
🕌"Nah.... sepertinya suara adzannya berasal dari masjid itu..." kata Salim sambil menunjuk menara masjid yang terlihat dari posisi mereka berada.
"Kita jalan satu-satu... menuju masjid..."
"Karena kita tidak pakai alas kami..."
"Pasti kita jadi pusat perhatian... pasti kalian malu kan?"
"Saran saya... hiraukan saja..."
"Kita fokus menuju masjid..."
"Yang penting kita Sholat Ashar dulu..."
"Setelah itu kita pikirin lagi selanjutnya gimana..." perintah Firdaus.
"Siap komandan..." mereka pasrah dan ikut pada satu perintah.
Mereka ke Masjid tanpa alas kaki. Disepanjang jalan mereka menjadi pusat perhatian. Mereka hanya menunduk dan melangkah dengan begitu cepat.
Dan tibalah mereka di Masjid Al Barkah. Mereka bergegas ambil wudhu dan membersihkan kakinya yang penuh debu.
💦"Seger banget dah nih aer..." #ceksuhu#36,2#1dalam hati saat mengambil wudhu.
"Hei Dimas...."ngga
"Seru banget wudhunye..."
"Kayak habis mandi aje... hehehe..." ujar Firdaus.
"Nikmat banget bro...."
"Kayak ngga ketemu aer satu tahun... hehehe..." sahut Dimas.
Seusai sholat Ashar mereka berkumpul diserambi masjid.
"Kita harus bagaimana lagi nih?" tanya Dimas yang mulai cemas.
Semua terdiam...
Cukup lama mereka terdiam...
"Gara-gara kau Daus..."
"Tidak bisa jaga amanah..."
"Baru ngeliat cewek kayak gitu aja udah ngga fokus..." kata Danies yang mulai menyalahkan Firdaus.
"Aku kan sudah minta maaf..."
"Lagi pula... lho juga ngga mau pegang uang itu kan?" emosi Firdaus mulai tersulut.
"Sudah lah... mending kita pulang..."
"Kita bisa apa-apa tanpa uang...?" cetus Faizal.
Keadaan mulai tidak kondusif. Faizal mempermasalahkan hilangnya uang yang dipegang Firdaus saat di Kereta. Salim dan Saiful saling berpandangan memberikan kode.
"Sudah... sudah... sudah..."
"Tidak usah diperpanjang..."
"Jika kita pulang...!"
"Fix... kita berarti gagal menjalankan instruksi dari coach Fachri..." kata Salim.
"Justru disaat seperti ini..."
"Kita tetap harus kompak..." tambah Saiful.
__ADS_1
"Bukankah coach Fachri memberikan sepuluh petunjuk...!"
"Coba dech... kita simak lagi petunjuknya..."
"Mungkin bisa memecahkan permasalahan-permasalahan kita ini..." pinta Salim.
"Walaupun cacatan itu hilang..."
"Beberapa saya masih mengingatnya..." ujar Firdaus.
"Coba kamu sampaikan lagi..." pinta Salim kepada Firdaus.
"Sebentar... aku ingat-ingat lagi petunjuknya..."
"Yang pertama kalo tidak salah... perihal uang untuk transport makan dan lain-lain..."
"Yang kedua... cari orang yang namanya NURALIM..."
"Petunjuk yang ketiga... Kemungkinan NURALIM ada di Kota Bekasi... dekat stasiun Bekasi..."
"Yang ke empat... walaupun uang terbatas namun tetap sedekah kepada sesama..."
"Yang ke lima... malu bertanya sesat dijalan..."
"Lalu yang ke enam... tetap fokus, jangan meleng, jangan lengah..."
"Yang ke tujuh... berlaku sopan dan santun kepada yang lebih tua..."
"Yang ke delapan... menjadi contoh yang baik dalam segala hal..."
"Yang ke sembilan... jaga sholat lima waktu..."
"Sedangkan yang terakhir... bersabar jika ada teman yang mengalami keterbatasan..." kata Firdaus yang berusaha mengingatkan teman-teman nya akan sepuluh petunjuk dari Coach Fachri.
Salim coba menterjemahkan petunjuk dengan yang sudah dialami mereka saat ini.
"Yang kedua... kita sudah gunakan petunjuknya untuk naik kereta tadi pagi..."
"Yang ketiga... untuk muka dan nama dalam foto itu kita semua masih ingat kan...?"
"Yang keempat... kita disuruh sedekah... nah... ini yang belum kita lakukan."
"Yang kelima... bertanya agar tidak sesat dijalan... nah... ini harus kita lakukan setiap kali ketemu orang..."
"Yang keenam... kita tidak boleh lengah... sepertinya Firdaus menjadi contoh kondisi kita yang lengah... bisa jadi uang itu hilang karena Firdaus yang lengah... namun kita juga punya andil atas hilangnya uang itu... karena tidak membantu Firdaus menjaganya.
"Yang ke tujuh... berlaku sopan dan santun sudah diperlihatkan oleh Dimas kepada kakek-kakek saat di kereta."
"Yang ke delapan... sepertinya kita belum menjadi kan diri kita sebagai contoh baik bagi orang lain."
"Yang ke sembilan... Alhamdulillah kita senantiasa sholat lima waktu..."
"Nah yang kesepuluh... sepertinya sabar adalah kunci dari penyelesaian semua permasalahan kita hari ini..." jelas Salim mengingat kan teman-temannya.
🤷♂️"Sepertinya petunjuk yang keempat tidak mungkin kita lakukan dech..."
"Gimana mau sedekah... kan uangnya sudah tidak ada..." kata Faizal yang mulai pesimis.
"Ingat teman-teman..."
"Sedekah tidak harus dengan uang..."
"Sedekah bisa dengan apa saja yang kita miliki..." jelas Saiful.
"Lah.... emang kita punya apa?" cetus Faizal.
"Kita masih punya otak untuk berpikir... maka beramalah dengan otak kita..."
"kita masih punya tangan dan kaki... maka beramalah dengan tangan dan kaki kita..."
__ADS_1
"Kita masih punya mulut dan suara... beramalah denga mulut dan suara kita..."
"Bukankah kata Rosulullah Muhammad Sholollohu alaihi wa salam pernah bersabda... SENYUM ADALAH SEDEKAH YANG PALING MURAH..." jelas Saiful.
Semua termenung sejenak
"Saya punya ide..."
"Saya lihat toilet dan tempat wudhu masjid ini besar..."
"Namun terlihat kotor..."
"Bagaimana kalau kita sedekah dengan cara membersihkannya...?" kata Dimas memberikan ide.
"Setuju.." semua menjawab dengan kompak.
Dimas menghampiri seseorang yang sedang duduk di tempat penitipan sendal diarea masjid.
"Maaf pak..."
"Saya dan teman-teman mau sedekah dengan cara membersihkan toilet dan tempat wudhu di Masjid ini boleh kah?" pinta Dimas pada marbot masjid itu.
"Alhamdulillah... boleh lah... inikan masjid milih kita bersama..." ujar marbot masjid itu sambil berjalan menunjukan alat-alat yang bisa mereka pakai untuk membersihkan toilet dan tempat wudhu.
Hampir satu jam mereka membersihkan toilet dan tempat wudhu di Masjid itu. Datang seorang tua yang menghampiri Dimas dan teman-teman.
"Assalamualaikum...." salam orang tua itu.
"Wa'alaikumussalam..." balas Dimas dan teman-temannya.
"Loh... kakek...!" Dimas terkejut melihat kakek-kakek yang tadi pagi diberikan tempat duduk saat di kereta.
"Kalian ngapain disini...?"
"Bukannya mau latihan sepakbola...?"
Hehehe...
Mereka hanya bisa tersenyum...
Seusai membersihkan toilet dan tempat wudhu mereka bercengkrama diserambi masjid menunggu sholat Maghrib.
Dimas dan teman-temannya bercerita panjang lebar kepada kakek tua itu.
"Ngomong-ngomong... siapa nama kakek ya?" tanya Dimas.
"Nama saya NURALI..." jawab kakek-kakek itu.
"hah... NURALI..."
"Jangan-jangan.... kakek NURALI ini yang kita cari...?" tebak Dimas.
"Yang kita cari bukan NURALI.... tapi NURALIM Panjul...." sanggah Faizal kepada Dimas.
"Habis mirip sih.." ujar Dimas
😆Hahahaha.... mereka tertawa.
Seusai sholat Maghrib Dimas dan teman-teman diajak makan nasi goreng di alun-alun tepat didepan Masjid Al Barkah. Dan mereka diberikan sendal swallow yang sengaja disiapkan oleh pengurus masjid jika ada jamaah masjid yang kehilangan sendal.
"Alhamdulillah... rezeki anak sholeh..." ujar Dimas begitu senang mendapatkan sendal dari Haji Nurali.
Mereka menikmati senja di Kota Bekasi.
Makan ditemani suara pengamen yang lumayan merdu...
🎼Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui... Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri... Kau telah berjuang menaklukankan hari-hari mu yang tak mudah... Biar ku menemanimu membasuh lelah mu...
Izinkan ku lukis senja... Mengukir namamu di sana... Mendengar kamu bercerita... Menangis tertawa... Biar ku lukis malam... Bawa kamu bintang-bintang... Tuk temanimu yang terluka... Hingga kau bahagia...🌌
__ADS_1