
Dan selesai acara pernikahan yang cukup sederhana itu, Gara segera membawa Vania dan Gevin untuk pulang ke apartemennya. Tidak mungkin Gara terus membiarkan anak dan istrinya tinggal bersama Ibu dan Jenny yang jelas bukan siapa-siapa Vania. Namun mereka memang begitu baik hingga mau menampung Vania dan Gevin selama ini. Dan hari ini Vania dan Gevin telah menjadi tanggung jawabnya, membuat Gara harus segera membawanya dan menjalankan tanggung jawab dalam hidupnya ini.
"Sayang, ayo masuk. Mulai sekarang, kalian akan tinggal disini bersamaku. Tidak papa ya kita tinggal dulu di apartemen sebelum aku menemukan rumah yang pas untuk kita"
Vania tersenyum, dia menatap ke sekililingnya dengan pandangan kagum. Ini memang hanya sebuah apartemen, namun jelas bukan apartemen kelas biasa saja. Fasilitasnya juga lengkap dengan ruangan yang lebih luas.
"Aku bisa tinggal dimana saja, asalkan bersama kalian"
Gara tersenyum, dia memeluk Vania dari belakang. Mengabaikan anak mereka yang sedang duduk di atas sofa dengan lelah. Mungkin karena acara hari ini cukup melelahkan bagi Gevin.
"Aku bahagia karena bisa bersamamu"
Vania tidak bisa menahan senyuman kebahagiaan di wajahnya. Karena dia juga merasa bahagia ketika bisa bersama Gara, pria yang dia cintai sejak lama. Nyatanya sebesar apapun dirinya menolak, Vania tetap tidak bisa membohongi hati kecilnya yang memang masih memiliki perasaan yang sama pada Gara.
"Vania, apa kau masih mencintaiku?"
"Memangnya kau masih mencintaiku? Seperti dulu?" Tanya Vania balik, sebelum dia menjawab pertanyaan dari Gara barusan.
"Tentu saja tidak. Karena perasaan cintaku padamu saat ini, jelas lebih besar dari perasaanku yang dulu"
Vania hampir saja kecewa dan marah ketika mendengar kata 'tidak' dari mulut Gara ketika dia menanyakan hal itu. Namun dia langsung tersenyum ketika mendengar ucapan Gara. Membuat hatinya berbunga sekarang.
"Sebenarnya aku masih sedikit kecewa dan takut untuk kembali denganmu. Apalagi ketika aku tahu jika Ayahmu tidak menyukaiku dan tidak merestui hubungan kita. Aku sempat berfikir untuk menjauh darimu, namun permintaan Gevin yang ingin aku tinggal bersama kamu, membuat aku tidak bisa menolak. Dan saat ini, aku benar-benar tidak bisa membohongi hatiku jika aku memang masih mencintaimu. Tidak peduli jika aku hanya akan menjadi istri kedua kamu"
Gara langsung melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Vania agar menatap ke arahnya. "Vania, dengarkan aku! Sudah aku bilang jika aku akan segera menceraikan Yunita. Karena apa? Karena hanya kamu yang berada di hatiku satu-satunya"
__ADS_1
Vania menatap Gara dengan tatapan yang lekat. Melihat apa adanya sebuah kebohongan dibalik tatapan pria itu. Tapi Vania hanya melihat sebuah ketulusan disana. Membuat dia semakin yakin dengan keputusan yang telah dia ambil saat ini.
Dan tidak ada pertanyaana apapun lagi dari Vania. Dia mencoba untuk tidak membuat petengkaran dalam rumah tangganya dengan Gara yang baru terjalin beberapa jam lalu.
Setelah menidurkan Gevin di kamar sebelah, kini Vania dan Gara duduk diatas tempat tidur dengan Vania yang bersandar di dada Gara dengan begitu nyaman. Rasanya dia sudah sangat lama tidak mersakan kenyamanan ini lagi. Merasa jika pelukan Gara masih yang ternyaman untuk Vania.
Gara mengecup puncak kepala Vania dengan lembut. "Aku mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku lagi"
Entah sudah ke berapa kali Vania mendengar ucapan itu dari Gara. Suaminya itu seolah sangat takut jika Vania akan meninggalkan dirinya lagi.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi"
Gara tersenyum dengan hati yang mulai merasa tenang ketika dia bisa mendengarkan jawaban Vania yang begitu memuaskan.
"Mungkin, aku akan membawa kamu dan Gevin ke Ibu kota. Aku ingin memperkenalkan kalian pada orang tuaku. Mereka harus tahu jika gadis yang mereka tidak setujui bersama anaknya ini telah melahirkan cucu untuk mereka dan merawatnya dengan seorang diri selama ini"
Gara mengenalkan tangannya yang berada disisi tubuhnya. Merasa jika Ayahnya telah melakukan hal yang benar-benar melampaui batasan. Gara tidak suka jika ada yang menekan Vania dengan alasan apapun. Karena Vania adalah cintanya dan akan selalu menjadi gadis yang sangat Gara cintai sampai kapanpun.
Sepertinya memang aku tidak bisa langsung memberi tahu Papa dan Mama tentang keberadaan Vania dan Gevin. Apalagi jika mereka tahu jika aku telah menikahi Vania.
"Sayang, apa selama ini memang Papa sudah menekan kamu untuk menjauhiku? Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku?"
Vania menghela nafas pelan, meraih tangan Gara yang mengepal erat hingga urat tangannya terlihat menonjol. Menggenggam tangan suaminya itu dengan lembut. "Aku hanya tidak ingin merusak hubungan diantara kamu dan Papamu"
"Tapi tidak seharusnya Papa melakukan ini padaku. Jelas dia tahu jika aku sangat mencintaimu. Kenapa dia harus menekan kamu agar meninggalkan aku"
__ADS_1
Vania mengangkat tubuhnya dari posisi nyamannya ketika bersandar di tubuh Gara. Menatap suaminya itu dengan tatapan teduh dan menenangkan. "Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Karena sejauh apapun aku pergi dari kehidupan kamu. Pada akhirnya kita tetap bertemu kembali dan bisa sampai menikah hari ini"
Gara hanya diam, dia kembali meraih tubuh Vania dan memeluknya dengan nyaman. Mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
"Aku lelah, ingin tidur"
Gara tersenyum, dia menidurkan Vania dan dirinya pun ikut berbaring di sampingnya. Memeluk Vania dengan nyaman. Bibirnya menempel di pipi Vania. "Rasanya sudah sangat lama aku tidak memelukmu seperti ini"
Vania hanya mengangguk, dia mengelus lengan Gara yang berada di atas perutnya. "Sekarang ayo kita istirahat, aku benar-benar merasa lelah"
Dan sore menjelang malam ini, sepasang pengantin itu terlelap dengan saling berpelukan nyaman diatas tempat tidur. Semua bayangan di masa lalu berputar dalam ingatan hingga menjadi sebuah mimpi yang menemani tidur keduanya.
######
Vania mengerjap ketika samar dia mendengar suara bell yang ditekan. Vania sedikit mengucek matanya yang sedikit perih. Lalu menoleh ke sampingnya, dimana Gara terlelap dengan masih memeluk tubuhnya dengan erat. Vania tersenyum melihat wajah teduh Gara ketika sedang tidur seperti ini. .
Ting..tong..
Lagi-lagi suara bell terdengar begitu mengganggu. Membuat Vania segera turun dari atas tempat tidur dan keluar dari kamar untuk membukakan pintu. Sempat melirik jam dinding yang berada di ruang tengah. Ini sudah malam, meski belum terbilang larut.
"Siapa yang datang malam-malam begini? Apa Gara mempunyai janji ya?"
Ketika Vania membuka pintu, dia hanya diam mematung ditempatnya ketika mengetahui siapa tamu yang datang.
Bersambung
__ADS_1