OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Berita Kepada Kawan


__ADS_3

๐ŸŸ๏ธ Masih di Markas Harokah FC.


Babak kedua dimulai, Armand dan kawan-kawan masih tertinggal kosong satu oleh tim U-15. Pertahanan U-15 masih sangat solid dan rapat, sulit untuk ditembus tim senior, setiap bola yang mengalir ke depan selalu dipatahkan pertahanan dari tim U-15.


๐Ÿค”Tim senior mulai memainkan taktiknya. Mereka memiliki keunggulan postur badan yang besar dan tinggi. Tim Senior mulai menggiring dari arah tengah lapangan, aksi individu pun mereka peragakan, duel body tak terhindarkan, sampai akhirnya umpan satu dua yang dijalankan Tim Senior kembali mampu dipatahkan oleh pertahanan Tim U-15, namun kali ini fatal, pelanggaran itu mengakibatkan Tim Senior mendapatkan hadiah tendangan bebas.


โšฝVino kembali menjadi eksekutor dari tendangan bebas itu. Namun tidak seperti biasanya, Asep, Iqbal dan Jalu sudah siap untuk menerima bola reborn karena mereka yakin tendangan Vino belum lah cukup untuk membobol gawang Ujang yang kokoh.


Vino menendang dari luar kotak penalti dengan keras, bola meluncur bebas, namun sayang, bola terbentur mistar gawang dan untungnya bola jatuh tepat berada di dada jalu, tak disia-siakan, dengan tendangan menembus ombak Jalu mampu memaksimalkan satu peluang yang dimilikinya untuk merubah kedudukan menjadi satu sama.


"Gimana teman-teman... cukup efektifkan...?" cetus Armand.


"Ya ya ya... lumayan... walaupun tidak bisa mengeluarkan kemampuan kita 100%... menghadapi lawan yang parkir bus seperti ini... namun kita tidak boleh menyerah... banyak cara untuk kita bisa menembus pertahanan mereka..." sambut Jalu.


Pertandingan semakin sengit, Tim U-15 tidak juga mau mengambil inisiatif penyerangan, mereka fix 100% bertahan, hanya sesekali serangan balik.


di menit delapan puluh tujuh, Tim Senior mendapatkan hadiah tendangan sudut, kali ini Jalu mengambil inisiatif tendangan, karena melihat Ujang agak mendekati tiang dekat, maka Jalu mencoba mengarahkan bola ke arah tiang jauh dan rupanya Ujang salah mengantisipasi pergerakan Asep yang dengan leluasa tanpa pengawalan melakukan sundulan yang mematikan.


Gol pun tercipta, dua satu untuk keunggulan Tim Senior. Dan peluit panjang tanda berakhirnya babak kedua pun berbunyi.


"Good job teman-teman...!" seru Ujang yang salut akan mental dan semangat teman-temannya.


Selepas pertandingan semua beristirahat di dekat kantin.


๐ŸŒž Di dalam kantor Harokah FC.


"Alhamdulillah..." seru Diana.


"Mantul... mantab betul... coba mas lihat..." pinta Fachri.


Diana memperlihatkan design Pamflet pada Fachri dan pak Andi.


"Wah... bagus nih... cukup lah untuk disebar ke kampus-kampus..." kata pak Andi.


"Bagus atau cukup...?" ledek Diana.


"Cukup Bagus maksudnya..." jelas pak Andi.


Diana langsung print sebanyak tiga puluh Pamflet. Pak Andi menyiapkan list universitas yang akan mereka datangi siang ini. Fachri masih membuat skenario seleksi.


Setelah selesai pak Andi dan Diana langsung meluncur ke kampus-kampus yang ada di Jakarta Utara. Sedangkan Fachri menghampiri Tim Senior yang sedang beristirahat.


"Gimana latihan hari ini...?" tanya Fachri pada Ujang dan kawan-kawan.


"Alhamdulillah... seru coach... mereka sudah mulai terlihat posisi terbaik nya..." jawab Ujang.

__ADS_1


"Bismillah... besok saya langsung melatih kalian... maka untuk yang junior besok diliburkan... untuk yang senior harus sudah kumpul di lapangan jam delapan pagi..." seru Fachri.


"Siap coach..." jawab Ujang dan kawan-kawan.


Tepat setengah dua belas latihan dibubarkan, Tim Junior pulang sedangkan Tim Senior Sholat Dzuhur dan makan siang bersama di kantin.


"Ayo... makanan sudah siap... silahkan diambil..." kata Lilis mempersilahkan Ujang dan kawan-kawan untuk makan.


"Lis... kok kang Armand ngga di ambilin makan...?" tanya Armand pada Lilis yang sedang mengambilkan makan Fachri.


"Wah Lis... ada yang cemburu tuh..." ledek Tatang.


"Lho... mas Fachri dulu dong... baru kang Armand..." kata Lilis menjawab dengan sadis.


๐ŸคฃHAHAHAHA... semua menertawakan Armand


๐ŸŽธ "Permisi mas... numpang ngamen..." kata seorang pengamen yang tiba-tiba muncul dari arah gerbang Harokah FC.


Pengamen itu langsung memainkan gitar nya.


Mengiringi Fachri dan para pemain yang sedang makan siang.


๐ŸŽผ


Perjalanan ini... terasa sangat menyedihkan... Sayang engkau tak duduk... di sampingku kawan... Banyak cerita... yang mestinya kau saksikan... Di tanah kering bebatuan...


๐ŸŽผ


๐ŸŽผ


Perjalanan ini... pun seperti jadi saksi... Gembala kecil menangis sedih...


๐ŸŽผ


Kawan coba dengar apa jawabnya... Ketika ia kutanya mengapa... Bapak ibunya telah lama mati... Ditelan bencana tanah ini...


๐ŸŽผ


Sesampainya di laut... kukabarkan semuanya... Kepada karang kepada ombak kepada matahari...


๐ŸŽผ


Tetapi semua diam... tetapi semua bisu... Tinggal aku sendiri... terpaku menatap langit...


SEKETIKA ITU PULA, semua yang ada di kantin terbawa suasana dan lagu yang dibawakan pengamen itu, sehingga semua bernyanyi bersama.

__ADS_1


๐ŸŽผ


Barangkali di sana ada jawabnya... Mengapa di tanah ku terjadi bencana... Mungkin Tuhan mulai bosan... melihat tingkah kita... Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa... Atau alam mulai enggan... bersahabat dengan kita... Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang...


๐Ÿ‘Semua tepuk tangan, lagu yang dibawakan pengamen itu mampu menghipnotis semua yang ada di kantin *untuk sama-sama bernyanyi.


Lilis menghampiri pengamen itu dengan membawa lima ribu rupiah*.


"Wah... saya mah pengamen yang ngga suka dikasih uang..." ujar pengamen misterius itu.


"Trus maunya apa?" tanya Lilis.


"Maunya ketemu sama coach Fachri..." pinta pengamen misterius itu.


Fachri langsung menoleh kearah pengamen misterius itu.


"Ada apa Teh Lilis...?" tanya Fachri.


"Ini pengamen nya ngga mau dikasih uang..." jawab Lilis.


"Wah... jarang-jarang tuh ada pengamen kayak gitu..." seru Fachri.


Fachri menghampiri pengamen misterius itu.


"Iya mas... perkenalkan nama saya Fachri..." kata Fachri memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya kearah pengamen misterius itu.


"Alhamdulillah... akhirnya ketemu juga... perkenalkan nama saya Sandy Sandiwara..." kata pengamen misterius itu sambil mencium tangan Fachri.


"Oh... Sandy dari Baabuttaubah...?" tebak Fachri.


"Iya coach... coach Fachri dapet salam dari ustadz Fadlan..." kata Sandy.


"Wa'alaikumsalam... gimana kabarnya ustadz Fadlan dan Alief...?" tanya Fachri.


"Alhamdulillah baik coach... ini ada titipan dari Alief..." jawab Sandy sambil memberikan gitar titipan dari Alief.


"Oh jadi mas pengamen ini namanya Sandy toh...!"


"Ganteng juga..." seru Lilis yang mulai move on dari Fachri.


"Wah... Lilis udah mulai tidak beres nih..." Ujar Armand yang mulai terusik dengan perhatian Lilis pada Sandy yang memang ganteng itu.


๐Ÿคฃ HAHAHAHA... sikat Lis... semua tertawa.


"Nah... kebetulan nih... kita semua lagi kumpul... silahkan kenalan trus langsung makan... nanti mereka minta bantu kang Ujang untuk mengantarkan mu ke asrama..." instruksi Fachri pada Sandy.

__ADS_1


Semua bersenda gurau di kantin. Tak butuh waktu lama untuk Sandy beradaptasi. Sandy merupakan warga asli Priok, dia yatim piatu, sejak kecil diasuh ustadz Fadlan di Yayasan Baabuttaubah.


__ADS_2