Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 50 #Sesuatu Untuk Nanti Malam?#


__ADS_3

Gevin yang selalu antusias ketika pergi jalan-jalan bersama orang tuanya. Selama ini memang Vania jarang sekali membawa Gevin pergi jalan-jalan. Semuanya karena kesibukan dia yang harus bekerja dan juga Vania yang harus lebih bisa membagi keuangan untuk kebutuhan Gevin juga.


"Sayang, pelan-pelan jalannya Nak"


"Iya Bu"


Vania tersenyum melihat anaknya yang terlihat begitu bahagia. Dia menolah pada suaminya yang berjalan disampingnya dengan terus menggandeng tangannya.


"Gevin memang jarang sekali pergi berjalan-jalan. Ya, karena keadaan kita saat itu. Aku juga harus bekerja jadi aku tidak bisa punya waktu yang cukup untuk bersama Gevin"


Gara menghembuskan nafas berat, dia tahu jika tidak mudah untuk Vania menghadapi semua ini. Gara tahu jika Vania tidak sekuat itu. Selama ini Vania hanya berpura-pura kuat dan tegar. Padahal pada kenyataannya dia tidak sekuat itu.


"Mulai sekarang aku akan sering mengajak kalian untuk jalan-jalan. Aku tidak akan membiarkan Gevin kehilangan masa kecilnya hanya karena permasalahan orang tua"


Vania tersenyum pada Gara, dia bersyukur bisa kembali bersama Gara. Pria ini memang sudah menjadi pria yang bertanggung jawab sejak dulu. Jadi wajar jika Vania merasa menjadi wanita yang beruntung di dunia ini karena bisa mendapatkan Gara.


"Bu, Gevin mau kesana boleh"


Vania menatap ke arah tunjuk anaknya itu, sebuah playground dengan segala permainan yang disukai anak-anak.


"Boleh, yuk biar Papa isi dulu kartunya" Gara langsung menggiring Gevin menuju kasir pengisian kartu playgrund disana.


Vania tersenyum melihat anaknya yang selalu saja dimanjakan oleh Gara dengan cara seperti ini. Sementara Vania berbeda, dia memanjakan Gevin ketika berada di rumah. Seperti menyuapinya makan dan memandikannya, padahal Gevin sudah bisa melakukan itu sendiri. Tapi Vania masih saja memperlakukan anaknya seperti anak bayi kecilnya yang apapun selalu bergantung padanya.


Memang cara Ayah dan Ibu memanjakan anaknya mempunyai cara yang berbeda. Setelah menitipkan Gevin pada penjaga playdround disana, Gara kembali menghampiri istrinya yang menunggu disebuah bangku yang ada disana.


"Sayang ayo kita jalan-jalan sebentar, Gevin sudah aku titipkan pada penjaga playground"

__ADS_1


Vania berdiri dan melirik ke dalam playground yang dindingnya terbuat dari kaca transparan sehingga dia bisa melihat kegiatan anak-anak di dalam sana. Vania melihat Gevin yang sedang masuk ke mandi bola. Anaknya itu tertawa bahagia disana, terlihat sangat senang. Dan hati Vania juga begitu bahagia ketika dia bisa melihat anaknya bahagia.


"Ayo Sayang"


Vania menoleh pada suaminya dan tersenyum. Dia menggandeng tangan Gara dan berjalan mneyusuri mall, merasa lebih aman dan tenang ketika anaknya sedang berada di tempat yang terjamin aman.


"Kamu mau beli apa?"


"TIdak tahu, aku tidak berniat membeli apapun. Lagian semua kebutuhan aku juga sudah terpenuhi"


Gara tersenyum, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Ini yang membuat aku merasa jika kamu berbeda dari wanita lain. Sejak kita pertama kenal, padahal jelas kamu tahu siapa aku. Tapi kamu tidak pernah mau jika aku berniat untuk membelikan sesuatu untuk kamu"


"Ya, untuk apa kalau aku masih tercukupi. Membeli barang itu karena kebutuhan, bukan karena penampilan"


Sosok Vania yang masih sama sejak Gara mengenalnya. Jelas Gara tahu bagaimana Vania yang begitu sederhana dan tidak pernah berniat untuk manteralistis pada siapapun termasuk Gara.


Vania mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan suaminya. Tapi dia mengikuti saja ketika Gara membawanya ke sebuah toko. Vania melihat sebuah gaun tidur transparan yang terpasang di manekin di depan toko itu. Dan entah kenapa dia jadi merinding sendiri melihat pakaian yang kurang bahan itu.


Jangankan pakai yang kayak begini, aku pakai baju biasa saja dia sudah tidak bsia menahannya. Apalagi jika aku memakai baju seperti ini.


Vania jadi membatin sendiri dengan tangannya yang mengelus gaun tidur yang terpasang di manekin itu. Dia bingung sendiri kenapa sampai suaminya terpikir untuk datang ke toko seperti ini. Mengingat suaminya, Vania langsung mencari keberadaan suaminya yang menghilang saat mereka sampai di toko ini.


"Terima kasih Tuan sudah berbelanja di toko kami. Semoga malam pertamanya lancar"


Dan Vania melihat suaminya yang keluar dari dalam toko dengan seorang pelayan yang menyerahkan paper bag pdanya. Vania menatap si pelayan toko yang tersenyum penuh arti padanya, membuat Vania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Apa dia bilang tadi, malam pertama? Oh ya ampun, ini bahkan sudah menjadi malam yang ke sekian kalinya. Apanya yang malah pertama.

__ADS_1


"Sayang ayo pulang, aku sudah menemukan yang cocok untuk kamu" Gara mengangkat paper bag di tangannya, menunjukannya pada Vania yang masih merasa bingung dengan keadaan yang sedang terjadi ini. Gara merangkul bahu istrinya dan membawanya pergi dari toko itu. 


"Sayang, kamu beli apa dari toko yang tadi?"


"Membeli sesuatu yang spesial untuk nanti malam" bisik Gara di telinga Vania, membuat istrinya itu langsung merinding merasakan hembusan nafas Gara yang hangat di kulitnya.


Sesuatu barang untuk nanti malam? Awalnya Vania merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Hingga dia mengingat gaun tidur yang terpajang di depan toko tadi. Vania terdiam dengan pikiran yang sudah terbang melayang, memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam.


Ya Tuhan, kenapa suamiku ini begitu faham tentang wanita. Dan apa dia tidak malu ya membeli barang seperti itu?


Gara tidak akan malu jika menyagkut kepuasannya. Siapa tahu saja dengan begini dia bisa lebih mempunyai kesempatan untuk membuat Vania hamil lagi.


Mereka menjemput Gevin di playground sebelum pergi dari mall itu. Di dalam mobil Gara ingin sekali tertawa melihat wajah tegang istrinya setelah dia mengatakan apa yang dia beli di toko tadi.


"Sayang kamu kenapa? Apa kamu sudah membayangkan yang akan terjadi diantara kita nanti malam?" Kekeh Gara diakhir kalimatnya, dia senang bisa menggoda istrinya ini.


Vania langsung menatap tajam pada Gara, untung saja Gevin sedang tertidur diatas pangkuannya, jika tidak mungkin telinga anaknya itu akan ternodai dengan ucapan Ayahnya yang mesum itu.


"Aku tidak memikirkan apapun, aku hanya sedang mengantuk dan ingin tidur"


Gara hanya terkekeh lucu melihat wajah tegang istrinya itu. Dia mengacak rambut Vania dengan gemas. "Jangan dipikirin, kayak yang kamu tidak pernah melakukanya saja"


"Sudah diam, Sayang!"


Gara tertawa kecil melihat kekesalan di wajah istrinya itu. Vania bahkan berkata dengan penuh penekanan, tapi Gara tetap tidak merasa takut. Dia malah semakin senang menggoda istrinya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2