OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Touring of Java


__ADS_3

🏟️Di Markas Harokah Football Club


"Coach... Pendaftaran Divisi Tiga tinggal tiga bulan lagi..."


"Kebanyakan pemain kita bocah semua..." keluh Ujang kepada Fachri.


"Sebenarnya saya juga belum mau untuk ikut Divisi Tiga tahun ini..."


"Karena memang Harokah FC belum punya pemain..."


"Semua pemain kita dibawah enam belas tahun..." ujar Fachri.


"Iya ya..."


"Yo wis... nunggu bocah-bocah gede dulu aja..." kata Ujang.


"Jang.... Jang...."


"Kalau mereka sudah gede... pasti mereka ngga mau main di Divisi Tiga atuh Jang..." keluh Fachri.


"Maksudnya coach...?" tanya Ujang.


"Jika mereka sudah besar... misal sudah delapan belas tahun..."


"Pasti sudah banyak klub Divisi Satu yang meminang mereka..."


"Dan mereka pasti lebih memilih ikut Divisi Satu ketimbang ikut kita di Divisi Tiga..." jelas Fachri.


"Oh... iya ya... kok aku ngga kepikiran...!" ujar Ujang.


"Trus gimana dong...? tanya Ujang makin bingung.


"Udah lah Jang... ngga usah mikirin yang susah-susah..."


"Mending urusin itu bocah-bocah... udah pada selesai lari pemanasan..." ujar Fachri.


"Siap Coach..." sahut Ujang.


🌌 Di kediaman pak Andi


"Sepi juga ya..."


"Tumben... belum ada kabar dari pak Andi dan Diana..." bisik Fachri dalam hati.


Di teras depan rumah pak Andi.


Fachri rebahan diatas bale sambil menatap langit malam yang terlihat cerah. Ditemani bintang-bintang dan rembulan.


Fachri lagi mencoba memecahkan masalah pendaftaran ke Divisi Tiga yang tinggal beberapa bulan lagi. Coba bayangkan, semua pemain Harokah FC itu berusia dibawah enam belas tahun. Sedangkan jika sudah masuk Divisi Tiga, itu harus punya dua puluh dua pemain yang berusia diatas delapan belas tahun.


Fix, jika Harokah FC mau ikut Divisi Tiga, maka mereka harus rekrut dua puluh dua pemain. Kebayangkan berapa milyar yang harus dikeluarkan Harokah FC.


Fachri mencoba mencari inspirasi dibalik pancaran bintang-bintang yang membuat beberapa rasi bintang membuat ide-idenya bermunculan.


🎼Coba kau tunjuk satu bintang... Sebagai pedoman langkah kita... Jabat erat hasil karyaku... Hingga terbias warna syahdu...


Akan ku ukir... Satu kisah tentang kita... Di mana baik dan buruk... Terangkum oleh indah...


Akan kucerna... Semua karya cipta kita... Di mana hitam dan putih... Terbalut oleh hangatnya cinta...🎼


TIIIN... TIIIN...


Terdengar suara klakson mobil dari arah gerbang. Rupanya pak Andi dan Diana sudah datang.


"Lagi ngapain mas...?" sapa Diana yang baru keluar dari mobil.


"Lagi nungguin kamu De..." sahut Fachri sedikit menggoda.


"Pantesan dari tadi ini mata kedutan..." ujar Diana.

__ADS_1


"Gimana kondisi ayah...?" tanya Fachri berbisik pada Diana.


"Alhamdulillah... emosinya sudah bisa terkendali..." jawab Diana.


🚐Pak Andi turun dari mobil.


"Assalamualaikum... mas Fachri... saya istirahat dulu ya..." sapa pak Andi.


"Wa'alaikumussalam... iya pak Andi... silahkan..." sambut Fachri yang faham atas kondisi pak Andi malam itu.


"Gimana...? Apa yang Pa'e lakukan di Cianjur...? tanya Fachri.


"Mas Fachri kepo..."


"Mau tau...? atau mau tau banget...?" ledek Diana.


"Mau tau banget lah..."


"Semoga aman-aman saja..." harap Fachri.


"Alhamdulillah... Pa'e disana aman-aman saja..."


"Dan benar... Zainab itu ibu kandungku dan Euis itu adikku dari ayah yang berbeda..." jelas Diana.


"Pa'e begitu terpukul..."


"Dia hanya banyak menangis dan sedikit bertanya..."


"Yang membuat kami lama adalah hal-hal yang berhubungan dengan ahli waris..."


"Ummi Latifa membawa kami ke RT RW setempat..." jelas Diana.


"Mampir kerumah Ujang ngga?" tanya Fachri


"Ngga mampir..."


"Sebab Pa'e lebih banyak waktunya di makam ibu..."


"Trus kamu gimana...?"


"Masih meragukan bahwa Pa'e itu bukan ayah kandungmu...? tanya Fachri.


"Engga lah mas... Diana sayang Pa'e..." jawab Diana.


"Alhamdulillah... akhirnya masalahnya kelar juga..."


"Setelah kalian simpan puluhan tahun...." ujar Fachri.


"Trus ngapain mas Fachri nungguin Diana sambil tiduran di luar...?"


"Kan bisa nunggu nya didalam...?"tanya Diana sambil tiduran di bale tempat Fachri memandang bintang.


"Mas lagi nyari inspirasi nih..."


"Perihal pendaftaran Harokah FC ke Divisi Tiga..." jelas Fachri.


"Loh... bukannya semua syarat sudah kita miliki...?" sanggah Diana


"Ada satu yang luput dari persiapan kita..." ujar Fachri.


"Apa mas...?" tanya Diana bingung.


"Pemainnya..."


"Pemain yang dibutuhkan... usianya harus lebih dari delapan belas tahun..."


"Sedangkan para pemain kita masih di bawah lima belas tahun..." jelas Fachri.


"Oh... iya ya..." rupanya Diana pun baru menyadari.

__ADS_1


🌌Sambil rebahan di bale, mereka terdiam sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan mewarnai indahnya malam itu.


🎼Coba kau tunjuk satu bintang... Sebagai pedoman langkah kita... Jabat erat hasil karyaku... Hingga terbias warna syahdu...


Akan ku ukir... Satu kisah tentang kita... Di mana baik dan buruk... Terangkum oleh indah...


Akan kucerna... Semua karya cipta kita... Di mana hitam dan putih... Terbalut oleh hangatnya cinta...🎼


Sampai larut malam Fachri dan Diana bertukar pikiran tentang masa depan Harokah FC.


🐓 Dan di keesokan harinya.


KUKURUYUK....


"Pa'e jadi ikut ke Markas Harokah FC...?" tanya Diana.


"Jadi... tunggu sebentar..." kata pak Andi sambil membawa laptop.


"Udah tiga hari ini... ngga masak buat kantin..." ujar Diana.


"Iya tuh... banyak yang nanyain..." sahut Fachri.


"Insya Allah... Diana mulai lagi besok..." kata Diana.


🚐Pak Andi, Diana dan Fachri meluncur ke markas Harokah FC. Dalam perjalanan mereka hanya terdiam, belum ada yang berani melontarkan omongan. Masing-masing masih canggung mau ngomongin apa paska peristiwa waktu itu.


"Mas Fachri dan Diana... nanti jam delapan sampai jam sembilan kita meeting dulu ya..."


"Membicarakan persiapan pendaftaran tim kita ke Divisi Tiga..." pinta pak Andi.


"Oh... iya pak Andi..." sahut Fachri.


🏟️ Sesampainya di Markas Harokah FC


"Jadi begini Pa'e..."


"Untuk kesiapan dokumen pendaftaran tim kita ke Divisi Tiga..."


"Insya Allah sudah lengkap..."


"Hanya saja... ada hal yang paling mendasar yang membuat mas Fachri dan Diana masih bingung untuk mendaftar nya..." jelas Diana.


"Memang persyaratan apa yang masih kurang...?" tanya pak Andi.


"Pemain kita masih dibawah enam belas tahun semua Pa'e..."


"Sedangkan syarat mendaftar salah satu nya harus punya dua puluh dua pemain usia diatas delapan belas tahun..." ujar Diana.


"Oh... kalau itu mah... Pa'e juga tau..."


"Pa'e kan pengurus PSSI..."


"Jadi Pa'e tau apa yang kurang di tim kita..."


"Mangkanya... pagi ini kita meeting... untuk persiapan TOURING TO JAVA..."


"Maksud Pa'e...?" tanya Diana yang masih bingung.


"Kita cari pemain berbakat se-pulau Jawa..."


"Kita datengin satu persatu tempat anak-anak berpotensi itu..." jelas pak Andi.


"Jadi kita jalan-jalan keliling pulau Jawa...?" tanya Diana mempertegas lagi.


"Betul..." jawab pak Andi dengan tegas.


"Jadi tugas mas Fachri dan Diana adalah menentukan tempat-tempat yang biasa berkumpulnya komunitas... sekolah... pertandingan... kompetisi sepakbola..."


"Kalian tentukan titiknya... minta bantu mas Fachri cari tau ke sesama teman sepakbola nya..."

__ADS_1


"Kalian punya waktu sebulan untuk TOURING TO JAVA..." perintah pak Andi.


"Siap komandan..." sahut Diana dan Fachri dengan semangat.


__ADS_2