
🥅Penjaga gawang Priok United berusaha memprovokasi Putra saat mendapat tugas sebagai algojo penalti kali ini. Mulai dari menunda-nunda kesiapan, sampai dengan protes yang tak jelas perihal bolanya tak menyentuh titik dua belas pas.
Putra sang kapten tidak bergeming. Dia ingat yang dikatakan coach Fachri. Diam dan fokus mau menendang ke mana.
Putra mengambil ancang-ancang tiga langkah dari bola.
Daaaaaan....
⚽GOOOOOL....
Dua kosong untuk keunggulan Harokah FC atas Priok United.
🥁 Suporter Harokah Football Club kembali bergemuruh.
🎼Harokah didadaku...
Harokah kebanggaanku...
Ku yakin hari ini pasti menang...
Kobarkan semangatmu...
Tunjukkan sportivitasmu...
Ku yakin hari ini pasti menang...
Ooooo...aaa.....ooooo...aaaa
Ooooo...aaa.....ooooo...aaaa
"Bodoh... bodoh..."
"Gagal total..." ujar Coach Maman sambil menendang botol air mineral yang berada di dekatnya.
PRIIIIIT....
Peluit berbunyi tanda pertandingan berakhir dengan hasil akhir dua kosong untuk keunggulan Harokah Football Club atas Priok United.
"Kerja cerdas..."
"Selamat mas Fachri..."
"Hasil yang luar biasa..." kata pak Andi.
Dan beberapa pejabat PSSI yang hadir pun memberikan ucapan selamat.
"Kayaknya delapan orang yang saya culik ke Timnas masih kurang nih..."
"Ternyata... stok pemain bagus di Harokah FC cukup banyak..." cibir salah satu pejabat di PSSI yang hadir.
Bukan hanya dari pejabat PSSI. Dari wali siswa yang hadir pun merasa puas telah menjadi bagian dari Harokah Football Club.
"Kagak salah saya sekolahin ini bocah ke Harokah FC..."
"Kenalin coach... saya bapaknya Putra..." kata salah satu wali siswa yang mengaku bapaknya Putra.
"Salam kenal juga pak..."
"Terimakasih sudah datang dan memberi semangat untuk Putra dan teman-teman..." sambut Fachri.
"Perhatian untuk seluruh siswa Harokah Football Club..."
"Harap berkumpul..."
"Kita mau foto bersama..." teriak Ujang dengan semangat.
📸Foto bersama itu mengakhiri kebersamaan mereka hari itu. Keberhasilan Harokah FC telah menyelamatkan kelangsungan sekolah sepakbola yang belum genap setahun.
"Intinya..."
"Walaupun kita dicurangi..."
"Kita tidak perlu sibuk melakukan pembelaan diri..."
"Cukup fokus dengan tujuan..."
"Dan sibuk dengan latihan..."
"Biarlah hasil yang menjawab kecurangan yang terjadi..." Diana mengingat perkataan Fachri saat itu.
🏠 Sesampainya di rumah
"Saya merekam pertandingan tadi dengan sempurna..."
"Banyak kejanggalan yang terjadi..."
"Lihat ini mas..." ajak pak Andi pada Fachri dan Diana sambil memutar beberapa adegan saat pertandingan tadi lewat laptop.
"Iya... sepertinya mereka sengaja ingin mencederai pemain-pemain kita..." ujar Diana.
__ADS_1
"Mungkinkah rekaman ini bisa untuk kita melaporkan ke PSSI..." kata Fachri.
"Mungkin saja..."
"Tapi... kita lihat saja... kedepannya..."
"Jika mereka masih berusaha menjatuhkan kita..."
"Kita buka saja rekaman ini ke PSSI..." ujar pak Andi meredam kejengkelan Fachri dan Diana saat itu.
"Mas Fachri itu bagaikan chef..."
"Yang memasak dengan bahan apa adanya..."
"Namun enak rasanya..." puji Diana.
"Wih... muji-muji..."
"Biasanya ada apa-apa nya nih..." tebak Fachri.
"Hehehe.... iya dong..."
"Aku ngga pernah diajak jalan-jalan sama mas Fachri..." ujar Diana.
"Iya... besok Pa'e ajak jalan-jalan..." kata pak Andi.
"Loh... kok Pa'e?"
"Aku maunya jalan sama mas Fachri aja berdua..."
"Pa'e ngga boleh ikut..." pinta Diana.
"Waduh..."
"Yowis... Pa'e ngga mau ikut campur..." cetus pak Andi.
Hahaha...
mereka tertawa dan bercanda sampai larut malam.
🌞 Keesokan harinya....
"Akhirnya..."
"Muncul juga..."
"Iya dong..."
"Dandannya harus spesial..."
"Kan mau jalan sama orang spesial..." goda Diana pada Fachri yang terkesan jutek.
"Kita mau kemana emangnya...?" tanya Fachri.
"Kita mau ke..."
TIIIN.... TIIIN....
"Assalamualaikum..."
"Maaf Coach..."
"Ane rada telat..."
"Isi bensin dulu..." sapa Ujang yang datang dengan pak Sularjo menggunakan mobil Ertiga.
"Wa'alaikumussalam..."
"Nah... ini dia yang kita tunggu-tunggu..."
"Ayo mas... mobilnya udah dateng..." ajak Diana.
Diana dan Fachri masuk ke mobil. mereka duduk di kursi tengah. Kursi belakang dilipat untuk kiper mereka. Sepertinya mereka akan berlibur cukup lama dilihat dari isi koper yang penuh dengan pakaian.
"Karena ane belom punya SIM A..."
"Sengaja ane ajak pak Sularjo untuk bantu nyetir..." jelas Ujang sebelum ditanya Diana.
"Emang kita mau kemana toh...?" tanya Fachri.
"Loh... emang mba Diana belum bilang...?" Ujang balik bertanya.
"Aku tadi mau jelasin..."
"Tapi kalian keburu datang..."
"Kita mau ke Cianjur..."
"Kata kang Ujang banyak tempat-tempat yang bagus..." jelas Diana.
__ADS_1
"Oh... mas mah... ikut aja dah..." kata Fachri yang pasrah mau dibawa kemana aja.
🚗Mobil melaju begitu cepat karena memang kondisi jalan yang cukup lengan di hari Senin.
"Sepertinya cuman kita nih yang liburan ke arah puncak dihari Senin..." ujar pak Sularjo.
"Lah... Iya ya..."
"Pantes lancar banget nih tol..." sambut Ujang.
"Pak Larjo... terimakasih ya..."
"Kemarin sudah bantu untuk pimpin anak-anak jadi Suporter..." ucap Fachri.
"Dari muda saya juga sering jadi koordinator suporter kok Coach..." jelas pak Sularjo
"di Persija?" tanya Fachri.
"Bukan di Persija Coach, tapi di Persebi Boyolali..." jawab pak Sularjo sambil mengingat masa lalunya.
"Pantesan kemarin meriah sekali..." puji Ujang pada pak Sularjo.
"Itu berkat Pa'e..."
"Karena kata Pa'e... Pak Sularjo sudah terbiasa jadi koordinator suporter..."
"Mangkanya kemarin sengaja Diana buatin spanduk dan bendera..." ujar Diana.
"Kalau ngobrol sama kamu tuh..."
"Aku harus bawa tali tau...!" kata Fachri.
"Kok bisa...?" tanya Diana rada bingung.
"Karena setiap kamu senyum..."
"Hati ini jatuh terlalu dalam..." canda Fachri.
"Waduh... jadi makin sayang dech aku pada mu mas..." balas Diana.
"Waduh pak Larjo..."
"Sepertinya kita jadi nyamuk nih..." ujar Ujang.
"Mending kita nyanyi aja kang Ujang..." ajak pak Sularjo.
"Nyanyi apaan pak...?" tanya Ujang.
"Nih... cakep nih lagunya..." kata pak Sularjo sambil menyetel audio mobil.
🎼"Di gunung tinggi 'ku temui..."
"Gadis manis putri paman petani..."
"Cantik, menarik, menawan hati..."
"Diana namanya, manja sekali..."
"Waktu aku mengikat janji..."
"Ku belikan cincin bermata jeli..."
"Tapi apa yang 'ku alami?"
"Paman petani marah, 'ku dibenci..."
"Diana, Diana, kekasihku..."
"Bilang pada orang tuamu..."
"Cincin yang bermata jeli itu..."
"Tanda cinta, kasih untukmu..."
Mereka bernyanyi begitu bersemangat. Membuat Diana tersipu malu. Wajar saja, karena dalam lagunya menyebut-nyebut namanya.
🏞️Tak dirasa mobil sudah sampai di daerah puncak. Mereka membuka kaca mobil karena ingin merasakan udara puncak yang sejuk.
"Nah... ini baru jalan-jalan..."
"Kaca nya dibuka dong mas..."
"Nah... kayak gini..." pinta Diana pada Fachri yang ingin merasakan udara puncak yang segar itu.
😌"Indahnya ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala..."
"Udah setengah tahun ini belum pulang-pulang..."
"Kangen suasana puncak..." ujar Ujang sambil memejamkan mata dan menghirup dengan dalam udara puncak yang sejuk dan terasa dingin.
__ADS_1