OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Cemburu Niye....


__ADS_3

πŸ€”"Ini foto Lilis dengan siapa...?" tanya Diana.


"Itu tunangan Lilis... mba..." jawab Lilis sambil merapikan beberapa barang yang ada diatas meja riasnya.


Diana makin penasaran, karena jawaban Lilis tidak selengkap harapan Diana. Diana coba memancing-mancing lagi beberapa pertanyaan yang bisa membuat Lilis bercerita banyak.


"Kapan rencana nikahnya...? tanya Diana kepo.


Lilis hanya tersenyum, Diana semakin resah. "Jangan-jangan itu foto mas Fachri...?" Diana bertanya-tanya dalam hati.


"Tapi tadi sepertinya wajah mas Fachri datar dan tidak ada respon apa-apa...!" Terbesit kejadian tadi saat Fachri dan Lilis diruang tamu.


"Mba Diana silahkan kalau rebahan disini..." ajak Lilis.


"Toilet sebelah mana...?" tanya Diana.


"Persis disebelah kamar Lilis..." jawab Lilis.


Diana bergegas ke toilet untuk mandi dan ganti pakaian. Diruang yang lain Abah Udin, pak Andi, Fachri masih belum beranjak dari kursi mereka. Pak Andi menceritakan maksud dan tujuannya berkunjung ke Garut.


"Jadi pak Andi dan mas Fachri lagi cari pemain bola ya...!"


"Tenang... besok pagi saya antarkan kalian kelapangan cobra..." ujar Abah Udin.


"Lapangan Cobra..."


"Waduh... serem amat tuh lapangan Bah!" sahut pak Andi.


"Dulu ada dua pemuda desa kami yang menjadi primadona desa..."


"Mereka pesepakbola kebanggaan desa kami..."


"Yang pertama namanya Tatang... dia playmaker yang karismatik..."


"Jenderal lapangan tengah yang disegani pemain lawan..."


"Namun sekarang dia hanya sebagai guru olahraga di sekolah dasar di desa ini..." jelas Abah Udin.


"Mengapa dia tidak melanjutkan ke tingkat profesional...?" tanya Fachri.


"Dulu ayah ibunya sakit-sakitan..."


"Memaksa dia harus segera bekerja..."


"Pemerintah kota Garut memberikan dia pekerjaan di Sekolah Dasar sebagai Guru Olahraga..."


"Namun sekarang orang tua nya sudah meninggal dunia..."


"Dan karir sepakbolanya pun terkubur dengan berjalannya waktu..." jelas Abah Udin.


"Saya jadi penasaran sama Tatang..."


"Tak sabar menunggu sampai besok..." ujar pak Andi.


"Trus yang kedua siapa Bah...?" tanya Fachri.


"Yang kedua namanya Hari... dia striker andalan desa kami..."


"Kepala dan kakinya sangat tajam... dari sudut manapun pasti bisa dia jadikan gol..." puji Abah Udin kepada Hari.


"Hari juga ngajar di Sekolah Dasar itu...?" tanya Fachri.


"Hari sudah meninggal setahun yang lalu..."


"Hari itu tunangan Lilis..."

__ADS_1


"Dan saya perhatikan mas Fachri ini mirip sekali dengan Hari..."


"Mangkanya... tadi Lilis sangat ingin dekat dengan mas Fachri..." jelas


"Lilis sangat kehilangan Hari..."


"Setiap hari dia hanya murung di dalam kamar..."


"Namun anehnya... tadi dia begitu ceria ketika melihat Mas Fachri datang..." ujar Abah Udin.


"Emang kalau dilihat sekilas... mas Fachri sangat mirip dengan Hari..."


"Namun ketika dilihat lebih dekat... memang sangat berbeda..."


"Hehehe... mungkin karena perawakannya... postur tubuh dan sisiran rambutnya sama..." kata Abah Udin yang mencoba menggambarkan sosok Hari.


πŸ—£οΈSuara Abah Udin terdengar oleh Diana yang sedang mandi. Ternyata Diana menyimak pembicaraan Abah dan yang lainnya di ruang tamu. Diana mulai resah


"Abah belum pernah melihat Lilis seceria ini semenjak setahun yang lalu..."


"Abah harap... mas Fachri bisa bantu Abah untuk menyembuhkan luka di hatinya Lilis..." pinta Abah Udin.


"Insya Allah Abah... semoga Lilis lekas pulih... dan kembali keceriaan... aamiin..." ujar Fachri memberi harapan.


"Terima kasih mas Fachri atas pengertiannya..." ucap Abah Udin.


Tak beberapa lama Diana keluar dari toilet dan langsung ke kamar. Di kamar Diana melihat Lilis sudah tidur pulas sambil memeluk foto Hari tunangannya itu.


"Kasihan Lilis... pasti sedih rasanya kehilangan orang yang cintai..."


"Sepertinya Lilis belum bisa menerima kenyataan ini..." bisik Diana dalam hati.


🌞Keesokan harinya setelah shalat Subuh, Lilis menyiapkan sarapan untuk Fachri dan yang lainnya.


"Wah Lis... lagi masak apa...?" tanya Diana.


"Boleh mba bantu...?" tanya Diana menawarkan diri.


"Paling bantu bawain piring itu aja mba..."


"Sebab ini sudah hampir selesai..." jawab Lilis.


Lilis menyajikan kopi dan nasi goreng ke pada pak Andi dan yang lainnya.


"Lilis buatkan nasi goreng spesial untuk mas Fachri..." sapa Lilis kepada Fachri


"Sebentar... sini mas Fachri cobain ya..." sambut Fachri dengan ramah.


"Gimana mas rasanya...?" tanya Lilis.


"Enak banget ini..." ujar Fachri.


"Kok bisa seenak ini... pasti pakai telur... jadi spesial..." tambah Fachri.


"Bukan hanya spesial paket telur mas Fachri... tapi spesial pakai hati..." sahut Lilis.


"Wow... bahaya nih..." cetus Fachri.


"Iya... hati ampela... hahaha..." canda Lilis dan membuat yang lain juga ikut tertawa.πŸ˜†


"Nanti jam tujuh jangan lupa ya..."


"Kita siap-siap ke sekolahnya kang Tatang..." Abah mengingatkan pak Andi dan yang lainnya.


"Mas Fachri pemain bola juga ya...?" tanya Lilis.

__ADS_1


"Kok Lilis tahu...?" Fachri balik bertanya.


"Karena mas sudah menendang-nendang hatiku..." canda Lilis.


"Aaasyiiik..." kata Fachri.


"Mas Fachri itu... dahulu adalah strikernya Persija Jakarta..."


"Namun beliau kena musibah saat di Aceh..."


"Dan sekarang sedang merintis sekolah sepak bola bersama Pak Andi di Jakarta..."


"Mereka kunjung ke Garut ini bermaksud untuk mencari pemain-pemain senior..." ujar Abah Udin.


"Seandainya Aa hari masih hidup..."


"Mungkin dia bisa bergabung dengan sekolah sepakbolanya mas Fachri..." ujar Lilis dan semua pun terdiam setahun.


"Setahun belakangan ini Lilis sering nyusahin Abah..."


"Lilis lebih banyak murung..."


"Dan sekarang Lilis sadar... bahwa yang telah pergi takkan kembali... namun Lilis harus tetap bersemangat menjalani hidup..." tambah Lilis.


"Jadi Lilis sudah move on...?" tanya Fachri.


"Insya Allah... Lilis sudah move on mas..."


"Kan sekarang ada mas Fachri..." jawab Lilis. "Waduh... kok jadi mas Fachri...?" sahut Fachri.


HAHAHAHA.... semua tertawa.


Namun tidak dengan Diana, mukanya ditekuk, sepertinya dia sangat cemburu.


Belum saja mas Fachri membalas cintanya, sudah muncul lagi saingan baru, bahkan terlihat lebih cantik dan segar dari dirinya.


"Memang Lilis mau sama laki-laki yang sudah tidak memiliki kaki ini...?" canda Fachri.


"Bagi Lilis yang penting hatinya mas Fachri..." "Lilis menerima Mas Fachri apa adanya..." sambut Lilis.


"Waduh... rupanya Diana punya saingan nih..." sindir Pak Andi pada Diana yang makin cemberut.


"Oh jadi Mbak Diana suka juga ya sama mas Fachri..."


"Maaf kan Lilis ya mbak..."


"Sebelum janur kuning melengkung... Lilis Masih boleh kan ikut bersaing..." ledek Lilis pada Diana yang makin melotot.


"Jangan dong Lis.... kan masih ada kang Ujang tuh..."


"Mas Fachri mah punya Diana..." ujar Diana.


"Waduh... aku kok dibawa-bawa ya... padahal dari tadi udah diem aja..."


"Nyerah deh kalau bicarain perempuan..."


"Kalah saya mah sama mas Fachri..." ujar Ujang.


HAHAHAHA.... semua tertawa πŸ˜†


"Lilis punya pantun buat mba Diana" Lilis coba menghibur.


Obat gigi sudah diramu... Dicampur madu biarkan larut... Selamat pagi hanya untukmu... Ayo tersenyum jangan cemberut...


"Semangat mba Diana..." ledek Lilis kepada Diana yang mekin cemberut.

__ADS_1


AAASYIIIK....πŸ‘


__ADS_2