
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Vania. Bekas kemerahan langsung terlihat di pipinya, Vania memegangi pipinya dengan meringis pelan.
"Kau tega merebut suamiku. Aku benar-benar tidak menyangka jika gadis sepolos kau bisa melakukan ini"
Yunita benar-benar sedang dilanda emosi, dia menjambak rambut Vania dengan kemarahan yang membara. Mendorong tubuh mungil itu hingga jatuh membentur meja.
"Stop! Apa yang kau lakukan sialan" Gara langsung berlari ke arah Vania yang masih terkejut hingga tidak bisa melakukan apapun. Membantu istrinya itu berdiri. Menatap Yunita dengan tajam.
"Kau jangan pernah berani membuat istriku terluka. Karena dia adalah wanita yang sangat au cintai"
Yunita terdiam mendengar ucapan Gara barusan, menatap bagaimana Gara yang memperhatikan Vania dengan cara yang sangat berbeda. "Kenapa? Kenapa kau menikah lagi dengan wanita ini? Apa kau tidak menghargai aku sebagai istrimu?"
"Apa kau sedang berpura-pura lupa atau apa? Kau tahu jika aku tidakpernah mencintaimu. Selama ini aku hanya terpaksa harus menikahimu"
Yunita tentu tahu tentang itu, namun dia sedang berusaha membutakan diri untuk tidak mengingat tentang Gara yang menikahinya bukan karena cinta. Yunita hanya ingin menjadi istri Gara, karena selain dia menyukai pria itu, dia juga mempunyai hal lain yang jelas menguntungkan ketika dia bisa menikahi Gara.
"Jadi, mulai sekarang aku tidak akan menahan diri lagi untuk tidak bersama wanita yang aku cintai karena sekarang aku sudah menemukannya lagi"
"Tapi kau tidak bisa melakukan itu sesuka hatimu. Ingat, jika keluarga kamu juga hanya setuju kau menikah denganku"
"Aku tidak peduli tentang itu, biarkan saja mereka mau membuat apa hanya agar aku berpisah dengan wanita yang aku cintai saat ini. Aku tidak peduli"
Gara langsung mendorong Yunita keluar apartemen dan menutup pintu dengan kaar. Gara membawa Vania untuk duduk diatas sofa, istrinya itu masih terlihat shock dengan apa yang baru saja terjadi. Jelas, karena Vania tidak akan pernah menyangka jika dia akan mengalami hal ini.Dilabrak oleh istri dari suaminya sendiri.
"Minum dulu" Gara mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Vania yang masih terlihat shock itu.
Gara merapikan rambut Vania yang berantakan karena jambakan Yunita tadi. Melihat pipinya yang terlihat memerah dan terlihat jelas bekas tangan disana.
__ADS_1
"Dia menamparmu sampai seperti ini? Sial, dia berania sekali melukai wanitaku"
Vania memegang tangan Gara yang mengepal erat karena emosi. Vania mencoba menenangkan suaminya yang sedang emosi. "Aku tidak papa, hanya sedang terkejut saja"
"Tapi pipi kamu merah" Gara mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Tidak papa, di kompres sebentar saja sudah membaik"
Vania memeluk suaminya, hanya untuk menenangkan Gara dari kemarahan yang saat ini sedang melanda. "Sudah tidak papa, Tidak usah terlalu di fikirkan. Karena wajar saja jika Nona Yunita marah, karena dia merasa terkhianati oleh kamu yang sekarang malah menikah lagi denganku"
Gara menghela nafas pelan, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, aku akan membuat kamu bahagia dengan pernikahan ini. Dan aku juga tidak akan membuat kamu merasa tersisihkan. Mulai saat ini hanya kamu dan Gevin yang menjadi prioritas aku"
Vania tersenyum mendengar itu, dia mendongak dan menatap Gara dengan lembut. "Gara, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi jika bukan kamu sendiri yang menyuruhku pergi"
"Mana mungkin aku menyuruhmu pergi, karena aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu"
######
Vania menghela nafas pelan, mengingat kejadina tadi benar-benar membuat Vania bingung dan juga takut. Merasa jika apa yang dilakukan Yunita padanya, mungkin akan terjadi lagi kedepannya, selama dia masih menjadi istri kedua dari Gara.
"Apa mugkin besok aku harus bicara pada Gara agar tidak memberi tahu siapapun tentang pernikahan ini. Karena dia berencana untuk memberi tahu kedua orang tuanya"
Vania berdiri dan keluar dari kamar Gevin, dia sudah mulai membiasakan untuk tidur terpisah. Tapi beruntungnya Gevin tidak rewel dan langsung mau untuk tidur sendiri.
Vania masuk ke dalam kamarnya dengan pikiran yang sedikit kacau. Dia masih memikirkan tentang kejadian tadi dan tidak bisa tenang karena memang dia terus memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya setelah ini. Vania menghembuskan nafas pelan, dia melihat pintu balkon yang terbuka membuat dia langsung menghampiri suaminya yang telah berada disana dengan ponsel yang menempel ditelinga.
"Baiklah, kau segera urus semuanya. Aku tidak mau jika dia kembali menyakiti istriku ini"
Vania terdiam mendengar ucapan suaminya pada orang yang sedang dia telepon itu. Vania langsung memeluk Gara dari belakang. Menyandarkan kepalanya dia punggung lebar suaminya.
__ADS_1
"Sayang, apa Gevin sudah tidur?" Gara mengelus lembut tangan Vania yang berada di perutnya. Gara langsung mematikan sambungan telepon dengan asistennya itu.
"Gevin sudah tidur, kamu ngapain disini malam-malam begini? Sudah tahu sangat dingin"
"Tidak papa, aku kedinginan juga sekarang 'kan ada kamu yang akan memeluk aku dan bisa aku peluk"
Vania hanya tersenyum mendengar itu, dia semakin mengeratkan pelukannya. "Ayo tidur, aku sudah lelah"
Gara langsung berbalik dan menatap istrinya dengan lekat. "Yakin mau langsung tidur? Aku rasa ada yang harus aku lakukan lebih dulu sebelum kita tidur"
Deg...
Sepertinya Vania melupakan satu hal, jika dirinya dan Gara baru saja resmi menjadi sepasang suami istri. Dan tentu saja selalu ada hal yang harus dilakukan sebelum sepasang suami istri tertidur.
"Aku sudah benar-benar merindukan hal itu bersama kamu"
Melihat wajah mesum suaminya, malah membuat Vania merinding sendiri. Ya, mungkin malam ini bukan yang pertama kali untuk mereka.Tapi suasananya tetap berbeda karena ini adalah pertama kali untuk mereka setelah berpisah selama beberapa tahun ini.
Melihat Vania yang hanya diam saja, membuat Gara langsung beraksi dan menggendong tubuh istrinya ini. Menecium bibir istrinya dengan lembut. Gara membawa Vania untuk masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon dengan kakinya. Lalu berjalan ke arah tempat tidur dengan ciuman mereka yang tidak terlepas.
Gara menidurkan Vania dengan lembut diatas tempat tidur. Menatap istrinya dengan senyuman yang sangat lembut dan penuh cinta. "Apa aku bisa memulai semuanya?"
Vania menghembuskan nafas pelan, dia tidak bisa menolak karena tidak mungkin juga jika dirinya menolak. Ketika saat belum menikah saja tidak merasa dosa saat melakukannya. Kenapa saat sekarang sudah menikah harus menolak keinginan suaminya ini.
"Ya, aku siap"
Dan malam ini menjadi malam yang panjang bagi Vania dan Gara.
Bersambung
__ADS_1