
"Tolong jangan mengambil Gevin dariku, tolong jangan membuat hidup aku semakin hancur..Hiks"
Gara menggeleng pelan, dia masih memeluk tubuh Vania yang bergetar. "Aku tidak akan membawa Gevin dari hidup kamu. Aku hanya ingin ikut hidup bersama kalian"
Vania mencoba menghentikan tangisannya, meski isakannya masih terdengar. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Gara, namun pria itu malah semakin mengeratkan peukannya.
"Lepaskan!"
"Sebentar saja, aku masih sangat merindukan pelukan ini. Apa kau tidak merindukan aku?"
Jelas aku sangat rindu, tapi aku sadar jika aku tidak mempunyai hak apapun lagi. Sadar diri karena memang Gara sudah menikah dan mempunyai seorang istri.
Untuk beberapa saat keduanya hanya terduduk diatas lantai dengan saling berpelukan. Merasakan debaran jantung masing-masing. Bahkan Vania merasa jika Gara yang terus mengecup kepalanya.
"Permisi"
Vania langsung mendorong tubuh Gara dari tubuhnya. Mengusap sisa air mata di wajahnya, sebelum dia berdiri dan melayani pelanggan yang datang.
"Iya Kak, mau pesan apa?"
Gara yang masih duduk diatas lantai, sedikit mengusap ujung matanya yang berair. Maafkan aku karena telah membuatmu terluka. Gumamnya dalam hati.
Vania merangkai buket bunga yang dipesan oleh pelanggan yang baru saja datang itu. Menyerahkannya setelah buket bunga selesai dan kartu ucapan yang di pesan oleh si pembeli.
"Terima kasih Kak"
Senyuman ramah itu langsung lenyap seketika saat pelanggan toko yang telah berlalu dari hadapannya. Vania berbalik dan terkejut saat melihat Gara yang masih duduk diatas lantai. Hampir saja kaki Vania menginjak tangan Gara.
"Bukannya kau ingin mengajak Gevin pergi jalan? Pergilah, dan kembalikan Gevin sebelum malam"
Gara berdiri dan menatap Vania yang memalingkan wajahnya, seolah dia memang tidak ingin bertemu tatap dengan Gara.
Gara menghela nafas pelan ketika melihat sikap Vania yang masih begitu dingin padanya. "Baiklah, aku hanya ingin mengajaknya jalan ke taman hiburan saja"
__ADS_1
"Hmm"
Gara hanya bisa menghela nafas berat ketika mendengar jawaban dari Vania yang hanya berupa deheman saja. Setelah Gara pergi, Vania menjatuhkan tubuhnya diatas kursi dengan helaan nafas panjang.
Apa aku terlalu egois jika aku tidak mau jika suatu saat nanti Gevin akan pergi bersama Gara. Mungkin dia bahkan akan lebih memilih tinggal bersama Papanya karena keadaannya tentu akan lebih terjamin jika tinggal bersama Gara. Tapi, aku benar-benar tidak siap jika hal itu terjadi.
######
Gevin tentu sangat senang saat dia bisa pergi jalan-jalan bersama Ayahnya, yang selama ini selalu dia rindukan dan selalu ingin bertemu dengannya. Tapi sampai usianya hampir 4 tahun, dia baru bisa bertemu dengan Ayahnya ini. Begitu senang hati Gevin, apalagi jika dia bisa melihat Ayah dan Ibunya bersatu kembali.
"Gevin senang, Nak?" Gara mengelus kepala anaknya yang baru saja selesai makan. Gevin juga sudah membeli banyak mainan dan pakaian juga.
"Senang Pa, terima kasih ya"
Gara mengangguk, dia senang jika anaknya merasa bahagia dengan apa yang dai berikan. "Kita belikan makanan ini untuk Ibu ya"
Gevin mengangguk, tapi tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi murung. "Seandainya Ibu juga bisa ikut kesini, pasti Ibu akan senang. Karena Ibu juga jarang sekali datang ke tempat seperti ini"
Gara terdiam, dia menatap wajah anaknya yang terlihat sendu itu. Gara mengelus kepala Gevin dengan lembut. "Sabar ya Nak, Ibu 'kan kerja. Jadinya Ibu belum bisa ikut kita untuk pergi jalan-jalan"
Setelah Gevin merasa puas pergi jalan-jalan bersama Ayahnya, dia langsung terlelap saat berada didalam mobil. Mungkin karena Gevin yang kelelahan seharan ini begitu asyik bermain.
Gara tersenyum melihat anaknya yang tertidur di kursi penumpang. Dia mengelus kepala Gevin dengan lembut. "Papa janji akan membuat kita bersatu bagaimana pun caranya"
Entah itu sebuah tindakan egois atau tidak, tapi Gara hanya ingin memberikan keluarga yang lengkap pada Gevin. Gara tidak memikirkan tentang konsekuensinya yang mungkin akan terjadi kedepannya. Saat ini dia hanya ingin meyaknikan Vania jika dia bisa membuatnya dan Gevin bahagia.
Gara memarkirkan mobilnya di depan toko bunga yang masih buka. Padahal hari juga sudah mulai gelap. Gara turun dari dalam mobilnya dan menghampiri Vania yang sedang duduk di kursi kayu disana sambil memainkan setangkai bunga mawar putih ditangannya. Vania seperti sedang melamun sampai dirinya tidak sadar akan kehadiran Gara disini.
"Vania"
Benar saja jika Vania memang sedang melamun, karena dirinya langsung mengerjap kaget ketika mendengar Gara yang memanggilnya. Vania menatap Gara dan langsung berdiri dari duduknya.
"Mana Gevin?"
__ADS_1
Gara tersenyum, dia berjalan mendekat pada Vania. Duduk di kursi kosong samping Vania berdiri. "Dia ada di dalam mobil, tertidur karena kelelahan terlalu asyik bermain tadi"
Vania menghela nafas lega, dirinya benar-benar takut jika Gara benar-benar membawa Gevin pergi dan tidak mengembalikan anaknya itu padanya.
"Duduklah, aku membelikan makanan untukmu. Kau pasti belum makan"
Vania kembali duduk di kursi yang tadi ditempati olehnya. Duduk berdampingan bersama Gara. Vania menatap Gara yang memberikan paper bag dengan tulisan salah satu Restaurant terkenal di kota ini.
"Makanlah, Gevin yang memilihkan ini untuk kamu. Katanya kamu suka makanan ini"
Dengan sedikit ragu, Vania mengambil paper bag yang disodorkan oleh Gara dan membukanya. Lalu dia menatap ke arah Gara tatapan penuh tanya. Di dalam paper bag itu terdapat sebuah hamburger dengan isian daging ikan yang sering di sebut dengan Fish Burger, makanan kesukaan Vania saat masih kuliah dulu. Simple dan mengenyangkan.
"Ya, aku masih ingat makanan kesukaan kamu"
Vania terdiam menatap burger ditangannya. Dia memulai menggigitnya dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes begitu saja. Segera dia hapus dengan punggung tangannya.
"Apa kau merindukan aku?"
Vania memelankan kunyahan makanan di dalam mulutnya ini. Mendengar pertanyaan dari Gara barusan, benar-benar membuat Vania terdiam. Tentu, hatinya tidak dapat dia bohongi jika Vania memang merindukan sosok Gara dalam hidupnya. Namun, hatinya juga masih sangat kecewa dengan perlakuan Gara padanya dimasa lalu.
"Vania, apa kamu tidak ingin memberikan kebahagiaan untuk Gevin? Memberikan keluarga yang lengkap untuknya? Kita bisa memulainya dari awal Va"
Vania menghentikan makannya, dia menoleh pada Gara dan menatapnya dengan lekat. "Maaf, aku tidak bisa menjadi orang ketiga diantara kamu dan istrimu itu"
Vania berdiri dari duduknya dan melangkah beberapa langkah menjauh dari Gara. Sebelum ucapan Gara membuatnya berhenti seketika.
"Aku tidak mencintainya, aku menikahi dia karena paksaan keluarga ku"
Deg..
Vania benar-benar terdiam ditempatnya. Tidak bisa berkata apapun lagi.
Bersambung
__ADS_1