Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 64 #Mencoba Berdamai Dengan Masa Lalu#


__ADS_3

Bangun tidur pagi ini, Gara merasa lebih baik dan bahagia. Karena saat ini dia melihat wanitanya yang kembali tidur di sampingnya. Bagaimana Gara begitu bahagia dan tidak pernah menyangka jika dirinya telah mendapatkan kembali Vania yang telah terlukai jiwanya karena ulah Papa.


"Sayang, bangun yuk aku sudah membuatkan sarapan untukmu"


Vania mengeeliat pelan saat merasakan kecupan-kecupan di wajahnya, dan ketika dia membuka mata ternyata dia adalah suaminya. Vania tersenyum dan segera bangun dengan di bantu oleh suaminya.


"Sarapan dulu ya, aku sudah buatkan sarapan untuk kamu"


Vania menatap ke arah nakas, dimana ada sebuah nampan yang berisi makanan disana. Dia tersenyum pada Gara. "Sayang, harusnya aku yang membuatkanmu sarapan"


Gara menggeleng pelan, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Tidak perlu kecapean mulai sekarang, kamu 'kan sedang hamil jadi harus banyak istirahat dan tidak banyak fikiran juga"


Rasanya Gara begitu bahagia ketika dia bisa menemani masa-masa kehamilan istrinya kali ini. Bagaimana Gara ingin menebus segala waktu yang dia lewati saat Vania mengandung Gevin.


"Makan ya, aku sengaja masak buat kamu"


Vania mengangguk, dia tahu bagaimana Gara juga cukup pandai dalam hal memasak. Dulu saat mereka masih pacaran, maka mereka selalu memasak bersama dengan mencoba resep yang baru mereka temui di internet.


"Masak apa kamu?" Vania menatap pada mangkuk yang di pegang oleh suaminya itu.


"Sup dengan jahe merah, biar tubuh kamu lebih fit dan tidak mual-mual"


Vania mengangguk, dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya itu. Hingga tak terasa dia sudah mengghabiskan sattu mangkuk sup buatan suaminya itu. Gara menyodorkan minum pada istrinya.


"Minum dulu, habis itu kamu mandi"


Vania mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Kamu kerja sekarang?"


"Tidak, aku ingin menjemput Gevin. Dia masih di rumah Ibu dan Jenny 'kan?"


Vania mengangguk, dia jadi teringat kalau Gevin selalu menanyakan keberadaan Gara beberapa hari ini. "Sayang sebenarnya Gevin selalu menanyakan kamu akhir-akhir ini. Dia pasti seneng banget kalau tahu Papanya pulang sekarang"

__ADS_1


"Iya, maaf ya karena beberapa hari ini aku lagi banyak yang harus di urus. Mulai dari masalah kantor yang harus aku urus"


Vania mengangguk mengerti, dia menatap suaminya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Apa mungkin suatu saat nanti kamu akan berminat untuk kembali tinggal di Ibu kota?"


Gara menatap Vania dengan kening berkerut, Gara tahu jika selama ini Vania selalu tidak mau tinggal di Ibu kota, karena banyak masa lalu yang menyakitkan bagi Vania. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang istrinya menanyakan hal itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Vania menghela nafas pelan, dia memegang tangan Gara dan menatapnya dengan lekat. "Aku siap jika kamu memang ingin kembali tinggal di Ibu kota, aku sudah mulai berdamai dengan masa lalu"


Gara benar-benar tidak menyangka akan mendengar alasan itu dari Vania. Dia tahu bagaimana Vania yang sangat menghindari kota yang telah memberikan banyak kenangan yang membuatnya terluka.


"Sayang, apa kamu yakin dengan keputusan kamu?"


Sebenarnya memang usaha Gara yang berada di kota ini tidak terlalu menjajikan apapun. Dan mungkin jika istrinya memang bisa di ajak tinggal kembali di Ibu kota, maka Gara akan kembali mengurus perusahaan. Lagian sekarang Papa juga sudah pasti merestui hubungannya bersama Vania. Dan sekarang juga tidak ada hal yang di sembunyikan oleh Papa. Vania telah mengetahui semuanya.


"Aku yakin, yang terpenting kamu bisa bersama keluarga kamu. Lagian Papa kamu tidak akan melarang aku bersama kamu lagi 'kan?"


Ya, Vania tahu itu. Dan hal itu yang membuat Vania mengerti bagaimana Gara yang begitu tulus mencintainya. Bahkan Gara rela kehilangan apapun hanya demi bisa bersama Vania.


######


Gevin langsung berlari ke arah Gara saat dia melihat kehadiran Ayahnya itu. Gevin begitu merindukan Ayahnya ini sejak beberapa hari ini Gara tidak ada kabar dan tidak menemuinya. 


"Papa kemana saja? Gevin kangen"


"Maafin Papa yang Sayang, Papa hanya sedang banyak pekerjaan barusan. Jadi maaf kalau Papa tidak sempat menemui Gevin"


Anak itu hanya mengagguk saja, yang terpenting baginya dia bisa kembali berkumpul dengan Ayah dan Ibunya.  Vania yang sedang mengobrol dengan Ibu dan Jenny, hanya tersenyum melihat Gara dan anaknya yang sedang mengobrol sambil bermain di teras rumah.


"Ibu senang melihat kamu kembali lagi dengan Gara. Kamu memang harus lebih lapang dan memaafkan semuanya daripada harus menyimpan sebuah dendam yang hanya akan membuat kamu tidak tenang"

__ADS_1


Vania mengangguk, dia tersenyum pada Ibu yang selalu menjadi sosok terbaik untuknya. Ibu telah menjadi sosok pengganti orang tua bagi Vania.


"Iya Bu, karena ternyata Vania tidak bisa untuk tidak bersama Gara. Vania sangat mencintainya dan Vania juga tidak mungkin membiarkan calon anak kedua Vania harus mengalami hal seperti Gevin. Hidup tanpa Ayah selama beberapa tahun"


Begitulah akhirnya Vania mengambil keputusan besar dalam hidupnya dan yakin jika keputusan yang dia ambil adalah yang terbaik untuk kehidupannya. Vania hanya tidak bisa menjalani hidupnya tanpa Gara. Nyatanya Vania masih sangat mencintainya.


"Kak gimana? Apa sudah ada yang cocok dari semua calon yang Ibu jodohkan pada Kakak?" tanya Vania dengan sedikit menggoda sahabatnya itu.


"Apasi Va, aku masih suka sendiri dan belum siap menerima pria mana pun"


Vania mengelus tangan Jenny yang berada di pangkuannya. "Aku mengerti perasaan Kakak, tapi jangan terus menutup hati untuk semua pria"


Kegagalan Jenny dalam berhubungan memang membuat dia trauma untuk kembali mengenal cinta. Jenny seolah menutup hatinya untuk semua pria.


"Sayang, ayo kita pulang sudah mau sore"


Vania menoleh dan menatap suaminya yang sedang membereskan mainan bersama anaknya. "Oh ya Bu, Kak, kemungkinan aku dan Gara akan pindah ke Ibu kota lagi. Kasihan juga kalau Gara teru-terusan disini dengan usahanya yang kurang maju"


"Iya Va, Ibu akan selalu mendukung apapun keputusan kamu. Yang penting kamu sehat dan calon bayi kamu juga"


"Iya Va, aku juga akan selalu mendukung apa yang akan menjadi keputusan kamu dan yang kamu anggap terbaik untuk hidup kamu"


Vania merasa benar-benar kembali menemukan keluarga yang baru. Akhirnya dia bisa bersama dengan orang-orang yang begitu baik dan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Sementara Paman dan Bibinya saja sudah tidak mempunyai rasa simpati apapun untuknya.


"Terima kasih ya Bu, Kak. Kalian baik banget dan sudah banyak membantu aku"


"Iya Va, sama-sama"


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2