
๐ "Alhamdulillah... terimakasih kang Tatang..."
"Saya tunggu kehadiran nya di Jakarta..." ujar Fachri.
"Siap Coach..." sahut Tatang.
๐กFachri dan Lilis pamit pulang. Sesampainya dirumah.
"Gimana... kang Tatang bisa join...?" tanya Abah Udin.
"Insya Allah bisa... siapa dulu yang ngerayunya..." jawab Lilis.
"Jadi Lilis yang ngerayu kang Tatang...?" tanya Abah Udin lagi.
"Kok Lilis... ini loh... mas Fachri..."
"Rayuan maut mas Fachri... membuat kang Tatang klepek-klepek..." ledek Lilis.
"Wah... Alhamdulillah... kalau begitu..." ujar Abah Udin.
๐"Good Job Coach Fachri..."
"Nah.... ada kabar berikut nya nih geis..."
"Temen Ujang yang di Tasik tadi telepon..."
"Katanya nanti jam setengah empat sore ini akan ada pertandingan semifinal Walikota Tasikmalaya Cup..."
"Jadi sekarang kita sudah harus berangkat..." Ujar Ujang.
"Lanjut... Yo Yo... Semangat..." sambut pak Sularjo.
"Lah terus nasib Lilis gimana atuh mas Fachri...?" Lilis mulai resah
"Emangnya Lilis mau ikut mau...?" Ledek Fachri.
"Atuh Lilis kan mau terus bersama mas Fachri..." seru Lilis.
"Eh.... si Lilis teh kumaha...?"
"Trus kalau Lilis pergi teh... Abah siapa yang nemenin...?" keluh Abah Udin.
"Cuman Lilis... anak Abah satu-satunya yang bisa membuat Abah bahagia..." rayu Abah Udin.
"Nah... Lilis kapan-kapan bisa mampir ke Jakarta kok sama abah..."
"Mas Fachri tunggu..."rayu Fachri.
Lilis berusaha tersenyum, walaupun terlihat sedih ditinggal Fachri dan kawan-kawan.
"Hati-hati di jalan ya Mas Fachri... semoga harokah FC bisa mendapatkan pemain-pemain yang diinginkan..." do'a Lilis saat itu
"Aamiin..." semua menjawab.
๐Semua perlengkapan sudah masuk ke mobil. Dan tidak beberapa lama mereka pun pergi dari kediaman Abah Udin.
Perjalanan dari Garut ke Tasikmalaya tidaklah jauh, kisaran satu jam dari rumah abah Udin.
Mereka langsung mengarah ke Stadion Wiradadaha Tasikmalaya di sana sedang berlangsung semi final antara Tasik Raya FC melawan Persikotas Tasikmalaya
๐ฑKRIIIING... KRIIIING...
Handphone Ujang berbunyi.
"Halo Jang... sudah sampai mana...?" Ujang ditelepon seseorang temannya dari Tasikmalaya.
__ADS_1
"Ini sudah meluncur ke stadion paling sepuluh menit lagi sampai sana..." jawab Ujang
"Saya tunggu di parkiran ya... ini ane sudah pesan tiket untuk lima orang..." ujar seseorang dalam telepon itu.
"Oh ya... terima kasih Kang Rya..." sahut Ujang
Kang Rya ini teman Ujang semasa mondok di Cianjur
๐๏ธ Sesampainya di Stadion.
"Baru aja mau dimulai upacaranya..." "Alhamdulillah kalian sudah datang..." sambut Rya.
"Perkenalkan...ini pak Andi... Ini mba Diana... ini pak Sularjo... dan ini coach Fachri yang pernah ane ceritain..." kata Ujang memperkenalkan Fachri dan kawan-kawan.
"Selamat datang di Tasikmalaya..."
Mesti cuman piala walikota, namun memang acaranya sangat semarak dan bergengsi, terlebih dari tim-tim peserta turnamen bahkan banyak dari pelatih-pelatih dan klub-klub besar yang hadir dalam turnamen ini untuk memantau bibit-bibit dan pemain-pemain berbakat dan berpotensi.
"Turnamen nya nanggung sekali ya...?" tanya Ujang.
"Nanggung gimana...?" Rya balik bertanya.
"Pertandingan nya berbenturan dengan adzan Ashar..."
"Kalau begitu... kita sholat Ashar dulu ya..." ajak Ujang.
Kick off babak pertama dimulai Tasik Raya FC memakai jersey biru dan Persikotas Tasikmalaya memakai jersey putih. Pertandingan babak pertama kedua kesebelasan bermain aman, bahkan cenderung difensive, sehingga pertandingan terlihat monoton, tidak ada yang berani menyerang secara frontal, mungkin dikarenakan ini sudah memasuki semifinal dan menganut sistem gugur. Sehingga yang menang pasti langsung maju ke final.
Selain sholat, Fachri dan yang lainnya langsung ke area penonton.
Di sisi lapangan terlihat pelatih dari Tasik Raya begitu cemas dan cenderung kecewa, entah apa yang membuat dia gelisah, terlebih sekarang timnya sudah tertinggal satu kosong, suara gemuruh suporter Persikotas Tasikmalaya bergemuruh.
Fachri dan yang lainnya duduk tak jauh dari area tempat duduk pemain cadangan Tasik Raya FC. Sehingga suara yang berasal dari bangku cadangan Tasik Raya FC terdengar sampai ke arah Fachri dan kawan-kawan.
"Saya kan sudah bilang... nanti saja sholatnya..."
Rupanya pemain tersebut baru saja melaksanakan sholat Ashar.
"Coba kamu lihat... setelah unggul... mereka akan bertahan total... sulit bagi kita buat nyetak gol kalau mereka full bertahan..." kata pelatih Tasik Raya FC yang bernada marah itu.
"Ini bukan kejadian yang pertama kali..."
"Saya sudah pernah bilang sebelumnya..."
"Rupanya kamu sulit dikasih taunya..."
"Jadi... saya pastikan kamu tidak akan saya turunkan..." ancam pelatih Tasik Raya FC.
Pemain yang dimarahi itu pun terdiam, tidak bersuara sepatah kata pun, lalu dia pun duduk dikursi cadangan. Fachri dan kawan-kawan melihat kejadian itu.
Pertandingan memasuki babak kedua, kedudukan masih satu kosong untuk keunggulan Persikotas Tasikmalaya. Bahkan sampai dengan menit ke delapan puluh tiga kedudukan masih satu kosong.
Seluruh suporter Tasik Raya FC memanggil-manggil nama Bayu.
Bayu... Bayu... Bayu...
Terdengar gemuruh nama Bayu disebut-sebut suporter Tasik Raya FC.
"Kang Rya... Bayu itu siapa ya...?" tanya Fachri.
"Bayu itu pemain bintangnya Tasik Raya FC..." jawab Rya.
"Lalu kenapa tidak dimainkan...?" tanya Fachri kembali.
"Bayu itu yang tadi diomelin sama pelatih Tasik Raya FC.
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak akan diturunkan karena memang dia sering sekali terlambat masuk... dikarenakan beberapa jadwal pertandingan berbenturan dengan waktu sholat..." jelas Rya.
Fachri terdiam.
Dan pertandingan pun usai dengan score satu kosong yang dimenangkan Persikotas Tasikmalaya atas Tasik Raya FC.
"Gimana coach... mau interview yang mana...?" desak Ujang.
"Saya tertarik dengan Bayu..." ujar Fachri.
๐ฑ"Bayu...?" seru yang lainnya merasa heran.
"Oke.... sebentar Coach... segera saya deketin dia..." seru Rya sambil bergegas menuju Bayu yang sedang berjalan keruang ganti pemain.
Beberapa saat kemudian Rya pun kembali.
"Kabar baik coach... nanti malam kita ketemuan di Masjid Agung Tasikmalaya..."
"Berarti sekarang kita langsung meluncur kerumah saya... kebetulan dekat dengan Masjid Agung Tasikmalaya..." rayu Rya.
"Alhamdulillah... terimakasih kang Rya..." ujar Fachri.
"Sama-sama coach Fachri... kapan lagi kedatangan tamu spesial..."
"Tapi... rumah saya mungkin tidak sebagus rumah-rumah di Jakarta..."
"Harap Maklum..." seru Rya.
"Ah... kamu bisa aja..." ujar Fachri.
๐Masjid Agung Tasikmalaya.
Ba'da Isya mereka berkumpul di Alun-alun Kota Tasikmalaya.
"Kang... nasi goreng nya enam..." pinta Diana.
"Siap Teh..." sahut pedagang itu.
"Sungguh kehormatan bagi saya... diajak berbicara dengan legenda-legenda sepakbola Nasional..." ujar Bayu.
"Terlebih... tawaran ini membuat saya kaget..." tambah Bayu.
"Jangankan kamu Yu... wong saya saja kaget..." kata pak Andi.
"Gimana tidak kaget... saya kan sama sekali tidak tampil... tapi kok coach Fachri lebih memilih saya...?" tanya Bayu
"Karena Tasikmalaya itu adalah Kota Santri..."
"Khususnya di era sebelum delapan puluhan..."
"Banyak pondok pesantren berdiri di hampir semua sudut di kota ini..."
"Bahkan... ada tokoh pejuang nasional lahir dari pesantren di Tasikmalaya... namanya Zainal Mustafa..." jelas Fachri.
"Jadi... satu-satunya pemain yang mewarisi jiwa Tasikmalaya pada pertandingan tadi... adalah kang Bayu..."
"Pemain bola yang tau akan hakikat hidup dan kehidupan..."
"Mampu memilih yang terpenting dari yang penting..."
"Jika kang Bayu gabung dengan Harokah FC..."
"Saya pastikan... aktifitas kita tidak akan mengganggumu aktivitas ibadah kita..." janji Fachri.
๐ค"Dengan senang hati coach Fachri..."
__ADS_1
"Saya bersedia gabung dengan Harokah FC..." ujar Bayu dengan semangat.
"Alhamdulillah..." semua menyambut Bayu dengan gembira.