
Sudah berbagai cara Gara lakukan untuk bisamengembalikan kondisi perusahaan Ayahnya. Dia sudah mencari beberapa perusahaan besar untuk mau membantu perusahaannya, Tapi tetap saja tidak ada yang bersedia karena memang kerugian perusahaan Papa sudah benar-benar tidak punya harapan lagi.
"Gawat Tuan, para karyawan kantor demo di depan karena gaji mereka yang belum turun"
Gara mengusap wajah kasar, benar-benar bingung harus melakukan apapun. "Bilang pada mereka jika aku akan membayarnya setelah akhir bulan ini"
"Baik Tuan"
Gara menyembunyikan wajahnya diatas meja dengan diantara kedua tangannya yang di lipat diatas meja kerjanya. Gara benar-benar bingung saat ini. Perusahaan Ayahnya yang sudah berada di ujung kehancuran.
Ceklek..
Suara pintu yang terbuka diiringi suara derap langkah kaki mendekat. Gara langsung mendongakan wajahnya dan melihat siapa yang datang ke ruangannya.
"Ada apa kau datang kesini?"
Yunita tersenyum, dia duduk di kursi depan meja kerja Gara. "Aku hanya ingin menawarkan bantuan padamu. Jual perusahaanmu padaku, maka kau bisa hidup dengan uang hasil penjualan perusahaan ini dan bisa melunasi hutang-hutang Ayahmu"
Gara menatap Yunita dengan helaannafas panjang. Awalnya memang Gara ingin mempertahankan perusahaan yang sudah lama di dirikan oleh Ayahnya dari nol. Tapi nyatanya Gara tetap tidak bisa mempertahankannya.
"Kau berani dengan harga yang aku tawarkan?"
Yunita mengangguk santai, tidak mermasa keberatan dengan harga yang Gara tawarkan padanya. "Ya, tidak masalah. Tapi aku mempunyai satu syarat"
"Apa? Jangan harap kau ingin aku menikahimu lagi. Karena itu tidak akan mungkin"
Yunita terkekeh pelan, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan bersidekap dada. Menatap Gara dengan tenang. "Sepertinya kau memang benar-benar sangat mencintai gadis itu hingga tidak berani mengkhianatinya seperti saat kau masih bersamaku"
"Jangan bertele-tele. Cepat katakan apa mau kamu?"
"Aku mau kamu...."
__ADS_1
######
Vania tersenyum ketika suaminya menghubunginya lewat panggilan video. Kerinduan Vania mulaibisa terobati dengan melihat wajah suaminya saat ini.
"Sayang, bagaimana tentang perusahaan Papa kamu? Apa sudah menemukan jalan keluarnya?"
Gara terdiam beberapa saat, lalu dia mengangguk dengan senyuman. "Semuanya sudah hampir selesai"
"Syukurlah kalau begitu"
Akhirnya Vania bisa lega mendengar kabar baik dari suaminya itu. Vania sangat berharap jika Gara bisa menyelesaikan semua ini. Meski mungkin tidak mudah, tapi akhirnya suaminya itu bisa menyelesaikan semuanya.
"Yaudah kalau gitu kamu istirahat ya, sudah malam juga. Kamu pasti lelah seharian ini"
"Iya Sayang, kamu juga istirahat ya. Aku usahakan segera pulang. Aku juga sangat merindukanmu dan Gevin"
"Aku juga"
"Aku ingin kau menemani aku untuk hadir diacara event model internasional di Singapura. Hanya menemani aku saja dan tidak perlu melakukan apapun. Karena aku masih terkenal menjadi istrimu disana, jadi aku tidak mau sampai merusak karier aku disana jika media disana tahu kalau aku sudah menjadi seorang janda. Kau tahu sendiri image seorang janda yang selalu di pandang buruk, apapun alasannya bercerai"
Gara tidak bisa menolak permintaan Yunita yang menurutnya terlalu simple untuk sebuah bantuan yang dia berikan padanya. Hanya meminta Gara menemaninya ke sebuah acara tanpa harus melakukan apapun selain menjadi pendamping yang baik.
"Setidaknya dia tidak meminta yang aneh-aneh. Tidak meminta aku untuk menikahinya lagi seperti yang aku bayangkan.Aku harus segera menyelesaikan semua ini agar aku bisa segera pulang dan bertemu dengan istriku"
Gara benar-benar tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan istrinya. Sudah cukup lama dia terpisah dengan Vania saat istrinya itu pergi meninggalkannya 5 tahun yang lalu. Dan sekarang Gara selalu takut untuk meninggalkan Vania, karena takut saat dia kembali Vania sudah tidak ada dan pergi meninggalkannya lagi dengan membawa Gevin.
Makanya hampir setiap dia mempunyai waktu agak senggang, Gara selalu menyempatkan untuk menghubungi istrinya. Memastikan jika Vania masih berada di Apartemen dan tidak pergi meninggalkannya seperti dulu.
"Ga, kamu sedang apa?"
Gara menoleh ketika melihat pintu kamar yang terbuka. Mama masuk ke dalam kamarnya dan duduk di pinggir tempat tidur. "Bagaimana? Apa kamu bisa mencari solusi untuk masalah ini'
__ADS_1
Gara menghela nafas pelan. "Sebenarnya aku sudah menemukan solusinya. Tapi.."
"Tapi apa Nak?"
Gara menghela nafaspelan, dia tidak bisa menyembunyikan apapun lagi pada Mama. Gara menceritakan kejadiannya di kantor tadi siang. Saat kedatangan Yunita yang mau memberikan bantuan.
"Sudah Papa bilang jika hanya Yunita yang tepat untuk kamu. Buktinya sekarang dia bisa membantu kita saat dalam kesulitan. Kenapa kamu bodoh sekali dan malah memilih wanita yang tidak mempunyai apa-apa yang bisa membantu kita saat kita kesulitan seperti saat ini"
Gara menatap Ayahnya yang baru saja masuk ke dalam kamar. "Apa maksud Papa? Jelas aku lebih memilih Vania, karena memang dia yang aku cintai. Hidup itu jangan hanya mengikuti naf*su saja, Karena naf*su hanya akan menjerumuskan kita suatu saat nanti"
"Tapi apa yang kamu dapatkan dari gadis itu? Apa yang bisa kamu banggakan dari dia? Saat seperti ini saja dia tidak bisa membantu apapun"
Gara berdiri dan menatap Papa dengan dingin. Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti istrinya, tak terkecuali Ayahnya ini. Sudah cukup Vania menderita selama ini karena Ayahnya.
"Pa, stop menjelekan Vania! Dia adalah sumber kebahagiaan untuk Gara" Mama ikut bicara karena Mama juga tidak suka melihat suaminya yang malah mengkambing hitamkan Vania atas masalah yang sedang terjadi ini.
"Dengar ya Pa, jika bukan karena Vania yang memaksa aku untuk datang kesini dan membantu Papa. Aku tidak akan mau datang kesini, dan sekarang Papa malah menjelekan istriku. Aku tidak rela Pa! Aku tidak mau membantu Papa jika Papa tidak mau menghargai istriku!"
Mama langsung berdiri dan memegang tangan anaknya. "Sudah Nak, biar Mama yang bicara dengan Papa kamu. Mama jamin tidak akan ada lagi kejadian seperti ini"
Mama menarik lengan suaminya keluar dari kamar Gara. Dia membawa Papa ke kamar mereka.
"Cukup ya Pa! Jangan terus menyalahkan Vania. Karena Vania tidak salah apapun. Justru dia lebih berjasa karena sudah membesarkan cucu kita seorang diri selama ini. Apa Papa tidak mempunyai sedikit rasa simpati padanya?'
"Papa hanya ingin yang terbaik untuk Gara"
"Yang terbaik untuk anak kita adalah pilihannya sendiri. Karena pilihan hatinya yang pasti yang terbaik untuknya"
Papa terdiam mendengar ucapan Mama barusan. Ya, memang benar juga apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Tapi ada satu hal yang Papa dengar tentang Vania yang membuat dia sangat tidak setuju jika anaknya bersama Vania.
Bersambung
__ADS_1