
🏠 Diana dan Fachri sudah kembali ke Jakarta dari Cianjur. Aktivitas Harokah Football Club kembali berjalan normal setelah liburan.
Diana belum berani untuk menceritakan yang dia alaminya saat di Cianjur. Perihal kemungkinan benar atau tidaknya kalau Zainab itu ibu kandungnya.
"Gimana kamu sudah bilang ayah apa belum?" "Perihal Zainab dan Euis" tanya Fahri kepada Diana.
"Belum Mas... Diana belum berani bilang ke Pa'e..." jawab Diana.
"Ya sudah... nanti aja nunggu momen yang tepat..."
"Agar tidak menjadi pikiran Pak Andi..." ujar Fachri.
"Iya... Diana juga berpikir seperti itu..." sambut Diana.
"Kita mau berangkat jam berapa ke markas...?" tanya Fachri.
"Nanti jam sembilan saja..."
"Diana mau masak dulu..." jawab Diana.
😱"Wow... hebat..."
"Baru dua hari di Cianjur sudah bisa masak..." ledek Fachri.
"Terus terang Diana malu saat Emak Ujang membandingkan Diana dengan Euis..."
"Kata Mak Ujang... Euis masakannya enak..."
"Nah... sejak itu Diana merasa tersinggung..." ujar Diana.
"HAHAHA... ada yang baper nih..."
"Tapi Alhamdulillah... bapernya jadi lebih berkah..."
"Ini baru istri solehah..." ledek Fachri.
😍"Diana terkejut nih... jadi Mas Fachri sudah mau menerima Diana menjadi istrinya mas...? tanya Diana.
"HAHAHA... Mas bercanda..."
"Jangan dimasukkan ke hati..." kata Fachri.
👻"Huh... cuman nge-ghosting doang..."
"Padahal itu yang Diana harapkan dari Mas Fachri..." ujar Diana.
"Jadi kemarin itu Emak Ujang ngajarin Diana masak..."
"Dari mulai masak sayur sop... sayur asem... tumis kacang panjang tempe tahu... orek tempe... bikin sambel... cah kangkung... ayam goreng... ikan goreng..."
"Nah sekarang saatnya Diana mempraktekkan semuanya..."
"Jadi nanti Mas Fachri bantu untuk menilainya ya...!" pinta Diana.
"Siap Mas Fachri siap menilainya..." kata Fachri.
Dua jam kemudian beberapa masakan sudah matang dan langsung disajikan di atas meja.
"Oke... silakan dimakan..."
"Semoga cocok rasanya..." ujar Diana
"Siap... Mas coba untuk sayur asemnya dulu ya..."
"Ehm... Mas kira sayur asemnya sudah cukup enak..."
"Mungkin kalau asemnya agak dikurangin bisa lebih enak lagi..." kata Fachri.
"Ah... mas Fachri terlalu lembut menilai nya..."
"Bilang aja terlalu asem..." ujar Diana.
"Nah... ini Mas Fachri cobain dech sayur sopnya..."kata Diana sambil menyodorkan mangkok berisi sop.
"Menurut Mas Fachri sayur sop nya hanya kurang ladanya saja..." kata Fachri.
__ADS_1
"HAHAHA... iya tadi Diana nggak berani terlalu banyak lada..."
"Khawatir kepedesan..."
"Iya sih... tapi memang sepertinya kurang lada..."
"Nah ini Mas cobain orek tempenya... sama tumis kacang panjang...." pinta Diana.
"Nah... Orek tempenya cukup enak...."
"Sedangkan tumis kacang panjang tempe dan tahunya..."
"Ini yang paling enak..."
"Ternyata kamu berbakat buka restoran.
.." kata Fachri.
"Ini mah bukan restoran atuh Mas..."
"Ini mah warteg..." ujar Diana.
"Wah sudah banyak makanan di atas meja..."
"Kamu beli di mana...?" tanya Pak Andi yang baru muncul dari arah kamar.
"Beli...? bukan beli Pa'e..."
"Diana ini masak sendiri..." jawab Diana sambil cemberut.
"Yakin...? ini kemajuan yang luar biasa..."
👩🍳"Jadi oleh-oleh dari Cianjur berupa masakan ala chef Diana..." ledek Pak Andi yang tiba-tiba datang dan langsung mengomentari masakan Diana.
"Sini Pa'e duduk..."
"Pa'e harus ngerasain masakan Diana..."
"Dan Pa'e punya tugas untuk memberikan penilaian..." pinta Diana.
"Orek tempe... ya Pa'e suka... enak banget..."
"Lalu tumis kacang panjangnya juga Pa'e juga suka..."
"Sedangkan untuk sopnya sudah cukup..."
"Namun sepertinya kurang lada...." Kata pak Andi.
"Lalu untuk sayur asemnya... Gimana Pa'e?" tanya Diana.
"Sayur asemnya keaseman..." ujar pak Andi
"Rupanya komentar Mas Fachri sama persis dengan komentar Pa'e."
"Kalau sayur sopnya tinggal Diana tambahin lada dulu..."
"Nah kalau sayur asemnya diapain ya...?" tanya Diana.
"Ya udah nggak usah diapa-apain..."
"Kalau di pakai nasi juga mungkin tidak terlalu asem..." komentar Fachri.
"Terus makanan sebanyak ini mau diapain...?" tanya Fachri.
"Ya nanti kita bawa ke markas buat makan siang..."
"Lumayan irit uang makan..." ujar Diana.
"Nah... betul-betul tuh..."
"Emang nasinya masih banyak?" kata Fachri.
"Nasi cukup kok boss..."
"Sengaja Diana masak nasi yang banyak..." "Bahkan masakan dan nasi ini sepertinya cukup untuk dua puluh lima orang..." jelas Diana.
__ADS_1
Setelah Diana membungkus makanan-makanan itu.
Mereka pun bergegas berangkat ke markas Harokah Football Club.
Latihan hari itu berjalan seperti biasanya. Namun memang delapan orang yang sedang menjalankan pelatnas masih belum ada di markas. Karena pelatnas masih berlangsung sampai dengan tiga bulan ke depan.
Disudut ruangan Diana tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu di saat Fachri dan Ujang sedang sibuk melatih siswa-siswa sekolah sepakbola Harokah Football Club.
Adzan Zuhur menghentikan aktivitas latihan mereka. Fachri dan Ujang menghampiri Diana yang sedang duduk dan tersenyum-senyum sendirian.
"Wah sepertinya ada yang habis kesambet nih..." canda Ujang.
"Kesambet? kesambet apa? tanya Fachri.
"Itu lihat ada yang senyum-senyum sendiri" kata Ujang sambil menunjuk ke arah Diana.
"Ada yang lagi bahagia nih..."
"Kok senyum-senyum sendiri...?" kata Fachri.
"Mas aku jadi punya ide nih..."
"Bagaimana kalau kita buka kantin...."
"Nanti warung nasi kita ini isinya bisa makanan-makanan kecil... minuman bahkan untuk sarapan maupun makan siang..." ujar Diana.
"Coba Mas Fachri lihat..."
"Markas Harokah FC tidak terlalu sepi..."
"Bahkan cenderung ramai..."
"Sehingga ketika di sini ada kantin... Insya Allah rame, laku dan kita yang beraktivitas seharian di markas tidak kesulitan untuk mencari makan dan minum..." jelas Diana.
"Ide brilian... Mas setuju... mari kita omongin konsepnya..."
"Lalu yang cocok nanti kantinnya di sebelah mana ya...? tanya Fachri.
"Menurut Diana ada baiknya di depan..."
"Karena agar terlihat dari luar..."
"Nah... nanti kita siapkan bangku-bangku untuk pengunjung yang sedang melihat-lihat dan mengantar anak-anaknya yang sedang latihan..."
"Sehingga mereka lebih banyak duduk di area kantin..."
"Coba bayangkan... ketika mereka duduk di area kantin... pasti mereka akan membeli beberapa makanan dan minuman yang kita jual di sini..."
"Menurut Mas Fachri... agar stabil dan tidak menguras banyak energinya Diana..."
"Coba nanti kita cari orang yang mau menjaga kantin ini..."
"Karena pasti Diana tidak mungkin banyak stand by di kantin...
"Diana cukup menjadi chefnya saja..." ujar Fachri.
"Betul Mas biar pikirannya bisa lebih fokus untuk pengelolaan Harokah FC...." kata Diana.
"Sebagai sampel... ini Diana siapkan prasmanan untuk makan kita semua."
"Kita coba bergerak dari sekarang..."
"Nanti Pak Sularjo bantu Diana membuat kantin di area ini..." kata Fachri sambil menunjuk area depan markas harokah FC
"Yang kira-kira strategis untuk kantin..." kata Diana.
"Lalu apa yang harus Diana beli ya...?" tanya Diana.
"Beli lemari pendingin untuk minuman teh botol air mineral dan lain-lain..."
"Lalu kita juga butuh beberapa meja dan beberapa kursi bakso..."
"Lalu kita juga harus beli pemanas untuk air..." "Dan mungkin yang terakhir etalase... sendok dan garpu...." ujar Fachri.
"Pak Sularjo... minta bantu nanti sore nganterin Diana belanja ya..." perintah Fachri.
__ADS_1
"Siap Coach..." sambut pak Sularjo.