ibu barusan, Gevin adalah tujuan hidupnya dan kebahagiaan Gevin saat ini adalah hal yang paling utama dalam hidup Vania.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan saat ini?
######
Pagi ini Vania sudah berada di toko bunga. Bersyukur karena Gevin tidak rewel lagi setelah semalam tidur dengan lelap. Vania duduk di kursi kayu yang ada ditoko, tangannya meraba bunga-bunga yang berada di atas meja di depannya. Bunga-bunga indah yang tertata sesuai jenis dan warnanya.
Vania masih memikirkan tentang keinginan Gevin dan juga tentang ucapan Ibu semalam. Hatinya sedang bimbang dan dilema saat ini. Bingung dia harus mengambill keputusan apa saat ini.
Noda dari luka yang diciptakan Gara dimasa lalu masih membekas, meski tidak terlihat ke permukaan.
"Mbak pesan bunganya"
Vania mngerjap kaget saat suara seseorang menyadarkan dia dari lamunannya. Lalu dia tersenyum saat tahu siapa yang datang ke toko bunga dan menjadi pelanggan yng pertama hari ini.
"Kak Hildan, mau pesan apa Kak?"
Hildan tersenyum tipis, dia menatap Vania dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa ada masalah? Aku lihat kamu hanya melamun dari tadi, bahkan aku datang saja kau tidak sadar"
Hildan menatap Vania dengan lekat, menyelidiki dari wajah gadis itu yang sedang berepura-pura tegar saat ini.
"Yakin?"
Vania mengangguk dan tersenyum pada Hildan. "Iya Kak, jadi hari ini mau pesan bunga apa?"
Hildan tidak lagi bertanya appaun, karena dia tahu jika Vania memang sosok gadis yang tertutup. Dia tidak pernah gampang bercerita tentang masalahnya pada siapapun, meski sudah mencoba dipancing untuk bercerita, Vania tetap tidak akan bercerita.
"Dad, cepat"
Vania menatap ke arah mobil yang terparkir di depan toko ini, tepatnya berada di belakang tubuh Hildan yang berdiri di depan toko. Kaca jendela mobil yang terbuka dan seorang anak kecil mungkin seusia dengan Gevin melongokan wajahnya.
__ADS_1
"Dia putriku, kau pasti baru melihatnya. Memang baru kali ini aku mengajak dia ke makam mendiang Ibunya. Aku hanya takut jika dia belum siapĀ untuk menerima jika Mommynya telah meninggal dunia"
Vania menatap gadis kecil itu dengan prihatin. Anak se-usia Gevin seharusnya memang sedang sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu dan gadis kecil itu sudah harus kehilangan Ibunya diusianya itu.
"Kasihan sekali dia"
Hildan hanya tersenyum melihat wajah prihatin Vania ketika dia melihat anaknya. "Aku mau membeli bunga mawar putih saja"
Vania mengangguk dan segera merangkai buket bunga mawar putih sesuai pesanan dari pelanggan setianya. Setelah memberikan buket bunga yang dia rangkai pada Hildan, dan pria itu juga langsung berpamitan pergi setelah membayarnya.
Vania kembali duduk di kursi, menunggu kembali pelanggan yang datang. HIngga sebuah mobil yang berhenti di depan toko bunga membuat Vania terdiam beberapa saat. Ketika seorang pria keluar dari dalam mobil.
"Aku ingin menemui Gevin dan membawanya pergi"
Deg..
Ucapan Gara yang tiba-tiba itu membuat Vania panik. Dia langsung berdiri dan menatap Gara dengan tajam. "Apa maksudmu? Jangan macam-macam! Apa kamu tidak puas telah menghancurkan hidup aku ini? Apa harus aku mati dulu, baru kau akan puas? Iya Hah?!"
Gara langsung mendekat pada Vania dan ingin menenangkan gadis itu yang histeris. "Sayang, jangan berbicara seperti itu! Aku hanya ingin mengajak Gevin pergi jalan-jalan"
Vania jatuh terduduk diatas lantai dengan tangisan yang pecah. Tubuhnya bergetar hebat, Vania benar-benar sedang sensitif. Apalagi ketika menyangkut tentang Gevin.
"Aku lelah, aku capek dengan semuanya. Aku lelah... Hiks"
Vania benar-benar sedang dalam fase lelah dan lemah. Semua cobaan yang datang padanya, tentu tidak semua bisa dia selesaikan hanya dengan sebuah ketegaran saja. Vania sedang ingin menunjukan jika dirinya memang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Gara ikut berlutut didepan Vania, memeluk Vania yang menangis terisak. Hati Gara merasa tersayat mendengar keluh kesah Vania yang terdengar begitu menyakitkan.
Bersambung
__ADS_1