
๐ Masjid Agung Tasikmalaya
Akhirnya Bayu menyetujui ajakan Fachri untuk gabung ke Harokah FC.
"Maaf coach Fachri... saya mau merekomendasikan teman saya untuk gabung ke Harokah FC..."
"Namanya Dani Mardani... dia asli Ciamis..." ujar Bayu.
"Posisi Dani sebagai apa...?" tanya Fachri.
"Striker..." jawab Bayu dengan lantang.
"Wah... cocok tuh..." sela Ujang.
"Dimana saya bisa menemuinya..."
"Kebetulan dia anaknya lurah di Ciamis..."
"Baru lulus SMA..." ujar Bayu.
"Sehebat apa Dani itu...?" tanya pak Andi.
"Dia tinggi besar... kalau di sepakbola internasional... dia seperti Oliver Bierhoff..."
"Stiker asal Jerman yang sembilan puluh persen gol nya berasal dari kepala..." jelas Bayu menggambarkan sosok Dani.
"Rumahnya jauhkan dari sini...?" tanya pak Andi.
"Paling tiga puluh menit dari sini..." jawab Bayu.
"Oke... besok kita kerumahnya..." seru pak Andi.
๐กFachri dan yang lainnya bermalam dirumah Rya. Pules sekali mereka tidur, setelah seharian penuh beraktivitas.
Namun Rya dan Ujang masih asyik ngobrol ngalor-ngidul ditemani dengan kopi dan rengginang yang renyahnya membuat mulut tak mampu berhenti mengunyahnya.
"Wah... ane kena prank nih..." sahut Ujang.
"Prank apa.....?" tanya Rya
"Ini lho... masa... kalengnya Kong Guan... tapi kok isinya RENGINANG...?"๐ kata Ujang
"antum bisa aja..." sahut Rya.
๐ Keesokan harinya.
"Gimana... sudah siap semuanya...?" tanya pak Andi.
"Semua sudah siap sih... tapi masih ada yang kurang..." jawab Diana.
"Apa yang masih kurang...?" tanya pak Andi kembali.
"Nah... ini dia yang masih kurang... yuk kita nyopi dulu..."
"Pokoknya... tidak boleh jalan... sebelum minum kopi buatan Bayu ini..." tiba-tiba Bayu muncul dari arah dapur dengan membawa nampan yang berisi enam cangkir kopi.โ
"Sini... tak cobain se..." ujar pak Andi.
"Gimana rasanya pak Andi...?" tanya Bayu.
"Wenae... pollll..." jawab pak Andi dengan memberikan jempol kearah Bayu.
"Supaya komplit... ini ada makanan khas dari Tasikmalaya..."
Bayu membawakan kotak kue.
"Ini mah... di Jakarta juga ada..." ujar Diana.
"Masasih..." sahut Bayu coba menyakinkan.
"Waduh... jebakan Betmen nih..." cetus Diana, setelah membuka kotak kaleng kue Kong Guan yang ternyata berisi RENGGINANG.
HAHAHAHA... semua tertawa.
"Merk kopinya apa ini kang Bayu...? tanya pak Andi.
__ADS_1
"Mereknya belum ada... hehehe..."
"Ini Bayu baru mau merintis usaha kopi..." jelas Bayu.
"Ada dua proses yang harus Bayu lakukan..."
"Yang pertama... biji kopinya Bayu beli dari petani kopi yang ada di Tasik..."
"Setelah dapat biji kopinya... lalu Bayu jemur... setelah itu Bayu sangrai... dan Bayu giling...."
"Kebetulan teman punya pohon kopi di daerah Tasikmalaya..."
"Ada stoknya ngga...?" tanya pak Sularjo.
"Kebetulan tidak ada..." jawab Bayu.
"Mending nanti saja... kalau pas Bayu ke Jakarta, Insya Allah akan Bayu bawain...." ujar Bayu.
๐Akhirnya jam tujuh pagi itu mereka berangkat menuju Ciamis, tempat Dani Mardani tinggal.
๐ฑ KRIIIING...
Suara Handphone berbunyi...
"Assalamualaikum..." salam Bayu.
"Wa'alaikumsalam..." suara orang yang ada dari dalam handphone yang ternyata Dani.
"Posisi ada dimana bro...? tanya Dani.
"Paling sepuluh menit lagi sampai..." jawab Bayu.
"Oh... ya sudah... aku bukain gerbangnya dulu..." sahut Dani.
๐ก Sampai dirumah Dani.
"Pak Larjo... langsung masuk aja... gerbang udah dibuka tuh..." kata Bayu sambil menunjuk ke arah gerbang.
"Kita ngga salah rumah kan...?" tanya pak Sularjo.
"Iya... benar... saya sering ke sini kok..." jawab Bayu.
"Ehm..." Bayu hanya tersenyum.
"Assalamualaikum..." salam Bayu.
"Wa'alaikumsalam..." Dani membalas salam dari Bayu.
"Apa kabar bro...?" tanya Bayu.
"Alhamdulillah... baik..." jawab Dani.
"Oh iya... perkenalkan ini pak Andi... ini Mba Diana... ini coach Fachri... ini kang Ujang dan ini Pak Sularjo..." Bayu memperkenalkan Fachri dan yang lainnya.
"Iya... salam kenal... nama saya Dani Mardani..."
"Dulu saya sering main bola di Tasik ikut Kang Bayu..."
Oh iya... sebentar ya... saya ambil minum dulu..." ujar Dani.
Diana dan Fahri bisik-bisik membicarakan Dani.
"Ini rumahnya Dani besar sekali..."
"Sepertinya dia anak orang kaya..."
"Terus... apa dia mau kita gaji 5 juta per bulan...?" tanya Fachri.
"Iya ya Mas... ini mah mewah sekali rumahnya..." ujar Diana.
Suara Diana dan Fahri terdengar oleh Bayu.
"Kalau bisik-bisik itu jangan kenceng-kenceng..."
"Saya kedengaran coach..."
__ADS_1
"Hahahaha..." ujar Bayu
"Jadi... Dani ini memang anak orang kaya..."
"Bapak nya lurah di desa ini..."
"Dan dia anak satu-satunya..." jelas Bayu
"Waduh... trus kenapa kamu bawa kita kesini...?" tanya Diana.
"Yang pertama... karena Dani Penyerang yang haus gol..."
"Yang kedua... dia minta dicariin klub... mangkanya saya langsung teringat Dani..." jelas Bayu.
"Oh jadi dia anak pak Lurah... mana anak tunggal lagi...
"Gimana coach... kira-kira mau nggak dia...?" "Saya jadi pesimis begini..." ujar pak Andi.
"Sama pak Andi... saya juga ragu..."
"Tapikan kita sudah sampe sini..."
"Mending kita hilangkan keraguan ini..."
"Biar dimudahkan segala urusan kita..."
"Kita cuman bisa ikhtiar... biar Allah yang menentukan..." ujar Fachri.
Dani datang dengan membawa minum dan kue-kue untuk dihidangkan.
"Bapak... ibu... Silahkan di minum..." ajak Dani.
"Terimakasih nak Dani..." ujar pak Andi.
"Jadi maksud dan tujuan kami datang ke sini adalah untuk mengajak nak Dani untuk gabung bersama klub kami... Harokah FC..." ujar Fachri.
"Iya coach Fachri... semalam kang Bayu sudah kasih info ke saya..."
"Jadi begini coach Fachri... sesungguhnya saya sangat suka sekali dengan sepak bola dan kata teman-teman... saya juga sangat berbakat dan berpotensi... namun keinginan orang tua saya harus kuliah..."
"Karena dilarang main sepakbola... saya pun tidak mau kuliah..."
"Alhasil... dua tahun nganggur..." ujar Dani.
"Jadi nak Dani ini lagi perang dingin ya...?" tanya pak Andi.
"Iya Pak Andi... saya keras dan ayah saya lebih keras lagi... kami belum ada yang saling mengalah... karena cita-citakan tidak bisa dipaksakan..." ujar Dani.
"Lah kok jadi tegang begini ya...?"
"Sudah... mending kita santai saja... yang penting kan solusinya bagaimana baiknya..." kata Diana berusaha mencairkan suasana.
"Ayahmu ingin kamu kuliah di mana...?" tanya Fachri.
"Karena ayahku seorang Lurah... dia ingin anaknya pun mampu untuk memanage orang... dan strategi bisnis..."
"Maka... saya diminta untuk kuliah di jurusan manajemen bisnis..." jelas Dani.
"Dan sampai detik ini... saya tidak diizinkan ayah untuk beraktivitas yang berkenaan dengan sepak bola..." ujar Dani.
๐คSemua berpikir keras mengatasi permasalahan Dani.
"Ya sudah... kita coba pikirkan beberapa alternatif sehingga baik ayah... maupun kamu... tidak ada yang merasa dirugikan atau dizalimi..." ajak Fachri.
"Sekarang kita bicarakan tentang kamu dulu nih... trus kalau sekarang saya tanya... cita-citamu itu apa...?"
"Mungkin saya dan yang lain bisa membantu kamu untuk menyelesaikan permasalahan ini..." tanya Fachri.
"Saya bermimpi masuk tim nasional... berjuang membela Indonesia... mempunyai karir yang bagus di sepak bola dan bisa bermain di ajang internasional..." jawab Dani
"Sudah segitu doang cita-citamu....?"
Sekarang saya tanya... kira-kira kapan kamu bisa mencapai cita-citamu jika tidak dihalangi orang tua...?" tanya Fachri.
"Ya paling empat sampai lima tahun kedepan... Insya Allah masuk ke tim nasional Indonesia dan berbicara banyak di kancah Internasional...." jawab Dani.
__ADS_1
"Lalu kira-kira setelah tercapai cita-citamu itu... mau sampai usia berapa...?" tanya Fachri kembali.
๐คDani terdiam, dia belum tahu sampai kapan kira-kira karir sepak bolanya itu.