OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Betismu Kayak Talas Bogor


__ADS_3

๐ŸกMasih dirumah Asep di Cianjur.


"Ayo Mas Fachri... kamu bisa..." Diana memberikan semangat.


๐Ÿ˜ฐFachri masih terdiam, wajahnya pucat, tangannya tak mampu digerakkan.


"Gimana mau dimakan... wong dipegang saja tidak..." ujar pak Adik.


"Oh... sepertinya minta disuapin Diana ya...!"


"Emang... manja sekali mas ku yang satu ini..." ledek Diana.


"Coba merem makannya... mungkin bisa menghilangkan rasa jijiknya..." seru Asep.


Perlahan Fachri mencoba untuk menyendok jamur dengan sendik ditangannya, namun tangannya kaku tak mampu digerakkan.


"Ya sudah... sini Diana suapin..." ujar Diana.


Diana meraih sendok yang dipegang Fachri, dengan sigap Diana langsung menyendok jamur balado. Karena menurut Diana, Fachri sangat doyan dengan bumbu balado.


"Ini Diana pilihin jamur balado ya..." ujar Diana.


Diana mulai menyendok jamur balado, sendok mulai diayunkan ke arah mulut Fachri. Perlahan Diana memasukkan sendok yang berisi jamur balado itu ke mulut Fachri.


Jamur balado yang sudah masuk dalam mulut Fachri belum juga dikunyah. Fachri memejamkan matanya, bumbu balado mulai bereaksi dimulut Fachri.


Untungnya ibunya Asep memang jago masak, sehingga semua jenis masakan menjadi terasa enak.


"Jadi begini ya... rasanya jamur..." ujar Fachri. "Begini gimana mas...?" tanya Diana.


"Rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata... teksturnya kenyal... dibalut bumbu balado... membuat selera makan menjadi meningkat..." jawab Fachri.


"Gimana mas Fachri...? Enak toh...? tanya Pak Andi.


"Nah... sekarang cobain deh jamur crispy nya..." tambah pak Andi.


๐Ÿ˜‹Mereka menyantap semua masakan dengan lahap.


"Tadi di sepanjang perjalanan menuju mushola banyak rumah-rumah gubug... sepertinya bukan rumah untuk tempat tinggal...?" tanya Fachri pada Asep.


"Betul coach Fachri... itu tempat budidaya jamur..." jawab Asep


"Boleh lihat-lihat ke sana...? minta Fachri.


"Tentu boleh..."


"Asep akan bawa coach Fachri dan yang lainnya untuk melihat-lihat kebun jamur milik Asep..." ujar Asep.


"Asyik...." sambut Fachri.


๐Ÿ„Asep mengajak Fachri dan yang lainnya untuk melihat kebun jamur miliknya. Ternyata kebun jamur milik Asep cukup rapi. Fachri dan yang lainnya cukup terkesima dengan pemandangan jamur-jamur itu.


Diana membeli jamur krispi untuk dibawa pulang. Selepas sholat Ashar mereka bergegas meninggalkan Cianjur.


๐Ÿš Akhirnya mereka meluncur ke Jakarta. Asep ikut serta ke Jakarta karena dia memang andalan Fachri di lini depan. Namun sebelum ke Jakarta mereka memiliki agenda untuk singgah ke Stadion Pakansari Bogor, sebab di sana ada turnamen Bupati Cup.


๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ"Mba Diana kok suka dengan sepakbola...? padahal kan mba Diana perempuan...? umumnya yang suka sepakbola kan laki-laki...? tanya Asep kepo di dalam perjalanan.


๐Ÿ™†"Yang pertama... karena pemain sepakbola itu ganteng-ganteng..." canda Diana. ๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ"Ganteng-ganteng...? tergantung klub dan negaranya lah... HAHAHAHA... Iya kalau Italia... Jerman..." sanggah Asep ๐Ÿ™ˆ


๐Ÿ’"Yang kedua... karena betisnya pada gede-gede..." tambah Diana.


๐Ÿคทโ€โ™‚๏ธ"Waduh... masa sih...?" tanya Asep makin heran.

__ADS_1


"Tukang becak juga betisnya gede-gede... HAHAHA..." ujar Asep sambil tertawa terbahak-bahak.


"Coba lihat betismu Sep..." pinta Ujang.


Asep yang polos memperlihatkan betisnya kepada Diana dan yang lainnya.


"Waduh... kayak Talas Bogor..." ledek Ujang.


"Talas Bogor...?" tanya Diana.


"Iya... Talas Bogor... mba Diana sudah pernah lihat Talas Bogor kah...?" tanya Ujang.


"Belum..." jawab Diana.


"Masasih..." sahut Ujang.


"Ya sudah... ntar kan kita ke Bogor nih... nanti kita bandingin deh.... Talas Bogor dengan kakinya Asep..." ujar pak Andi.


HAHAHAHA... mereka tertawa.


"Mbak Diana belum pernah makan talas...?" tanya Ujang kembali.


"Belum..." jawab Diana.


"Ehm... kayaknya kita wajib beli Talas Bogor nih pak Sularjo..." ujar pak Andi.


"Siap bos... nanti kita mampir..." sambut pak Sularjo.


Perjalanan mereka menuju Stadion Pakansari Bogor cukup lancar. Untuk menghilangkan rasa penasaran Diana, mereka mampir untuk membeli talas goreng stik.


"Bang ini sekilo berapaan talas nya...?" tanya Ujang.


"Sekilo lima belas ribu..." jawab penjual Talas itu.


"Siap Den..." sahut pedagang Talas itu.


"Nah... ini ada Talas yang masih mentah..."


"Coba samakan dengan betisnya Asep..." ledek Ujang.


๐ŸคฃHAHAHAHA... iya ya.... Talasnya mirip betis pemain bola.


"Wah ini Diana nyindir saya nih..." kata Fachri. "Nggak gitu juga atuh... mas Fachri ku yang manis dan ganteng..." rayu Diana.


"Walaupun tanpa betis... mas Fachri sudah terlahir ganteng... ujar Diana.


"Huh... dasar bucin..." kata Ujang.


"Apatuh bucin...?" kata Pak Andi.


"Budak Cinta..." jawab Ujang


"Untungnya kita lewat puncak di hari kerja... biasanya kalau weekend macetnya parah... malah kadang buka tutup jalannya.


"Sepuluh menit lagi kita sampai di Stadion Pakansari Bogor..."


"Siap-siap ya..." ujar pak Sularjo.


๐ŸŸ๏ธ Stadion Pakansari Bogor, Perempatan Final Bupati Cup.


Fachri dan kawan-kawan membeli tiket masuk di loket utama.


"Pertandingan nya masih lama... kita cari makan dulu..." kata pak Andi.

__ADS_1


"Diana mau makan Soto Mie Bogor Pa'e..." ujar Diana.


"Tuh ada yang jualan Soto Mie..." sahut Ujang.


๐Ÿœ


"Pesan 6 porsi mang..." pinta Diana.


"Mas Fachri banyakin risolnya ya...!" seru Fachri.


"Pa'e banyakin dagingnya..." pinta pak Andi.


Udara yang dingin, membuat mereka cukup lahap makan sotonya


"Boss... aku boleh nambah nggak..." pinta Ujang pada Pak Andi.


"Boleh..." kata pak Andi.


"Maklum Boss... masih dalam masa pertumbuhan... HAHAHA..." ledek Asep.


Selepas sholat Maghrib dan Isya mereka bergegas masuk ke dalam Stadion Pakansari Bogor. Pertandingan antara Bogor Raya dengan Talas FC.


Bogor Raya memakai kostum hijau dan Talas FC memakai kostum putih. Pertandingan terlihat tidak seimbang, dan memang sepertinya Talas FC kesebelasan yang tidak diunggulkan.


Bahkan sampai dengan babak pertama, Bogor Raya mendominasi dengan tujuh puluh persen penguasaan bola, hampir tidak ada serangan yang dilakukan Talas FC.


Skor kacamata menghiasi papan skor dibabak pertama.


Walaupun diserang habis-habisan, namun uniknya belum ada gol yang tercipta.


Ternyata Talas FC memiliki Seorang Palang Pintu yang tangguh.


Dewa namanya, dia tokoh dibalik kuatnya pertahanan Talas FC. Hampir seluruh tekel yang dilakukan bersih dan nyaris sempurna.


Semua serangan Bogor Raya selalu kandas dikaki Dewa. Namun bencana pun terjadi di menit ke enam puluh delapan. Sebuah umpan terobosan mengarah ke penyerang kiri Bogor Raya. Memaksa duel seru antara penyerang Bogor Raya dengan Dewa tersaji saat itu.


Disaat yang tepat, Dewa melakukan sliding tekel yang cukup bersih. Namun keanehan terjadi.


PRIIIIIT...


Wasit meniup peluit dan mengganjar Dewa dengan kartu merah.


Rupanya diving penyerang kiri pemain Bogor Raya berhasil mengelabuhi wasit.


Protes dilakukan para pemain Talas FC, bahkan pelatih Talas FC pun mendapatkan kartu kuning.


Seperti yang sudah diprediksi setelah keluarnya Dewa. Hanya dalam waktu sepuluh menit sudah terjadi tiga gol ke gawang Talas FC.


Sampai akhirnya pertandingan usai dengan kemenangan bagi Bogor Raya dengan skor tiga kosong.


๐ŸŸ๏ธSeusai pertandingan


"Gimana coach Fachri... sudah dapet kandidat...?" tanya Ujang.


"Sudah... Saya pilih Dewa..." jawab Fachri.


"Sudah saya duga..." ujar Ujang


"Oke... saya dan Asep segera merapat ke Dewa..." kata Ujang sambil berjalan kearah ruang ganti pemain.


๐Ÿ•™ Sepuluh menit kemudian.


"Gimana Jang...?" tanya Fachri kepada Ujang yang sudah kembali dari ruang ganti.

__ADS_1


๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ"Ditolak coach..." ujar Ujang


__ADS_2