Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 37 #Jangan Menunjukan Dirimu Didepan Publik#


__ADS_3

Gevin kembali merasa bingung ketika ada seorang pria yang kini mengaku sebagai Kakeknya, akhirnya dia mengerti setelah Vania menjelaskan semuanya. Vania izin untuk membelikan makanan dan juga dia yang butuh udara segar setelah seharian ini hanya bersama dengan Gevin di ruang rawat.


Namun ketika Vania masuk ke dalam kantin rumah sakit, dia melihat Papa yang duduk di meja pojok dekat dengan jendela. Vania merasa bingung antara dirinya ingin menyapa atau tidak.Karena meski Ayah dari suaminya itu sudah berkata jika dia sudah berubah, tapi sikapnya pada Vania benar-benar masih sangat dingin dan acuh.


"Vania kesini, ada yang harus saya bicarakan"


Vania langsung menghentikan langkahnya ketika panggilan dari Papa terdengar. Dia menghembuskan nafas pelan sebelum dia benar-benar melangkah menemui Ayah dari suaminya itu. Duduk berhadapan di sebuah meja, Vania hanya terdiam menunggu Papa bisa berbicara lebih dulu.


"Saya mau minta maaf karena saya tidak mengetahui tentang kehamilan kamu pada saat ini. Dan terima kasih karena kamu sudah memberikan cucu untuk saya. Tapi, apa bisa untuk tidak menunjukan identitas kamu di depan publik tentang kamu yang menjadi istri dan Ibu dari anaknya Gara."


Vania terdiam dengan sedikit terkejut mendengar ucapan itu, dia hanya bisa menunduk dengan tangan yang meremas baju yang di pakainya di bawah meja.


"Emm. Maksud saya bukan seperti itu, tapi saya hanya..."


"Ya, saya mengerti Tuan. Saya tidak akan menunjukan diri saya ke depan publik. Saya mengerti jika kehadiran saya di keluarga anda sudah pastinya akan membuat tercemar nama baik keluarga anda, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi duluan Tuan"


Vania tidak jadi membeli makan atau dirinya yang makan di kantin rumah sakit itu. Dia berjalan keluar kantin dengan helaan nafas panjang. Vania sudah menduga jika Papa tidak mungkin langsung menerimanya begitu saja. Selama ini dia sudah sangat memebenci Vania dan tidak pernah menyetujui Vania bersama dengan putra semata wayangnya.


Aku akan mencoba untuk mengerti Ya Tuhan.


Vania kembali ke ruang rawat Gevin, dia tersenyum melihat anaknya yang sedang disuapi makan oleh Mama.


"Loh Sayang, bukannya kamu keluar untuk membeli makanan. Kok sekarang tidak membawa apa-apa"


Vania tersenyum pada suaminya, dia berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa. "Tidak ada yang aku suka di kantin rumah sakit. Jadi aku tidak jadi beli, kita pesan saja ya"


Gara mengangguk mengerti, dia merangkul bahu istrinya dengan lembut. Gara merasa sangat bahagia ketika Ayahnya pun sudah mau menerima Vania dan Gevin. Gara seolah tidak mempunyai beban apapun lagi saat ini.


"Gara, apa kamu tidak mau membawa anak dan istrimu kembali ke Ibu kota? Lanjutkan lagi usaha keluarga kita, lagian Papa kamu juga sudah menerima Vania dan Gevin"

__ADS_1


Mendengar ucapan Mama, membuat Vania terdiam. Dia sebenarnya tidak mau pindah ke Ibu kota. Karena selain dia sudah merasa betah tinggal disini. Tapi dia juga merasa lebih tenang jika hidup jauh dari Ayahnya Gara. Vania tahu sendiri jika Papa masih belum benar-benar menerimanya. Mungkin Papa memang menerima Gevin, tapi tidak dengan dirinya.


"Aku sedang menjalankan usaha juga disini Ma. Sepertinya untuk waktu dekat ini aku belum bisa membawa anak istriku kembali ke Ibu kota. Kita akan tinggal dulu disini, lagian aku juga sudah merasa lebih nyaman tinggal di kota ini"


Jawaban Gara benar-benar membuat Vania menghela nafas lega. Dia memang belum siap untuk tinggal di Ibu kota kembali setelah 5 tahun lalu dia harus terpaksa meninggalkan pria yang dicintainya dan juga Ayah dari anak yang sedang dia kandung pada saat itu.


"Baiklah, Mama juga tidak akan memaksa kalian"


Vania hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Mama, memang Mama sangat pengertian. Seandainya apa yang diucapkan Mama tentang Papa, mungkin Vania akan sangat senang. Tapi nyatanya, dia tidak mempunyai pilihan lain. Vania tetap harus menerima jika Ayah suaminya memang tidak menyukainya sama sekali.


######


Selama satu minggu Gevin di rawat di rumah sakit, akhirnya saat ini dia bisa pulang ke Apartemen. Mama dan Papa hanya bisa mengantar Gevin sampai ke depan Apartemen saja karena mereka juga harus segera pulang. Papa juga banyak pekerjaan di Ibu kota. Membuat dia tidak bisa untuk berlama-lama di tempat ini.


"Kalau memang kamu sudah siap, kamu bisa langsung kembali bekerja di perusahaan"


"Gevin istirahat ya, ingat kata Dokter jika Gevin masih harus banyak istirahat"


"Iya Bu"


Vania mengelus kepala Gevin dan memberi kecupan di puncak kepala anaknya itu, sebelum dia keluar dari kamar anaknya. Vania menemui Gara yang sudah berada di dalam kamar. Melihat suaminya yang sedang berada diatas sofa.


"Sayang kamu sedang apa?"


Gara menoleh dan tersenyum pada istrinya itu. Dia melambaikan tangannya pada Vania. "Sini Sayang, duduk sini"


Vania tersenyum, dia duduk diatas pangkuan suaminya. Mengalungkan tangannya di leher Gara dengan kepala yang menyandar di bahu suaminya itu.


"Sayang, kamu pasti lelah beberapa hari ini ya?"

__ADS_1


Gara mengelus kepala Vania dengan lembut, tahu jika istrinya ini pasti sangat lelah selama beberapa hari ini. Bahakn makannya pun belum benar-benar teratur.


Vania mendongak dan menatap suaminya dengan tersenyum. "Semoga saja Gevin tidak akan mengalami hal seperti ini lagi. Aku benar-benar tidak bisa melihat anakku sakit seperti itu"


Gara mengangguk, dia tersenyum pada istrinya dengan tangan yang mengelus pipi Vania dengan lembut. "Iya Sayang, aku juga berharap begitu. Cukup saat inisaja Gevin mengalami sakit parah.Seterusnya semoga dia akan sembuh dan selalu sehat"


"Sayang apa malam ini kamu tidak lelah?"


Vania tersenyum pada suaminya dengan menggelengkan kepalanya heran. Jelas Vania tahu apa yang dimaksud oleh suaminya itu. "Memangnya kalau tidak lelah kenapa?"


Cup..


Tidak menjawab dengan kata-kat, tapi Gara malah memberikan kecupan di bibi istrinya. Bukan hanya sekedar kecupan biasa karena dia mulai melum*at bibir istrinya dengan lembut. Tangannya menahan tengkuk leher Vania.


Untuk beberapa saat keduanya saling menikmati ciuman itu. Tangan Vania berada di bahu Gara, saling memberikan luma*tan lembut dan menunjukan kasih sayang yang besar dari masing-masing.


"Sayang nanti saja, sekarang masih sore. Takutnya Gevin akan terbangun dan mencariku"


Gara menatap istrinya dengan sayu, dia benar-benar sudah sangat merindukan kegiatan malamnya bersama sang istri.


"Yaudah, semoga nanti Gevin bisa segera mendapatkan adik ya"


Vania terdiam ketika tangan Gara yang mengelus perutnya. Vania tahu jika Gara sangat berharap jika dirinya segera hamil dan memberikan anak kedua untuknya dan seorang adik untuk Gevin.


"Aku ke bawah dulu ya, mau membuatkan makan malam"


Vania segera turun dari atas pangkuan suaminya dan berlalu keluar kamar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2