
๐๏ธ Pagi itu di Markas Harokah Football Club
"Terimakasih mba Diana..."
"Akhirnya saya ada kerjaan... buat tambah-tambah uang jajan bocah..." kata seorang ibu-ibu yang mendapat tugas dari Diana untuk menjaga kantin.
"Sama-sama Bude..."
"Untung pak Sularjo kemarin bilang..."
"Kebetulan Diana juga emang lagi butuh orang untuk jaga kantin ini..." ujar Diana.
"Alhamdulillah... sekalian ngawasin pak Larjo..."
"Takut nikah lagi..." canda Bude Husnul yang ternyata istrinya pak Sularjo.
TIIIN... TIIIN...
Suara klakson motor dari arah gerbang, ternyata Ujang yang sengaja memberikan sapaan lewat klakson.
"Alhamdulillah... terwujud akhirnya... cita-cita Euis..." cetus Ujang yang baru datang.
"Euis...?"
"Euis siapa kang Ujang...?" tanya Bude Husnul yang bingung.
"Pacarku Bude..." sahut Ujang.
"Oh... udah punya pacar toh..."
"Kok Bude ngga pernah ngeliat...?" tanya Bude.
"Bude sering ngeliat kok...!" seru Ujang bikin penasaran.
"Masasih...?"
"Sekarang dia ada disini...?" tanya Bude makin penasaran.
"Ada..." jawab Ujang
"Mana... wong disini cuman ada Bude sama mba Diana saja..."
"Mana Euisnya...?" Bude makin penasaran.
Duduk khilaf di dalam kantin (cakep)... Lihat bude sedang kepanasan (cakep)... Mohon maaf lahir dan batin (cakep)... Bikin bude jadi penasaran (cakep)...
"Dadah Bude..."
"Ujang latihan dulu ya..." salam Ujang.
"Eh... bocah..."
"Bikin orang tua penasaran aja..." gerutu Bude saat itu
HAHAHA....
Diana dan pak Sularjo tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Ujang dan Bude.
๐Malam harinya.
"Gimana perolehan kantin hari perdana buka...?" tanya Fachri pada Diana.
"Alhamdulillah... langsung tancap gas..."
"Tapi diluar prediksi Diana..."
"Makanannya ngga laku..."
"Yang laku minuman..." ujar Diana.
"Bukan tidak laku..."
__ADS_1
"Belum laku... karena belum banyak yang tau..." kata Fachri memberikan semangat.
"Trus gimana ya besok...?"
"Tetap Diana masakin atau tidak ya...?" tanya Diana.
"Saran Mas Fachri... besok kita tetap masak... khawatir tadi sudah pada tau bahwa kita sudah buka kantin yang ada makanan nya..."
"Maka ketika kita tidak masak... maka mereka akan sangat kecewa..." ujar Fachri.
"Kalau prediksi mas Fachri begitu... oke... Diana akan masakin lagi..."
"Toh ya... jika tidak lakukan sudah ada yang siap nampung..." kata Diana sambil mengedipkan matanya kearah Fachri.
"Loh... loh... maksudnya gimana nih?"
"Jadi mas Fachri jadi tempat penampungan..." ujar Fachri.
"Hehehehe... biar mas Fachri cepet gemuk..." canda Diana.
"Wih... seru sekali ngobrol nya...." sapa pak Andi.
"Eh... Pa'e belum tidur...?"
"Sini Pa'e... kita lagi membicarakan Kantin HFC..." kata Diana.
"HFC...? apatuh HFC...?" tanya pak Andi.
"HFC itu... Harokah Football Club..."
"Alhamdulillah... lumayan ramai..." jelas Diana.
"Alhamdulillah... Pa'e turut senang.
"Oh iya... Gimana progres Harokah FC untuk daftar ke Divisi Tiga..." pak Andi kembali bertanya.
"Kemarin Diana sudah pelajari persyaratan nya."
"Secara sederhana, formulir pendaftaran tersebut diisi dengan segala macam informasi yang berkaitan dengan klub calon peserta Liga tiga..."
"Contohnya seperti profil klub, profil jajaran manajemen atau pengurus, dan juga informasi mengenai tim pelatih..."
"Yang kedua kita harus menyiapkan desain jersey... berdasarkan surat PSSI DKI Jakarta, desain jersey untuk home maupun away memang wajib disertakan..."
"PSSI DKI Jakarta nampaknya kembali bekerja sama dengan apparel tertentu untuk jadi sponsor kompetisi..."
"Nantinya, tiap klub akan dijatah jersey home maupun away selama kompetisi Liga tiga berlangsung..."
"Tujuan utama dari hal ini adalah pemerataan distribusi perlengkapan laga..."
"Karena banyak klub yang tak bisa mencari apparel sendiri..."
"Yang ketiga kita wajib melampirkan Badan Hukum Klub Terakhir... klub calon peserta Liga tiga juga diminta untuk melampirkan badan hukum... SK Kemekumham..."
"Kata mereka langkah ini diambil sebagai upaya peningkatan kualitas kompetisi maupun klub itu sendiri..."
"Di sisi lain... ini juga jadi upaya untuk menghindari dualisme atau keberadaan klub-klub siluman..."
"Sesuai peraturan... ada beberapa jenis badan hukum yang diperbolehkan... Seperti PT... Yayasan atau Koperasi...
"Namun untuk kompetisi level Liga tiga yang masih berstatus amatir ini... SK dari Askab maupun Askot masih diperbolehkan...
"Karena itu... klub yang bernaung di bawah asosiasi kabupaten maupun kota tetap diperbolehkan untuk turut serta..." jelas Diana panjang lebar.
"Kamu tidak cocok jadi suster..."
"Kamu lebih cocok jadi manager tim sepakbola..." ledek pak Andi.
"Susah memang... kalau darah sepakbola sudah mengalir dari ayah ke anaknya..."
"Meski anaknya perempuan..." ujar pak Andi.
__ADS_1
๐คDiana dan Fachri terdiam dan saling memandang. Suasana menjadi hening. Ucapan pak Andi mematahkan prasangka nya kalau Diana bukan anak pak Andi. Namun Diana belum berani menceritakan kejadian saat di Cianjur.
"Hei... kenapa mendadak kalian terdiam...?" tanya pak Andi.
Diana dan Fachri kembali terdiam.
"Pa'e... Diana boleh tanya sesuai...?" tanya Diana.
"Boleh lah... emang Pa'e pernah larang-larang...?"
"Emang mau tanya apa?" tanya pak Andi.
๐ฑDiana mengambil handphone yang sedang di ces nya. Diana coba mencari beberapa gambar yang pernah dia foto saat di Cianjur.
"Nah... Pa'e kenal benda ini milik siapa?" tanya Diana sambil memperlihatkan gambar dalam handphone nya.
Pak Andi memperhatikan dengan seksama. Dia memperbesar gambar didalam handphone itu dengan menggerakkan jempol dan jari telunjuknya.
Tiba-tiba air matanya menetes. Cukup lama pak Andi memperhatikan benda yang mirip kalung itu.
"Pa'e bisa lihat gambar yang lainnya..."
"Pa'e geser saja gambarnya..." ujar Diana.
Tidak banyak kata yang terucap. Pak Andi langsung melihat beberapa gambar yang diberikan Diana dalam handphone.
Dan pada foto terakhir emosi pak Andi semakin tidak terbendung.
"Zainaaaaaaab..." teriak pak Andi begitu keras.
Ternyata foto terakhir yang pak Andi lihat adalah makam Zainab.
Pak Andi meminta Diana untuk mengantarkannya ke Cianjur. Mereka berdua disupiri pak Sularjo meluncur ke Cianjur malam itu juga. Sedangkan Fachri dan Ujang tetap melatih seperti biasanya.
๐ Pagi harinya.
๐๏ธTIIIN... TIIIN...
Suara klakson motor Ujang.
"Akhirnya datang juga kau Jang..." ujar Fachri.
"Assalamualaikum... pagi coach..."
"Diana dan pak Andi jadi ke Cianjur?" tanya Ujang.
"Wa'alaikumussalam... jadi Jang..."
"Tadi malam diantar pak Sularjo..."
"Mangkanya kamu saya suruh jemput kesini..." ujar Fachri.
"Oh..."
"Ayo Coach... kita berangkat..."
"Tongkatnya mau ditaro depan apa belakang...?" tanya Ujang.
"Saya bawa saja..."
"Motornya masih enak juga nih tarikannya..." ujar Fachri.
"Saat beli... Ujang langsung bawa ke tukang service..."
"Mesti servicenya habis dana yang tidak sedikit..."
"Tapi puas kan pakainya..."
"Dan ini yang membuat motor ini dijual murah oleh pemilik nya..." jelas Ujang.
"Wah... untuk banyak dong...? tebak Fachri.
__ADS_1
"Yoyoi... hahahaha..." kata Ujang sambil tertawa lebar.