
๐Masih di Restoran Jepang.
Semua setuju dengan tantangan dari Lilis.
Dan semua sepakat dengan hadiah yang diusulkan oleh Dani. Lilis hanya bisa terdiam.
"Wah ini ngga adil... seharusnya ada mas Fachri ada disini... baru adil..." seru Lilis.
"Ngga bisa begitu... Coach Fachri ngga boleh ikutan..." balas Jalu.
"Trus gimana dong kalau kalian menang...?" tanya Lilis.
"Kalau salah satu dari kami ada yang menang... berarti fix... kamu harus jadi pacar pemenangnya..." ujar Dani.
"Pengen kabur gimana caranya ya..." kata Lilis dengan suara lirih.
"Eit... ngga bisa..." Jalu mendengar suara Lilis.
HAHAHAHA... mereka semua tertawa ๐คฃ
"Maaf Mba... eh manggilnya apa ya kalau pelayan di restoran Jepang...?" tanya Dani rada canggung memanggil pelayan restoran Jepang itu.
"Kami pesen Roll Sushi Set tujuh porsi... minumnya Teh Ocha..." pinta Dani.
Pelayan Restoran Jepang itu dengan sigap menjalankan permintaan Dani. Dan beberapa menit kemudian hidangan pun muncul.
๐คทโโ๏ธ"Nah... kalau begitu... jika Lilis yang habis duluan... maka... perjanjian kita batal dengan sendirinya.
"Ini Roll Sushi Set nya..." Pelayan itu meletakan Sushi ke masing-masing orang.
Semua terdiam, kemungkinan mereka bingung. Mereka bingung untuk memulainya, dari mana dan bagaimana cara memakannya.
"Selamat menikmati..." ucap pelayan restoran Jepang itu.
Dani mulai memakannya, dia coba bagian yang paling atas yang berwarna hijau.
"Ini apa ya...?" bisiknya dalam hati.
Dani menyendok sesuatu yang berwarna hijau yang tepat di atas sushi. Tanpa pikir panjang makanan yang berwarna hijau itu langsung dimasukan kedalam mulutnya.
๐ detik kemudian.
๐คฏ"PEDAAAAAAS..." teriak Dani membuat semuanya kaget.
๐
Pelayan Restoran Jepang itu menghampiri Dani dan kawan-kawan.
"Ada apa pak...?"
"Ada yang bisa saya bantu...?" tanya pelayan itu sambil melihat Dani yang sedang menjulurkan lidahnya karena kepanasan.
__ADS_1
"Ini apa ya mba...?" tanya Dani sambil menunjuk sesuatu yang barusan dia makan.
"Oh... Itu yang di atas namanya wasabi... seperti cabai kalau di sini..." jawab pelayan itu.
"Aku kira cuman sekedar bumbu... panasnya sampai menusuk hidung..." papar Dani yang sepertinya trauma.
HAHAHAHA...๐คฃ
Semua menertawakan Dani yang sok tahu.
"Mangkanya... ini mending minta dijelasin dulu aja sama mba nya..." jelas Jalu.
"Baiklah... saya akan jelaskan satu persatu..." ujar pelayan Restoran Jepang itu.
"Jadi... yang barusan dimakan mas nya... adalah WASABI..."
"Wasabi jadi jangan langsung dimakan semua begitu... karena pedas sekali... secukupnya aja atau sesuai selera..."
"Nah di bawahnya ada potongan-potongan ikan salmon... lalu ada cumi... ada gurita..." Jelas pelayanan Restoran Jepang yang berparas manis itu.
๐"Oh... kalau yang ini sih saya tahu nih..."
"Lumayan doyan..." kata Armand yang sepertinya lidahnya Arman cocok dengan masakan sushi.
"Satu porsinya banyak juga ya..." ujar Bayu yang sepertinya dari tadi sudah banyak makan, namun tidak habis-habis.๐คญ
"Teh Lilis... aku nyerah..." ujar Asep.
๐ฌ"Aku sih doyan... tapi kalau sebanyak ini... kayaknya ngga sanggup..." bisik Lilis dalam hati berharap tidak ada yang menang.
"Hai Lilis... aku habis..." teriak Armand yang telah menghabiskan sushi lebih cepat daripada yang lain.
๐โโ๏ธ"Tidak..." teriak Lilis sambil kabur meninggalkan restoran, Armand pun spontan mengejar Lilis.
"Wah wah wah wah... jangan pada kabur..." teriak Asep yang ikut ikutan kabur.
"Mba-mba itu yang bayar yang di sana ya..." kata Asep sambil menunjuk ke arah Dani.
Semua berusaha mengejar Lilis. Namun tidak dengan Dani. Security sudah standby menghadang Dani. Dani pun tersenyum melas. ๐ฌ
"Maaf mba... berapa totalnya...?" tanya Dani kepada kasir.
"Satu Juta Delapan Ratus Ribu..." jawab kasir dengan jelas.
Dani mulai merogoh kantong celananya, dan membuka dompet kulit berwarna coklat miliknya sambil membelakangi kasir. Dani mulai menghitung lembar demi lembar uang kertas pecahan seratus ribu yang ada di dompetnya.
"Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh sebelas dua belas tiga belas empat belas lima belas..." hitungan Dani terhenti di lima belas karena uangnya hanya ada satu setengah juta.
"Ehm... mba kasir... maaf... saya boleh keluar sebentar kah...? kebetulan uang saya kurang tiga ratus ribu... saya mau pinjam teman dulu diluar..." pinta Dani.
"Maksudnya apa mas...?"
__ADS_1
"Mas mau kabur ya... sepertinya teman-temannya itu...!" seru kasir dengan nada agak keras.
๐ฎSecurity menghampiri mereka.
"Oh... bukan mba... ini uang saya kurang... jadi saya mau pinjam teman saya..." sambut Dani.
"Loh... jangan alasan dech mas... kalau mau berbicara sama temennya kan bisa di telepon...!" seru kasir.
"Justru itu... hp saya ketinggalan dirumah..." jelas Dani yang mulai panik.
"Yah... lagu lama mas... udah ngga mempan sama saya..." tambah kasir itu.
Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik berpakaian blazer warna biru datang menghampiri kasir.
"Ada apa ini...?" tanya wanita cantik itu kepada kasir.
"Nah... Untung si boss datang... ini loh boss... mas-mas ini ngga mau bayar..." jelas kasir kepada wanita cantik itu yang dipanggil boss.
"Loh... maaf mba... saya bukan tidak mau bayar... tapi uang saya kurang..."
"Saya hanya minta waktu untuk menemui teman-teman saya yang jalan duluan keluar Mall ini..." jelas Dani.
"Ya sudah... mas nya ikut saya... biar kasir saya melayani yang lain dulu..." perintah wanita cantik itu.
Dani diajak masuk ke ruangan wanita cantik itu.
"Perkenalkan... nama saya Pipit Wulandari..." wanita itu menjulurkan tangannya ke Dani untuk memperkenalkan diri.
"Salam kenal mba Pipit... nama saya Dani Mardani..." Dani menyambut jabat tangan dengan Pipit.
"Ada yang bisa saya bantu mas Dani...?" tanya Pipit.
"Jadi saya dan teman-teman makan di sini... kebetulan habis satu juta delapan ratus ribu..."
"Kebetulan uang saya kurang... rencana saya mau pinjam teman saya dulu... yang kebetulan mereka keluar duluan meninggalkan saya..." jelas Dani.
"Oke mas Dani... begini saja... kasus seperti mas Dani sudah sering terjadi di restoran kami..."
"Jadi sepertinya kasir kami sudah trauma menghadapi orang seperti mas Dani..." Pipit mulai memainkan taringnya.
"Loh... saya akan bayar kok... hanya saja saya butuh cara untuk menghubungi mereka..." jelas Dani.
"Gini aja dech mas Dani... kalau memang mereka teman-temannya mas Dani... seharusnya mereka kesini ketika nunggu mas Dani tidak juga datang menghampiri mereka..." jelas Pipit.
"Trus maksud Bu Pipit saya harus ngapain...?"
"Orang seperti mas Dani itu tempatnya di pencucian piring..." ujar Pipit sambil menunjuk tempat pencucian piring.
๐ฑ "Jadi saya harus cuci piring...?" tanya Dani.
"Iya... sampai teman - temannya nanti datang..." jawab Pipit dengan tegas.
__ADS_1
๐ญ"Lilis... help me..." teriak Dani dalam hati sambil mencuci tumpukan piring kotor.