
Pagi ini Vania terbangun dengan rasa mual yang tidak bisa dia tahan lagi. Dia berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Vania terdiam saat dia sudah beberapa hari mengalami ini. Muntah dan kondisi tubuhnya pun terasa sangat lemah dan tidak berdaya.
Ada apa denganku, kenapa aku seperti ini terus.
Vania tidak bisa mendiam dirinya yang seperti ini, dia harus segera di periksa agar dia tahu keadaannya ini. Vania keluar dari kamar dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemah. Dia berjalan menghampiri Ibu yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Kamu kenapa Va? Pucat begitu wajahnya"
"Iya Bu, sepertinya aku tidak enak badan. Masuk angin kayaknya"
"Minum obat dulu Va"
Vania mengangguk, dia menghela nafas panjang. Memikirkan kemungkinan yang terjadi pada dirinya. Vania sudah melihat berita di televisi tentang Papa yang meminta hukuman mati. Vania merasa jika Papa memang benar-benar menyesal dan dia sedang mencoba menebus kesalahannya.
Sebenarnya bukan ini juga yang aku harapkan. Dengan Papa mau mengakui kesalahannya saja sudah cukup. Karena mau apapun hukumannya, tetap tidak akan membuat Ibu dan Ayahku kembali hidup.
Entahlah, apa yang harus Vania lakukan saat ini. Dia juga bingung dan tak mengerti apa yang harus dia lakukan, untuk menghadapi semua permasalahan ini.
"Va, kamu malah melamun"
Vania mengerjap saat suara Ibu terdengar dan menyadarkannya. "Iya Bu, ada apa?"
"Kamu tolong bukain pintu. Itu kayaknya ada yang datang"
Vania mengangguk, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ketika dia membuka pntu. Vania menghela nafas panjang saat melihat Gara yang berdiri di depannya saat ini. Sudah seminngu ini dia tidak bertemu dengan Gara, pria itu tidak lagi menemui Vania. Dan sekarang dia baru datang kembali.
"Mau apa datang kesini?"
"Aku mau ketemu Gevin, bagaimana keadaan kamu dan Gevin"
__ADS_1
"Geviin masih tidur, kamu tunggu saja di dalam. Nanti aku bangunkan dia"
Gara mengangguk, setidaknya meski Vania masih terlihat dingin padanya. Tapi dia tidak pernah melarang Gara untuk bertemu dengan anaknya. Gara duduk diatas sofa, menunggu Vania kembali dari kamar bersama dengan anaknya.
"Loh Ga, disini kamu.Vanianya mana?" tanya Jenny yang baru saja muncul di ruang tengah. Dia baru bangun tidur karena semalam harus mengamankan beberapa bunga yang baru datang dari perkebunan.
"Lagi panggil Gevin ke kamarnya"
Jenny mengangguk faham, dia duduk di samping Gara dan menepuk paha pria itu. "Kamu harus banyak bersabar lagi menghadapi Vania. Ya, jadi dia juga pastinya tidak susah. Vania terlalu banyak melewati hal sulit dalam hidupnya. Jadi kamu harus benar-benar bersabar untuk itu."
Gara menganguk, dia bersyukur sekali karena saat Vania dulu meninggalkannya disaat dia sedang hamil, dia bertemu dengan Jenny yang begitu baik dan tulus padanya.
"Iya Jen, aku juga sedang mencoba menyelesaikan semua ini. Kamu pasti sudah melihat berita di tv 'kan? Tentang kabar terbaru Papa"
Jenny mengangguk, dia menepuk bahu Gara untuk membuat pria itu lebih kuat lagi. Jelas Jenny melihat kerapuhan dalam diri Gara yang begitu rentan itu.
"Sebenarnya Papa sengaja memilih hukuman itu karena dia merasa jika sebuah nyawa harus tetap di bayar dengan nyawa. Meski mungkin saat ini sudah sangat terlambat"
Apa aku terlalu egois sampai tidak memikirkan perasaannya?
######
Hari berganti minggu, tiba saatnya sidang kedua di laksanakan. Dimana keputusan hakim akan di nyatakan hari ini untuk hukuman yang akan menimpa Papa. Namun sampai saat ini Papa masih meminta permohonan untuk hukuman mati atas hukuman yang akan di jatuhkan padanya nanti.
Tok..tok..
Hakim memukul palunya agar suasana menjadi lebih tenang dan sidang akan segera di mulai. "Sesuai dengan keputusan yang kamu ambil menurut undang-undang yang ada. Dan dengan keinginan terdakwa untuk hukuman mati. Maka dengan ini saudara Jhonatan Warden resmi di jatuhkan hukuman mat...."
"Saya tidak setuju!"
__ADS_1
Teriakan lantang dari seseorang yang baru saja memasuki ruang sidang itu membuat semua pasang mata tertuju padanya. Bahkan kamera para wartawan saja langsung mengambil gambarnya.
"Vania" lirih Papa saat melihat Vania yang masuk ke ruangan sidang bersama dengan Jenny.
"Siapa anda?" tanya Hakim ketua disana.
"Saya Vania, anak dari korban"
Hakim dan jaksa saling berunding dengan saling berbisik. Seolah sedang membicarakan tentang kelanjutan sidang kali ini.
"Baiklah, silahkan duduk dan katakan apa yang membuat kamu tidak setuju"
Sebenarnya kesaksian Vania sudah di tunggu sejak lama. Namun Vania benar-benar baru datang hari ini. Diacara sidang terakhir.
"Saya tidak setuju jika terdakwa harus di jatuhi hukuman mati. Karena dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Saya Vania, sebagai anak dari korban perampokan itu, sepenuhnya sudah memaafkan kesalahan dari terdakwa. Dan saya minta teredakwa untuk di bebaskan, karena biarkan saya menyelesaikan semua ini dengan cara kekeluargaan"
Kesaksian Vani ini benar-benar membuat terkejut. Gara dan Mama juga begitu terkejut dengan kesaksian yang diberikan Vania. Apalagi dengan Papa, pria itu bahkan sampai berkkaca-kaca ketika mendengar bagaimana Vania yang begitu tulus dan dengan lapang mau memaafkan semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini.
Setelah beberapa menit Hakim dan jaksa berunding untuk mempertimbangkan kesaksian Vania. Akhirnya Hakim mengetuk palu dan mengatakan jika Papa bebas dari hukuman karena pihak korban yang menghentikan proses hukum ini dan memilih untuk berdamai.
Tangisan Mama langsung pecah ketika mendengar jika suaminya bsa terbebas. Dan Gara langsung memeluk tubuh Mama yang bergetar hebat dengan helaan nafas lega. Akhirnya Papa tidak jadi di jatuhi hukuman mati dan malah terbebas dari hukuman berkat Vania.
Papa berdiri dan menghampiri dimana Vania duduk, dia berlutut di depan Vania dan memegang kaki gadis itu. Tentu saja Vania merasa tidak nyaman, dia mencoba untuk menyingkirkan tangan Papa yang memegang kakinya.
"Tidak perlu seperti ini Pa, Vania tidak enak. Ayo Papa berdiri saja"
"Terima kasih untuk semuanya Va, maaf karena Papa pernah menghancurkan hidup kamu. Mulai saat ini Papa benar-benar berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Papa benar-benar minta maaf Va"
Vania memegang tangan Papa yang memegang kakinya. Melepaskan pegangan tangan itu di kakinya. "Iya Pa sama-sama. Lagian Vania juga tidak bisa terus-menerus menyimpan amarah dan dendam. Karena orang tua Vaniia tidak akan kembali lagi meski Vania terus menyimpan dendam dan amarah. Vania sudah memaafkan Papa"
__ADS_1
Bersambung