
Entah ini mimpi atau sebuah kenyataan, namun jelas Gara saat ini merasa tidak menyangka ketika dia bisa pergi jalan bersama Vania dan anak mereka. Setelah 5 tahun lamanya mereka berpisah dan mempunyai seorang anak laki-laki sekarang. Melihat Vania yang berjalan di depannya dengan menggandeng tangan mungil Gevin, adalah sebuah hal yang tidak pernah Gara pikirkan sebelumnya.
"Ibu, Gevin mau beli mainan itu. Boleh ya?"
Vania menoleh pada tempat yang di tunjuk oleh Gevin. Sebuah toko berisi mainan anak-anak. "Gevin, kan mainan di rumah juga masih banyak. Kemarin saja Gevin sudah mempunyai yang baru, dibeliin sama Papa"
Gevin tidak menjawab, dia menunduk dengan wajah cemberut. Namun tetap tidak bisa membantah ucapan Ibunya. Karena Gevin sudah berjanji akan menjadi anak baik setelah Ibunya menuruti keinginannya. Untuk bis tinggal bersama Ayahnya.
Gara yang melihat itu, hanya bisa tersenyum lucu. Anaknya itu benar-benar begitu menurut pada ibunya. Vania benar-benar sudah menjadi sosok ibu yang baik dan juga tegas dalam mendidik anak.
"Kalau Gevin emang mau, ayo kita beli"
Vania langsung menoleh pada Gara, meski pergi jalan bersama. Tapi entah kenapa dari tadi hanya ada sebuah keheningan diantara mereka. Hanya terdengar celotehan Gevin yang dijawab seadanya oleh Vania.
"Jangan terlalu memanjakan Gevin, nanti dia jadi kebiasaan"
Gara tersenyum mendengarnya, dia tahu jika Vania sedang menerapkan sikap tegas pada Gevin. "Hanya sesekali Va, lagian aku juga baru beberapa hari bertemu Gevin. Jadi wajar saja jika saat ini aku sedang ingin membuat anakku ini bahagia"
Vania hanya bisa menghela nafas pelan ketika Gara membawa Gevin ke dalam toko mainan itu dan membelikan apa yang Gevin inginkan. Meski sedikit kesal, tapi Vania bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan anaknya saat ini. Ketik melihat senyuman anaknya, Vania seolah ingin ikut tersenyum dan merasakan kebahagiaan yang anaknya itu rasakan.
Entah bagaimana tapi ketika sampai di depan Vania, Gara langsung merangkul pinggangnya dengan menuntun Gevin di tangan kirinya. Melihat mereka, pasti akan banyak orang yang mengira jika mereka ini memang keluarga bahagia.
"Kenapa sejak tadi kau terus menghindar?"
Ternyata dia sadar ya.
Vania memang sengaja untuk tidak terlalu berjalan dekat dengan Gara, karena memang dia tidak mau sampai banyak orang yang melihat mereka berdua. Nyatanya memang Vania belum benar-benar siap untuk menjalani kisah baru bersama Gara.
__ADS_1
"Aku hanya tidak mau jika nanti akan ada yang melaporkan kebersamaan kita pada istrimu"
Gara menghela nafas pelan mendengar perkataan Vania yang memang benar adanya.Namun saat ini Gara tidak akan berniat untuk menutupi hubungannya dengan Vania dari semua orang. Kalaupun nanti Yunita mengetahui tentang ini dan meminta cerai pada Gara. Maka dia akan lakukan. Karena saat ini prioritas utama Gara hanya Vania dan Gevin.
"Tidak perlu takut dengan apapun ketika aku bersamamu"
Vania menoleh pada Gara, merasa sudah lama sekali dia tidak mendengar kalimat seperti itu. Karena sejak dulu ketika mereka masih pacaran dan Vania mengatakan takut dengan beberapa hal yang akan dia hadapi, maka kalimat itu yang selalu terlontar dari bibir Gara.
Kenyataannya memang aku selalu merasa takut ketika aku tidak bersamamu.
Hidup yang dijalani Vania selama ini, tidak pernah hilang dari ketakutan yang dia rasakan dalam dirinya sendiri. Selalu banyak hal yang Vania pikirkan dan takutkan akan terjadi ke depannya. Namun entah hanya karena ucapan Gara barusan atau apa, tapi Vania merasa jika rasa takut untuk menghadapi kehidupan ke depannya seolah mulai memudar. Meski Vania tahu jika kedepannya mungkin akan lebih banyak rintangan yang harus dia lalui bersama Gara.
"Seandainya nanti istrimu tahu tentang hubungan kita dan kehadiran Gevin, bagaimana?"
Gara masih terlihat santai saja, dia malah mengecup puncak kepala Vania dengan lembut. "Tidak ada yang aku takutkan ke depannya selama aku bersamamu. Karena ketakutan terbesarku saat ini adalah kehilangan kamu lagi. Cukup satu kali aku hampir gila karena kamu pergi. Jadi tolong jangan pergi lagi dari kehidupanku"
Vania menatap Gara hampir tidak berkedip, merasa apa benar apa yang dikatakan Gara barusan. Namun jelas Vania tidak sedikit pun melihat kebohongan di wajah pria itu.
"Ya ampun, maaf saya tidak hati-hati" Vania langsung membungkukan tubuhnya sebagai permintaan maaf pada pria yang tidak sengaja dia tabrak barusan.
"Loh Vania?"
Vania terkejut saat pria yang tidak sengaja dia tabrak itu ternyata mengenalnya.Vania langsung mendongak dan menatap orang itu.
"Ya ampun kirain siapa, Kak Hildan ternyata. Ngapain disini Kak?"
"Lagi ada kerjaan saja, kamu juga tumben bisa santai disini. Biasanya selalu sibuk di toko bunga"
__ADS_1
Vania tersenyum, dia memang terkenal sebagai wanita yang jarang sekali mempunyai waktu untuk berjalan-jalan. Vania selalu di sibukkan di toko bunga. Karena begitulah cara dirinya membalas kebaikan Jenny dan Ibu. Mereka sudah mau menampung Vania dan Gevin dengan suka rela dan memberi pekerjaan juga untuk Vania.
"Iya Kak, aku sedang mengajak anak aku jalan-jalan"
HIldan langsung menyadari kehadiran seorang pria dan anak kecil disana. "Wah, ternyata kamu ini sudah menikah dan mempunyai anak ya"
Vania hanya tersenyum, dia tidak berniat menanggapi ucapan Hildan barusan. Hildan segera berpamitan untuk pergi karena masih ada pekerjaan. Semenytara Vania dan Gara juga anaknya melanjutkan perjalanan mereka.
"Kelihatannya kamu begitu akrab dengan pria tadi"
Apa ini? Apa dia sedang cemburu?
Rasanya Vania benar-benar sudah lama sekali tidak mendengar nada penuh dengan kecemburuan dari Gara. Dan kali ini dia mendengar kembali perkataan Gara yang penuh dengan penekanan itu.
"Tidak juga, dia hanya sering membeli bunga di toko bunga Kak Jenny dan kebetulan aku yang sering melayaninya"
Gara kembali merangkul pinggang Vania, rasanya dia tidak suka ketika ada pria yang akrab dengan wanitanya ini. "Kita sudah mau menikah, jadi kamu sudah harus mulai berjaga jarak dengan pria mana pun"
Vania tersenyum tipis, kenapa ucapan Gara kali ini benar-benar mengingatkannya pada kejadian masa lalu. Dimana Gara selalu merasa cemburu pada pria manapun yang mencoba mendekati Vania.
"Apa saat ini aku sudah menjadi Vania yang selalu kau jaga?"
Gara berhenti melangkah, dia menatap Vania sekilas lalu kembali melanjutkan langkah kakinya. "Tentu saja, kau dan Gevin sudah menjadi tahananku sekarang. Jadi aku yang wajib menjagamu dari apapun"
Vania terkekeh kecil mendengar itu, jelas dia pernah mendengar kalimat itu saat dulu. Kalimat yang masih sama dan membuat Vania pasrah saja ketika harus menjadi tahanan Gara yang selalu dicintainya seperti saat ini.
Mereka lanjut makan siang di sebuah Restaurant sebelum pulang. Karena Gevin yang sudah mulai lelah terus diajak berkeliling oleh Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
Bersambung