
π"Pak Haji...."
"Kami izin bermalam di masjid ini ya..." pinta Dimas.
"Silakan aja..."
"Emangnya rencana kalian jadinya bagaimana?"
"Tadi kalian bilang mau mencari yang namanya NURALIM?" kata Haji Nurali
"Ya... masih seperti tadi..."
"Masih tetap semangat mencari Nur Alim..." jelas Dimas.
"Namun kami juga belum tau NURALIM itu siapa dan pekerjaan nya itu apa...?"
"Bahkan kami juga tidak tau jika nanti kami ketemu NURALIM... kami harus berbuat apa...?" tambah Firdaus.
"Loh.... kok gitu...? pak Haji Nurali balik bertanya.
"Hehehe... kata coach Fachri... ini tantangan bagi kami yang terpilih masuk ke seleksi Tim Nasional..." ujar Salim
"Berarti betul..."
"Pasti ada kaitannya dengan sepakbola..." kata Haji Nurali.
π€"Itu di depan sana nama jalannya..."
"Jalan Kyai Haji Nurali..."
"Itu jalan buatan pak Haji ya...?" tanya Dimas.
"Bukan nama saya..." kata Haji Nurali
"Trus...?" Dimas makin penasaran.
"Jadi nama jalan itu diambil dari nama pahlawan Bekasi..."
"Namanya Kyai Haji Noer Ali..."
π±Mereka terkesimah cerita Haji Nurali menceritakan tentang pahlawan Bekasi.
"Kyai Haji Noer Ali, sosok ulama kharismatik..."
"Dijuluki SINGA saat masa merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah Belanda dan Jepang..."
"Lahir di Babelan Bekasi seribu sembilan ratus empat belas..."
"Wawasan keislaman Kyai Haji Noer Ali tidak perlu diragukan lagi...."
"Dia telah melanglang buana belajar keislaman kepada para ulama besar di Tanah Air maupun di Makkah...."
"Saat usia delapan tahun, Kyai Haji Noer Ali telah belajar mengeja dan membaca bahasa Arab, mengaji dan menghafal surah-surah dalam Al Quran kepada Guru Maksum di Kampung Bulak..."
"Kyai Haji Noer Ali juga menimba pengetahuan keislaman mengenai tarikh para Nabi, ahlak dan fiqih di sana...."
"Semakin beranjak dewasa, Kyai Haji Noer Ali terus memperdalam ilmu agama Islam...."
"Salah satunya yaitu ke Guru Mughni di Ujung Malang...."
__ADS_1
"Di situ Kyai Haji Noer Ali berguru ilmu keislaman tentang tauhid...."
"Ketika memperdalam pengetahuan keislaman di Guru Mughni, Kyai Haji Noer Ali adalah santri paling cerdas. Hal itu diakui langsung oleh sang guru..."
"Saat masa pendidikan memperdalam wawasan keislaman itulah Kyai Haji Noer Ali secara langsung juga melihat kondisi nyata kehidupan bangsa dan masyarakatnya...."
"Kyai Haji Noer Ali melihat ada yang timpang antara ilmu keislaman diperolehnya dengan fakta realita...."
"Adanya kesewenangan tuan tanah ke warga pribumi, kekejian aparat kolonial kala itu, ketidakadilan, maksiat dan lainnya. Semangat cinta Tanah Air mulai lahir dalam diri serta jiwa Kyai Haji Noer Ali..."
"Kyai Haji Noer Ali juga sempat mengenyam pendidikan pesantren ke Guru Kyai Haji Marzuki...."
"Di pondok pesantren..."
"Kyai Haji Noer Ali tetap mempertahankan predikat sebaga murid yang cerdas...."
"Saat di pesantren inilah KH Noer Ali mulai mahir menggunakan senapan sebab hobinya memburu bajing kala waktu senggang...."
π"Tahun seribu sembilan ratus tigapuluh empat Kyai Haji Noer Ali berangkat ke Makkah untuk kembali meneruskan pencarian ilmu keislaman...."
"Kepergiannya belajar ilmu agama Islam ke Makkah sempat membuat hati Guru Kyai Haji Marzuki bimbang...."
"Namun tekad Kyai Haji Noer Ali akhirnya mampu meluluhkan hati sang guru...."
"Kyai Haji Noer Ali berangkat ke Makkah dengan uang pinjaman...."
"Selama belajar pengetahuan keislaman di Makkah, KH Noer Ali banyak berguru kepada para Syaikh...."
"Namun sesuai nasehat gurunya, Kyai Haji Marzuki, agar mengutamakan belajar kepada Syaikh Ali Al Maliki...."
"Bahkan akhirnya Kyai Haji Noer Ali jadi santri kesayangan Syaikh Ali Al Maliki...."
" Kyai Haji Noer Ali terus mencari informasi soal kondisi Indonesia dan dunia..."
"Informasi tentang Indonesia diperoleh Kyai Haji Noer Ali dari surat orang tuanya serta Koran di Arab Saudi...."
"Hati dan semangat Kyai Haji Noer Ali bergolak...."
"Ia ingin ikut berkontribusi memerdekakan Tanah Airnya..."
πΈπ¦"Kemudian Kyai Haji Noer Ali bersama rekan lainnya dari Indonesia di Makkah membentuk organisasi Persatuan Pelajar Betawi (PPB)..."
"Tahun seribu sembilan ratus tiga puluh sembilan Kyai Haji Noer Ali pulang ke Indonesia...."
"Lalu tahun seribu sembilan ratus empat puluh, KH Noer Ali mendirikan pondok pesantren..."
"Kedatangan Kyai Haji Noer Ali kembali ke Tanah Air merisaukan para tuan tanah dan pemerintah kolonial...."
"Sebab seluruh warga dengan sukarela memberikan tanahnya untuk pembangunan akses jalan di Ujung Malang, Teluk Pucung dan Pondok Ungu....
"Hal yang membuat tuan tanah kehilangan perilaku jahatnya sebab selama ini kerap membeli tanah dengan harga yang merugikan warga...."
"Tahun seribu sembilan ratus empat puluh dua, nama Kyai Haji Noer Ali masuk dalam daftar ulama yang harus bekerja sama dengan penjajah Jepang..."
"Di tahun yang sama, penjajah Jepang memintanya agar bersedia bekerja sama dengan Jepang melalui rekan sejawat Kyai Haji Noer Ali asal Thailand saat menjadi santri di Makkah...."
"Kyai Haji Noer Ali dengan tegas menolaknya...."
"Ia tak ingin pesantrennya nanti tak terurus dan para santrinya terpecah sebab enggan berkompromi dengan penjajah Jepang...."
__ADS_1
"Pada masa perebutan kemerdekaan, Kyai Haji Noer Ali mempersiapkan santrinya untuk masuk ke latihan kemiliteran yang dibentuk Jepang...."
"Ada juga yang disalurkan ke Pasukan Pembela Tanah Air agar ikut berperang di medan tempur...."
"Kyai Haji Noer Ali bukan hanya berdiam diri sebagai ulama...."
"Dia adalah SINGA medan perang...."
"Kyai Haji Noer Ali memimpin lascar-laskar rakyat untuk bertempur merebut kemerdekaan...."
"Kyai Haji Noer Ali bahkan pernah menjadi Komandan Bataliyon Tentara Hizbullah Bekasi...."
"Sejarah mencatat, tahun 1947 KH Noer Ali terlibat pada pertempuran sengit di Karawang-Bekasi dengan tentara penjajah Belanda...."
"Kyai Haji Noer Ali kala itu memerintahkan warga dan pasukannya untuk membuat bendera merah putih ukuran kecil lalu dipasang di setiap pohon dan tiang...."
"Tujuannya untuk mempertegas bahwa Indonesia masih ada dan siap mempertahankan kemerdekaan...." panjang lebar Haji Nurali bercerita
π’Adzan Isya menghentikan pembicaraan mereka. Seusai sholat Isya mereka merebahkan tubuh mereka di pelataran masjid. Tak butuh waktu lama mereka terlelap karena kecapean. Dua jam kemudian Imam terbangun karena gangguan nyamuk.
"Waduh..."
"Banyak banget nih nyamuknya..." gerutu Imam dalam hati sambil menepuk nyamuk yang berseliweran dimukanya.
TIBA-TIBA marbot masjid menghampiri.
"Pakai ini mas..." kata marbot itu memberikan obat nyamuk oles.
"Oh iya... terima kasih pak..." sambut Imam.
"Kalian ada hubungan apa dengan Haji Nurali...?"
"Kelihatannya akrab sekali....?" tanya marbot masjid itu penasaran.
"Kami kenalan saat naik kereta menuju ke Bekasi..." jawab Imam.
"Trus kenapa tidur di masjid...?"
"Emang tujuan kalian ke masjid ini...?" tanya marbot masjid itu semakin penasaran.
"Tadi siang kami kecopetan di kereta..."
"Beberapa petunjuk dan uang kami hilang..."
"Terpaksa kami bermalam di masjid ini..." jelas Imam.
"Oh... emang di Bekasi siapa yang kalian cari...?"
"Kami mendapat tantangan dari pelatih kami..." kata Imam.
"Pelatih sepakbola...?" tebak marbot masjid itu.
"Iya... benar..."
"Kami disuruh mencari yang namanya NURALIM..." jelas Imam pada marbot masjid itu.
"Oh.... Si JABRIK...!" seru marbot masjid itu.
"Si JABRIK...?" tanya Imam bingung.
__ADS_1