OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Persiapan Seleksi


__ADS_3

🌌 Malam hari di kediaman Pak Andi.


"Kalian pada belum tidur...?" tanya Pak Andi kepada Diana dan Fachri yang sedang ngobrol di teras.


"Belum Pa'e... Diana sedang menceritakan perjalanan kita dari kampus ke kampus tadi siang..." jawab Diana.


"Walaupun ada lebih dari dua puluh kampus... Alhamdulillah kita berhasil memasang semua pamflet di mading-mading kampus... bahkan Diana mendapatkan beberapa kontak dosen dan koordinator mahasiswa..." tambah Diana begitu bersemangat.


"Benar kata Mas Fachri... program beasiswa ini sangat diminati oleh mahasiswa... terlebih kondisi ekonomi yang tidak menentu..." ujar Pak Andi.


"Ini namanya hobi yang menghasilkan..." celetuk Fachri.


"Benar Mas... mereka bisa masih bisa kuliah... sekaligus menyalurkan hobi... ditambah mendapatkan uang saku... kalau sampo itu paket three in one...hehehe..." tambah Diana.


"Oh iya... sekilas info... tadi siang kita ketambahan pasukan... anak asuh ustadz Fadlan sudah datang... namanya Sandy Sandiwara..." jelas Fachri.


"Alhamdulillah... berarti tinggal satu nih yang belum datang..." kata pak Andi.


"Siapa Pa'e...?" tanya Diana.


"Itu... si Jabrik kan udah janji in kita pemain belakang... sebentar Pa'e telepon dulu...! seru Pak Andi.


Pak Andi mengeluarkan handphone dari saku celananya.


πŸ“±"Assalamualaikum... eh Jabrik... ente lagi di mana...?"


"Mainlah ke Priok..."


"Alhamdulillah kite semua sehat..."


"Mana nih... katanya mau ngasih ane bocah... kok kagak dateng-dateng...?"


"Nah ntuh diye... kan udah pernah ane bilang... kirim cepat dah ke sini... oke ane tunggu ye...! seru pak Andi saat menelpon Jabrik, nama lain dari Nuralim.


"Siapa tuh Jabrik...?" tanya Diana.


Itu... si Jabrik... eh Nuralim maksudnya... dia kan janji mau ngirim orang... tapi nggak ke sini-sini... ternyata katanya dia diterima jadi PNS di kelurahan... tapi dia masih sangat berminat untuk bergabung ke Harokah FC..." jawab pak Andi.


"Trus gimana Pa'e...?" tanya Diana kembali.


"Walaupun dia kerja di Kelurahan... kayaknya masih bisa diakalin jadwal latihannya... jadi besok Pa'e suruh dia kesini... moga dia bisa gabung... sebab itu bocah bisa jadi palang pintu yang tangguh untuk Harokah FC..." jelas pak Andi.


"Alhamdulillah... akhirnya pasukan kita lengkap..." ujar Fachri.


"Sekilas info nih... ternyata... beberapa mahasiswa sudah mulai pada input data di google form... ternyata online cukup efektif... lihat saja nih... sudah 35 orang yang mendaftar... kata Diana.

__ADS_1


"Itu kira-kira itu dari pamflet atau dari media sosial...?" tanya pak Andi.


"Kemungkinan dari media sosial... seperti... WhatsApp... Instagram... Facebook..." jawab Diana.


"Tuh lihat... Tiba-tiba... Instagram nya Harokah FC banyak yang follow... sudah mulai viral nih..." ujar Diana.


"Kalau yang di mading pasti baru terbaca besok pagi... sebab tadi nempelinnya sudah sore..." tambah Diana.


Malam itu mereka masih berbincang-bincang di teras, wedang jahe buatan Diana menemani malam itu di teras kediaman Pak Andi.


πŸŒ„ Keesokan harinya di markas Harokah FC.


Tim Senior sudah mulai pemusatan latihan, latihan langsung dipimpin oleh Fachri, sehabis pemanasan, semua melakukan ritual lari dua kilo meter sebagai menu wajib latihan harian, tentu datanya sebagai pertimbangan Fachri menentukan siapa yang berhak masuk dalam line up utama.


Dua kilometer itu harus mereka capai dalam waktu tidak lebih dari delapan menit.


Pagi itu Tim Junior diliburkan, semua fokus pada Tim Senior. Tepat jam sepuluh latihan dihentikan.


"Latihan hari ini cukup..." ujar Fachri.


"Wah... tumben coach jam segini selesai..." celetuk Armand.


"Latihannya memang selesai... tetapi dua jam ke depan kita meeting persiapan seleksi sampai makan siang..." jelas Fachri.


"Jam satu siang mereka sudah mulai registrasi ulang..." jawab Fachri.


Ujang dan kawan-kawan beristirahat dan berkumpul untuk meeting di area kantin. Fachri membagikan modul penilaian yang berhasil dia buat kemarin seharian.


"Silahkan kalian baca modul penilaian ini... saya kasih waktu sepuluh menit... setelah itu saya akan jelaskan apa yang harus kalian lakukan..." Jelas Fachri.


Ujang dan kawan-kawan menyimak modul yang diberikan. Diana menyiapkan proyektor dan laptop untuk media presentasi Fachri siang itu.


"Saya akan bagi empat pos seleksi..."


"Pos satu adalah pos fisik... saya yang akan pegang pos satu... isinya penjelasan tentang seleksi dan lari dua kilometer tidak kurang dari delapan menit... jika kurang maka otomatis gugur dan tidak bisa lanjut ke fase berikutnya..."


"Pos kedua adalah pos pinalti... Ujang... Iqbal dan Asep yang akan jaga pos ini... silahkan kamu nilai bagaimana cara mereka menangkap dan cara mereka menendang... setiap peserta dapat kesempatan menendang lima kali tendangan..."


"Pos ketiga adalah pos palang pintu... saya tugaskan ke Tatang... Bayu dan Dani... penilaian nya akurasi umpan jarak jauh dan kemampuan menghentikan bola..."


"Pos ke empat adalah pos gelandang... yang tugasnya disana Jalu... Armand... Vino dan Sandy... penilaian nya adalah umpan silang... tendangan sudut dan tendangan bebas..."


"Nanti tiap peserta akan diberikan kartu seperti ini..." jelas Fachri sambil memperlihatkan sebuah kartu penilaian.


"Ada pertanyaan...?" tanya Fachri.

__ADS_1


"Iya coach... saya izin bertanya... jadwal kita makan kapan ya coach...?"


"Sebab... masakan teh Lilis sudah menggoda perut kami coach..." ujar Armand.


😜 HAHAHAHA.... semua tertawa.


"Betul itu mas Fachri... mending kita makan dulu... ini Lilis ambilin makan... spesial untuk mas Fachri..." goda Lilis pada Fachri yang sedang serius menjelaskan teknis pelaksanaan seleksi.


"Kok coach Fachri doang Lis..."


"Aku ngga di ambilin...?" tanya Armand dengan nada cemburu.


πŸ˜‹Meeting siang itu ditutup dengan menu makan siang khas masakan Lilis dan Bude Khusnul.


Tiba-tiba muncul sosok laki-laki tinggi besar berpakaian dinas PNS menghampiri Lilis.


"Maaf mba... apakah benar ini sekolah sepakbola Harokah FC...?" tanya laki-laki itu.


"Iya mas... benar... ada yang bisa saya bantu...?" jawab Lilis dan balik bertanya.


"Saya mau ketemu coach Fachri..." jawab laki-laki itu.


Lilis membawa laki-laki itu ke dalam kantor.


"Assalamualaikum..." salam Lilis sambil mengetok pintu kantor Harokah FC.


"Wa'alaikumsalam... iya masuk..." sambut pak Andi yang duduk didekat pintu.


"Maaf pak Andi... ini ada yang mencari mas Fachri..." ujar Lilis.


"Oh... iya silahkan duduk... coach Fachri lagi di toilet sebentar... terimakasih teh Lilis ya..." kata pak Andi.


"Iya pak... Lilis lanjut ke kantin ya..." sahut Lilis.


Ternyata dia adalah Center Bek yang dijanjikan Nuralim. Namanya Wahyu Wahyudi, asal dari Bekasi. Dia masih aktif bertugas di kelurahan Kayuringin Jaya Kota Bekasi. Bahkan saat datang ke Kantor Harokah FC pun dia masih memakai seragam dinas.


Setelah sekian menit mereka berbincang-bincang, makan siang dan Sholat Dzuhur. Fachri mengumpulkan semua panitia seleksi di lapangan. Diana muncul dengan membawa Jersey baru dan langsung membagikan kesemua panitia seleksi.


"Silahkan kalian pakai Jersey nya..."


"Dan langsung ke posisi pos nya masing-masing..."


"Untuk Wahyu bantu saya di pos satu..."


πŸ—£οΈ"Siap coach..." teriak semua panitia.

__ADS_1


__ADS_2