OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Seleksi Tim Nas


__ADS_3

Pagi itu di Markas Harokah Football Club.


"Assalamualaikum...." salam Diana.


"Wa'alaikumussalam...." sambut Ujang


"Wih tumben nih...."


"Pagi-pagi udah dateng aja...." canda Diana.


"Biasa.... anak muda.... hehehe...." balas Ujang sambil mengeluarkan sepatu bola dalam tasnya.


TIBA-TIBA...


GLUTAK...


Dompet Ujang terjatuh dari tas. Posisi dompet terbuka terlihat fotonya sedang berduaan dengan pacarnya.


"Kenapa foto saya ada di dompet mu?" tanya Diana kaget melihat foto dalam dompet Ujang yang terjatuh.


"Ini buka foto mba Diana..."


"Tapi ini foto pacar saya..." jawab Ujang.


"Pacar?"


"Boleh saya lihat?" pinta Diana.


"Silahkan..." kata Ujang sambil menyodorkan foto dalam dompet nya.


๐Ÿ˜ฑ"Iya.... Mirip..."


"Ini bukan foto saya..."


"Yang pertama, saya tidak pernah pakai baju seperti ini..."


"Yang kedua, saya juga tidak pernah foto di daerah ini..."


"Yang ketiga, bahkan saya tidak pernah foto bersamamu..." jelas Diana.


Diana mengembalikan foto itu ke Ujang.


"Siapa namanya? Diana bertanya pada Ujang tentang foto yang barusan dia lihat.


"Namanya Euis..."


"Dia meninggal dunia dua tahun yang lalu..."


"Dia kecelakaan di daerah puncak..."


"Bus nya tergelincir ke jurang..." jelas Ujang yang berusaha tegar.


๐Ÿค”Diana menyimpan banyak pertanyaan dalam hatinya.


"Maaf ya..."


"Saya jadi membuatmu bersedih..." kata Diana.


"Tidak apa-apa mba Diana..." balas Ujang.


"Euis usianya berapa saat meninggal," tanya Diana.


"Dua puluh tiga tahun saat dia meninggal,"


"Lebih tua Euis dari saya." jawab Ujang.


"Ayah ibunya tinggal dimana?" tanya Diana lagi.


"Tidak tahu mba..."

__ADS_1


"Sebab dia tinggal di pondok yatim piatu daerah Cianjur..." jawab Ujang sambil tersenyum.


๐Ÿ˜ฌ"Berarti dia bukan kembaranku..."


"Karena selisihnya tujuh tahun dari usiaku..." bisik Diana dalam hati.


GERBANG PUN DIBUKA LEBAR


Karena siswa sekolah sepakbola Harokah Football Club sudah mulai berdatangan.


Hari ini Markas Harokah FC kedatangan tim pencari bakat dari PSSI. Hari isi seleksi untuk TIM NAS U16. Walaupun mayoritas siswa sekolah sepakbola Harokah FC rata-rata di usia dua belas tahun, namun PSSI memberikan perhatian khusus karena tiga hal.


Hal yang pertama karena nama besar pak Andi di PSSI, yang kedua adalah nama besar Fachrisyah, yang ketiga kebetulan Harokah Football Club adalah sekolah sepakbola baru namun sudah memiliki prestasi.


PSSI memberikan kesempatan untuk siswa yang usianya diatas dua belas tahun. Dan terbukti hanya empat puluh delapan orang yang berusia dua belas tahun dari seratus dua belas siswa Harokah Football Club.


Tim seleksi mulai beraksi. Seleksi dimulai dari lari dua kilo meter. Mereka tidak boleh lebih dari sepuluh menit.


"Ayo Salim...."


"Semangat.... dikit lagi..." semua teriak menyemangati Salim yang hampir sepuluh menit berakhir.


PRIIIIIT....


"Alhamdulillah...."


"Akhirnya lolos...." ujar Salim yang nafasnya terengah-engah dan langsung berbaring di lapangan.


"Ayo bro...."


"Ini baru fase pertama dari lima fase seleksi...." kata Ujang yang sedang berusaha menyemangati Salim.


Dari empat puluh delapan siswa terseleksi menjadi tiga puluh satu siswa. Mereka diberikan waktu sepuluh menit untuk istirahat.


Fase kedua adalah teknik menggiring bola, ada empat siswa yang gagal di fase ke dua. Lanjut ke fase ketiga tanpa ada istirahat. Fase ketiga adalah teknik umpan silang dari kanan maupun dari kiri sisi lapangan.


Fase kelima adalah teknik menjadi kiper. Semua peserta seleksi dicoba kemampuan nya dalam menangkap bola saat satu lawan satu, saat tendangan sudut, saat tendangan bebas dan saat tendangan penalti.


Difase kelimapun mereka dinilai dalam kemampuannya menyundul bola dan menendang bola dengan teknik volley ball.


PRIIIIIT....


Peluit dibunyikan tanda berakhirnya proses seleksi yang dilakukan PSSI hari ini di sekolah sepakbola Harokah Football Club.


๐ŸŒฅ๏ธSemua siswa berkumpul dan duduk dilapangan yang kebetulan sinar matahari nya tertutup awan karena mendung.


"Kami akan umumkan siapa-siapa yang lolos ke tahap seratus besar..." kata salah satu dari tim seleksi PSSI.


Ternyata ini seleksi dan pembinaan jangka panjang. Dari seratus besar mengerucut menjadi lima puluh besar dan yang terakhir dua puluh dua besar.


๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ"Dari Harokah Football Club ada delapan orang yang masuk ke seratus besar...."


"Yang pertama... Saiful Malook..."


"Lalu yang ke dua... Firdaus Sholeh..."


"Yang ketiga... Faizal Chaniago..."


"Yang keempat... Bambang Sukoco..."


"Yang kelima... Dimas Prasetyo..."


"Lalu yang keenam... Imam Suswanto..."


"Yang ketujuh... Ahmad Danies..."


"Dan yang terakhir...!" kata tim seleksi membuat penasaran.


๐Ÿ‘€Semua terdiam...

__ADS_1


Semua mata tertuju pada tim seleksi...


"Agus Salim..." kata tim seleksi yang telah mengumumkan hasil seleksi di sekolah sepakbola Harokah Football Club.


"Semua kaptenmu laku mas..." ujar Diana


"Mereka memang sudah di seleksi oleh alam..."


"Kemampuan mereka bukan hanya ada di teknik..."


"Namun kepemimpinan dan kedewasaan dilapangan..."


"Semoga mereka mampu mengharumkan nama bangsa..." do'a Fachri.


"Aamiin...." sahut Diana dan Ujang.


Delapan kapten membuktikan bahwa mereka layak bersaing dengan anak-anak lain di Indonesia. Awal yang bagus untuk perkembangan Harokah Football Club pada khususnya dan untuk Indonesia pada umumnya.


"Kami dan yang lain mohon pamit..."


"Tiga bulan lagi mereka akan di karantina..."


"Karena tiga bulan kedepan kami masih harus road show ke beberapa daerah untuk mencari 100 kandidat TIMNAS U16." ujar salah satu dari tim pencari bakat PSSI.


"Terimakasih banyak atas kunjungannya..."


"Ini ada titipan kopi dari pak Andi..."


"Beliau minta maaf karena tidak bisa mendampingi karena lagi tugas luar kota..." jelas Diana.


"Iya mba..."


"Tidak apa-apa..."


"Terimakasih juga atas sambutannya..."


"Semoga Harokah Football Club bisa melahirkan pemain-pemain kelas dunia nantinya..." kata salah satu dari tim seleksi PSSI


Selesai foto di depan gerbang, mereka bergegas meninggalkan markas Harokah Football Club.


"Baik anak-anak..."


"Seleksi hari ini sudah selesai..."


"Terimakasih atas partisipasinya..."


"Kalian sudah bisa pulang..."


"Namun yang delapan orang terpilih silahkan masuk dalam ruangan saya..." perintah Fachri.


Delapan orang terpilih itu memasuki ruang Fachri. Didalam ruangan itu sudah ada bingkai berukuran besar. Ternyata didalam bingkai itu sudah ada beberapa tahapan pembinaan di sekolah sepakbola Harokah Football Club.


"Ini adalah sepuluh mimpiku yang ingin segera ku wujudkan..."


"Satu sudah terwujud... yaitu mendirikan sekolah sepakbola..."


"Dua pun sudah terwujud... yaitu mengantarkan siswa Harokah Football Club untuk masuk ke TIMNAS..."


"Dan hari ini kalian telah mewujudkannya..."


"Terimakasih ya Allah... terimakasih untuk kalian semua..." seru Fachri yang terlihat matanya berkaca-kaca.


"Saya masih ingat apa yang dikatakan Zinedine Zidane saat wawancara di stasiun televisi..."


"Katanya..."


"Aku dulu menangis karena tidak punya sepatu untuk bermain bola dengan temanku, tapi suatu hari aku melihat orang yang tidak mempunyai kaki dan aku menyadari betapa kayanya aku."


"Wujud dari rasa syukur itu adalah menggunakan dengan optimal apa yang sudah diberikan Allah Subhanahu wa ta'ala." kata Fachri kepada ke delapan siswanya yang lolos seleksi tahap seratus besar.

__ADS_1


__ADS_2