
Akhir pekan, Vania kedatangan mertuanya itu. Dia tidak menyangka jika Mama akan datang hari ini. Vania segera menyuruh Mama untuk masuk ke dalam Apartemen.
"Duduk dulu Ma, biar aku buatkan minum"
"Iya Va, gak usah repot-repot juga"
"Tidak repot kok Ma"
Vania berlalu ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk mertuanya dan juga beberapa cemilan yang ada. Sementara di ruang tengah, Mama sedang bermain dengan Gevin yang semakin hari semakin membaik dan kembali ceria seperti dulu. Hal itu tentu membuat Vania bahagia.
"Oma bawa mainan baru untuk Gevin, ini Nak" Mama memberikan paper bag yang dibawa olehnya pada Gevin.
"Mainan apa ini Oma?"
Tentu saja Gevin sangat antusias ketika membuka paper bag berisi mainan yang dibelikan oleh Neneknya itu. Sebuah robot berukuran cukup besar untuk sebuah mainan, robot itu bisa bicara dan berjalan sendiri dengan koneksi remote dan baterai. Gevin terlihat sangat senang dengan mainan barunya ini yang terlihat sangat mewah dan sudah pastinya cukup memakan banyak uang juga.
"Terima kasih Oma, Gevin suka mainannya"
Mama mengelus kepala Gevin dengan senyuman kebahagiaan. Selama ini dia selalu berharap mempunyai seorang cucu dari Gara, anak semata wayangnya itu. Dan sekarang dia benar-benar sudah mempunyai cucu laki-laki berusia hampir 5 tahun ini.
"Sama-sama Sayang, dijaga baik-baik ya mainannya. Jangan dirusakin"
"Iya Oma"
Vania kembali ke ruang tengah dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan. "Ya ampun Ma, tidak perlu membelikan mainan semahal ini untuk Gevin. Sayang Ma, nanti juga pasti di rusak"
"Tidak Ibu, Gevin akan menjaga mainan dari Oma ini"
"Tidak papa Va, lagian tidak setiap hari juga Mama membelikan mainan untuk cucu Mama ini"
Vania menyimpan minuman dan cemilan yang dia bawa diatas meja. Memang Gara dan keluarganya sama saja, selalu ingin memanjakan Gevin. Tapi, meski begitu Vania merasa bahagia karena dengan begitu, artinya keberadaan Gevin diterima oleh Gara dan Mama. Mungkin Papa juga menerima keberadaan Gevin ini, hanya saja Papa tidak bisa menerima Vania yang telah melahirkan Gevin ke dunia ini.
__ADS_1
"Gara dimana Va?"
"Masih di kamar Ma, mungkin masih tidur karena sekarang adalah akhir pekan. Sebentar biar Vania lihat dulu ya Ma"
Mama mengangguk dan membiarkan Vania berlalu ke kamarnya untuk melihat suaminya. Sementara Mama kembali bermain dengan cucunya itu.
Vania masuk ke dalam kamar dan benar saja dugaannya jika Gara masih terlelap diatas tempat tidur. Vania berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan naik ke atasnya. Mengecup pipi suaminya agar Gara segera bangun.
Cup..cup..cup..
Bahkan bukan hanya sekali Vania memberikan kecupan di pipi suaminya itu agar dia segera bangun. "Sayang bangun, sudah pagi. Hampir siang malah"
"Emmh.."
Gara menggeliat pelan dan mulai mengerjapkan matanya sebelum kedua matanya benar-benar terbuka. "Sayang, kamu sudah cantik sekali. Sudah mandi ya. Ayo sini peluk aku"
Vania tersenyum tipis melihat suaminya yang malah merentangkan tangannya. Menginginkan Vania untuk memeluknya. Dan jika Vania belum juga menuruti keinginannya, maka Gara akan terus diam dengan posisinya itu. Akhirnya Vania menghambur ke pelukan suaminya. Menyandarkan kepalanya di dada Gara yang polos tanpa busana itu.
"Ada Mama diluar, dia sengaja datang untuk menjenguk kita. Kamunya malah tidur terus"
"Yaudah, aku mau mandi dulu. Kamu keluar saja dulu temani Mama"
Vania mengangguk, dia menjauh dari tubuh suaminya dan beringsut turun dari atas tempat tidur itu. "Cepat mandi ya Sayang, jangan tidur lagi. Aku mau masak untuk kita makan siang nanti"
Gara mengangguk, dia menatap punggung istrinya yang menghilang dibalik pintu kamar yang tertutup. Gara menghela nafas pelan sebelum dia benar-benar bangun dan turun dari atas tempat tidur. Berjalan ke arah ruang ganti dan segera mandi.
Sementara di dapur, Vania yang sedang menyiapkan bahan makanan yang akan dia masak langsung menoleh ketika Mama yang datang menemuinya di dapur. Mama menarik kursi meja makan dan duduk disana.
"Va, kamu sering masak sendiri seperti ini? Kamu juga yang mengurus Apartemen ini. Apa Gara tidak mempekerjakan orang untuk membantu kamu di rumah?"
Vania tersenyum mendengar ucapan Mama barusan. Jangankan untuk membayar orang yang membantu Vania di rumah. Usaha Gara saja masih belum benar-benar maju dan memastikan hasilnya.
__ADS_1
"Tidak papa Ma, lagian Vania juga tidak ada kerjaan di rumah. Jadi Vania bisa mengerjakan semua ini sendiri. Tanpa harus dibantu oleh orang lain"
Mama menatap kagum pada menantunya itu yang begitu cekatan dalam segala hal. Vania memang sangat cocok menjadi seorang istri idaman para pria di dunia in.
"Pantas saja Gara begitu mencintaimu Nak"
Vania menatap Mama dengan keningnya yang berkerut. Merasa tidak faham dengan apa yang Mama ucapkan barusan. "Memangnya kenapa Ma?"
"Karena kamu memang sosok istri yang sangat baik dan juga bisa mengerti keadaan suami kamu. Jika Gara masih bersama Yunita, dia belum tentu bisa menerima keadaan Gara yang saat ini. Karena Yunita sudah terbiasa dengan bergelimang harta sejak dulu"
Vania hanya tersenyum, tentu saja tidak akan ada yang mampu seperti Vania. Menemani prianya disaat susah sekalipun.
"Va, apa kamu tidak mau pindah saja ke Ibu kota? Sebenarnya Mama merasa sangat kesepian tanpa ada Gara. Selama ini dia selalu bersama Mama, karena Gara adalah anak satu-satunya di keluarga kami"
Tangan Vania yang sedang memotong sayuran itu, langsung terhenti seketika mendengar ucapan Mama. Vania merasa telah memisahkan Ibu dan anaknya. Tapi untuk kembali ke kota yang dulu menjadi awal kehancuran hidupnya. Vania belum siap.
"Emm. A-aku ikut bagaimana Gara saja Ma"
Mama tersenyum tipis, berharap jika putranya mau kembali ke kota dan kembali tinggal bersamanya. Karena jujur saja Mama selalu merasa kesepian sejak Gara pergi.
Gara datang bersama Gevin ke dapur ketika Vania masih memasak untuk makan siang kali ini. Gara menyalami Ibunya, lalu duduk di kursi samping Mama.
"Mama mau datang kesini kok gak bilang, kan aku bisa jemput"
Mama tersenyum, dia membuka tasnya dan menaruh sesuatu diatas meja. "Ini mobil kamu Mama kembalikan. Mobil kamu sudah ada di bawah"
"Loh, kok dikembalikan?"
Mama tersenyum, dia mengelus bahu anaknya dengan lembut. "Mama tahu jika kamu pasti membutuhkannya, lagian Papa juga sudah membiarkan Mama memberikan semua fasilitas kamu lagi"
Gara menahan tangan Mama yang sedang merogoh tasnya, mungkin Mama akan mengeluarkan kredit card dan kartu atm yang dia berikan pada Papa saat itu.
__ADS_1
"Tidak perlu Ma, aku sudah bisa menghidupi diriku dan keluarga kecilku. Jadi, Mama tidak perlu mengembalikan apapun lagi padaku"
Bersambung