Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 20 #Kebahagiaanku Adalah Kau Dan Gevin#


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang tidak pernah Vania sangka akan terjadi dalam hidupnya. Bagaimana dia sedang berjalan diatas karpet merah dengan gaun pengantin yang sangat indah. Memang bukan acara pernikahan mewah yang diadakan di sebuah gedung ternama dengan tamu undangan yang banyak. Tapi hanya sebuah pernikahan yang sederhana yang diadakan di halaman rumah saja. Namun suasana pernikahan ini benar-benar seperti dalam bayangan Vania.


Bunga-bunga segar yang menghiasi pelaminan dan sebuah karpet merah yang tergelar saat dia menemui suaminya nanti. Dengan di dampingi oleh Ibu dan Jenny, Vania berjalan menghampiri Gara yang berdiri di ujung sana. Pria itu sudah terlihat tampan dengan balutan jas dengan warna senada dengan gaun yang dipakai oleh Vania.


Ibu menyerahkan tangan Vania pada Gara dengan air mata yang mulai menetes begitu saja di pipinya. Ibu memang hanya tinggal beberapa tahun saja dengan Vania. Tapi dia sudah benar-benar menganggap Vania samaseperti Jenny. Apalagi ketika Ibu tahu bagaimana kisah hidup Vania selama ini. Membuatnya begitu tidak tega pada Vania.


"Nak Gara, Vania memang bukan siapa-siapa Ibu. Tapi dia sudah seperti anaknya Ibu. Jadi Ibu mohon kepada Nak Gara untuk tidak melukai Vania sedikit pun. Dia sudah banyak terluka selama ini, jadi jangan membuatnya semakin terluka"


Gara mengangguk, setelah dia bisa menikahi Vania dan memastikan jika wanitanya ini tidak akanlari lagi darinya, maka Gara akan segera mengurus tentang pernikahannya dengan Yunita. Karena Gara tahu jika semuanya tidak akan mudah, jadi dia memilih untuk menikahi Vania terlebih dahulu sebelum dia mengurus soal pernikahannya dengan Yunita.


"Saya berjanji untuk membuat Vania bahagia dan tidak akan melukai hatinya lagi"


"Ibu serahkan Vania padamu"


Dan tangisan Vania pun mulai pecah, dia begitu terharu dengan kebaikan Ibu padanya. Bagaimana Ibu dan Jenny yang begitu baik pada Vania yang bukan siapa-siapa mereka.


"Terima kasih atas semuanya Bu, Kak Jenny"


"Iya Va, kami senang melihat kamu bisa bahagia sekarang"


Vania hanya sedang mengingat tentang kedua orang tuanya yang sudah tidak ada di dunia ini. Seandainya mereka masih ada di dunia ini, mungkin akan tersenyum bahagia melihat Vania yang bisa melewati semua ini hingga dirinya bisa menikah dengan pria yang dia cintai sekaligus Ayah dari anaknya itu.


Gevin yang berdiri disamping Gara, merasa bingung dengan keadaan ini. Bagaimana Ibunya yang sudah terlihat cantik, tapi malah menangis bersama sang Nenenk dan juga Bibi Jenny.


"Kenapa kalian semua harus menangis? Bukannya di sebuah pesta harus bahagia ya?"


Perkataan polos dari Gevin benar-benar membuat semua orang tersenyum dan segera menghapus air mata mereka.


"Gevin, ini adalah air mata kebahagiaan Nak" kata Jenny dengan tersenyum lucu pada Gevin

__ADS_1


"Memangnya ada menangis karena bahagia? Buktinya Gevin menangis karena Ibu yang tidak menuruti keinginan Gevin, dan Gevin sangat sedih"


Semuanya hanya tersenyum dengan tingkah menggemaskan Gevin yang sedang panda-pandainya berbicara dan bercerita.


######


Berdiri diatas pelaminan dengan para tamu yang datang dan menyalami mereka dengan ucapan selamat. Vania masih tidak menyangka jika beberapa saat yang lalu dirinya telah sah dan resmi menjadi istri dari Sagara Werden. Pria tampan yang memiliki wajah nyaris sama dengan anaknya itu.


"Sayang, apa kau bahagia?" bisik Gara di telinganya.


Vania menoleh pada Gara, lalu dia mengangguk. Selepas apa yang akan terjadi kedepannya setelah ini, tapi yang jelas Vania tidak bisa membohongi hatinya jika dia begitu bahagia saat bisa bersama Gara. Meski mungkin saat ini Vania hanya jadi yang kedua bagi Gara.


"Selama ini memang kebahagiaan aku adalah kamu dan Gevin"


Deg..


Gara benar-benar tidak menyangka dengan ucapan Vania barusan. Dia merasa jika dirinya masih seberharga itu untuk Vania. Meski Vania sudah melewati banyak hal sulit dalam hidupnya karena Gara, meski tidak sepenuhnya karena kesalahan Gara karena semuanya terjadi  karena kesalah fahaman yang dibuat oleh Ayahnya Gara.


Vania meraih tangan Gara, menggenggamnya dengan lembut diatas pangkuannya. "Asalkan mulai hari ini kamu tidak akan lagi membuat aku kecewa dan tidak akan menjadikan Gevin anak yang tidak mempunyai Ayah lagi. Maka aku terima semua masa lalu yang telah terjadi diantara kita. Karena semuanya juga bukan sepenuhnya kesalahan kamu. Tapi.."


Gara langsung menatap Vania dengan bingung ketika gadis itu tidak melanjutkan ucapannya dan terlihat ragu ketika dia ingin mengatakan apa yang ada dalam fikirannya.


"Kenapa? Tapi kenapa, Sayang?"


Vania menghela nafas pelan, dia seolah tidak ingin mengatakannya. Tapi dia tetap harus mengatakannya. "Bagaimana jika nanti Papa kamu tahu dan dia pasti akan marah besar karena mengetahui jika kamu menikah denganku. Apalagi jika istrimu yang mengetahuinya"


Gara menghembuskan nafas pelan, istrinya ini pasti merasa takut dengan kejadian di masa lalunya. Takut jika hal itu akan terjadi lagi, bagaimana saat Papa yang meminta Vania untuk pergi mengatas namakan Gara. Membuat Vania jadi salah faham dan akhirnya pergi dan Gevin yang menjadi korban dari itu semua.


"Aku tidak pernah mencintai Yunita, jadi aku akan melakukan apapun asal bisa bersama wanita yang aku cintai. Kamu tenang saja, aku akan segera menceraikan Yunita"

__ADS_1


Deg...


#####


Yunita yang sedang melakukan pemotretan untuk sebuah majalah iklan, mulai tidak fokus ketika dia melihat sebuah foto acara pernikahan yang di kirim ke ponselnya.


"Berhenti dulu, aku lagi gak fokus"


"Yah, kenapa Yu?"


"Iya, biasanya selalu prpfeional"


Yunita mengabaikan keluhan para kameramen. Dia memang sedang tidak bisa fokus saat ini. Dia duduk disebuah kursi yang telah disiapkan khusus untuknya oleh managernya itu.


"Kenapa Yu? Gak biasanya kamu kayak gini?"


Yunita mengutak-ngatik ponselnya dan menghela nafas panjang ketika apa yang dia lihat di ponselnya itu memang benar. Itu adalah foto suaminya dengan seorang wanita yang masih Yunita ingat jika dia adalah gadis si penjual bunga.


"Aku  harus pergi ke luar kota, ada urusan mendadak" Yunita langsung berdiri dari duduknya, meraih tas selempang miliknya yang dia sampirkan di bahu.


"Eh Yu, mau kemana?"


Yunita benar-benar tidak memperdulikan teriakan  managernya dan beberapa kru. Saat ini dia harus segera menyelesaikan permasalahan ini,


"Aku tahu dia tidak mencintaiku, tapi apa dia harus menikah lagi di belakangku? Sialan, ternyata gadis yang menjadi penjual bunga itu adalah seorang perebut suami orang. Dan sialnya dia merebut suamiku, jelas aku tidak akan diam saja"


Yunita benar-benar sangat kesal dan marah saat ini. Ketika dia tahu jika suaminya telah menikah lagi dengan gadis penjual bunga.


"Gadis polos yang ternyata tidak sepolos wajahnya"

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2