
ποΈ Situasi di Markas Harokah FC.
Dona dan Doni terlihat sangat senang sekali. mereka berlarian di lapangan sambil menggiring bola. Bahkan Ujang dan yang lainnya yang sedang berlatih pun turut meladeni Dona dan Doni yang sedang bermain.
Sedangkan Giea dan Fachri duduk di kantin sambil menikmati secangkir teh yang dibuatkan Lilis.
"Ini tehnya Mas Fachri...!" seru Lilis.
"Terimakasih Teh Lilis..." sambut Fachri.
"Ini siapa mas...?" tanya Lilis pada Fachri sambil melirik ke arah Giea.
"Oh iya... maaf Mas Fachri belum sempat memperkenalkan ke Teh Lilis..."
"Nah... kenalin... ini yang namanya mba Giea dari Slawi yang waktu itu sudah menyelamatkan nyawa Mas saat terjadi saat kecelakaan di Tegal bulan lalu..." jawab Fachri.
"Oh... wanita ini yang namanya Giea..."
"Pantas saja... mba Diana ketar-ketir... takut kehilangan mas Fachri..."
"Wajar sih... karena mba Giea memang terlihat cantik..."
"Dan sepertinya dia orang kaya dan terpelajar..." bisik Lilis dalam hati.
"Hus... kok jadi bengong..." hentak Fachri saat Lilis melamun terkesima dengan kecantikan Giea.
"Hai Teh Lilis... perkenalkan nama saya Giea..." salam Giea.
"Iya mba Giea... salam kenal..." sambut Lilis sambil menjabat tangannya Giea.
"Terima kasih ya... tehnya ini enak banget loh..." puji Giea.
"Sama-sama mba Giea... dicicipi ini juga ya... ada gorengan dan kue buatan Lilis.
"Oh iya... Lilis lanjut masak ya..."
"Mas Fachri... mba Giea... Lilis tinggal dulu ya..."
"Sebab Lilis mau masak dulu..."ujar Lilis.
Seketika suasana menjadi hening, lebih dari satu menit Fachri dan Giea terdiam. Giea melihat Fachri sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Sepertinya Mas Fachri lagi tidak baik-baik saja ya...?" tanya Giea.
"Alhamdulillah kalau mas Fachri Insya Allah baik-baik saja... namun kemarin Harokah FC baru kena musibah... jawab Fachri.
"Musibah apa mas...?" tanya Giea kembali.
"Kemarin pagi Pak Andi ditabrak motor..."
"Kejadiannya saat selesai mengumumkan seleksi pemain..."
"Bahkan rencananya saat itu Pak Andi mau langsung mendaftarkan Harokah FC ke Liga Tiga..."
"Namun tiba-tiba ada motor yang menyambar Pak Andi..."
"Pak Andi terpental dan tak sadarkan diri sampai saat ini..." jelas Fachri.
"Lalu bagaimana sekarang kondisi Pak Andi...?" Giea kembali bertanya.
__ADS_1
"Sekarang Pak Andi masih di ICU... mba Diana yang menunggu di sana..." jawab Fachri.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun... pantas saja... Pak Andi dan mba Diana dari tadi tidak terlihat..." ujar Diana.
"Itulah yang membuat mas Fachri resah... pasalnya hari ini adalah batas terakhir pendaftaran Liga Tiga..." keluh Fachri.
"Loh... bukannya kemarin pak Andi mau daftarin... berarti berkasnya aman dong...?"
"Ayo Giea anterin...!" seru Giea.
"Iya... sebenarnya semua syarat sudah lengkap... namun dananya kan di pegang pak Andi..."
"Saya tidak tega untuk meminta nya..." ujar Fachri.
"Berapa biaya pendaftaran nya mas...?" tanya Giea.
"Seratus lima puluh juta..." jawab Fachri.
"Kalau begitu... kita berangkat sekarang... masalah biaya biar Giea yang bantu... yang penting Harokah FC bisa masuk kompetisi tahun ini..." seru Giea.
Fachri terdiam, matanya tak kedip memandang kearah Giea.
"Mas... mas Fachri... ayo kita berangkat..." tegur Giea menyadarkan Fachri dari lamunannya.
Giea menggandeng tangan Fachri untuk segera melangkah.
Fachri mengajak Ujang untuk mendampingi nya. Giea mengajak Dona dan Doni naik kedalam mobil.
Tak berapa lama Alphard Hitam itu meluncur keluar dari Markas Harokah FC.
ποΈ Situasi di Markas Priok United.
"Eh Codet... ku lihat-lihat senang sekali kau pagi ini...!" seru Coach Maman pelatih Priok United.
"Nah... gue demen nih yang kayak gini..." celetuk Coach Maman.
"Jadi gini boss... kemarin lusa... saya bertemu seseorang yang lagi punya masalah sama Harokah FC..."
"Namanya Sony..."
"Singkat cerita... dia mau kerja sama dengan saya untuk menghancurkan Harokah FC..."
"Kemarin pagi setelah Harokah FC mengumumkan dirinya akan daftar ke Liga Tiga... saya dan Sony melihat peluang untuk membuat Harokah FC bubar..."
"Kite sengaja tabrak pak Andi sampai dia terpental dan tak sadarkan diri..."
"Bahkan kabarnye sih... pak Andi masih kritis diruang ICU..." jelas Bang Codet.
"Lho yakin kan... kagak ada yang ngeliat...?"
"Ngga ada CCTV di dekat area Markas Harokah FC kan...?" tanya Coach Maman untuk memastikan.
"Beres Boss..." jawab bang Codet.
"Trus gue tahu kenapa lho ngincer pak Andi..."
"Secara gitu... pak Andi kan sumber keuangan mereka..." tebak Coach Maman.
"Betul banget tuh boss..." sambut bang Codet.
__ADS_1
"Pantesan... nama Harokah FC tidak tercantum di website resminya PSSI waktu gue liat pagi tadi..."
"Padahal siang ini adalah batas akhir pendaftaran...!" seru Coach Maman.
πBang Codet dan Coach Maman tertawa begitu lepas.
π₯ Kondisi di Rumah Sakit.
Diana mencoba untuk menghubungi Fachri, setelah Diana sadar bahwa hari ini adalah hari terakhir pendaftaran Liga Tiga.
"Ini handphone Mas Fachri kenapa tidak aktif ya...?" Diana bertanya - tanya dalam hati.
"Coba Diana hubungi kang Ujang..."
" Nah... aktif nih Ujang... tapi kok tidak diangkat-angkat ya...?" keluh Diana.
"Lagi pada ke mana ya... mereka...?"
"Sepertinya mereka lagi pada latihan..." Diana mencoba berfikir positif.
"Oh iya... coba telepon pak Sularjo..."
"Alhamdulillah... nyambung nih..."
"Assalamualaikum Pak Sularjo... maaf ganggu... pak Larjo melihat Mas Fachri kah...?" tanya Diana saat telepon pak Sularjo.
Seketika itu Diana tersadar.
"Oh iya... Pak Sularjo kan lagi on the way nganter makanan pesenan Diana ke Rumah Sakit ya...!" seru Diana
"Oh... pak Larjo sudah di depan Rumah Sakit..."
"Langsung masuk aja ke ruang tunggu ICU..." ujar Diana.
Sesaat kemudian seletah Pak Sularjo sampai di ruang tunggu ICU.
"Pak Sularjo melihat Mas Fachri kah...?" tanya Diana kembali setelah Pak Sularjo masuk ruang tunggu ICU.
"Tadi saat saya berangkat... mas Fachri... kang Ujang dan yang lainnya lagi pada latihan..."
"Kalau bude Husnul... seperti biasa... dia emang jarang megang handphone..." ujar pak Sularjo.
"Memang ada apa Mba...?" tanya pak Sularjo.
"Jadi begini pak Larjo..."
"Diana baru ingat... hari ini adalah hari pendaftaran terakhir Liga Tiga...
berkas-berkasnya sih ada di kantor... tapi kan uang pendaftaran nya ada di Pa'e..."
"Dan kebetulan... Diana juga tidak tahu nomor PIN atm-nya... sedangkan Pa'e masih belum sadar juga..." jelas Diana.
"Ya sudah... kalau begitu... pak Larjo coba kembali ke Markas Harokah FC..."
"Coba bicarakan ke mas Fachri dan yang lainnya..." kata pak Sularjo sambil bergegas pamit.
"Iya pak... hati-hati dijalan ya... jangan lupa suruh mas Fachri segera hubungi Diana ya...!" seru Diana.
"Duh... pengen banget dihubungi ya..." ledek pak Sularjo.
__ADS_1
Diana tersipu malu. Dia mencoba untuk selalu berfikir positif.