
Gara tersenyum melihat anaknya yang begitu bahagia ketika dia main di playground. Gara merasa jika beban dalam hidupnya sedikit berkurang ketika dia melihat senyum dan tawa bahagia anaknya itu.
Tunggu Papa bisa menyelesaikan semua ini, Nak. Papa akan membawa kamu dan ibu kembali bersama.
Gara tidak akan membiarkan begitu saja pernikahannya ini hancur. Semuanya adalah sebuah perjuangan untuk Gara dan tidak mungkin Gara mengakhiri semua perjuangannya ini.
"Papa, ayo kita pulang. Gevin sudah capek"
Gara terkekeh melihat wajah anaknya yang sudah sayu itu. Mungkin Gevin mengantuk dan kecapean bermain. Gara menggendong Gevin dan membawanya keluar dari tempat bermain anak-anak ini. Gara membawa Gevin ke Apertemennya hari ini. Sengaja agar Vania bisa memikirkan semuanya dengan tenang dan pikiran yang jernih.
Namun, baru saja menidurkan Gevin diatas tempat tidur.Ponsel Gara berdering dan membuat Gara langsung mengangkatnya. Vania pasti tidak akan tenang jika anaknya belum juga pulang di jam segini.
"Gevin kamu bawa kemana? Kenapa belum pulang?"
"Aku bawa dia ke Apartemen, dia sedang tidur sekarang"
Vania menghela nafas pelan mendengar itu. Setidaknya dia tahu dimana keberadaan anaknya. "Yaudah, besok kembalikan Gevin kesini"
"Iya Sayang"
Vania mematikan sambungan teleponnya, tidak menjawab ucapan sayang dari Gara. Meski sebenarnya dia begitu merindukan panggilan itu. Vania yang tidak bisa membohongi kata hatinya, meski dirinya sangat ingin membenci. Namun nyatanya dia tetap tidak bisa melakukan itu karena hatinya yang terus menginginkan kehadiran Gara dalam hidupnya.
Tapi Ayahnya dia yang membunuh kedua orang tuamu, Vania. Sampai saat ini aku tidak bisa percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Kenyataan yang merubah semuanya, hidup Vania dan Gara yang awalnya bahagia kini telah berubah menjadi renggang dan tidak tahu akan seperti apa selanjutnya.
Tok..tok..
Vania menoleh ke arah pintu kamar yang di ketuk. "Masuk"
Jenny masuk ke dalam kamar Vania, dia duduk di pinggir tempat tidur. "Bagaimana Gevin?"
"Dia dibawa Gara ke Apartemennya"
__ADS_1
Jenny mengangguk mengerti, dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Vania.Menatap langit-langit kamar dengan kedua tangannya sebagai bantalan.
"Va, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Vania menghembuskan nafas pelan, dia ikut merebahkan tubuhnya disamping Jenny dengan posisi yang sama. "Sepertinya aku tidak akan sanggup terus bersama Gara, karena aku akan terus teringat pada kedua orang tuaku yang telah meninggal"
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Sepertinya aku akan berpisah dengan Gara"
######
Mama menghela nafas pelan melihat suaminya yang memakai baju tahanan. "Bagaimana kabarmu Pa?"
"Seperti yang kamu lihat, Papa baik-baik saja disini. Mungkin sebelum sidang penjatuhan hukuman nanti"
Mama memegang tangan suaminya yang erpasang borgol diatas meja. "Mama yakin pasti akan bisa melewati semua ini. Mama tidak akan meninggalkan Papa, akan setia menunggu Papa sampai Papa bebas dari sini"
"Gara akan mengurus perusahaan yang sekarang dalam keadaan kacau, banyak para investor yang menarik saham yang berada di perusahaan kita"
Papa sudah menduga efek dari semua ini, sudah pasti semuanya akan berakibat fatal pada kelangsungan perusahaannya.
"Baik-baik disini Pa, jaga kesehatan. Mama dan Gara akan berusaha mempertahankan perusahaan yang telah Papa rintis dari nol"
"Iya Ma, kamu juga harus jaga kesehatan"
Dan setelah hari ini, mungkin tidak akan ada yang bisa Mama lakukan selain sering menjenguk suaminya itu.
######
Seminggu berlalu, dan Gara terdiam saat mendapat sebuah surat yang diantar oleh kurir ke Apartemennya. Dia membuka amplop putih itu yang di atasnya jelas tertulis salah satu kantor pengadilan agama di kota ini.
"Surat gu-gatan cerai?"
__ADS_1
Gara benar-benar mematung melihat itu, tidak pernah menyangka jika Vania akan melakukan hal sampai sejauh ini. "Tidak. Aku tidak akan mau menandatangani ini"
Gara merobek kertas itu hingga menjadi sebuah serpihan kecil. Membuangnya ke dalam tempat ampah. Gara kembali masuk ke dalam Apartemen dan mengambil ponsel dan segera menelepon Vania untuk mempertanyakan soal ini.
"Apa maksudmu menggugat cerai aku hah? Ingat ya Vania, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menandatangani surat itu. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu"
Di rumah Jenny, Vania terdiam dengan helaan nafaas panjang. "Aku tidak bisa terus bersama kamu Ga. Tolong ngertiin aku"
"Gak. Aku tidak akan mengerti kamu apapun yang terjadi jika kamu terus meminta pisah dari aku. Ayolah Vania, kenapa harus melakukan ini. Kita pasti bisa memperbaiki semua ini. Tidak perlu sampai berpisah"
Vania bingung harus melakukan apa saat ini. Sudah dia duga jika Gara tidak mungkin mau berpisah dengannya begitu saja. Sudah pasti Gara akan menolak perceraian ini.
Gara melempar ponselnya ke atas sofa dengan mengusap wajah kasar. Merasa sangat lelah dengan semua ini.Belum lagi dia yang harus mengurus perusahaan dan juga mengurus persidangan Papa. Dan sekarang, istrinya tiba-tiba melayangkan surat gugatan cerai. Semuanya terlalu berat untuk Gara.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Gara duduk di atas sofa dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Gara merasa sangat tidak kuat menghadapi semua ini, namun dia tetap bertahan karena ada keluarga yang harus dia perjuangkan. Ada anak dan istrinya juga Ibunya yang harus Gara perjuangkan saat ini.
Hari persidangan Papa akan di lakukan seminggu lagi. Dan hal ini membuat Gara cukup tegang karena takut jika mungkin saja Papa akan mendapatkan hukuman yang cukup berat. Meski Gara marah dan kesal pada Ayahnya itu. Tapi hatinya tetap menyayanginya. Apalagi Papa melakukan semua ini karena dirinya dan demi dirinya.
Gara kembali ke Ibu kota hari ini, dia harus mencoba menahan para pemilik saham di perusahaannya yang mulai menarik saham mereka sejak kasus yang menimpa Papa.
"Aku akan membantumu, kau tenang saja"
Akhirnya untuk kedua kalinya William membantu Gara dalam menyelesaikan kekacauan di perusahaannya. Meski sebenarnya Gara tidak terlalu dekat dengan William. Namun kali ini dia harus benar-benar bersyukur karena William sudah banyak membantu dia.
Dan dengan bantuan dari William, perusahaan Gara mulai kembali normal. William menjanjikan jika apa yang terjadi pada Papa, tidak akan berpengaruh apapun pada perusahaan ini. Karena sekarang dia yang menjadi penanggung jawab.
"Terima kasih Will, kamu sudah banyak membantu aku selama ini"
William menepuk bahu Gara dua kali. "Tidak papa, aku senang bisa membantu temanku"
Bersambung
__ADS_1