OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Jika Sudah Tiada... Barulah Terasa...


__ADS_3

๐ŸŒค๏ธSiang itu di Markas Harokah FC.


Para pemain Harokah FC berkumpul di kantin selepas latihan, mereka bersenda gurau melepas lelah seharian berlatih, di sana ada Bude Khusnul, Lilis dan Diana yang membuat suasana menjadi sangat cair dan menyegarkan.


"Awal mula saya ke sini... cuman ada mba Diana yang paling cantik... tapi sekarang... ada Lilis... ada bude Khusnul... jadi lebih semangat latihan nih..." canda Ujang.


"Oh jadi sekarang aku tidak lebih cantik ya...!" keluh Diana karena merasa dibanding-bandingkan.


"Iya lah... dilihat dari umurnya aja sudah beda..." canda Ujang.


"Wah... parah nih... udah maen fisik dan maen umur..." Diana jadi baper denger candaan Ujang.


"Ya udah Jang... kamu mah Lilis aja... biar mba Diana Itu denganku..." ledek Jalu.


"Wih... asyik... seru nih... persaingan antar pemain... Kita juga boleh dong ikutan..." sahut Arman memberikan tantangan.


"Gini aja... kita buat kompetisi memperebutkan teh Lilis dan mba Diana..." ujar Bayu Sagara.


"Wah parah nih mba.... kita dibuat taruhan..." sahut Lilis.


"Eh... ayo... jangan ngobrol saja..."


"Ayo makan dulu... mumpung masih hangat..."


"Hari ini menunya spesial buatan dari dua bidadari Harokah FC..." kata bude Khusnul.


"Jadi yang masak ini... mba Diana dan teh Lilis ...?" tanya Armand.


"Seratus untuk kang Armand..." jawab Bude Khusnul.


"Wah... jadi kalian pintar masak toh... aku jadi makin cinta..." gombalan Dani kepada Lilis dan Diana.


๐ŸฑPara pemain Harokah FC sangat menikmati masakan Diana dan Lilis. Semua makanan habis tak tersisa. Perpaduan yang sangat harmonis antara masakan yang enak dan perut yang sedang lapar.๐Ÿ˜


Selesai makan mereka meninggalkan markas Harokah FC menuju asrama masing-masing.


Namun pak Andi terlihat sangat gelisah didalam kantor Harokah FC.


"Pa'e kenapa...?" tanya Diana.


"Tidak apa-apa..." jawab pak Andi.


"Pa'e terlihat begitu cemas... kayaknya lagi gelisah..." ujar Diana.

__ADS_1


"Ah Ndak kok... mungkin cuman kecapean... wajar toh... seminggu di Tegal ditambah lagi perjalanan yang cukup jauh... ditambah harus meladeni beberapa pertanyaan... mungkin ini semua membuat pikiran Pa'e hari ini begitu lelah..."


"Tapi jangan khawatir... Insya Allah dengan istirahat yang cukup .. semoga dapat dengan cepat mengembalikan kondisi badan menjadi pulih..." kata pak Andi.


"Apa yang Diana bisa bantu...?" tanya Diana menawarkan diri untuk membantu ayahnya tercinta.


"Ini juga Pa'e lagi bingung... sepertinya malam ini Pa'e harus lembur... sebab beberapa pekerjaan mas Fachri Pa'e mau mapping..."


"Setelah itu baru deh... kita bagi-bagi tugas..."


"Tadi Pa'e coba membedah beberapa pekerjaan mas Fachri... ternyata cukup banyak pekerjaan beliau..."


"Padahal mas Fachri Itu kan cuman pelatih... namun beberapa tugas... seperti pencarian bakat... lalu beberapa administrasi..."


"Beliau mampu untuk kerjakan diwaktu yang bersamaan..." puji pak Andi atas kinerja Fachri.


"Setelah tiada baru terasa..." ujar Diana.


"Nanti setelah pekerjaan nya sudah berhasil Pa'e mapping... segera kita bagi-bagi tugas..." seru pak Andi.


Sepertinya pak Andi kerja keras malam ini. Semua berkas berhasil dia satukan, namun itu belum cukup. Karena Harokah FC baru punya delapan orang pemain dari dua puluh dua orang yang diinginkan.


๐ŸŒ„ Keesokan harinya.


Sambil sarapan di Kantin, Ujang, Bayu, Armand, Tatang, Asep, Dani, Jalu berbincang-bincang tentang Harokah FC.


Ujang hanya bisa terdiam. Selain Dani, Bayu pun mengutarakan hal yang sama. Sedangkan Tatang lebih ekstrem lagi... dia memutuskan untuk pulang karena dia hanya ingin dilatih oleh Fachri.


"Hai teman-teman... sudahlah... ini semua memang di luar kemampuan kita... semua di luar dari perkiraan dan rencana... namun sesungguhnya apa yang ditawarkan Harokah FC kepada kita kan masih mungkin terjadi..."


"Dan tentunya tidak menyalahi dari kontrak kerja kita sepakati sebagai pemain..." ujar Jalu memberikan pandangannya.


๐Ÿ˜”Semua terdiam dan coba merenung.


"Coba perhatikan... yang pertama... toh kita semua kan Alhamdulillah sudah dikontrak..."


"Lalu yang kedua... kita juga sudah digaji... meskipun kita semua belum ada jadwal untuk tanding..."


"Yang ketiga... tugas kita sebagai pemain adalah berlatih dan menjalani semua program yang diadakan oleh Club..."


"Masalah kapan kita tandingnya... biarlah jadi urusan manajemen... pasti mereka sudah membahas hal ini di internal mereka..." Jalu mencoba mendominasi pembicaraan.


"Kalau saya tidak pengaruh kontrak... saya ke sini kan memang hanya untuk dilatih coach Fachri... kalau tidak dilatih mending saya mundur..." Ujar Tatang dengan nada cuek.

__ADS_1


Ujang hanya bisa mendengarkan semua keluhan dari teman-temannya. Dan dia tidak mampu untuk berkata-kata apalagi melarang teman-temannya untuk tidak hengkang dari Harokah FC.


Ujang pun mencoba untuk memberanikan diri bilang ke Pak Andi terkait keluhan dari teman-temannya itu.


๐ŸŸ๏ธMasih di markas Harokah FC


Selepas latihan Ujang menghadap pak Andi di kantor Harokah FC. Dia melaporkan apa yang menjadi keluh kesah dari para pemain. Pak Andi dan Diana coba menyelami keinginan dari semua pemain.


"Jadi begitu pak Andi... sepertinya mereka butuh kepastian..." seru Ujang.


"Saya minta waktu tiga hari ke depan untuk memastikan semua hal ini... mulai dari pendaftaran ke Liga... sampai dengan penunjukan pelatih kepala pengganti coach Fachri..." jelas pak Andi.


"Terimakasih atas informasinya pak Andi... mohon maaf atas sikap teman-teman pemain... semoga ada solusi yang bisa merangkul kita semua... aamiin..." harap Ujang.


"Aamiin..." pak Andi dan Diana menyambut harapan dari Ujang.


๐Ÿš—Pak Andi dan Diana bergegas pulang.


"Gimana Pa'e...?"


"Sudah ada gambaran kita harus melakukan apa...?" tanya Diana.


"Sepertinya kita harus merger dengan Club lain..."


"Berharap ada Club yang mau di jual..." jawab pak Andi.


"Kalau dulu mas Fachri pernah bilang... mending kita merintis dari bawah... jangan ambil jalan pintas... karena yang instan itu cuman enak di mulut... namun berbahaya di perut..." ucap Diana sambil mengenang percakapan nya dengan Fachri.


Pak Andi tersenyum mendengarnya, mereka saling mengenang kebersamaan mereka dengan Fachri. Sampai akhirnya mereka sampai dirumah.


"Pa'e... Diana malam ini mau tidur dikamar mas Fachri boleh kah...?" tanya Diana.


"Kamu ngga takut didatengin mas Fachri...?" pak Andi balik bertanya.


"Mas Fachri kan ganteng... didatengin yang seneng toh...!" seru Diana.


"Wah... ngga parah nih... Pa'e ngga ikut-ikutan ya..."


"Terserah kamu dech... pesan Pa'e... kalau ngga kuat... nyerah... lambaikan tangan ke kamera...hahaha..." canda pak Andi.


๐ŸŒŒMalam itu Diana tidur dikamar Fachri.


Dia pandangi setiap sudut kamar.

__ADS_1


Di meja terdapat dua buku diary, yang sepertinya begitu banyak yang tertulis didalamnya.


Diana mencoba meraih diary itu, dia membukanya dan.....๐Ÿ˜ฑ


__ADS_2