
🌌Malam itu sosok laki-laki tua yang terjatuh dari motor tepat didepan mobil naiki Fachri dan kawan-kawan.
Pak Sularjo dan Ujang bergegas turun untuk melihat kondisi laki-laki tua itu.
"Pak... Pak... Sadar pak...!" Ujang berusaha memberikan respon kepada laki-laki tua itu.
Pak Sularjo dan Ujang segera mengangkat laki-laki tua itu ke tepi jalan.
"Alhamdulillah dia sudah sadar..." seru Ujang. "Ada apa Pak... kok tiba-tiba terjatuh...?" tanya Ujang.
"Kepala saya pusing dek..." jawab laki-laki tua itu.
"Rumah bapak masih jauh dari sini...? tanya Ujang.
"Lumayan... paling kisaran sepuluh kilo meter lagi..." sahut laki-laki tua itu sambil berusaha duduk.
"Begini saja... saya yang bawa motor..."
"Bapak naik mobil..."
"Kami akan antar sampai rumah..." rayu Ujang. "Alhamdulillah... iya... terima kasih dek..."
"Maaf... jadi ngerepotin..." kata laki-laki tua itu.
🚐Pak Sularjo dan Ujang menatih laki-laki tua itu masuk ke dalam mobil. Diana dan Pak Andi berusaha untuk memasukkan barang bawaan laki-laki tua itu ke dalam mobil. Laki-laki tua itu memberikan petunjuk kepada pak Sularjo menunjukan arah rumahnya.
"Maaf ini dengan bapak siapa ya...?" tanya pak Andi.
"Nama saya Samsudin biasa dipanggil Abah Udin..." jawab laki-laki tua itu yang mengaku bernama Samsudin dan sering dipanggil Abah Udin.
"Perkenalkan nama saya pak Andi... lalu ini Diana... lalu yang terus duduk di belakang namanya Pak Fachri... lalu yang bawa motor Abah Udin namanya kang Ujang... lalu yang sedang nyetir namanya pak Sularjo..." ujar Pak Andi menjelaskan dan memperkenalkan teman-teman lainnya.
"Tadi bapak kenapa...?"
"Kok bisa jatuh...?"
"Terpeleset... ngantuk atau lelah...? tanya pak Andi yang sedang mengorek keterangan dari Abah Udin.
"Tadi Abah pusing..."
"Seharian mengantar dorokdok ke toko oleh-oleh di pusat kota Garut...."
"Namun ternyata saat Abah ke sana toko itu tutup dan orang yang memesan dorokdok ini juga tidak ada kabar beritanya..."
"Sehingga Abah pulang dengan tangan hampa..."
"Seharusnya dorokdok ini jadi uang"
"Karena tidak punya uang... seharian Abah belum makan..." kata Abah Udin.
"Coba kamu ambilkan makanan dan minuman yang ada di belakang..."
__ADS_1
"Abah... ini ada makanan dan minuman..."
"Ayo dimakan dulu supaya tidak sakit..."
"Nanti kita bincang-bincang lagi..." kata pak Andi.
Lalu Abah Udin pun makan dengan lahapnya. Karena memang seharian ternyata abah belum makan.
"Dorokdok ini bikin sendiri Bah...?" tanya Pak Andi.
"Abah bikin sendiri..."
"Abah dibantu anak Abah... kami tinggal berdua..."
"Anak saya perempuan... kira-kira sepantaran dengan Mba Diana..."
Tiba di sebuah jalan yang menanjak.
"Nah... itu nanjak sedikit lalu... belok ke kanan..." kata Abah.
🏡Akhirnya mereka sampai dirumah Abah Udin. Mobil parkir di sebelah rumah Abah yang ternyata jarak dari rumah Abah kerumah tetangganya cukup jauh. Kisaran tiga puluh meteran jaraknya dipisahkan kebun dan pepohonan.
Gelap, sepi, sunyi jauh dari keramaian. Abah Udin mengajak pak Andi dan yang lainnya untuk mampir. Abah mengetok pintu rumahnya.
"Assalamualaikum...."
"Lilis... ini Abah..." ketok Abah.
"Wa'alaikumsalam... eh Abah udah pulang..."
"Ini siapa bah...? kok banyak orang...?" tanya Lilis dengan lembut sambil mempersilahkan pak Andi dan yang lainnya untuk masuk dan duduk diruang tamu.
"Tadi Abah terjatuh di jalan..."
"Mereka menolong Abah..."
"Ini kenalin... Ini kang Ujang yang bawa motor Abah tadi..."
"Ini pak Andi... ini mba Diana anaknya pak Andi..."
"Ini pak Sularjo... dan ini pak Fachri..." kata Abah Udin memperkenalkan pak Andi dan yang lainnya ke Lilis.
Namun ada peristiwa yang terjadi pada saat itu. Tepatnya saat Lilis menjabat tangan Fachri. Cukup lama Lilis menjabat tangan Fachri. Bahkan tak berkedip Lilis menatap wajah Fachri seakan-akan dia sudah mengenal Fachri cukup lama.
"Aa Fachri... mirip Aa Hari ya Bah...! Seru Lilis yang matanya begitu berbinar-binar ketika menatap wajah Fachri.
"Iya ya... sepintas mirip Hari..." ujar Abah Udin mengakui.
"Lis... ini tamunya dibikinin minum dulu..." perintah Abah Udin.
"Iya Abah... tunggu sebentar ya..." jawab Lilis sambil menuju ke dapur.
__ADS_1
Pak Andi, Diana dan Fachri duduk diruang tamu. Sedangkan Pak Sularjo dan Ujang sengaja duduk diluar menatap gelap dan sunyi nya langit Garut malam itu.
Tak lama berselang, Lilis membawakan sejumlah minuman hangat kehadapan pak Andi dan yang lainnya.
☕Ternyata Lilis membuatkan wedang jahe, minuman kesukaan Abah Udin disaat malam hari.
"Silahkan diminum mba Diana... silahkan diminum pak Andi..." ajak Lilis
"Terimakasih ya Lis... saya minum ya..." ujar pak Andi membalas ajakan Lilis.
"Nah... ini Lilis bikinin spesial untuk Aa Fachri..." ujar Lilis sambil duduk di samping Fachri dan memberikan secangkir wedang jahe kepada Fachri.
Melihat kejadian tersebut, Diana merasa kesal dengan kelakuan Lilis yang begitu agresif mendekati Fachri. Sepertinya Diana cemburu, wajar saja, sebab Lilis itu cantik sekali dan terlihat menyenangkan.
😡"Itu Lilis kenapa sih... pake deket-deket mas Fachri..."
"Sampe ngga kedip mandangin wajah mas Fachri..." bisik Diana dalam hati.
"Gimana wedang jahenya A?" tanya Lilis pada Fachri.
"Subhanallah... enak ini Lis..." ujar Fachri.
"Alhamdulillah... terimakasih... Lilis senang sekali kalau Ada Fachri suka wedang jahe buatan Lilis..." ujar Lilis sambil tersenyum dan Fachri pun membalas senyuman Lilis yang manis itu.
Disudut yang lain. Diana terlihat manyun dan cemburu.
"Pa'e... ayo kita berangkat..." ajak Diana.
"Berangkat...?" tanya pak Andi heran.
"Iya Pa'e... kita lanjutkan perjalanan..." ajak Diana kembali.
"Lah... kan emang kita mau ke Garut... ini kan Garut...?" jelas pak Andi.
"Pak Andi dan yang lainnya bermalam saja disini..."
"Itu ada satu kamar... nanti mba Diana bisa tidur dengan Lilis..." ujar Abah Udin.
"Iya Abah... ayo mba Diana... kita ke kamar Lilis..." ajak Lilis yang begitu senang dengan kedatangan Fachri dan rombongan.
Diana tidak berkutik ajakan Lilis yang hangat itu. Diana memandang kearah pak Andi, dan pak Andi membalas pandangan itu dengan senyum seakan-akan menyuruh Diana untuk pasrah dan mengikuti keinginan Lilis.
"Ini kamarmu Lis...?" tanya Diana sambil melihat-lihat barang yang ada dikamar Lilis.
"Iya mba Diana... maaf jika tidak sebagus kamarnya mba Diana di Jakarta..." ujar Lilis.
"Oh... tidak kok... kamar mu bagus dan nyaman..." sambut Diana.
Diana kaget ketika melihat foto Lilis yang sedang berduaan dengan laki-laki mirip sekali dengan Fachri. Dia mendekati foto itu untuk memastikan siapa foto laki-laki yang bersama Lilis itu.
🤔"Ini foto Lilis dengan siapa...?" tanya Diana.
__ADS_1