OFFSIDE - Diluar Batas

OFFSIDE - Diluar Batas
Tahu Gejrot Rasanya Ikan


__ADS_3

👶"Gimana Qowi... siapkan?" tanya Fachri.


"Siap... Coach..." jawab Qowi dengan penuh keyakinan.


Ilham bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil bola dan sepatu bolanya. Melihat Qowi yang begitu bersemangat, Ilham pun coba meladeni tantangan tendangan penalti Qowi.


"Ayo dua-duanya pemanasan dulu... biar tidak terjadi cidera..." ujar Fachri.


Qowi dan Ilham melakukan pemanasan sebelum memulai tendangan penalti. Cukup satu gol saja dari lima kesempatan tendangan yang diberikan untuk mendapatkan hadiah sepatu bola dari Fachri.


Walaupun Ilham bukan kiper, namun dia adalah pemain belakang yang sangat handal. Jadi pasti sangat sulit untuk membobol gawangnya nanti. Bahkan jika yang nendang dari pemain profesional sekalipun belum tentu mudah membobolnya.


Apa lagi ini adalah bocah usia kisaran sepuluh tahun yang cuman bermodalkan semangat. Semangat untuk menggapai impian memiliki sepatu bola. Fachri terenyuh ketika Qowi rela bekerja hanya untuk meraih impiannya membeli sepatu bola.


Qowi mulai menendang, namun tendangannya sangat pelan, sehingga mudah diatasi Ilham.


"Mananih...? Tendangannya letoy..." ejek Ilham memprovokasi Qowi.


😡Qowi jadi panas, dia langsung menendang bola yang kedua.


Ternyata masih cukup mudah diatas. Ilham memang sudah paham jika anak sekecil itu tidak mungkin memiliki tendangan yang keras. Maka Ilham mengambil strategi untuk menunggu bola, setelah bola ditendang baru dia bergerak, karena laju bola tidak secepat gerakannya Ilham.


"Mas Qowi... tendanganmu terlalu lemah..."


"Boss Ilham sudah tahu tuh... kamu pasti memiliki tendangan yang lemah... makanya dia baru bergerak setelah kamu menendang... jadi tidak ada cara lain... kamu harus menendang lebih keras lagi." ujar Fachri.


Tendangan ketiga Qowi coba menendang lebih keras, namun kerasnya tendangan koi belum mampu membobol gawang Ilham.


⚽"Oke Qowi... lebih keras lagi..."


"Coba kamu tendang pakai ujung kakimu..." "Tendangnya yang keras... fokus perhatikan bolanya... jangan gawangnya... ambil ancang-ancang empat sampai lima langkah ke belakang..." perintah Fachri.


Qowi melakukan apa yang diinstruksikan oleh Fachri. Lima langkah ke belakang diambil untuk ancang-ancang, lalu dia mencoba melangkah ke depan dengan cepat mengayunkan kaki kanannya dan luar biasa tendangan yang begitu cepat keras dilesakkan oleh Qowi. Namun tetap, Ilham mampu untuk menepis bola karena tepat berada di atas kepalanya.


Empat tendangan belum menghasilkan gol kesempatan terakhir dimiliki oleh Qowi untuk mendapatkan hadiah sepatu bola dari Fachri.


"Oke Qowi... tadi sudah bagus... dipertahankan... lakukan lagi semoga kali ini berhasil..." ujar Fachri memberikan dorongan semangat.


Qowi melakukan hal yang sama, kembali dia mengambil ancang-ancang lima langkah dari belakang dia melangkah ke depan mengayunkan kaki kanannya dan....


Oh rupanya Qowi agak terpeleset.🤦‍♂️


Namun bola itu sempat dia tendang dan cukup keras. Membuat bola itu melintir. Bola yang melintir itu membuat Ilham terkecoh tak disangka gol pun tercipta karena Ilham sudah salah langkah.🤭


"Wah kamu curang Wi... kok tendanganmu bisa begitu..." keluh Ilham.


"Hehehe... aku terpeleset Boss... tapi Alhamdulillah... jadi gol..." ledek Qowi.


🤣HAHAHA... Fachri dan Qowi tertawa lepas.


"Seperti yang sudah saya janjikan... Qowi akan saya kasih sepatu bola..."


"Sekarang kita bersih-bersih dulu... habis shalat Dzuhur kita ke pasar beli sepatu bola..." ucap Fachri.


Sehabis shalat Dzuhur mereka pergi menuju ke pasar. Terlihat wajah Qowi berseri-seri. Keinginan yang kuat diimbangi dengan kerja keras yang hebat mewujudkan mimpi-mimpi nya menjadi kenyataan.


"Eh Wi... senang sekali kau ini..." ledek Ilham.


"Iya dong Boss..." sahut Qowi nanggapin ledekan Ilham.

__ADS_1


💰"Karena kamu berhasil bobol gawangku... ini seratus ribu untukmu..."


"Wah... terima kasih Boss..." ujar Qowi sambil mengecup tangan Ilham.


"Terimakasih juga buat Coach Fachri atas hadiahnya..." tambah Qowi.


Setelah berterimakasih Qowi bergegas meninggalkan Fachri dan Ilham.


"Gimana bro... berubah pikiran nggak...?"


"Kalau kamu ikut... wah... ane bakal seneng banget nih..." ujar Fachri yang terus merayu Ilham untuk menemaninya mencari pemain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


"Iya nih bro... mohon maaf banget... kali ini ane belum bisa bantu banyak..."


"Ane udah janji ke istri tercinta untuk meninggalkan aktifitas sepakbola..." kata Ilham.


"Trus aku piye..." ujar Fachri.


"Tenang bro... ini ada beberapa kontak handphone yang bisa ente hubungi... moga bermanfaat..." hibur Ilham pada Fachri yang sedang gundah gulana.


"Yo... wis... terimakasih banyak atas empal gentong nya ya..."


"Kite lanjut perjalanan dulu..."


"Jangan lupa... mampir-mampir ke Jakarta..." ujar Fahri saat pamit pada Ilham


🚐"Coach Fachri... gimana kalau kita mampir dulu ke Keraton Kasepuhan Cirebon ...?"


"Mumpung udah sampe sini..." rayu pak Sularjo.


"Boleh pak Larjo... diatur aja..." sambut Fachri.


Nah... kebetulan juga sudah masuk sholat Ashar..." ujar pak Sularjo.


"Tahu gejrotnya den..." tawar seorang pedagang tahu gejrot khas Cirebon.


"Boleh bang... bikin dua porsi ya..." sahut Fachri.


"Dibungkus atau makan disini...?" tanya tukang tahu gejrot.


"Makan disini saja..." jawab Fachri.


TIBA-TIBA... KRIIIING...


Suara handphone pak Sularjo berbunyi.


"Halo bue... ada apa...?" tanya pak Sularjo pada istrinya yang sedang menelepon sambil di loud speaker.


"Kok berisik sekali mas... emang lagi di mana...?" tanya Bude Khusnul.


"Lagi di pinggir abis Sholat Ashar... sekalian makan tahu gejrot..." jawab pak Sularjo.


"Tahu gejrot rasanya ikan... Sudah gembrot sukanya makan..." ledek Bude Khusnul.


"Tahu gejrot tumpah ke baju... Biar gembrot tapi lucu..." sambut pak Sularjo


"Bisa ae mas se...." cetus Bude Khusnul.


"Tahu gejrot rasa jamu... Walau gembrot saya suamimu..." tambah pak Sularjo.

__ADS_1


"Udah sampe mana mas...? tanya Bude Khusnul


"Baru sampe Cirebon..." jawab pak Sularjo


"Aku kira sudah sampe Wonogiri..." tebak Bude Khusnul.


"Wah... masih jauh... ini kan mampir-mampir ke beberapa tempat dulu..."


"Paling sampai Wonogiri kisaran Minggu depan..." jelas pak Sularjo.


"Oh... Yo wis... tadinya mau titip ambil barang... kalau begitu minta dipaketin aja..." ujar Bude Khusnul.


"Hati-hati dijalan ya mas..." tambah Bude Khusnul


"Iya... Insya Allah..." sahut pak Sularjo.


"Bang... aku nambah lagi..." pinta Fachri.


"Siap..." sahut tukang tahu gejrot.


"Doyan apa laper Coach...?" ledek pak Sularjo.


"Kalau yang ini fix... Doyan... lagi pula... kenapa ya bang... kok jualannya pakai piring kecil...?"


"Emang ngga ada piring yang besar...?"


"Piring sekecil ini mah... ngga nendang..." ujar Fachri.


"Hehehe... bisa aja mas ini... emang bola di tendang..." sahut tukang tahu gejrot sambil meracik satu porsi tahu gejrot.


"Ini mas... tahu nya..." kata tukang tahu gejrot sambil memberikan satu porsi tahu gejrot pesanan Fachri.


"Udah lama dagang tahu gejrot bang...?" tanya Fachri.


"Sudah dua tahun yang lalu... sejak nikah..." jawab tukang tahu gejrot.


"Oh... sudah berkeluarga toh... anak sudah berapa...?" Fachri kembali bertanya.


"Belum punya... namun istri saya sedang hamil... ini bulan ke tujuh usia kandungannya..." jelas tukang tahu gejrot.


"Selamat ya... semoga lancar proses persalinan nya nanti..." Do'a Fachri.


"Aamiin..." sahut tukang tahu gejrot.


SAMBIL DUDUK-DUDUK SANTAI MEREKA BERSENDA GURAU MEMANDANGI ALUN-ALUN KOTA CIREBON.


"Sudah lama di Cirebon bang...?" tanya Fachri.


"Saya lahir di Cirebon..." jawab tukang tahu gejrot.


"Kok namanya CIREBON ya...?" tanya Fachri.


😱"Ada-ada aja Coach Fachri nanya nya... hahaha..." cetus pak Sularjo.


"Tidak apa-apa pak... hehehe..."


"Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari... Cirebon mulanya adalah sebuah dukuh kecil yang awalnya didirikan oleh Ki Gedeng Tapa... yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah perkampungan ramai dan diberi nama CARUBAN..."


"Nah... dinamakan CARUBAN karena di sana ada percampuran para pendatang dari berbagai macam suku bangsa... agama... bahasa... adat istiadat... latar belakang dan mata pencaharian yang berbeda... Mereka datang dengan tujuan ingin menetap atau hanya berdagang..."

__ADS_1


"Karena awalnya hampir sebagian besar pekerjaan masyarakat adalah sebagai nelayan... maka berkembanglah pekerjaan lainnya... seperti menangkap ikan dan rebon... rebon itu udang kecil... di sepanjang pantai yang bisa digunakan untuk pembuatan terasi... Lalu ada juga pembuatan petis dan garam...


"Nah... Air bekas pembuatan terasi inilah akhirnya tercipta nama CIREBON yang berasal dari Cai dan Rebon... cai itu air dan rebon itu udang kecil... yang berkembang menjadi CIREBON yang kita kenal sekarang ini..." jelas tukang tahu gejrot dengan nada serius.


__ADS_2