
π Situasi didalam kereta.
"Adem bener nih kereta..." cetus Dimas.
"Iyalah... emangnya naek truk...hehehe" sambut Faizal.
"Kok agak kosong ya?" kata Dimas.
"Mungkin karena kita ada di stasiun awal..."
"Katanya sih akan banyak yang naik di stasiun berikutnya..." jelas Faizal.
"Oh..." Dimas baru memahami situasi yang ada di dalam kereta.
TIBA DI STASIUN JAKARTA KOTA
"Ayo turun bro... kite turun..." ujar Firdaus.
"Ah... turun...?"
"Emang udah sampe...?" tanya Dimas.
"Kita transit di Kota.." jawab Salim.
Mereka pindah rangkaian kereta.
"Sudah mulai agak ramai nih..."
"Tapi Alhamdulillah...."
"Masih dapet duduk... hehehe..." bisik Dimas dalam hati.
TIBA DI STASIUN MANGGARAI
kondisi kereta mulai padat.
"Rupanya begini ya..."
"Kondisi normal nya didalam kereta..."
"Sudah mulai padat dan sesak..." kembali Dimas berbisik dalam hati.
Di hadapannya ada seorang kakek-kakek memakai tongkat yang baru saja naik di Stasiun Manggarai.
Dimas yang sedang duduk merasa tidak nyaman jika melihat kakek-kakek itu berdiri sedangkan dia tetap duduk.
"Maaf Kek..."
"Silahkan duduk..." Dimas menawarkan tempat duduknya.
"Terima kasih mas..." kata kakek.
"Lho kok kakek tau nama ku...?" tanya Dimas heran ketika kakek itu menyapa nya dengan panggilan MAS.
"Maskudnya mas atau bang..."
"Bukan Dimas..."
"Dasar Panjul..." jelas Faizal sambil mengarahkan jemarinya ke arah jidat Dimas.
"Oh... hehehe..." Dimas hanya bisa nyengirπ¬
Hampir tiap stasiun kereta itu berhenti.
"Pada mau kemana kalian?" tanya kakek itu kepada Dimas dan kawan-kawan.
"Ke Bekasi kek..." jawab Dimas.
"Kalau begitu kita sejalan..." ujar kakek.
"Rumah kakek di Bekasi...?" tanya Dimas.
"Iya... dekat stasiun..." jawab kakek.
"Kok kakek masih beraktivitas sendirian diluar rumah?"
"Tidak ada yang mendampingi...?" tanya Dimas yang merasa bingung melihat kakek itu.
"Insya Allah saya masih sanggup..." kata kakek sambil memperlihatkan otot tangannya yang mulai kendor.
π€"Udah kek... ngga usah pamer..."
"Kita percaya kok..."
π"Terpaksa..." ujar Dimas
HAHAHA.... mareka tertawa terbahak-bahak.
TIBA DI STASIUN KRANJI
πAda wanita cantik masuk dalam gerbong.
"Sini mba... silahkan duduk..." Firdaus menawarkan tempat duduk.
"Terimakasih..." sapa wanita cantik itu.
BUG
Tak sengaja bahu Firdaus membentur bahu wanita cantik itu.
Tas wanita itu terjatuh.
π"Aduh... maaf... tidak sengaja..." kata Firdaus sambil mengambilkan tas wanita itu dengan sigap.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa..."jawab wanita cantik itu.
Belum sempat kenalan.
Kereta tiba di stasiun Bekasi.
"Ayo kita segera turun..." perintah Salim.
Saat turun dan mareka berkumpul di peron, Firdaus masih terkesimah dengan kecantikan wanita yang baru dia lihat itu.
Firdaus masih memandangi wanita itu sampai pintu kereta itu tertutup.
Tidak disangka, wanita cantik itu tersenyum kepada Firdaus.
Firdaus tersipu malu.π
"Alhamdulillah..."
"Sudah sampai Bekasi nih..."
"Ada baiknya kita makan siang dulu..." perintah Firdaus.
"Siap..." semua menjawab dengan kompak.
WARTEG PUTRA BAHARI
Menjadi pilihan mereka untuk makan.
"Mba.... aku pake sambel goreng kentang..."
"Kerang... perkedel..."
"kasih kuwah sama sambel dikit ya..." pinta Firdaus.
"Aku telor balado..."
"Ikan teri... pake orek tempe..." kata Dimas kepada mba-mba yang sedang melayani di Warung Tegal itu.
Mereka makan begitu lahapnya.
Tidak banyak cakap...
Sekejap piring-piring itu bersih...
Semua isi piring berpindah ke perut mereka yang mulai bergejolak.
βΊοΈ"Alhamdulillah..."
"Enak mba... masakannya..." puji Faizal pada mba-mba yang melayani mereka saat makan.
"Langsung aja dihitung mba..."
"Saya pake terong balado..."
"Orek kacang panjang sama tempe..."
"Minumnya es teh manis..."
"Empat belas ribu..." jawab mba pelayan warteg itu.
π"Kalau saya... Kangkung..."
"Cumi... pake kerupuk..."
"Minumnya es teh manis..." jelas Bambang.
"Empat belas ribu..." jawab mba pelayan warteg itu.
π"Aku pake sambel goreng kentang..."
"Kerang... perkedel..."
"kasih kuwah sama sambel..."
"Minumnya es jeruk..." jelas Firdaus.
"Empat belas ribu..." jawab mba pelayan warteg itu.
π€"Aku bingung deh..."
"Kenapa semuanya empat belas ribu semua ya...?" bisik Dimas dalam hati.
"Aku telor balado..."
"Ikan teri... pake orek tempe..."
"Aku minum es teh manis..."
"Pasti empat belas ribu..." tebak Dimas.π¬
π±"Kok tau mas?" kata mba-mba penjaga warteg itu kaget.
"Loh... mba kenal saya toh? kata Dimas.
"Kenal?"
"Maksudnya...? kata mba-mba penjaga warteg itu makin bingung.
"Maskudnya mas atau bang..."
"Bukan Dimas..."
"Dasar Panjul..." jelas Faizal sambil mengarahkan jemarinya ke arah jidat Dimas.
__ADS_1
"Oh... hehehe..." Dimas hanya bisa nyengirπ¬
"Jadi total semuanya seratus dua belas ribu..." kata mba penjaga warteg sambil menyodorkan kalkulator sebagai alat hitungnya.
Firdaus merogoh kantong celananya.
"Waduh... kemana ya...?" bisik Firdaus dalam hati.
"Lagi nyari apa bro...? tanya Imam.
"Dompet..." jawab Firdaus.
"Maksud kamu?" tanya Imam lagi.
"Gawat... dompetku hilang..." jelas Firdaus.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un...."
"Coba kamu ingat-ingat lagi," sahut Imam.
"Terakhir kan buat bayar tiket kereta di Stasiun Tanjung Priok..."
"Bahkan saat di dalam kereta saya cek lagi masih ada..." jelas Firdaus.
"Coba kamu ingat-ingat lagi..." Saiful coba menenangkan.
"Mungkin kamu kena copet saat di kereta..." terka Dimas.
"Fix..."
"Satu-satunya yang menyenggol saya adalah wanita yang naik dari stasiun Kranji.." kata Firdaus
"Yaa Allah..."
"Terus gimana nih...? Dimas sudah mulai panik.
Mba-mba penjaga warteg itu sudah mulai berbisik-bisik kepada laki-laki tinggi besar yang sedang duduk didekat kompor.
Laki-laki tinggi besar itu berdiri dan menghampiri mereka.
"Gimana mas...?"
"Siapa yang mau bayar...?" kata laki-laki yang tinggi besar itu.
"Ehm... gini bang..."
"Ternyata tadi saya kecopetan di stasiun..." jelas Firdaus.
"Hahahaha.... lagu lama...." kata laki-laki itu.
"Udah.... sini.... ngga usah banyak cingcong..."
"Lepasin itu jam tangan..."
"Sepatu..." pinta laki-laki itu.
Akhirnya mereka dilepaskan.
namun empat tangan dan delapan pasang sepatu ditahan untuk jaminan makan siang itu.
"Waduh... apes banget ini hari..." ujar Dimas.
"Wanita cantik itu ternyata copet..." sesal Firdaus.
"Tidak perlu disesali..."
"Sekarang yang penting kita lanjutkan tugas kita ini..." Salim mengajak teman-temannya untuk tetap semangat.
"Foto... uang dan petunjuk itu..."
"Ada didalam dompet..."
"Sedangkan dompet udah raib ntah kemana..." keluh Firdaus.
SEMUA TERDIAM DI TROTOAR DEKAT STASIUN BEKASI.
"Masih adakah yang ingat siapa nama orang yang kita cari?" tanya Salim.
"Nur...."
"Nur... siapa ya...? kata Bambang.
"NUR ALI..." jawab Imam.
"Nur Ali?" Salim kembali bertanya untuk menyakinkan.
"Sepertinya bukan Nur Ali dech..." kata Faizal
"Nur Alim..." Jawab Saiful yang telah mengingatnya.
π‘"Yes... betul... Nur Alim..."
"Mending kita tanya sama orang-orang didaerah sini..." ajak Salim.
Mereka bertanya kepada setiap pejalan kaki yang melintas. Tak satupun pengenal Nur Alim.
"Kok ngga ada yang kenal ya...?" ujar Salim.
"Mungkin kebanyakan dari orang-orang yang kita tanya itu adalah pendatang..."
"Jadi ngga terlalu kenal dengan Nur Alim..." jelas Firdaus.
π’ALLAHU AKBAR....
__ADS_1
ALLAHU AKBAR....
Adzan Ashar mengarah kan mereka ke Masjid di Alun-Alun Bekasi.