
π₯Diana menunggu-nunggu kabar dari Pak Sularjo. Wajar saja menunggu, karena sudah lebih dari satu jam Pak Sularjo belum juga memberikan kabar.
Tiba-tiba dari pintu ruang tunggu ICU terbuka. Fachri muncul dari arah pintu.
"Assalamualaikum..." salam Fachri kepada Diana yang terlihat cemas.
"Wa'alaikumussalam..." sambut Diana.
"Gimana keadaan Pa'e...?" tanya Fachri.
"Pa'e masih belum sadar Mas..." Jawab Diana.
"Mas Fachri kok handphonenya tidak aktif...?" Diana balik bertanya.
"Iya... maaf... Mas lupa charge HP sampai Markas langsung latihan..." jawab Fachri.
"Mas Fachri sendiri...? tidak sama Pak Sularjo...?" Tanya Diana sambil celingak-celinguk mencari-cari pak Sularjo.
"Loh... bukan nya pak Sularjo di sini nemenin kamu...!" seru Fachri.
"Tadi Diana suruh ke markas... sebab mas Fachri tidak bisa dihubungi..." seru Diana.
"Oh... jadi ada yang kangen sama mas Fachri toh..." Ledek Ujang yang tiba-tiba muncul bersama Giea dan Dona Doni.
Sontak Diana kaget terdengar suara dari arah pintu masuk ruang tunggu.
"Assalamualaikum... mba Diana... saya turut prihatin ya..." Sapa Giea yang datang bersama Ujang. "Wa'alaikumsalam... Eh... Mba Giea... apa kabar...?" sambut Diana.
"Alhamdulillah... aku baik-baik saja mba..."
__ADS_1
"Ayo Dona... Doni... salim dulu sama Tante Diana..." perintah Giea pada kedua anaknya.
Dona dan Doni menghampiri Diana dan meraih tangan Diana untuk mengajaknya salaman.
"Barokallah..." kata Diana sambil mengusap-usap kepala Doni dan Doni.
"Oh iya mas... mohon maaf... Diana lupa..."
"Hari ini kan batas terakhir pendaftaran Liga Tiga..."
"Diana lupa kasih uangnya untuk pendaftaran... maaf ya mas Fachri..." seru Diana.
Fachri dan Ujang tersenyum, membuat Diana bingung.
"Mba Diana tidak usah khawatir... sebenarnya tadi pagi kita berdua juga bingung... mau menghubungi mba Diana kami takut dan serba ngga enak... sebab mba Diana pasti sedang bersedih karena keadaan pak Andi yang masih di ICU..."
"Saat kami bingung tiba-tiba mba Giea datang dan kebetulan mba Giea melihat wajah kita yang terlihat sedang cemas..."
"Dari mulai kondisi pak Andi yang sedang di ICU... sampai dengan kondisi Harokah FC yang belum juga mendaftar ke Liga Tiga..."
"Singkat cerita... tadi siang kita sudah daftarkan Harokah FC ke Liga Tiga dengan memakai uang mba Giea..." jelas Ujang.
"Alhamdulillah..." ucap Diana sambil berjalan menuju Giea dan langsung memeluknya.
"Terimakasih banyak mba Giea... segera saya transfer uang mba Giea..." tambah Diana.
"Iya... sama-sama mba Diana... gampang... nanti saja... yang penting Harokah FC sudah terdaftar... dan pak Andi sudah tertangani dengan baik disini..." sambut Giea dengan hangat.
Di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Coach Maman dan Bang Codet sedang makan di tukang pecel lele.
"Eh Codet... lho pesen apa...?" tanya Coach Maman.
"Saya pakai ayam coach... paha nya ya... minumnya es jeruk..." jawab bang Codet.
"Berarti kami pesen es jeruk dua... ayam goreng nya dua... pake nasi uduk ya..." kata Coach Maman pada ibu penjual pecel lele itu.
Mereka melahap pecel ayam dengan semangat, mungkin karena sangat lapar akibat aktivitas seharian.
"Eh Codet... loh doyan apa laper...?" tanya Coach Maman.
"Dua-duanya coach..." jawab bang Codet.
"Jadi berapa Bu totalnya...?" tanya Coach Maman.
"Oh jadi gini Mas... khusus hari ini... yang makan di tempat... alias tidak dibawa pulang... saya gratiskan..." seru ibu penjual pecel lele itu.
"Emang dalam rangka apa bu...?"
"Ini nazar saya... karena anak saya diterima dan dapat beasiswa..." jawab ibu penjual pecel lele itu.
"Wah selamat Bu ya... dan terima kasih gratisan nya..." ujar bang Codet.
"Emang dapet beasiswa di mana Bu...?" tanya Coach Maman sambil minum menghabiskan es jeruk yang tinggal sedikit itu.
"Itu loh... di Harokah FC..." jawab ibu penjual pecel lele itu.
Sontak Coach Maman tersedak, dan sisa es jeruk yang ada di mulut nya pun tersembur ke muka bang Codet.
__ADS_1
Coach Maman dan bang Codet saling tatap menatap.