OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Tubuh Kita Adalah Dokter yang Terbaik


__ADS_3

๐ŸŒŒ Masih di Area Mall.


"Nah mau kemana kamu...? udah Lis... jangan lari-larian lagi..." ujar Armand yang berhasil menangkap tangan Lilis.


Kemudian yang lainnya pun turut berdatangan.


"Wah... kalian larinya kenceng banget... sampe ketinggalan kita..." ujar Asep.


Mereka duduk-duduk di kolam dekat pintu masuk, karena menunggu Dani yang sedang membayar billing restoran


"Berarti sah ya... aku yang mendapatkan Lilis...!" seru Armand sambil mengangkat tangan Lilis yang kurus itu.


Lilis yang awalnya sebelum jalan-jalan sangat galau, sekarang hatinya sedang bahagia bahkan tersipu-siku malu berkat Armand dan yang lainnya yang berusaha untuk senantiasa menghibur dan menjaga Lilis.


"Eh... ngomong-ngomong udah lebih dari lima menit ini... Kok Dani ngga muncul-muncul ya...?" Asep mencoba untuk mengingatkan yang lain.


"Lah iya ya... perasaan jalur pintu keluarnya cuman satu jalan... pasti dia tahu lah ke mana arah kita pulang..." sambut Armand.


"Gimana kalau kita balik ke restoran untuk melihat Dani... khawatir terjadi sesuatu..." pinta Lilis.


"Mending kita nunggu lima menit lagi... kalau belum muncul juga... baru dah kita coba balik lagi... hitung-hitung istirahat... capek juga ngejar-ngejar Lilis... saran Armand.


๐Ÿ•˜ Lima menit kemudian.


"Fix Ini mah... kita harus balik ke restoran..." ujar Asep.


Asep dan yang lainnya beranjak kembali menuju Restoran Jepang itu.


"Maaf mba... lihat teman kami yang tadi kah...?"


"Sebab sudah sepuluh menit yang lalu dia tidak muncul-muncul..." tanya Asep.


"Oh... teman kalian yang itu...!" seru pelayan restoran Jepang itu sambil menunjuk ke arah seseorang yang sedang mencuci piring.


๐ŸคญSemua menahan tawa.


"Eh... cepet-cepet... kita ambil foto dan video nya..." usul Armand sambil berbisik


"Memang kenapa mba... kok dia disuruh nyuci piring...?" tanya Asep.


"Tadi bayarnya kurang tiga ratus ribu..." jelas pelayan Restoran Jepang itu.


"Oh... ini kekurangan nya ya... kami minta izin menjemput nya ke dapur..." ujar Asep.

__ADS_1


๐Ÿ“ธDani sedang fokus mencuci piring dan teman-temannya mencoba untuk mengabadikan momen tersebut dengan mengambil foto dan video dirinya yang sedang mencuci piring.


Perlahan Lilis dan teman-teman masuk dan memberi kejutan kepada Dani.


"Kang Dani lagi ngapain...?" tanya Lilis belaga polos.


๐Ÿ‘€Mata Dani menuju ke sumber suara. Terlihat Lilis teman-temannya sedang memfoto dan memvideokan dia yang sedang mencuci piring.


"Liliiiiis..." Dani teriak sekencang-kencangnya.


"Tenang bro... udah gua tombokin tiga ratus ribunya ya... yo wis kita sekarang pulang..." seru Asep.


Pipit sang manager restoran Jepang itu menghampiri Dani.


"Mohon maaf mas Dani... atas perlakuan kami yang tidak nyaman ini..." pinta Pipit kepada Dani.


"Tidak bisa begitu saja mba Pipit... ada syaratnya untuk dimaafkan... yang pertama saya minta nomor handphonenya... dan syarat yang kedua... akan saya kirim via WhatsApp.


Karena merasa bersalah, Pipit pun memberikan nomor handphonenya kepada Dani.


"Terima kasih mba Pipit... nanti syarat yang kedua akan saya WhatsApp..." ujar Dani sambiil bergegas meninggalkan restoran.


Dani dan teman-teman meninggalkan restoran Jepang malam itu


๐ŸŒ„ Keesokan harinya aktivitas di markas Harokah FC berjalan seperti biasa. Namun tidak dengan Diana. Walaupun hari itu dia datang ke Markas Harokah FC, namun dia tidak mampir ke kantin, dia hanya mengurung diri di kantor Harokah FC.


"Tidak ada apa-apa Pa'e..." sahut Diana.


"Masih kepikiran mas Fachri...?" tanya pak Andi kembali.


"Entahlah... tapi yang pasti... Diana sangat berharap mas Fachri bisa kembali ke Harokah FC..." harap Diana.


"Loh... bukannya mas Fachri sudah janji sama kamu untuk balik...!" seru Pak Andi


"Iya sih... mas Fachri memang sudah janji... itu juga dengan catatan..." ujar Diana.


"Lho... maksudnya...?" tanya pak Andi jadi bingung.


"Dengan catatan... tidak ada halangan..." jawab Diana.


"Memang... halangan nya berat ya...?" tanya pak Andi yang mulai kepo.


"Menurut Diana... sangat berat..." jawab Diana sambil menunduk lesu.

__ADS_1


Diana mulai menceritakan kemungkinan Fachri akan balik atau tidaknya kepada pak Andi. Mulai dari cerita hutang nyawanya Fachri ke Giea, lalu ketertarikan Giea kepada Fachri, ditambah lagi Giea itu janda kaya raya dan cantik.


Dan yang membuat langkah Fachri semakin berat adalah permintaan dari anaknya Giea yang menginginkan Fachri menggantikan posisi ayahnya yang sudah tiada.


"Yo wis... jangan diambil pusing... menurut Pa'e... serahkan semuanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala..."


"Jika Fachri kembali ke Harokah FC... berarti memang rezeki kita... namun jika tidak... ya... berarti memang bukan rezeki kita..." kata pak Andi mencoba untuk menasehati anak gadisnya yang sedang gundah gulana.


๐ŸŸ๏ธ Di Lapangan, Ujang dan Asep memimpin latihan fisik siswa Harokah FC. Sedangkan Armand dan yang lainnya sedang berlatih operan pendek.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Semua diberi tugas untuk berlari menggunakan beban empat kilo ditubuhnya. Beban itu diikat ke tangan kanan satu kilogram, tangan kiri satu kilogram, kaki kanan satu kilogram, tangan kiri satu kilogram. Lalu mereka berlari sejauh dua kilometer. Dan ini adalah hari ketiga mereka berlatih fisik dengan melakukan metode yang sama.


๐Ÿ’ชLari dua kilometer atau dua ribu meter ini dilakukan dengan mengelilingi lapangan bola Harokah FC. Satu putaran kebetulan berjarak empat ratus meter, berarti butuh lima putaran untuk melakukan lari sejauh dua ribu meter atau dua kilometer.


"Oke anak-anak... latihan fisik hari ini akan kita tutup dengan latihan tendangan sudut dengan tetap menggunakan beban..."


"Baik yang mengopernya... juga yang menyundulnya... bahkan kipernya..." ujar Ujang yang mencoba mengarahkan.


Semua berusaha menjalankan setiap instruksi.


Karena beban yang dikenakan di tubuh mereka. Para siswa banyak yang tak sanggup menendang sesuai dengan yang diharapkan. Dari enam puluh siswa hanya dua orang yang berhasil menendang dengan baik, itupun hanya sesekali dari beberapa tentangan yang disuruh instruktur.


Hilman salah satu dari siswa Harokah FC mencoba untuk melakukan tendangan sudut sesuai dengan yang diinstruksikan pelatih.


Dia melakukan ancang-ancang tiga langkah kebelakang, lalu dia melangkahkan kakinya kedepan, ditendangnya dengan keras bola yang ada disudut lapangan, dan...


GUSRAK...


Hilman tergelincir, bola tidak mengarah ke gawang dan sepertinya kaki Hilman terkilir.


"Aaau..." teriak Hilman kesakitan.


๐Ÿ˜ฐSemua panik, Hilman digotong ke tempat yang teduh di dekat kantin. Latihan dihentikan dan semua mengerumuni Hilman. Asep mencoba menangani Hilman yang sedang meringis kesakitan.


"Man... tahan ya..." pinta Asep yang memang pandai dalam mengurut orang yang terkilir.


Dengan dua kali gerakan Asep berhasil mengembalikan posisi sendi Hilman yang terkilir.


"Nah... Insya Allah... segera pulih... Sekarang jangan buat jalan dulu... kamu harus istirahat minimal satu bulan... semoga tubuh kamu bisa mengembalikan kondisi jaringan sendi yang rusak..." jelas Asep.


"Benar kata Coach Asep..."

__ADS_1


"Tubuh Kita Adalah Dokter yang Terbaik..." kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah kantin.


๐Ÿ‘€Semua mata tertuju pada sumber suara


__ADS_2