Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 29 #Resmi Bercerai#


__ADS_3

Ketukan palu di ruangan sidang ini menjadi saksi jika Gara dan Yunita resmi bercerai. Tidak ada pembelaan yang bisa Yunita lakukan lagi karena memang semuanya sudah menjadi keputusan Gara. Kedua mantan sepasang suami istri ini, berdiri dan saling berhadapan. Terlihat jelas wajah sedih Yunita, namun apa yang bisa di perbuat. Jelas Gara sudah menentukan pilihannya, karena pada awalnya dia menikahi Yunita juga karena paksaan kedua orang tuanya.


"Maaf Yu, kita bisa berteman saja mulai sekarang. Semoga kamu bisa menemukan penggantiku yang lebih baik"


"Ga..." Yunita benar-benar tidak bis berkata-kata lagi saat ini. Dia tidak pernah membayangkan jika pernikahan dirinya dan Gara akan berakhir secepat ini.


"Aku pergi Yu, semoga kamu bahagia"


Gara melangkah keluar dari ruang sidang, dan ternyata di depan pintu ruangan sudah ada banyak wartawan yang menunggunya. Gara sepertinya lupa, siapa Yunita dan latar belakang keluarganya yang kehidupannya selalu menjadi sorotan media.


"Tuan Gara, apa alasan anda menceraikan Nona Yunita?"


"Iya, apa benarkah jika ada orang ketiga diantara kalian?"


"Saya dengar jika anda sudah menikah lagi? Benarkah itu?"


Gara sampai bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan wartawan yang terus beruntut dan tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Dan darimana juga para wartawan ini mengetahui tentang pernikahan yang telah terjadi diantara dirinya dan Vania.


"Saya memang sudah tidak mempunyai kecocokan dengan Yunita. Jadi tidak bisa memakskan untuk terus melanjutkan pernikahan yang sudah tidak baik-baik saja"


"Tapi mana mungkin dalam waktu beberapa bulan saja, kalian sudah tidak mempunyai kecocokan? Pernikahan kalian termasuk sangat singkat sekali"


Gara menghela nafas pelan, memang beginilah menjadi orang yang selalu di sorot tentang kehidupannya.Dia bercerai saja tidak bisa mengelak lagi dari para wartawan.


"Tidak ada orang ketiga diantara kami!" tegas Gara yang langsung pergidari sana. Menerobos gerombolan wartawan itu.


Jelas Gara tidak akn mau jika Vania kan di cap sebagai wanita perebut suami orang. Karena pada kenyataannya Vania tidak pernah merebut Gara dari siapapun. Karena selama ini hanya Vania yang memiliki hati Gara, selamanya.


"Gara, tunggu Nak"


Gara menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara wanita yang sangat dia rindukan selama ini. Gara berbalik dan melihat Ibunya yang tersenyum padanya dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Ma..."


Mama langsung memeluk tubuh anaknya ini. Hati Ibu mana yang tidak sakit ketika  melihat anaknya yang harus pergi dari rumah hanya karena dia sedang memperjuangkan cintanya.

__ADS_1


"Nak, Mama sangat merindukan kamu. Bagaimana kabar kamu dan istrimu?"


Deg..


Gara tidak menyangka jika Mama akan menanyakan kabar istrinya juga. Karena Gara pikir Mama juga memiliki pemikiran yang sama dengan Papa. Tidak merestui Gara untuk menikah dengan Vania, tanpa alasan yang jelas.


"Apa Mama tidak membenci Vania?"


Mama menggeleng pelan, dia mengelus bahu anaknya. "Mama tidak akan membenci wanita yang telah membuat pancaran kebahagiaan itu terlihat jelas dibalik matamu"


Gara terdiam, dia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mama.


Mama mengelus kepala Gara dengan lembut.Sebesar apapun usia anaknya, akan tetap menjadi anak kecil dimata Ibunya. Begitu pun dengan Mama yang selalu menganggap Gara adalah seorang anak kecil, sebesar apapun usianya.


"Gara, Mama akan mendukung apapun keputusan kamu. Yang penting memang itu yang membuat kamu bahagia dan yang terbaik untuk kamu"


Gara tersenyum mendengar itu, dia memeluk Ibunya. "Terima kasih Ma"


"Iya Nak, Mama akan berusaha untuk meyakinkan Papa kamu agar dia tidak terus menekan kamu dengan semua yang dia inginkan"


Pertemuan anak dan Ibu ini langsung berubah suasana ketika Papa datang dengan Yunita yang mengikutinya di belakang.


"Ma, ayo pulang"


Gara tidak menatap Papa, begitu pun dengan Paoa. Keduanya seolah menjadi orang asing yang tidak saling kenal.


"Sebentar Pa, Mama masih ingin berbicara dengan Gara"


"Untuk apa berbicara dengan anak durhaka yang tidak mau mendengarkan ucapan orang tua. TIdak ada gunanya"


Deg..


Gara menghembuskan nafas panjang ketika mendengar ucapan Papa. Mencoba menguatkan hatinya untuk tidak terluka dengan ucapan Papa barusan dan agar dia tidak membenci Papa.


"Pa..."  Mama benar-benar merasa sangat sedih ketika melihat anak dan suaminya yang bertengkar dan jadi tidak akur seperti ini. Papa dan Gara memang sama-sama keras kepala, hingga keduanya akan tetap dengan ego masing-masing.

__ADS_1


"Lihat saja, nanti dia juga kalau membutuhkan bantuan pasti akan datang lagi pada kita. Memangnya dia mau meminta bantuan pada siapa? Sudah tahu wanita pilihannya itu tidak mempunyai orang tua. Hanya seorang gadis terlantar"


"Cukup Pa!" Gara setengah berteriak pada Ayahnya yang berani menghina istrinya. Karena sampai kapan pun Gara tidak akan membiarkan siapapun menjelekan istrinya. Termasuk Ayahny sendiri.


"Asal Papa tahu, aku tidak akan meminta bantuan apapun pada Papa apapun yang akan terjadi padaku nanti"


Gara pergi dari sana, meninggalkan kedua orang tuanya dan Yunita disana. Mengabaikan panggilan Mama yang terus menerus memanggil namanya. Gara benar-benar tidak habis pikir kenapa Ayahnya segitu membenci Vania yang jelas tidak mempunyai salah apapun.


"Pa, kenapa Papa harus berbicara seperti tu? Apa Papa tidak melihat bagaimana Gara yang begitu ceria dan bersinar setelah dia bersama wanita yang dicintainya"


Mama benar-benar tidak habis fikir dengan suaminya yang begitu menentang hubungan anaknya dengan wanita yang dicintai anaknya itu.


"Sudahlah, kau tidak perlu terus membujuk aku agar memaafkan anak itu dan menerima wanita yang telah dinikahinya secara diam-diam"


Mama hanya bisa menghela nafas pelan ketika melihat suaminya yang berlalu begitu saja dari hadapannya.


######


Vania terdiam ketika dia melihat wajah suaminya yang terpampang jelas di televisi. Berita hari ini dipenuhi dengan kasus perceraian Gara dan Yunita yang usia pernikahannya baru seumur jagung.


Vania menghembuskan nafas berat. "Aku harus bagaimana? Cepat atau lambat mungkin statusku akan terbongkar juga. Bagaimana juga dengan Gevin nantinya?"


Vania benar-benar dibuat bingung dengan keadaan ini. Awalnya dia pikir setelah Gara dan Yunita bercerai, maka hidupnyaakan bahagia dan tenang. Hidup bahagia dengan Gara dan anak mereka. Tapi ternyata akan ada masalah yang datang terus menerus ke depannya.


Ya Tuhan, tolong kuatkan kebersamaan kami untuk menghadapi setiap masalah yang menerpa keluarga kami ini.


Vania hanya bisa berdo'a dan berharap semuanya akan baik-baik saja kedepannya. Vania mengambil remote televisi dan mematikan layar di depannya itu. Menyudahi kegelisahannya dengan memasak di dapur. Suaminya akan segera pulang dari Ibu Kota setelah menyelesaikan perceraiannya.


Vania memotong sayuran dengan tidak fokus hingga tidak sadar jika jarinya teriris pisau. Vania meringis pelan dan segera mengobati jari telunjuknya yang terluka.


"Tenang Vania, semuanya pasti akan baik-baik saja"


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2