OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
MRC - Menahan Rasa Cemburu


__ADS_3

🚗Sesampainya di Tegal.


"Pa'e...Kita langsung ke Rumah Sakit aja..." ajak Diana.


"Iya... kan mba Giea tadi bilang... dia juga lagi di Rumah Sakit..." ujar pak Andi.


Lima menit kemudian mereka sampai ke Rumah Sakit.


🏥"Sepertinya ini mobil Alphard milik Giea..." tebak Diana.


"Iya... kita parkir saja disini..." kata pak Andi sambil memarkirkan mobilnya di samping mobil Alphard hitam itu.


Diana sudah tidak sabar untuk bertemu Fachri. Dia menarik ayahnya untuk segera masuk kedalam ruang rawat. Mereka bergegas menuju kamar dua satu dua lantai dua setelah mereka mendapatkan informasi dari resepsionis.


Kebetulan pintu kamar dua satu dua sedang terbuka. Terlihat dari luar kamar Giea sedang menyuapi Fachri dengan lembut dan kasih sayang.


Diana menghentikan langkahnya, hatinya mendadak runtuh, pak Andi mencoba memahami situasi yang dialami Diana.


Diana menjauh dari pintu, dia coba menyender di dinding samping pintu, membelakangi kamar dua satu dua.


"Ayo masuk... tadi buru-buru ajak Pa'e..." ujar pak Andi mencoba meledek Diana.


😣Diana hanya terdiam dan memaksa untuk memejamkan matanya. Berusaha menahan rasa sakit dihatinya yang terluka karena sayatan-sayatan rasa cemburu.


Diana coba menarik nafas nya dalam-dalam, dan menghembuskan pelan-pelan. Dia mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran nya.


"Tenang Diana... tenang... kamu bisa..." bisik Diana dalam hati sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


Setelah terasa lebih tenang, Diana coba melangkah kembali ke pintu kamar dua satu dua yang masih terbuka lebar itu.


"Assalamualaikum..." salam pak Andi.


"Wa'alaikumussalam..." sambut Giea dan Fachri.


"Mas Fachri..." teriak Diana yang tak mampu lagi menahan kangennya selama ini.


😭Tangis tak terbendung lagi. Tangis kebahagiaan setelah berhari-hari jantung mereka berpacu dengan begitu kerasnya.


"Mas Fachri... jangan tinggalkan Diana lagi..." kata Diana sambil tersengal-sengal karena tangisannya yang tak henti-henti.


"Siap non Diana..." balas Fachri.


"Terimakasih banyak mba Giea sudah banyak membantu mas Fachri..." ucap pak Andi.

__ADS_1


"Terimakasih banyak mba Giea... sudah mau menjaga mas Fachri... semoga amal baik mba Giea dibalas Allah SWT dengan keberkahan dan keselamatan baik di Dunia maupun kelak di Akhirat... aamiin..." ucapan Diana.


"Aamiin... iya sama-sama... saya cuman mencoba membantu... semoga mas Fachri lekas sembuh..." sambut Giea.


Giea mencoba meraih mangkoknya lagi.


"Mas Fachri lanjut makan dulu ya... habis itu diminum obatnya..." ujar Giea sambil kembali menyuapi Fachri.


Begitu cekatan Giea melayani Fachri. Dia mengelap setiap sisa makanan yang menempel di bibir Fachri. Diana terdiam dan berusaha menahan rasa cemburunya yang mulai tak terkendali lagi.


"Diana boleh bantu nyiapin mas Fachri kah...?" tanya Diana kepada Giea.


"Oh... boleh..." jawab Giea dengan nada bicara yang begitu dewasa.


Diana mulai meraih mangkok dari tangan Giea. Dia duduk tepat di samping Fachri yang selalu memandanginya. Suapan pertama pun dilakukannya. Tangan Diana bergetar, namun tetap mencoba ngantar kan sendok di tangannya itu menuju mulut Fachri yang sedang menanti.


Sekali menyuap air mata Diana terus mengalir di pipinya. Mengingatkan di masa-masa itu saat Fachri mengalami luka yang hampir mirip bahkan dulu cukup parah.


Fachri berusaha untuk menghabiskan makanan yang masuk dalam mulutnya. Makanan pun habis, dengan cekatan Diana langsung memberikan Fachri obat yang ada di atas meja.


"Sudah... jangan nangis lagi... mas Fachri kan sudah mendingan..." hibur Fachri pada Diana yang tak henti-henti nya menangis.


🕵️TIBA-TIBA, datang beberapa petugas dari kepolisian setelah pak Andi memberikan kabar ke teman-teman Tim SAR. Mereka coba mengorek beberapa keterangan yang disampaikan Fachri.


Hal ini untuk melanjutkan proses penyelidikan yang sangat memungkinkan ini masuk dalam pasal pembunuhan berencana.


"Aamiin..." sambut semua yang ada dalam kamar.


🕵️Kedua polisi itu pun bergegas meninggalkan mereka.


"Waduh... rupanya kasusnya serumit itu ya..." ujar Giea.


"Iya mba... ini juga masih simpang siur... dugaannya sih aksi perampokan..." kata Diana.


🧒👶👵"Assalamualaikum..." sapa dua orang anak kecil dan seorang yang sudah lanjut usia setelah berdiri di depan pintu kamar.


"Wa'alaikumussalam..." jawab Fachri dan yang lainnya.


Rupanya Dona dan Doni yang datang. Dona dan Doni adalah anaknya Giea.


"Eh... Dona Doni sudah datang..."


"Ayo salim dulu sama mbah Andi dan Tante Diana..." pinta Giea kepada anak-anaknya.

__ADS_1


"Wah... anak pintar..." ujar pak Andi.


"Ini mereka dari Slawi...?" tanya Diana.


"Oh... tidak kok... saya kebetulan sewa kamar hotel didepan rumah sakit ini... anak-anak biasa ke sini kok..."


"Dia sangat akrab sama mas Fachri..." jawab Giea.


"Ayah Fachri gimana hari ini...?" tanya Doni yang ternyata memanggil Fachri dengan sebutan Ayah.


Fachri teringan pesan dari Giea yang meminta Fachri untuk menerima permintaan dari Dona dan Doni agar memanggilnya dengan sebutan AYAH.


Karena Dona Doni sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah.


Fachri mengiyakan permintaan Giea, karena Giea sudah banyak membantu dan tentunya Fachri memahami kondisi psikologis dari Dona dan Doni.


"Alhamdulillah.... ayah sudah membaik... moga ayah segera bisa keluar dari rumah sakit..." ujar Fachri.


"Hore... ayah sudah sembuh..." teriak Dona dan Doni.


😱Diana terkejut, namun dia hanya bisa terdiam dan melihat keakraban Fachri dengan Dona dan Doni.


"Ayah... ayah... tadi aku main bola di depan hotel... lapangannya kecil... kalau di rumah... kita punya lapangan yang besar..." ujar Doni yang begitu bersemangat menceritakan kejadian tadi pagi di halaman hotel tempat mereka menginap.


"Nanti kalau ayah sudah sembuh... tinggal dirumah Dona Doni aja ya...?" pinta Dona pada Fachri.


☺️Fachri hanya bisa tersenyum.


"Bunda... bunda... bolehkan ayah Fachri tinggal dirumah kita...?" tanya Doni.


"Boleh..." jawab Giea


"Hore..." Dona dan Doni teriak gembira.


Ya, gembira.


😣Beda halnya dengan Diana yang saat mencoba untuk merapihkan hatinya yang berserakan karena diterjang badai cemburu.


Diana memandangi dari sudut ruangan, pemandangan yang membuat hatinya teriris rasa cemburu. Terlihat Fachri, Giea, Dona dan Doni begitu Akrab.


Bahkan Fachri dipanggil dengan sebutan Ayah dan Giea dipanggil dengan sebutan Bunda.


"Yuk kita kembali ke hotel... ayah Fachri kan mau istirahat... biar ayah Fachri cepat sembuh..." ajak Giea kepada Dona dan Doni.

__ADS_1


"Dadah Ayah Fachri... sampai besok ya... ayah bobo ya... biar cepat sembuh..." teriak Dona sambil melambaikan tangannya ke arah Fachri.


Kamar dua satu dua kembali sunyi, Diana dan Giea masih berada di samping tempat tidur Fachri. Mereka berdua memandangi Fachri. Namun Fachri sepertinya sudah terbius oleh obat yang membuatnya ngantuk saat itu. Dan Fachri pun tertidur pulas.😴


__ADS_2