OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Rayuan Maut Goyang Samba


__ADS_3

🏫 Tiba di Sekolah


Pak Andi dan yang lainnya tidak masuk ke dalam sekolah. Namun sengaja duduk-duduk di bawah pohon di pinggir lapangan sepak bola persis di sebelah sekolahan.


Ternyata Lilis membawa tikar yang cukup besar. Mereka menggelar tikar dibawah pohon seperti sedang bertamasya.


Terdengar bell dari arah sekolah. Terlihat semua siswa bergegas masuk ke dalam kelas.


Beberapa saat kemudian bermunculan dan berlarian dari arah gerbang, siswa-siswi dari dalam kelas menuju lapangan dengan memakai seragam olahraga lengkap.


Dan terlihat seseorang yang memiliki perawakan yang tinggi kisaran seratus tujuh puluh centimeteran dengan memakai seragam olahraga yang sama namun dia membawa peluit di leher nya.


PRIIIIIT....


peluit dibunyikan, seluruh siswa serentak merentangkan tangannya dan membuat barisan tanpa. Hebatnya, tidak ada kata-kata yang terucap, hanya suara peluit yang ditiupkan. Namun semua siswa patuh dengan suara peluit yang dibunyikan.


Seketika barisan pun rapi. Bahkan mereka melakukan pemanasan hanya dengan membunyikan peluit dan gerakan dari sang guru, takjubnya gerakan guru itu diikuti oleh siswa yang lain.


PRITT... PRITT... PRITT...


Pak Andi dan Fachri menyimak dan memperhatikan bagaimana guru tersebut mengajar.


"Nah itu yang Abah bilang tadi... namanya Tatang... dia mengajar di sini..." ujar Abah Udin.


"Kelihatannya dia guru yang disegani siswa-siswa nya..." kata pak Andi.


"Dia memang tipikan guru yang ditakuti siswa bahkan guru disekolah ini..." tambah Abah Udin.


Selesai mengajar Abah memanggil Tatang dari kejauhan.


"Tang... Tatang... kadieu heula..." pinta Abah Udin, bergegas Tatang menghampiri.


"Aya naon Abah...?" tanya Tatang.


"Ini ada yang mau ketemu kamu dari Jakarta..."


"Kenalkan yang ini namanya pak Andi... Ini Pak Fachri... yang ini Mbak Diana dan yang ini namanya kang Ujang..." jelas Abah Udin.


"Mereka mau ngobrol-ngobrol sama Tatang... boleh minta waktunya sebentar...?"


"Boleh... ini juga kebetulan lagi istirahat kok..." jawab Tatang.


"Ada apa Pak Andi... ada yang bisa saya bantu...?" tanya Tatang.


"Semalam Abah Udin bicara panjang lebar tentang Tatang..."


"Intinya kami sangat tertarik untuk mengajak kang Tatang ke Jakarta..."


"Kami membutuhkan tenaga kang Tatang di klub kami..." jelas pak Andi.


"Rencana tahun ini kami ingin ikut kompetisi Divisi Tiga Liga Indonesia... namun kami kekurangan pemain..." tambah pak Andi


Tatang masih terdiam, hening tak sepatah kata keluar dari mulutnya.


"Kang Tatang tenang saja... untuk gaji sudah kami siapkan lima juta perbulan, belum termasuk bonus dan lain-lain..."


"Kang Tatang kami kontrak selama tiga tahun... sangat lebih layak daripada gaji guru disekolah ini..." ujar Pak Andi.


Entah mengapa, Tatang langsung berdiri dan pamit kepada pak Andi dan yang lainnya.


"Terimakasih pak Andi atas penawaran nya..."


"Mohon maaf pak Andi... saya tidak berminat..."


"Untuk itu saya pamit dulu ingin lanjut mengajar..." ucap Tatang sambil berdiri dan langsung meninggalkan pak Andi dan kawan-kawan.

__ADS_1


🤔Semua terdiam.


"Apa ada yang salah dengan ucapan saya...?" tanya pak Andi.


"Sepertinya tidak ada yang salah..." ujar Abah Udin.


"Tapi sepertinya kang Tatang tidak suka dengan penawaran yang saya berikan..." ujar pak Andi.


"Iya... sepertinya dia tersinggung..." sela Fachri.


"Tersinggung dikata-kata saya yang mana mas Fachri...?" tanya pak Andi.


"Kalimat yang membandingkan gaji yang kita tawarkan dengan gaji yang dia terima sebagai guru..." jelas Fachri.


"Oh... begitu toh..." sahut pak Andi.


"Karakter orang ini adalah orang yang setia... dia bukan bekerja karena uang... dia bekerja dengan hati..." seru Fachri.


"Trus bagaimana...?" pak Andi memandang Fachri penuh tanda tanya.


"Kita kembali kerumah dulu... nanti saya coba bicara dengan kang Tatang sepulang sekolah..." ujar Fachri.


🏡 Dikediaman Abah Udin.


Mereka masih membahas kejadian yang tadi mereka alami. Lilis dan Diana memasak dan menyiapkan makan siang. Aromanya tercium keseluruhan ruangan.


"Lis... kamu masak apa sih..."


"Masakanmu tercium sampai sini lho..." teriak Abah Udin.


"Sebentar Abah... dikit lagi selesai..." sahut Lilis.


Setelah masakan selesai, terlihat Lilis dan Diana berusaha mendapatkan simpati dari Fachri.


"Diana ambilkan nasinya ya mas..." tawar Diana.


Fachri hanya bisa terdiam dan pasrah. Memang serba salah, memperhatikan yang satu, yang satu lagi pasti cemberut.


"Memang tak mudah punya banyak istri..." bisik Fachri dalam hati.


"Lilis duduk sebelah mas Fachri ya..." pinta Lilis.


"Diana duduk sebelah mas Fachri ya..." kata Diana.


"Iya... sini mas Fachri makan dulu ya..." ujar Fachri menghibur mereka berdua yang sudah berusaha menyiapkan makanan.


"Ujang kepanasan tuh..." cetus pak Sularjo.


"Gerah... gerah pak Larjo..." sahut Ujang meledek.


HAHAHA.... Mereka pun tertawa...😆


"Teh Lilis... selesai makan anterin mas Fachri kerumahnya Kang Tatang ya...!" pinta Fachri.


"Apa...? Mas Fachri minta dianterin Lilis...? Dengan senang hati...! seru Lilis.


"Satu kosong buat Lilis..." ledek Ujang kearah Diana.


"Dasar... kompor meleduk..." balas Diana.


"Mba Diana... Lilis antar mas Fachri dulu ya..." ujar Lilis seperti meledek Diana.


"Liliiiiiiis... awas ya kamu..." teriak Diana sambil mengejar Lilis yang terus meledek.


🏡Rumah kang Tatang tak jauh dari rumah Abah Udin. Kisaran lima ratus meteran mereka berjalan. Dalam perjalanan Lilis banyak bercerita tentang Apa Hari tunangannya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah kang Tatang.


"Assalamualaikum..." sahut Lilis sambil mengetok pintu rumah kang Tatang.


"Wa'alaikumussalam..." terdengar jawaban salam dari dalam rumah.


"Eh... Lilis... silahkan masuk..." sambut Tatang kepada mereka berdua.


"Kang Tatang kenal saya kah...?" tanya Fachri.


"Iya... pak Fachri... tadi kan sudah kenalan..." ujar Tatang.


"Maksud saya... selain itu..."


"Pernah lihat muka seperti ini kah sebelumnya...? tanya Fachri menegaskan kembali.


"Ehm.... mirip Aa Hari..." tebak Tatang.


"Hahaha... selain itu..."


"Coba kamu perhatikan..." tegas Fachri.


"Coba dikasih petunjuk..." pinta Tatang.


"Saya kasih satu kata... PERSIJA..." ujar Fachri.


"Oh... Fachrisyah..."


"Ya... Allah... beneran ini Fachrisyah...?" tanya Tatang yang begitu senang.


"Seratus buat Tatang..." seru Fachri mengacungkan jempol nya ke Tatang.👍


"Kang Tatang punya mimpi..."


"Saya punya mimpi..."


"Semua orang punya mimpi dan keinginan..."


"Namun kadang untuk mewujudkan nya tidak bisa sendiri..."


"Kadang butuh orang lain untuk menggapainya..." kata Fachri yang sengaja membuat Tatang masuk kedalam alam bawah sadarnya.


"Berpuluh-puluh tahun prestasi sepakbola Indonesia terpuruk... bahkan masih kalah dengan negara Singapura yang notabene tidak lebih besar dari Kabupaten Garut..."


"Kita butuh anak-anak muda untuk mewujudkan impian Indonesia agar dapat berbicara banyak dikancah Internasional..."


"Saya melihat banyak anak-anak muda berpotensi di Indonesia... namun tidak terjamah oleh para petinggi PSSI... dikarenakan banyak klub dan kompetensi yang tidak sehat..." jelas Fachri.


"Saya butuh kang Tatang untuk menambah kekuatan lini serang pasukan saya..."


"Saya sekarang melatih di sekolah sepakbola Harokah Football Club..."


"Saya sangat berharap Kang Tatang bisa bergabung dengan Harokah FC..."


"Untuk impian kita..." rayu Fachri.


"Untuk impian Aa Hari dan Lilis..." Lilis ikut merayu.


🤔Semua terdiam...


"Sepertinya kali ini saya tidak kuat dengan rayuan Coach Fachri dan teh Lilis..." ujar Tatang.


ALHAMDULILLAH.... Fachri sujud syukur karena Tatang bersedia bergabung dengan Harokah FC.


Pemain dengan kemampuan drible bola yang sempurna, operan bola yang akurat dan gocekan yang mematikan.

__ADS_1


Akhirnya pemilik Goyang Samba asal Garut berhasil dimiliki Harokah FC.


__ADS_2