
"Iya... Si JABRIK kami memanggil NURALIM..." ujar marbot masjid itu.
🤝"Nama saya Baim..."
"Saya koordinator suporter The Jack Mania..." kata marbot masjid itu sambil menyodorkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
"Saya Imam..."
"Senang berkenalan dengan pak Baim..." ujar Imam.
"Panggil saja saya bang Baim..." kata marbot masjid itu yang usianya kisaran tiga puluh tahunan.
"Siap.... bang Baim..." sahut Imam.
"Bang Baim kenal NURALIM?" tanya Imam.
"Bukan hanya kenal..."
"Si JABRIK emang idola nye orang Bekasi..." jawab bang Baim dengan logat betawi.
"Alhamdulillah...."
"Akhirnya terbuka juga misteri perjalanan dihari ini..." kata Imam sambil mengusap mukanya dengan kedua tangan nya.
"Bagaimana awal mula NURALIM dijuluki 'Si Jabrik'? tanya Imam penasaran.
"Jabrik itu... panggilan orang tua nya sejak kecil..."
"Itu karena rambut nya lebat... hitam...dan kayak landak..." jelas Bang Baim.
"NURALIM juga pernah main di Persija ya? tanya Imam.
"Iya... dia pernah main di Persija..."
"Namun si Jabrik bukan binaan dari Persija..."
"Kemampuan nya malah digembleng saat dia di Bandung Raya..."
🎖️"Bahkan dia juga pernah menjadi pemain terbaik waktu itu di Final Liga Indonesia...."
"Walaupun Bandung Raya kalah dari Persebaya di final..."
"Tapi dia dapat predikat pemain terbaik pada pertandingan tersebut..." jelas Bang Baim.
"Setelah hengkang dari Bandung Raya..."
"Kenapa ke Persija dan bukan Persib Bandung?" tanya Imam yang mulai asyik mendengarkan kisah sang legendaris.
"Dia jadi rebutan Persija dan Persib..."
"Waktu itu, Gubernur DKI Jakarta berambisi untuk menjadikan Persija sebagai Dream Team Metropolitan...."
"Akhirnya, pemain-pemain inti plus pelatih Bandung Raya diborong ke Persija secara paketan..." ulas Bang Baim mengenang perjalanan NURALIM
"Pantes...bang Baim sangat mengenal NURALIM..."
"Dan pasti banyak kesan dengan NURALIM bagi Jakmania ya?" komentar Imam pada bang Baim.
"Saking cintanya kita pada si Jabrik..."
"Kite sampe buatin lagu buat dia..." jelas Bang Baim.
__ADS_1
"Gimana tuh lagunya...? tanya Imam.
"Sebentar gue nyanyiin..."
"Gini nih... lagunya..."
🎼"Anak The Jak asyik-asyik..."
"Anak singa makin asyik...."
"Persija main cantik..."
"Dipimpin kapten Jabrik..."
"Sudah pasti yang terbaik..." bang Baim menyayikan lagu itu dengan nada yang tidak terlalu merdu.🤭
"Itu dulu kalau Persija main di Lebak Bulus...
"Kalo si Jabrik udah maen..."
"Kagak bakal ada pemain yang bisa lewatin NURALIM..."
"Sepertinya bang Baim itu PERSIJA SEJATI..." ujar Imam.
"Yoi...."
"Saya suka Persija sejak dua ribu satu..."
"Saat itu Persija banyak menyumbang pemain di Tim Nasional Indonesia..." kenang bang Baim.
Nah.... dari tadi kan ceritanya di Bandung Raya dan Persija..."
"Trus beliau tidak pernah memperkuat tim dari Bekasi?" tanya Imam.
"Awalnya beliau di PS Bekasi Putra.... lalu di Persikasi Kabupaten Bekasi..."
"Lalu hijrah ke Bandung Raya dan Persija..." jelas Bang Baim.
"Tak sabar saya menunggu sampai besok pagi..."
"Besok anterin kami ke NURALIM ya...!" pinta Imam pada Bang Baim.
"Okeh..."
"Yaudah.... sekarang tidur dah...."
"Biar Subuh nya ngga kesiangan..." ajak bang Baim.
😴Tak beberapa lama Imam terlelap...
Sampai dengan adzan Subuh membangunkan mereka dari tidur.
🍛Nasi uduk khas Bekasi mengisi perut mereka yang berteriak keras.
"Terimakasih pak Haji atas traktiran nya..." ujar Firdaus.
"Asal jangan sering-sering aja..." kata Haji Nurali.
😆HAHAHAHA....
"Gimana... sudah siap ketemu NURALIM?" tanya bang Baim.
__ADS_1
"Siap...." jawab mereka dengan kompak.
Mereka dibawa ke lapangan sepakbola tak jauh dari lokasi sarapan nasi uduk pagi itu. Akhirnya mereka bertemu dengan orang yang di instruksikan coach Fachri.
NURALIM seorang legendaris persepakbolaan di Indonesia. Palang pintu yang sulit ditembus para penyerang lawan. Saat kedelapan kapten itu datang, mereka langsung diberikan tantangan untuk bertanding dengan tim asuhan NURALIM di lapangan mini soccer.
Delapan melawan delapan, pertandingan yang menarik di pagi hari itu. Anak-anak binaan dari NURALIM terkenal dengan gaya permainan Tim Nas Italia yaitu Catenaccio.
Catenaccio adalah seni bermain sepakbola dengan pola bertahan. Dan mengandalkan serangan balik yang sangat cepat. Terbukti, sudah hampir dua puluh menit, tim asuhan NURALIM belum kebobolan.
Firdaus dan kawan-kawan mengepung pertahanan tim asuhan NURALIM dari berbagai arah. Sampai dengan usai babak yang pertama.
Lanjut babak kedua, Firdaus dan kawan-kawan seperti nya sudah mulai terpancing mengurung anak asuh NURALIM yang sudah mulai menyiapkan perangkap nya.
"Danies... ayo kita serang dari kanan..." ujar Firdaus yang sudah mulai jenuh dengan taktik yang dijalankan.
"Siap.... ayo kejar nih..." Danies melihat Firdaus yang mendapatkan ruang kosong ke arah sudut area dan sehingga bola langsung dia cocor.
Baru satu dua langkah... Firdaus membawa bola.... tiba-tiba bola dan kakinya langsung dihajar oleh pemain belakang tim asuhan.
"Sepertinya kita tidak bisa meleng nih..."
"Baru Meleng lima detik..."
"Mereka langsung pressure bahkan berani Sliding tackle..." jelas Saiful.
Bola yang di tackle itu langsung direbut dan ditendang kearah tim pertahanan besutan Coach Fachri. Dan didepan sudah menunggu striker andalan tim asuhan NURALIM.
Dengan bermodalkan sprint dan satu dua kali sentuhan, striker asuhan NURALIM mampu membobol gawang Salim yang terkenal tangguh.
Dan pertandingan pun berakhir dengan kekalahan kosong satu untuk tim besutan Coach Fachri. Mereka pun berkumpul, mendengarkan dan mendapatkan banyak pengalaman yang berharga hari ini, dari sang legendaris Indonesia.
"Sepatu yang tadi kalian pakai..."
"Tidak perlu kalian kembalikan..."
"Karena itu hadiah dari saya untuk kalian..." kata sang legendaris
"Alhamdulillah...." mereka serempak mengucap syukur karena banyak hal yang sudah mereka terima pagi hari itu.
"Kesuksesan bukanlah suatu kebetulan, itu adalah hasil dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan dan yang terpenting rasa cinta atas yang kau lakukan dan yang kau pelajari." tambah sang legendaris.
Firdaus dan kawan-kawan akhirnya pamit dan dicarterin angkot untuk membawa mereka pulang kerumah. Mereka hanya bisa tersenyum, akan kisah yang mereka alami dua hari petualangan mereka.
Senyum haru seakan sedang bermimpi. Mereka sudah tidak sabar untuk menceritakan kisa ini kepada coach Fachri dan teman-teman nya di markas Harokah Football Club.
🎼Lagu Meraih Bintang menemani mereka dalam perjalanan pulang.
Setiap saat, setiap waktu... Keringat basahi tubuh... Ini saat yang kutunggu... Hari ini kubuktikan
Kuyakin aku 'kan menang... Hari ini 'kan dikenang... Semua doa kupanjatkan... Sejarah kupersembahkan
Terus fokus satu titik... Hanya itu, titik itu... Tetap fokus kita kejar... Lampaui batas
Terus fokus satu titik... Hanya itu, titik itu... Tetap fokus kita kejar... Dan raih bintang
🚌"Sepertinya teman-teman ku pada kecapean..."
"Lelap sekali mereka tidur diangkot..."
"Petualangan ini sangat berkesan..."
__ADS_1
"Terimakasih Coach Fachri..." bisik Firdaus dalam hati, sambil memandangi teman-teman nya yang tertidur pulas.😴