
Dibalik pantulan cermin, Vania melihat bagaimana dirinya memakai gaun tidur transparan yang dibelikan oleh suaminya itu. Vania merasa malu sendiri dengan penampilannya saat ini.
"Ini si bukan baju, tapi lebih tepatnya adalah saringan. Masa disebut baju, tapi tubuhku benar-benar terlihat dengan jelas"
Rasanya Vania percuma saja memakai gaun tidur yang dibelikan oleh suaminya itu. Bahkan pakaian dalam yang dia pakai saja, terpampang nyata dibalik gaun tidur transparan itu.
"Sayang, kenapa lama sekali? Mengganti baju saja"
Vania menoleh pada suaminya yang muncul di balik pintu ruang ganti. Dia menghela nafas pelan ketika melihat suaminya yang sepertinya sudah tidak sabar untuk melihat Vania memakai baju yang dia belikan saat di mall tadi siang.
Gara merasa tubuhnya mulai meremang, ketika melihat tubuh seksi istrinya yang memakai gaun tidur yang dia belikan tadi siang. Warna gaun tidur yang berwarna hitam pekat itu, begitu terlihat kontras dengan kulit putih Vania.
Gara memeluk Vania dari belakang dan mulai mengecup leher dan bahu istrinya dibalik gaun tidur yang digunakan oleh istrinya ini. Tangan Gara yang awalnya berada di perut Vania, kini mulai naik ke bagian dada. Memainkan sesuatu yang ada di dada istrinya itu dengan bibirnya yang terus mengecup bahu dan leher tanpa terlewat sedikit pun.
"Sayangh..." Vania mulai tidak bisa menahan suaranya ketika tangan Gara yang masuk ke dalam pakaian dalamnya. Memainkan lembah kesayangannya itu dengan tangannya.
"Apa Sayang? Lepaskan suaramu, jangan ditahan" Bisik Gara di telinga Vania, lalu dia menggigit pelan daun telinga Vania.
Gara menggendong tubuh istrinya menuju sofa yang berada di ruang ganti. Dan awal permainan mereka malam ini adalah diatas sofa di ruang ganti. Barulah untuk ronde selanjutnya, Gara membawa Vania ke dalam kamar dan melanjutkan kegiatan mereka di dalam kamar.
Gaun tidur dan pyama tidur milik sepasang suami istri ini sudah teronggok dilantai kamar.
######
Tubuh yang terasa sangat lelah ketika Vania bangun pagi ini. Sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar yang sudah dibuka tirainya oleh Gara. Dengan mata yang menyipit karena merasa silau dengan sinar matahari yang masuk lewat ventilasi itu, Vania melihat sosok suaminya yang berdiri di depan jendela dengan hanya memakai celana panjang saja. Tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka begitu saja.
Vania bangun dan terduduk diatas tempat tidur. Menatap punggung tegap suaminya yang sepertinya belum menyadari jika istrinya telah bangun.
"Sayang.."
Panggilan halus dan lembut itu membuat Gara tersenyum. Dia berbalik dan melhat istrinya yang sudah bangun. Gara melangkah mendekat pada istrinya itu. Mengelus kepala Vania dan mencium keningnya, sebelum dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Mandi dulu yuk, aku sengaja belum mandi karena menunggu kamu bangun. Kita mandi bersama pagi ini"
Vania mengangguk dengan wajah lelah, semalam suaminya benar-benar tidak ada puasnya untuk melakukan itu. Terus melakukan kegiatan mereka hingga dini hari.
__ADS_1
"Hanya mandi ya, aku benar-benar sudah sangat lelah Sayang"
Gara tersenyum tipis, dia tahu jika istrinya pasti kelelahan setelah kegiatan semalam. Tapi Gara selalu merasa puas dengan istrinya ini. Tidak pernah sekalipun Gara merasa tidak puas dengan Vania. Karena istrinya ini selalu bisa membuatnya puas dengan mencoba menyeimbangi permainan Gara tadi malam.
"Iya Sayang, hanya mandi saja. Aku juga tidak mungkin melakukan apapun lagi, kamu pasti sudah sangat kelelahan semalam"
Gara menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Berendam sejenak di dalam bak mandi dengan Gara yang berada di belakang Vania.
"Semoga benih yang aku tanam di rahim kamu akan segera tumbuh" bisik Gara di telinga Vania, dengan tangannya yang terus mengelus perut rata istrinya itu.
Vania hanya diam, menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan nyaman. Berendam di dalam air hangat dengan minyak aromaterapi yang membuat tubuhnya lebih rileks lagi.
"Kamu gak bekerja sekarang?"
"Nanti, agak siangan. Hari ini ada Jayden yang berada disana"
Vania mengangguk mengerti. Dan ketika mereka berdua masih merasa nyaman berendam di dalam bak mandi, suara gedoran pintu disusul dengan sebuah terakan, membuat keduanya terkejut bukan main.
"Ibu, Papa ini Gevin"
Vania dan Gara langsung keluar dari dalam bak mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah shower. Membersihkan sisa sabun ditubuhnya itu.
"Aduh kenapa Gevin bisa masuk ke sini? Kamu lupa mengunci pintu kamar ya?" tekan Vania pada suaminya yang jelas sudah bangun lebih dulu tadi.
"Hehe. Maaf Sayang, sepertinya aku memang lupa"
"Ish kamu ini"
Vania menyambar baju handuk yang menggantung disana. Memakainya dengan terburu-buru karena takut jika anaknya akan melihat dirinya dan Ayahnya yang mandi bersama dengan tubuh yang sama-sama polos. Hal ini bukan tontonan yang baik untuk Gevin.
"Ibu.."
"Iya Nak, sebentar"
Vania keluar dari kamar mandi dengan baju handuk yang dia pakai. "Ada apa Nak? Kenapa Gevin sampai menyusul Ibu ke kamar mandi. Ibu sedang mandi barusan, Nak"
__ADS_1
"Gevin lapar Bu, tumben Ibu belum bangun dan menyiapkan sarapan untuk aku?"
Vania langsung melirik tajam Gara yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Seolah sedang memberi tahu anaknya, jika semua ini karena ulah Ayahnya semalam.
"Yasudah, Gevin tunggu diluar ya. Biar Ibu pakai baju dulu terus nanti akan menyiapkan sarapan untuk Gevin"
"Iya Bu"
Anak itu begitu nurut dan keluar dari kamar orang tuanya itu. Setelah memastikan Gevin pergi, Vania langsung menatap Gara dengan kesal.
"Kamu si, jadi aku kesiangan bangun pagi ini. Kasihan Gevin sampai kelaparan karena aku belum sempat membuatkan sarapan untuknya"
Bukannya menjawab omelan istrinya itu, Gara malah memeluk tubuh Vania dari belakang. Mencium pipinya dengan gemas.
"Sudah tidak perlu memasak, biar aku pesan saja untuk menu sarapan kita pagi ini"
"Yauadh cepat pesan, kasihan Gevin yang sudah lapar"
"Iya Sayang, iya"
Gara berlalu keluar dari ruang ganti untuk mengambil ponselnya dan segera memesan makanan sesuai debgan perintah istrinya barusan.
Vania segera memakai baju dan keluar dari ruang ganti. Melihat suaminya yang sedang duduk diatas sofa dengan ponsel ditangannya.
"Bagaimana? Apa sudah dipesankan?"
"Iya Sayang sudah, mungkin sebentar lagi akan datang"
Vania menghela nafas, lalu dia segera keluar dari kamar dan menemui anaknya di ruang tengah. Vania melihat Gevin yang sedang menonton acara kartun kesukaannya di di televisi.
Vania duduk disamping anaknya dan mengelus kepala anaknya itu. "Gevin, tunggu sebentar ya Nak. Papa sudah memesankan makanan untuk kita sekarang. Soalnya didepan komplek kita 'kan jarang ada yang menjual makanan. Jadi Papa pesan saja untuk makan kita hari ini"
"Iya Bu"
Bersambung
__ADS_1