
🏘️ "Nah... ini pondok yatim dan dhuafa yang pernah Ujang bilang..."
"Dulu Euis pernah tinggal disini..." ujar Ujang.
"Pasti mas Fachri bertanya-tanya ya...?"
"Kok Diana begitu ngotot pengen jalan-jalan ke Cianjur..."
"Itu karena Pa'e ngga pernah cerita..."
"Sebenarnya Diana ini anaknya siapa...?" jelas Diana kepada Fachri yang mulai bingung tingkah laku Diana dan Ujang selama ini.
"Hehehe... iya nih... mas jadi bingung..." keluh Fachri.
"Jadi waktu itu dompet kang Ujang jatuh..."
"Saat terjatuh... posisinya terbuka..."
"Diana melihat foto kang Ujang bersama seorang wanita yang mirip sekali sama Diana..."
"Kata kang Ujang... wanita itu namanya Euis..."
"Euis itu tunangannya kang Ujang..."
"Mereka tidak jadi menikah karena Euis meninggal dunia saat kecelakaan..." jelas Diana.
"Trus apa hubungannya sama pak Andi...?" tanya Fachri.
"Nah... sejak kecil... Diana belum pernah melihat sosok ibu..."
"Lihat nya paling di foto..."
"Kata Pa'e... mereka berpisah karena tidak direstui orangtua..."
"Ibu diculik... dan Pa'e mendapat telepon dari nenek supaya tidak perlu mencari-cari ibu..." papar Diana.
"Diana tidak coba mencari kebenaran ibu...?" tanya Fachri kembali.
"Ayah sangat ketat menjaga Diana..."
"Dan selama ini Diana itu memang anak rumahan..."
"Termasuk yang tidak pernah keluar rumah..."
"Nah... semenjak kenal mas Fachri..."
"Sikap Pa'e berlahan mulai terbuka..."
"Katanya... karena dia tidak pernah melihat Diana seceria sekarang ini..." kata Diana sambil tersenyum dihadapan Fachri.
"Ya sudah... trus ini kita kapan masuk ke pondok nya...?" tanya Fachri sambil memutus pembicaraan itu.
NINGNONG... NINGNONG...
Bunyi bel saat tombol bel di tekan Ujang dari arah gerbang yang terkunci. Tak beberapa lama datang seorang ibu-ibu yang keluar dari balik pintu.
"Assalamualaikum..." sapa Ujang dan kawan-kawan.
"Wa'alaikumussalam..." jawab ibu-ibu itu.
"Sumuhun akang..."
"Naon anu abdi tiasa bantosan...? sapa ibu-ibu itu pakai bahasa Sunda.
"Ummi Latifa... Aya? tanya Ujang.
"Sakedap..."
"Abdi panggilkeun..." jawab ibu-ibu itu.
"Siapa tuh Jang...? tanya Fachri.
"Tidak tau..."
"Sepertinya orang yang biasa bantu-bantu di panti..." jelas Ujang.
__ADS_1
Tak lama kemudian.
🧕"Assalamualaikum..."
"Ujang..." sapa Ummi Latifa.
"Wa'alaikumussalam..."
"Ummi apa kabar...?" sambut Ujang.
"Alhamdulillah... Baik Jang..."
"Eta Saha...?"
"Mirip Euis...!"
"Ini mba Diana... ini pak Fachri... ini pak Sularjo..."
"Mereka teman-teman saya dari Jakarta." jelas Ujang.
"Selain silahturahmi ke Pondok..."
"Sengaja juga Ujang membawa mba Diana ini..."
"Karena beliau penasaran dengan Euis yang mirip sekali dengannya..." ujar Ujang.
"Euis tinggal di pondok ini delapan belas tahun..."
"Euis udah Ummi anggap seperti anak kandung Ummi..."
"Bahkan pondok ini ada berkat Euis dan ibunya..."
"Ibunya meninggal dunia saat melahirkan Euis..."
"Ibunya Euis sepertinya dari kalangan orang berada..."
"Ibunya kabur dari rumah karena dinikahkan dengan laki-laki pilihan orangtuanya..."
"Saat kabur ke Desa ini... Almarhumah sudah dalam kondisi hamil enam bulan..."
"Namun Kyai Zaenal memberikan jaminan kepada warga..."
"Karena Kyai Zaenal orang yang sangat berpengaruh di desa ini... maka Ibunya Euis pun diIzinkan tinggal di desa ini..."
"Maaf Ummi... Kyai Zaenal itu siapa ya...?" tanya Diana.
"Kyai Zaenal itu ayah kandung Ummi..."
"Beliau sudah lama wafat..." jelas Ummi Latifa.
"Saat usia kandungan sudah lebih dari sembilan bulan..."
"Ibunya Euis mengalami kontraksi..."
"Bidan sangat jauh dari sini..."
"Kondisi Ibunya Euis sangat buruk..."
"Dan saat bidan datang..."
"Kondisi Ibunya Euis tidak dapat diselamatkan..."
"Karena mengalami banyak pendarahan..."
"Namun Alhamdulillah Euis dapat diselamatkan..." papar Ummi Latifa panjang lebar.
Diana... Ujang... Fachri... dan pak Sularjo menyimak dengan seksama.
"Saat itu kami kaget..."
"Karena didalam tas milik Ibunya Euis ada banyak uang..."
"Kisaran Enam Ratus Jutaan pada masa itu..."
"Dan untungnya... Ibunya Euis sempat menuliskan sepucuk surat wasiat..."
__ADS_1
"Yang pertama permohonan almarhumah untuk kami... agar senantiasa menjaga Euis dengan baik..."
"Yang kedua... uang ini bisa dipergunakan untuk kebutuhan Euis dan membuat Pondok Yatim dan Dhu'afa..." jelas Ummi Latifa.
"Ummi punya foto Ibunya Euis...?" tanya Diana.
"Maaf... kami tidak sempat memfotonya..."
"Karena disini adalah desa terpencil..."
"Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan..." jelas Ummi Latifa.
"Ibunya Euis dimakamkan dimana?"
"Itu... di depan pondok ini..."
"Ayo... Ummi kasih lihat..." ajak Ummi sambil berdiri bergegas beranjak ke Makam Ibunya Euis yang berada di depan pondok.
⚰️ZAINAB BINTI FULAN, nama yang tertulis di batu nisan. bersebelahan dengan makan EUIS BINTI FULAN, karena Ibunya Euis belum sempat memberi tau siapa nama suami nya.
"Kata Pa'e... nama ibu adalah Zainab..."
"Ada dua hal yang mirip..."
"Yang pertama wajah Euis..."
"Yang kedua nama Ibunya Euis sama dengan Ibunya Diana..."
"Semoga ini ibu..." kata Diana sambil menangis 😭
Ujang memimpin do'a didepan makam Zainab dan Euis. Diana berharap memang benar Zainab itu ibunya dan Euis itu adiknya. Besar harapan Diana, kalau ayahnya "Pak Andi" mau terbuka kepadanya.
"Ini ada beberapa barang peninggalan Ibu Zainab..."
"Mungkin bisa membantu ayahmu untuk mengenal siapa itu Ibu Zainab..." ujar Ummi Latifa.
"Tapi mohon maaf..."
"Tidak bisa kamu bawa..."
"Suruh ayahmu datang ke sini..." rayu Ummi Latifa.
"Iya Ummi..."
"Diana akan coba rayu Pa'e untuk datang ke sini..." ujar Diana.
"Tapi janji ya...."
"Tidak pakai marah... tidak pakai berantem sama ayah..." pinta Ummi Latifa.
✌️"Janji Ummiku yang cantik..." canda Diana.
Ummi Latifa dan Diana berpelukan cukup lama. Ummi Latifa merasakan kehadiran Euis saat memeluk Diana. Diana pun merasakan kehangatan dari pelukan seorang ibu yang tak pernah dia rasakan selama ini.
🎼Bunda... Engkaulah muara kasih dan sayang... Apapun pasti kau lakukan... Demi anakmu yang tersayang...
Bunda... Tak pernah kau berharap budi balasan... Atas apa yang kau lakukan... Untuk diriku yang kau sayang...
Saat diriku dekat dalam sentuhan... Peluk kasihmu dan sayang... Saat ku jauh dari jangkauan... Doamu kau sertakan...
Maafkan diriku bunda... Kadang tak sengaja ku membuat... Relung hatimu terluka... Kuingin kau tau bunda... Betapa ku mencintai mu lebih dari segalanya... Kumohon restu dalam langkahku... Bahagiaku seiring doamu...
🎼Lagu Muara Kasih Bunda menambah harinya pertemuan mereka saat itu.
"Ummi... kami pamit ya..." kata Ujang.
"Iya... salam buat Emak..." titip Ummi Latifa.
"Siap Ummi... Assalamualaikum..." salam Ujang.
"Wa'alaikumussalam..." sahut Ummi Latifa.
📸Kamera tak pernah jauh dari genggaman Diana. Setiap momen tak lepas dari jepretan nya.
Dari mulai momen di Pondok, Makam Ibunda Zainab dan Euis, setiap sudah Pondok, Anak-anak sekolah dasar yang lagi berangkat sekolah dengan berjalan kaki, ibu-ibu para pemetik teh, aktivitas warga desa yang sedang sibuk dengan sawah dan bebek-bebek yang mereka angon.
__ADS_1